Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Kasus dan Fakta


__ADS_3

'Ning-nong.'


Lagi, salah satu dari mereka menekan bel. Aku tambah panik. Ingin menelepon pak Zulfikar, namun sadar tak memegang ponsel. Lalu menyadari jika di unit ini ada telepon paralel. Tapi aku bingung harus menghubungi siapa.


Sepertinya, telepon pararel di unit ini hanya diperuntukkan untuk komunikasi antar unit. Sebab, saat aku mencoba menghubungi nomorku, tak bisa terhubung.


Aku memutuskan menelepon petugas keamanan.


"Hallo, dengan Arif, petugas keamanan apartemen, ada yang bisa kami bantu?"


"Pak, mohon maaf, apa Bapak bisa ke unitku? Ada tamu yang tidak kukenali. Aku tak berani membuka pintu. Kondisiku sedang hamil dan sendirian. Aku tak memegang HP," jelasku.


"Mohon maaf, Ibu ada di unit mana?"


"Di menara, Pak. Tower utama," jawabku. Suaraku mulai gemetar.


"Apa?! Menara tower utama?! Maaf, apa Ibu istrinya pak Zulfikar?!"


"Y-ya, Pak." Walau ragu, aku tetap mengiyakan. Padahal, yang ia maksud mungkin saja tertuju pada bu Dewi.


"Ibu tetap di dalam unit, kami akan ke sana."


"Baik Pak, terima kasih. Oya, kalau bisa, aku ingin Bapak membawa petugas keamanan yang wanita. Maaf, aku tak terbiasa berbicara dengan lawan jenis tanpa pendamping."


"Duh, maaf Bu. Petugas wanitanya malam ini tak ada yang jaga. Bagaimana? Masih membutuhkan bantuan kami?"


"Pak, sebenarnya, aku hanya ingin memberitahu suamiku kalau kedatangan tamu tak dikenal. Aku perlu izinnya apa tamu tersebut boleh diterima apa tidak. Tapi, ponselku ketinggalan."


"Oh begitu? Emm, begini saja, apa ada nomor yang bisa saya hubungi?"


"Ada Pak."


Lalu aku memberikan nomor kak Listi. Maksud hati ingin memberikan nomor pak Zul, tapi khawatir dia tak berkenan jika nomornya diberikan ke sembarang orang.


"Itu nomor sahabatku, Pak."


"Ya sudah, ini mau coba saya hubungi, nanti diloudspeaker supaya bisa berkomunikasi dengan Ibu."


Alhamdulillah.


Kak Listi mau menerima panggilan dari nomor baru. Pak Arif segera membesarkan volumenya.


"Dari temanku? Maksudnya?" Kak Listi kebingungan.


"Kak Listi, halo! Ini aku, Kak. Daini."


"A-apa?! Ada apa, Neng? Kok suara kamu kecil banget, 'sih? Gak jelas lho. Kenapa? Kamu baik-baik saja, 'kan?"


"Aku baik-baik saja, Kak. HP-ku ada di rumah pak Aksa. Ceritanya panjang. Intinya, aku ingin bicara sama pak Zulfikar karena ke apartemen ada tamu. Aku tak mengenali mereka, Kak. Tapi, kalau aku tak membuka pintu, takutnya tamu penting."


"Lho 'kok bisa ada tamu yang mau ke pak Direktur tapi tak menghubungi pak Direktur dulu? Jangan dibuka, Neng. Takutnya wartawan. Kamu tenang ya, masuk ke kamar saja dan tidur oke? Aku akan menghubungi pak Direktur." Lalu panggilan dari kak Listi terputus.


"Panggilannya sudah dimatikan Bu. Di lobi empat, sebelum masuk ke menara tower utama, biasanya ada pengecekan pengunjung. Jadi, yang berkunjung ke unit Ibu, sepertinya bukan orang yang berbahaya. Di lobi empat, mereka pasti sudah diperiksa."


