
"Aku mandi di kamar tamu saja, ya," tambahnya saat kita sudah berada di kamar.
"Lho, kenapa memangnya? Mandi bersama itu sunah 'kan?" Aku beralibi.
Hanin diam saja. Dia bersiap, meraih handuk dan pergi ke arah luar kamar.
"Sayang, mau kemana?" Aku menghadangnya.
"Mandi di kamar tamu, Pak."
"Hanin, apa pantas seorang istri menolak ajakan suaminya tanpa sebab? Padahal, aku sudah janji tidak akan aneh-aneh," tegasku.
Aku pura-pura cemberut dan berekspresi kesal. Lalu cepat-cepat meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Agar aktingku terlihat maksimal, aku menutup kencang pintu kamar mandi.
"Astaghfirullah," gumam Hanin.
Di kamar mandi, setelah melucuti seluruh penghalang, aku berendam di bathup. Menenggelamkam tubuhku sampai batas dada.
'Trak.' Pintu kamar mandi terbuka. Aku pura-pura tak peduli.
"Maaf Pak. O-oke, a-aku mau mandi di sini," katanya.
Aku ingin lanjut pura-pura tak peduli. Tapi pantulan tubuh Hanin terlihat jelas dari kaca yang berada di sisi bathup.
Dia hanya memakai selembar handuk yang panjangnya di atas lutut. Rambutnya dilipat dan diikat tinggi-tinggi. Leher jenjangnya jadi terlihat kian jelas dan menantang.
"Kemari!" titahku dengan nada penuh penekanan.
"A-ada apa, Pak?"
"Naik!" titahku lagi.
"Emm, ba-baik," katanya. Mendekat.
Aku menghalangi bibirku yang sedang tertawa saat kaki indahnya mulai melangkah ke dalam bathup.
Tak bisa kutahan lagi karena ada sesuatu yang terus mendesakku. Aku menarik tangannya hingga tubuh Hanin jatuh menimpaku. Kutarik jua handuknya hingga ia terkejut dan menutup diri.
Aku segara mendekapnya.
"Ja-jangan ya Pak," lirihnya.
"A-aku janji tidak akan mamasukimu, akan aku tahan sa-sayang. Aku hanya ingin memeluk tubuh indahmu. Lalu ... ingin membelai kulit halusmu ini," bisikku.
"Apa boleh?" tanyaku sambil menghidu aroma bunga yang menguar di area leher dan tulang selangkanya.
"Bo-boleh, uhh ...," jawab Hanin dengan bibir gemetar.
Kenapa bibirnya gemetar?
Karena di balik air yang berbusa ini, tanganku telah ingkar janji. Ya, bibirku memang mengatakan tidak akan mengganggunya ataupun memasukinya. Tapi, tanganku berkhianat. Aku tak kuasa membiarkan kemolekan nan menggiurkan ini lolos begitu saja. Aku berdusta pada janjiku sendiri. Aku sangat-sangat menginginkannya. Ingin memasukinya dan merenggut kembali kedahsyatannya.
"Ma-maaf ya sayang ..., aku tak bisa menahannya, a-aku tak bisa mengendalikan tubuhku. Aku lemah dalam hal ini, su-sudah kubilang 'kan? A-aku sangat terobsesi dengan tubuh kamu Hanindiya," bisikku saat Hanin merintih perlahan sambil mengeratkan tangan pada pundakku. Aku sedang berusaha menerobos pertahanannya.
"Sa-sayang? K-kamu menangis? A-apa sa-sakit?" Aku menangkup pipinya.
Dia menggelengkan kepala sambil menggigit kuat bibir bawahnya. Hanin menyangkal. Padahal, jelas sekali jika di sudut matanya ada linangan air mata.
"Se-serius tak sakit? Ma-maaf ya sayang," bisikku. Lagi, dia menggelengkan kepala dan tetap bungkam.
Aku meraih dagunya, kupagut perlahan bibirnya agar ia mau bicara. Cukup lama aku mejalinkan bibirnya dengan bibirku hingga ia terbatuk-batuk. Dan Hanin tetap terdiam.
"Ja-jangan diam saja sayangku, a-ayo katakan sesuatu sayang. Atau katakan saja kalau kamu juga sangat menikmati aktivitas ini, be-benar 'kan?" bisikku.
Tapi ... Hanin tetap membisu. Malah menyembunyikan dan menelusupkan kepalanya di dadaku. Aku memeluknya erat. Lalu aku melanjutkan apa yang telah kumulai agar tertuntaskan seluruhnya.
Hingga pada akhirnya, dengan suara tercekat dan tercekal, Hanin m e n d e s a h - d e s a h dan menggelinjang jua. Hanin memasygul rambutku sambil membuka dan menutup matanya. Tatapannya nanar dan tentu saja kian memantik birahiku.
Napasnya menderu-deru, berhembus cepat menghangatkan telinga dan leherku. Jeratan tubuhnya sangat kuat hingga menyesakkan dan mendesirkan aliran darah di sekujur tubuhku.
Kemudian aku merasakan terbang tinggi ke nirwana. Lalu aku menumpahkannya dengan perasaan nikmat yang teramat sangat dan perasaan bahagia yang tiada terhingga.
"I love you ...," bisikku. Kukecupi kening dan puncak kepalanya berulang-ulang.
...🍒🍒🍒...
"Kamu sangat cantik sayang. MasyaaAllah."
