
Dewi Laksmi
Duniaku hancur-lebur. Aku laksana serpihan debu yang terhempas ombak dan tenggelam ke dasar lautan. Lenyap, dilupakan, dan tidak berarti.
Di kamar tamu milik si j a l a n g itu, aku menangis tersedu. Hatiku sakit. Bak ditikam jutaan sembilu tiada hentinya.
Baru kali ini aku merasa kalah. Biasanya, apapun yang kuinginkan selalu kudapati. Aku hanya ingin memiliki pria yang kucintai. Ya, dia sudah kumiliki. Dia telah menjadi suamiku. Aku sudah memiliki raganya. Tapi tidak dengan hatinya. Gara-gara j a l a n g itu, mas Zul tak lagi berusaha untuk mencintaiku.
Di suatu hari, aku sebenarnya telah mengalah. Kupikir, yang penting bisa berada di sisinya dan menikmati tubuhnya untuk memuaskan hasratku. Saat itu, aku masih bisa berbangga diri. Namun, apa yang kualami hari ini, benar-benar di luar dugaanku. Dengan lantang, dia tega menceraikanku di hadapan maduku dan banyak saksi.
Sungguh, hidupku seperti tiada guna lagi. Apa lagi setelah aku tahu jika papi ternyata ingin menyakiti dan membunuh mas Zulfikar. Padahal, aku sudah bilang sama papi agar ia tak menyakiti pria yang teramat kucintai.
"Huuu ... kenapa Tuhan tidak adil?" ratapku.
"Engkau juga menurunkan penyakit kepadaku. Engkau tidak adil, huuu ...."
Aku tak bisa begerak karena mereka mengikatku. Kupikir, kematianku akan mengakhiri semua hina-dina, kesakitan dan penderitaan ini.
Lalu, terkenang kembali masa-masa bahagiaku. Aku yang dimanjakan bak putri raja, bergelimang harta, bebas foya-foya, dan bebas melakukan apapun yang kuinginkan.
"Apa ini karma? Huuu ... apa ini balasan dari-Mu?" Aku menatap tajam pada langit-langit. Seolah tengah menyalahkan Sang Pencipta.
"Papi .... Mami ...."
Aku sadar telah menipu mereka. Ya, aku menjadi gadis baik nan anggun saat kuliah di luar negeri. Aku menyembunyikan kenakalanku melalui prestasi yang gemilang, hingga lulus dengan predikat cum loude.
Lalu, terbayang wajah teman-teman ba ji ngan yang telah menjerumuskanku ke lembah neraka. Yaitu, mereka yang telah berhasil membuatku menjadi manusia durhaka.
Mereka ternyata memanfaatkan kekayaanku. Setelah aku kecanduan dan butuh penanganan medis, barulah mereka lepas tangan dan menghindariku. Penyakit kepribadian gandaku didiagnosis setelah aku lulus kuliah, dan hal itu terjadi karena efek samping obat penenang dan doping yang sering kukonsumsi.
Doping adalah Performance Enhancing Drugs. Yaitu, jenis obat-obatan yang biasa digunakan oleh atlet untuk meningkatkan kinerja dalam olah raga yang sifatnya kompetitif. Sedangkan aku menggunakan obat tersebut untuk menjaga perfomaku dalam belajar.
"Huuu ...."
Aku bahkan teringat saat-saat menjijikkan ketika aku ditantang untuk melakukan hubungan intim di sebuah pesta ulang tahun teman kuliahku dengan pria asing yang sama sekali tak kukenali.
Dengan bodohnya, aku menyetujui tantangan mereka. Saat itu, aku mau melakukannya demi gengsi dan tentu saja demi pengakuan dari mereka.
Teringat kembali tawa riang dan ejekan pria itu setelah berhasil menodaiku. Tawanya semakin menjadi saat ia melihatku menangis karena kesakitan. Kupikir, dia akan senang dan memujiku karena mengetahui aku masih suci.
"Huuu."
Tapi, aku salah besar. Dia malah mengumumkan pada teman-temanku jika aku adalah gadis timur yang lugu dan primitif karena masih perawan. Dia juga mengejekku karena aku menangis saat melakukannya. Pria itu juga berkata jika aku adalah gadis yang lemah dan bodoh dalam hal bercinta. Apa yang dia katakan berhasil menjadikanku bahan ketawaan dan olok-olok.
__ADS_1
Saat itu, aku sangat marah. Namun mereka langsung diam dan tak berani mengejekku lagi setelah aku menjejali mulut mereka dengan uang dan voucher. Saat itu, sekalian saja kutunjukkan pada mereka jika aku adalah anak tunggal dan orang tuaku sangat kaya-raya.
Setelah melewati kejadian itu, aku jadi tak percaya pada cinta dan pria. Aku mengobati kemarahan dan kekecewaanku dengan menyewa beberapa model kelas dunia untuk memuaskanku nafsuku. Aku juga bisa menikmati pria mana saja yang tubuhnya kusukai.