Ya, di sana memang ada pemeriksaan pengunjung menggunakan metal detector, serta harus menunjukkan kartu identitas.


"Baik, Pak. Harapanku seperti itu. Aku tak berburuk sangka, hanya ingin waspada dan meminta izin pada suamiku," jelasku.


Setelah beterima kasih dan mencatat nomor pribadi pak Arif, aku menutup panggilan. Lantas kembali ke pintu unit untuk mengecek keberadaan mereka.


Jantung ini kembali berdegup. Mereka masih ada di depan unitku. Padahal, aku dan pak Arif serta kak Listi sudah berkomunikasi cukup lama. Tamu wanita sedang berbicara di telepon. Dua tamu pria tengah berbincang serius.


...⚘️⚘️⚘️...


Aku bergeming di balik pintu. Hati ini kembali terusik. Hubunganku dengannya seperti mengundang banyak prahara. Ya, sebagai manusia yang beriman, aku tentu saja percaya akan qodo dan qodar.


Tapi ... semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk menentukan jalan hidupnya.


Seperti halnya seorang manusia yang nekad bunuh diri. Ya, kematian mereka dengan cara seperti itu memang telah ditakdirkan, namun sebelum malaikat maut datang menjemput, mereka telah dihadapkan pada pilihan.


Apakah ia akan memilih di jalan kebenaran dengan membatalkan niat bunuh dirinya? Atau, justru memilih jalan kesesatan mengikuti nafsu dan ajakan iblis dan memutuskan bunuh diri.


Aku juga diberi kesempatan untuk memilih. Apakah akan bertahan hidup bersamanya dan membagi ranjangku dengan bu Dewi? Atau, berpisah ....


Aku meringkuk di balik pintu. Jadi rindu abah dan ummi.


Aku adalah anak sulung yang seharusnya jadi role model untuk Putra. Tapi, aku belum bisa memberi teladan yang baik untuknya. Aku juga belum bisa membahagikan abah dan ummi, yang ada ... aku selalu membebani mereka.


"Sayang ... apa kalian baik-baik saja? Jika suatu hari kalian harus hidup tanpa ayah, tak apa-apa ya? Maaf ... sepertinya ... bunda tak bisa bertahan lama hidup bersama ayah kalian. Sebenarnya ... bunda mencintainya. Tapi ... kehadiran bunda seperti mempersulit kehidupannya. Bahkan merepotkan seluruh keluarga besarnya," gumamku seraya mengusap perutku yang sudah kentara.


'Bugh.'


Dari arah luar tepatnya di depan unit, aku mendengar suara orang terjatuh ke lantai. Aku terlonjak. Segera bangkit dan mengintip.


"A-apa?"


Lututku gemetar, aku menatap keluar dengan mata terbuka lebar sambil menutup bibirku agar tak beteriak.


"Ti-tidak mungkin. Ti-tidak ...."


Salah satu tamu pria yang tadi hendak bertamu sudah terkapar. Lehernya terikat dasi. Lalu sebuah pisau tertancap di dadanya. Pria itu tengah meregang nyawa, matanya membeliak. Tangannya berusaha melepas jeratan dasi di lehernya. Darah segar mengalir dari area pisau yang menancap.


"A-astaghfirullah!!"


Walau teramat takut dan bingung. Namun jiwa sosialku meronta. Mustahil aku membiarkan sesama manusia dalam keadaan terluka. Aku mundar-mandir di dalam unit. Segera menghubungi petugas keamanan yang tadi, namun tak diangkat.


Aku tak punya pilihan lain kecuali membuka pintu dan menolong pria itu sebisanya. Bismillah, aku membuka pintu dengan tangan gemetar.


"Tu-tunggu, a-aku akan panggil bantuan." Setibanya di luar aku baru menyadari kalau dua temannya sudah tak ada di tempat.


"Khhhrrkk ...."


Pria itu mengorok. Aku tersadar, segera membuka jeratan di lehernya. Tanpa pikir panjang akupun membukanya sambil terus berdzikir dan bersalawat.


"A-Anda harus bertahan. Jika Anda muslim, yuk sebut nama-Nya. Allah ... Allah ... Allah ...," bujukku.


Jeratan di lehernya begitu kuat. Aku harus mengeluarkan tenaga ekstra. Unit ini di tower utama ini hanya ada satu. Jadi, kalaupun aku beteriak meminta tolong, akan sia-sia.


"Sa-sabar ya."


Akhirnya terbuka juga, namun pria ini semakin memucat.


"B-Bu Dai ...." Dia meraih tanganku saat aku hendak beranjak menuju lift untuk meminta bantuan.


"Kamu mengenalku? Aku tidak kenal kamu! Kamu siapa?! Katakan! Siapa yang membuatmu seperti ini?!"


Dalam ketakutan, aku berusaha bertanya. Barangkali ada hal yang bisa kugunakan sebagai bukti.


"A-aku seperti ini ka-karena mm --- mau me-menyelamat---kan ka-kamu. To-tolong .... Laa---ilaaha---illallaah," lirihnya.


Lalu pria itu terkulai tak sadarkan diri di saat aku masih terpaku dalam kebingungan dan ketakutan yang tak berujung.


"M-Mas! Bang! Bangun!"


Aku mengguncang tubuhnya. Namun dia tak merespon. Aku tak memedulikan tangan dan bajuku yang berlumur darah. Lantas berlari secepat yang kubisa menuju lift.


...⚘️⚘️⚘️...


Di dalam lift aku menekan tomobol emergency.


"Ada masalah ap ---." Suara dari speaker di lift.


"Cepat ke unit menara tower utama! Ada korban yang keadaannya gawat! Cepat!" selaku sembari beteriak dan memejamkan mata karena takut ketinggian.

__ADS_1


Entah lantai berapa yang aku tekan. Aku menekan asal karena panik. Tubuhku bekeringat, jemari tanganku dingin.


'Ting.'


Lift terbuka. Aku langsung beteriak meminta bantuan pada orang-orang yang ada di hadapanku.


"Tolong Pak, Bu, tolooong ...."


Samar, aku melihat mereka menatapku bingung. Ada yang menghindar saat melihat tangan dan jilbabku bedarah-darah. Awalnya aku berlari, namun selanjutnya berjalan gontai karena tak kuasa mengingat kembali kejadian mengejutkan yang baru saja aku alami.


"A-aku seperti ini ka-karena mm --- mau me-menyelamat---kan ka-kamu ...."


Kalimat itu terngiang, lalu petugas keamanan apartemen berlarian ke arahku. Pandanganku mulai kabur, kakiku melemas. Lalu tubuhku terjatuh begitu saja. Namun aku yakin ada seseorang yang menangkap tubuhku. Siapa? Aku tidak tahu. Gelap ... lupa ....


...⚘️⚘️⚘️...


Listi Anggraeni


"Kamu cepat ke apartemennya! Aku tak bisa ke sana! Harus preskon," kata pak Direktur setelah aku meneleponnya dan menjelaskan apa yang terjadi pada Daini.


"Tega-teganya Bapak membiarkan Daini sendirian! Kalau dia dalam bahaya bagaimana?!" teriakku


"Aku bukan orang yang seperti itu, Listi! Aku tak mungkin membiarkan Hanin terluka. Sebelum kamu meneleponku, aku sudah menyuruh pak Sabil untuk berjaga di depan unitku. Aku yakin saat ini mereka sudah sampai di apartemen!"


"Apa?!" Aku bingung. Kalimat pak Direktur terdengar janggal.


"Pokoknya, kamu cepat ke sana. Aku tak bisa menjelaskan detail masalahnya. Tapi, aku percaya sama kamu."