Pria yang akan melayaniku selalu diperiksa dulu kesehatannya secara detail. Aku tidak sudi kenikmatan yang kudapatkan berbuah penyakit menular s e k s u a l yang di masa depan akan mengancam kesehatan dan nyawaku.
Dengan uang, pria-pria itu mau menjadi budakku. Aku melakukannya dengan menggunakan nama samaran dan topeng wajah agar identitasku tidak diketahui. Lebih tepatnya, agar apa yang kulakukan tidak merusak nama baik papi dan keluarga besarku.
Hingga pada suatu hari, aku diajak oleh papi dan mamiku untuk berkenalan dengan putra bungsu seorang konglomerat. Demi menghargai papi dan mami, aku patuh.
Di luar dugaanku, saat pertama kali melihat pria itu, aku merasa ada yang hangat di dadaku. Aku tertarik dengan semua yang dia miliki. Akupun merasa jika ketertarikan itu lebih dari rasa yang pernah ada sebelumnya. Bukan hanya ingin memiliki dan menikmati tubuhnya semata, saat itu ... aku juga merasa ingin memiliki hatinya. Ingin menjadi pendampingnya.
"Huuu, mas Zul ...."
Setelah pertemuan pertama itu, aku benar-benar menyukainya. Lalu aku memutuskan untuk melakukan operasi reparasi se la put da ra dan tentu saja tak melakukan kontak fisik lagi dengan pria manapun hingga aku dan dia menikah.
"Huuu .... Mas Zul ... ma-maaf ...."
"Papi .... Mami ... maafkan aku ...."
Entah kenapa, kata maaf itu tiba-tiba terucap begitu saja.
'Krak.'
Pintu kamar terbuka. Saat kulirik, aku melihat wanita yang paling kubenci masuk ke kamar dan mendekatiku. Dia membawa baki berisi susu, sepiring nasi beserta lauk-pauknya.
"Tak perlu pura-pura baik. Kamu senang 'kan mas Zul menceraikanku?"
"Tidak, Kak. Aku justru kecewa dengan keputusannya." Sambil mengusap perutku.
"Cepat! Lepas ikatannya!" teriakku.
"Aku mau melepasnya asal Kak Dewi janji tidak akan melukai diri sendiri dan mau makan. Bagaimana?"
"Jangan banyak omong! Cepat lepaskan saja Daini!"
"Maaf, Kak. Aku tak bisa."
"Ya sudah! Cepat panggil mas Zul untuk ke sini! Hanya mas Zul! Aku tak perlu orang lain!"
"Baik, akan kupanggilkan tapi harus ada aku, Kak. 'Kan Kak Dewi sama pak Zulfikar sudah becerai."
"Sombong sekali kamu, Daini! Ya sudah! Cepat panggil!"
__ADS_1
"Ba-baik, Kak." Dia berlalu.
Kupikir, aku harus melakukan jalan terakhir untuk mengembalikan statusku sebagai istri mas Zul. Jalan ini pasti ditentang oleh papi dan keluarga besarku. Tapi, aku tak peduli.
.
Mereka datang.
"Ada apa?" tanya mas Zul. Namun tak menatapku sama sekali. Dia malah memeluk dan menciumi pipi si Daini.
"Aku mau kita rujuk, Mas."
"Apa?! Hahaha. Jangan mimpi," ledeknya.
"Mas, dengarkan aku dulu. Dengan kita rujuk, kamu tak perlu pusing lagi dengan masalah persidangan. Kamu juga tak perlu susah-payah melawan papiku."
"Aku tidak mau," tegasnya.
"Kamu harus mau, Mas. Sebab, dengan kita rujuk, aku akan merestui pernikahan kamu dan dia diresmikan secara hukum."
"Apa?!"
Seketika dia terkejut. Langsung menatapku, seolah tak percaya dengan yang kukatakan. Si Dainipun terkejut.
"Aku juga berjanji akan patuh sama kamu, Mas. Aku tidak akan menyakiti diriku sendiri, ataupun menyakiti dia lagi. Aku juga akan menjamin perusahaan kamu tetap aman."
"Apa kata-katamu bisa dipegang?" Dia tampak ragu.
"Kamu harus percaya sama aku, Mas."
"Aku ragu," katanya.
"Mas, please ... lihat perutku Mas. Di dalamnya ada darah daging kamu. Ini buah cinta kita, Mas."
"Sayang, a-apa yang harus kulakukan? Tolong berikan sarannya." Mas Zul malah meminta pendapat dari si Daini.
"Emm, a-aku ...."
Si Daini tampak kebingungan. Mereka saling menatap. Tatapan di antara keduanya membuat dadaku sakit. Tatapan mereka dipenuhi cinta. Sebuah tatapan yang tak pernah aku dapati dari mas Zulfikar dan pria manapun. Kecuali papiku. Air mata ini kembali menetes. Aku memalingkan wajah untuk mengurangi kelukaan ini.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1
Sekali lagi, nyai mau bilang kalau nyai ... 'kangen.'
Oiya, apa ada saran untuk neng Daini? Tulis dikolom komentar ya. Boleh like dan vote jika berkenan. Terima kasih banyak.