Sebenarnya, saat aku menelepon pak Direktur, posisiku sudah berada di dalam mobil menuju apartemen Daini. Aku tancap gas.


"Sial!" rutukku.


Di belakangku, ada mobil ambulance dan dua mobil polisi. Rutenya yang sejalan denganku, membuatku terpaksa menepi. Bukan hanya aku saja yang menepi, mobil lainpun sama.


"Issh, ada apa 'sih?"


Aku kembali melajukan kemudi sambil cemberut. Merasa sedikit terganggu dengan mobil-mobil itu. Tapi, mereka memang memiliki otoritas untuk diprioritaskan.


Aku melongo. Sebab, mobil polisi dan ambulance itu sepertinya akan menuju ke apartemen yang hendak kutuju juga.


...⚘️⚘️⚘️...


Dugaanku benar. Di pintu masuk apartemen, aku dicegat petugas keamanan.


"Maaf Bu, tak boleh masuk dulu."


"Lho, kenapa? Aku ada urusan penting, Pak!"


"Maaf Bu, area tower utama sedang disterilkan, dilarang ada yang masuk sebelum diperbolehkan oleh polisi."


"Tower utama?! Aku mau ke sana, Pak. Temanku tinggal di menara tower utama!"


"Maaf Bu, tetap tidak bisa. Tadi sudah ada beberapa orang yang juga mengaku memiliki hubungan dengan penghuni tower utama."


"Pak! Aku serius! Aku disuruh ke sini sama pak Direktur! Apa perlu aku tunjukkan bukti-buktinya?!"


"Tolong Ibu patuhi peraturan kami. Di sana ada kasus pembunuhan, Bu," jelasnya.


"A-PA?! Pembunuhan?!" Aku teperanjat. Kaget luar biasa. Jangan-jangan ....


Tanpa berpikir panjang, akupun menabrak palang pintu. Aku tak bisa berpikir jernih. Yang ada di dalam pikiranku hanya Daini. Jika terjadi apa-apa pada Daini, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri.


'BRUUUM.'


"Woy! gila 'tuh cewek!" teriak petugas keamanan sambil mengejar mobilku.


Di lobi, mobilku tertahan kembali. Kali ini oleh petugas kepolisian.


"Pak Polisi, dia mengaku temannya pemilik unit tower utama!" Petugas keamanan datang tergopoh.


"Aku memang temannya Daini, Pak! Aku disuruh pak Direktur Zilfikar untuk datang ke sini!" teriakku saat dipaksa turun dari mobil. Dua orang petugas kepolisian mencekal tanganku.


"Hey! Lepas Pak! Aku serius! Aku temannya! Huuu, hwaa," jadinya aku menangis meraung-raung karena membayangkan telah terjadi hal buruk pada Daini.


"Wartawan dilarang masuk, tolong segera kondisikan TKP!" ujar polisi yang lain. Suasana di lobi apartemen benar-benar sibuk.


"Lepas!" Aku berusaha menepis dan meronta sebisaku.


"Tolong hormati petugas, Bu. Kami di sini sedang menjalankan tugas!" Mereka menyeretku ke dalam apartemen. Entah akan dibawa ke mana.


"Ada apa ini?!"


Seorang petugas polisi datang. Ada yang aneh. Baju polisi itu kotor dengan darah. Sepertinya baru saja dari TKP.


"Lapor, Pak. Wanita ini mengaku temannya pemilik unit tower utama. Dia menerobos masuk, bahkan menabrak palang pintu."


"Tolong lepaskan!" titahnya sambil menatapku.


"Siapa namamu?" tanyanya.


"Aku Listi Anggraeni, Pak. Temannya Daini."


Aku menjawabnya dengan semangat. Sebab, nama polisi itu 'Sabil Sabilulungan.' Aku pernah mendengar nama itu dari Daini. Polisi ini pasti temannya pak Zulfikar. Alhamdulillaah.


"Kamu Listi?! Cepat masuk ke ambulance!" Dia menarik tanganku. Polisi lain dan petugas keamanan saling menatap.


"Pak, Da-Daini tak apa-apa, kan?"


"Tidak! Cepat masuk! Bu Daini shock!"


Dia membuka pintu ambulance. Aku segera meloncat ke dalam. Daini terbaring lemah di sana.


"Neng, huuu. Apa yang terjadi?!" Aku panik. Jilbab dan tangan Daini dipenuhi darah.


"Cepat siapkan satu ambulance lagi. Korban masih ada di TKP. Kata komandan, harus menunggu polisi forensik dulu, baru boleh dibawa ke rumah sakit," tegas pak Sabil pada anak buahnya.


"Pak, kenapa penyelamatan korban ditunda?!" Polisi yang diperintahkan protes.


"Korban sudah meninggal dunia! Cepat! Komandan ingin olah TKP saat ini juga!" teriaknya.


"Siap, Pak!"


Aku mendengarkan sambil memeluk tubuh Daini. Aku tak bisa membiarkan dia terus seperti ini.


Sampai kapan kamu akan mempertahankan pak Direktur, Neng? Jeritku dalam hati ketika ambulance ini keluar dari area apartemen.


...⚘️⚘️⚘️...


Di perjalanan, ada panggilan dari pak Direktur. Karena kesal, aku tak mengangkatnya. Malah sengaja kumatikan. Ya, aku tahu dia telah waspada dengan kejadian ini. Buktinya, ia sudah memerintahkan pak Sabil untuk datang ke apartemen.


Namun, yang kuinginkan adalah ... dia harus melepaskan Daini. Untuk saat ini, menurutku, cinta mereka harus dikorbankan dulu. Setelah titik masalahnya terselesaikan, barulah mereka bisa bersatu kembali.


...⚘️⚘️⚘️...


Ternyata, Daini dibawa ke rumah sakit yang rutenya sudah ditentukan. Daini sadar, namun keadaannya lemah. Tatapannya kosong. Saat kembali fokus, bibirnya berdzikir. Sementara airmatanya tak henti menetes.


"Lepaskan pak Direktur, Neng. Sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Aku menduga kasus ini pasti ada hubungannya dengan pak Direktur."


"Huuu ...." Daini tak menjawab, kepalanya menggeleng lemah.


"Maaf, jika aku sok-sokan, Neng. Tapi, sebagai teman kamu, aku tak tega melihat kamu seperti ini. Kamu cantik dan cerdas. Kamu bisa menjalani hidup dengan tenang dan bahagia. Seperti katamu, setiap manusia punya pilihan. Apa memang pilihan hidup kamu seperti ini?"


Sepanjang perjalanan, aku mengutarakan unek-unekku.

__ADS_1


...⚘️⚘️⚘️...


Setibanya di rumah sakit, Daini langsung dibawa ke kamar perawatan. Bahkan langsung diinfus di ruang perawatan alias tidak ada tindakan di IGD.


Intinya, di rumah sakit ini, kebutuhan Daini sudah dipersiapkan. Selesai dipasang infus dan oksigen, suster mengganti bajunya dengan baju pasien. Lalu disuntik dan diperiksa denyut jantung janinnya.


Setelah memastikan Daini tenang, aku keluar ruangan untuk menenangkan diri. Aku masuk ke toilet khusus pengunjung. Lalu mengaktifkan ponselku.


Selain ada panggilan tak terjawab dari pak Direktur, ternyata ada misscall dari Akmal juga. Aku langsung telepon balik.


"Hallo, Bang, maaf, aku ---."


"Kamu sekarang di mana?" selanya.


"Aku di rumah sakit, Bang. Daini masuk rumah sakit. Ada kejadian tak terduga Bang, jadi ---."


"Cukup yank, cukup! Aku lelah!" selanya.


"Bang, kamu kesambet apa? Kamu kenapa? Kenapa harus marah-marah, sih?" Akmal sewot, jelas aku heran atas sikapnya.


"Yank, kamu sadar gak? Aku jauh-jauh datang ke rumah kamu untuk kencan! Eh, kata ibu, kamu pergi begitu saja tanpa menjelaskan mau kemana."


"Bang, aku buru-buru! Makanya tak sempat bilang apapun sama ibuku."


"Listi, kamu belum sadar juga? Ini ketiga kalinya kamu mengabaikan aku demi sahabat kamu itu. Kamu lebih mementingkan dia daripada aku! Aku kecewa!"


"Bang, kamu apa-apaan, 'sih?! Aku tak pernah merasa mengabaikan kamu! Aku seperti ini karena Daini juga baik sama aku! Selain itu, Daini juga istrinya bos aku, Bang! Istri pak Direktur!"


"Hahaha, istri apa simpanannya?"


"Bang, jaga ucapan kamu, ya!"


"Yank, sekarang aku sudah tahu semuanya! Aku sudah baca berita! Ternyata, teman akhwat yang sering kamu banggakan itu wanita yang seperti itu! Aku menyesal membiarkan kamu bergaul dengan dia!"


"Bang! Kamu salah faham! Kamu harus mendengarkan penjelasanku dulu. Bang, kita sudah tunangan, 'kok bisa kamu tak percaya sama aku?!"


"Oke, Abang mau memaafkan dan memberimu kesempatan. Asalkan, kamu jangan berteman dengan Daini lagi. Dia toxic, yank. Kamu sadar gak sih? Selama ini, kamu sudah tertipu sama penampilannya. Aku baru tahu kalau dia pelakor. Dia sengaja menjebak pak Direktur supaya bisa dinikahi. Wanita itu terobsesi jadi orang kaya."


"Bang, cukup! Abang salah faham! Abang termakan berita hoax! Kamu sudah memfitnah sahabatku, Bang!" teriakku.


"Yank, kamu benar-benar ya! Apa jangan-jangan, kamu sengaja mendekati dia karena ingin kecipratan hartanya?!"


"Bang! Kamu menyakiti perasaanku! Huuu ...."


"Maaf, Abang minta maaf kalau kamu merasa aku sudah menyakiti kamu. Sekarang begini saja, 'deh. Kamu pilih siapa? Abang, atau teman kamu itu? Abang tak masalah dengan teman-teman kamu.Tapi please jangan temanan dengan wanita munafik kayak dia, yank. Wanita itu berbahaya."


"Apa?! Cukup, Bang!


"Kamu tahu? Saham perusahaan keluarga Antasena anjlok gara-gara dia, yank. Gara-gara kabar perselingkuhan dan pernikahan diam-diam pak Direktur dengan wanita itu."


"Diaaam!" teriakku.


Karena emosi, aku menutup panggilan. Lalu beteriak lagi. Semoga tak terdengar oleh pengunjung lain. Kalaupun terdengar, aku tak peduli.


"Aaarrggh!"


"Hei, cepat keluar! Jangan beteriak di kamar mandi!"


Tiba-tiba ada yang menggedor pintu kamar mandi. Aku terkejut dan segera keluar sambil menautkan alis. Suara tadi jelas suara pria. Apa aku salah masuk toilet?


"Listi?!"


"P-Pak Sabil?!"


Kami terkejut. Pak Sabil sampai mundur. Bahkan hampir memegang pistolnya. Dia sudah memakai baju biasa.


"Kenapa ada di toilet pria? Haish, kamu lalai ya," dengusnya.


"Namanya juga manusia! Kalau aku sesekali salah ya wajar! Aku tadi buru-buru! Aku tak sengaja masuk ke sini! Jangan menyalahkan aku!" teriakku.


"Apa? Hey, berani ya kamu beteriak di depanku." Pak Sabil melongo keheranan.


"Semua laki-laki sama saja! Bisanya hanya menyalahkan wanita! Anda 'kan polisi! Harusnya tak sembarangan menuduhku lalai sebelum ada bukti!"


Lagi, aku beteriak. Kemudian pergi sambil disengajakan menabrak bahu tegap pak Sabil. Kekesalanku pada Akmal, sedikit terlampiaskan dengan kehadiran pak Sabil.


"Listi Anggraeni!" panggilnya. Aku mengabaikannya. Tetap berjalan cepat sambil menghentak lantai.


"Kok bisa bu Daini punya teman seperti itu," ocehan pak Sabil masih bisa kudengar.


...⚘️⚘️⚘️...


Saat kukembali ke ruang perawatan, pak Direktur sudah ada bersama Daini.


Sepertinya, dia datang kemari bersama pak Sabil. Aku tak mau mengganggu kebersamaan mereka. Hanya duduk di sofa dan terdiam.


"Sayang, aku sudah membeberkan semuanya pada media. Maaf karena aku tak bisa menyembunyikan identitas kamu. Tapi, aku sudah mengirim beberapa orang ke Bandung untuk menangani situasi di sana. Aku juga sudah meminta bantuan pada pak Ihsan. Maaf ya sayang, semenjak bersamaku, hidupmu tak bisa tenang." Pak Direktur memegang tangan Daini.


"Huuu ... pak ... o-orang yang di-dibunuh itu ...."


"Jangan membahas itu dulu sayang. Nanti saja ya. Pikirkan kesehatan kamu dan calon bayi kita, oke?"


"Ti-tidak Pak, a-aku tak bisa terbaring di sini tanpa melakukan apapun. Pak, orang yang dibunuh itu mengenalku?" terangnya. Aku menyimak dengan jantung berdegupan.


"A-apa?! Apa yang dia katakan sayang?"


"Sa-saat masih mampu bicara, dia mengatakan, jadi seperti itu karena ingin menyelamatkanku, Pak."


"Apa?!"


"Benar Pak, huuu ... aku harus segera memberi kesaksian pada polisi. Ini seperti pembunuhan berencana. Dan kenapa ada nama aku di dalamnya? Pak, aku tak mengerti kehidupan seperti apa yang Bapak jalani. Tapi kenapa? Kenapa harus ada korban nyawa? Huuu ...."


"Hanin ...." Pak Direktur memelu Daini.


"Keluargaku sedang diuji sayang. Untuk kasus itu, polisi sedang menyelidikinya. Baik, kamu boleh memberikan keterangan, tapi setelah kondisimu stabil."


"Baik. Tapi ... setelah memberi kesaksian pada polisi, aku ingin pulang ke Bandung, Pak."


"Oke sayang, sekarang kamu istirahat ya."


"Permisi."


Pak Sabil masuk tiba-tiba. Dia datang tergesa sambil menunjukkan ponselnya.


"Pak Zulfikar, ada kabar baik," jelasnya


Pak Direktur memeriksa ponsel pak Sabil. Ia terkejut, tangannya mengepal kuat.


"Sudah kuduga! Mereka menipuku!"


"Ada apa, Pak?" tanya Daini sambil melambaikan tangan ke arahku.


"Dewi memiliki penyakit kepribadian ganda, sayang. Aku sebenarnya sudah punya bukti pendukung. Tapi, bukti ini adalah yang paling akurat. Rekam medis ini sulit bisa dibantah."


Daini terkejut. Akupun kaget tapi tak berani berkomentar.


"Setelah acara papa selesai, aku akan menuntutnya. Aku tak peduli kalaupun dia mengancamku."


"Mengancam?" Pak Sabil keheranan.


"Ya, Dewi mengancamku. Nanti akan kujelaskan pada Pak Sabil, tapi tidak sekarang."


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2