Aku memperhatikan penampilannya. Kita sudah berada di lift. Seperti biasa, Hanin membelakangi kaca. Alih-alih melihat pemandangan, dia lebih memilih menatap dadaku.
"Hatur nuhun," katanya.
__ADS_1
Sayangnya, aku tak bisa memeluknya. Sebab, tangan kiri dan kananku sedang memegang kantung plastik yang berisi sistik dan puding buah.
"Pak, pelan-pelan meletakannya." Ia risih saat melihatku menyimpan puding dan sistik di bagasi.
"Tenang saja sayang." Aku lantas membukakan pintu mobil untuknya. Di dalam mobil, Hanin gelisah.
"Pak, aku takut. Aku tak tenang."
"Pegang tanganku sayang." Aku meraih tangannya.
"Bapak 'kan mau nyetir."
"Emm, tak selalu berpegangan sayang. Hanya sesekali," kataku.
"Oh," Hanin tersenyum dan akupun tersenyum. Kemudian kemelajukan kemudi menuju rumah mama.
Sepanjang perjalanan, Hanin sering melamun, berulang kali ia menghelas napas dan mengintip ke luar jendela. Terkadang, ia juga nengelus perutnya.
"Kenapa perutmu, apa ada yang sakit?" Aku spontan merabanya.
"Ti-tidak apa-apa, Pak," elaknya.
...🍒🍒🍒...
Tak terasa, tiba jua akhirnya di kawasan rumah orang tuaku.
"Pak, ge-gerbangnya sebesar ini? Se-seluas ini?" Hanin teperangah.
"Iya sayang."
"MasyaaAllah," katanya.
Lalu beberapa orang pekerja menghampiri mobilku.
Namun bukan kedatangan mereka yang membuatku kaget. Masalahnya adalah ... di halaman utama ada banyak wartawan.
"Pak Zul," sapa salah satu petugas keamanan saat aku membuka kaca mobil.
Hanin menunduk. Ia menautkan jemarinya. Terlihat jelas jika dirinya sangat gugup.
"Pak, kenapa ada banyak wartawan?" tanyaku pada petugas keamanan.
"Oh, mereka diundang sama bu Yuze, Pak."
"Saya tidak tahu, Pak," jawabnya.
"Ya sudah, aku mau parkir sendiri saja," kataku dikala petugas keamanan menatap ke arah Hanin.
Aku melajukan kemudi ke area parkiran yang berada di sisi kanan halaman utama, bersebelahan dengan taman.
"Sayang, kamu tunggu dulu di dalam mobil ya, aku turun duluan."
"Ke-kenapa tak turun bersama, Pak? A-aku takut," lirihnya.
"Hanin, aku harus memastikan dulu untuk apa mama mengundang wartawan. Ya sudah, begini saja, kamu boleh turun tapi tunggu dulu di taman ya. Jangan ke mana-mana sebelum aku datang. Oke?"
Hanin mengangguk lemah. Kami kemudian turun dari mobil.
"Pak, oleh-olehnya." Hanin membuka bagasi, ia mengambil kedua kantung plastik itu dengan hati-hati.
"Sayang, biar aku saja yang bawa."
Aku membawa Hanin ke taman. Kemudian meninggalkannya dengan perasaan getir. Dia menatap kepergianku sambil tersenyum. Jangan lupakan dua kantung plastik merah berisi puding dan sistik yang ada dalam pelukannya.
Hatiku sakit saat dia melambaikan tangan dan mengangguk. Seolah mengatakan padaku agar cepat pergi dan tak perlu mengkhawatirkannya.
Aku membalikan badan sambil memegang dadaku. Hanin pasti merasa sedih.
...🍒🍒🍒...
Aku masuk ke rumah tidak melalui jalan utama. Tapi melewati jalan belakang. Langsung ke ruang tamu untuk menemui mama.
"Mas," Dewi muncul. Dia langsung memelukku.
"Mama mana?" tanyaku.
"Ada di depan Mas. Oiya, si Daini tak kamu bawa 'kan?"
"Aku membawanya. Aku sudah bilang sama mama kalau aku akan membawanya."
"Apa?!" Dewi terkejut.
__ADS_1
"Zul?" Mama langsung meninggalkan tamunya saat melihatku.
"Ma," aku mencium tangan mama.
"Mana wanita itu? Kamu membawanya 'kan?"
"Ya, aku datang bersamanya. Tapi, aku mau tanya dulu sama mama, kenapa mama mengundang wartawan? Bukankah ini hanya makan malam keluarga?"
"Mama mengundang mereka ada tujuannya Zul, dan itu demi kebaikan kamu."
"Maksud Mama apa?" Aku keheranan.
"Mama sudah tahu cerita dari Dewi kalau kamu terpaksa menikahi wanita itu karena kamu mabuk dan wanita itu salah kamar. Jadi, Mama sengaja mengundang wartawan agar wanita itu mau memberikan kesaksian pada publik."
"Apa?! Maksud Mama apa?! Kesaksian apa, Ma?!" Nada bicaraku langsung meninggi.
"Zul! Kamu jangan bodoh ya! Kamu ditipu sama wanita itu! Dia pasti bisa masuk ke kamar kamu karena bersekongkol dengan resepsionis!"
"Ma! Pintu kamarku terbuka karena kelalaian resepsionis! Polisi sudah mendapatkan bukti CCTV untuk masalah itu! Resepsionis yang lupa mengunci juga sudah diperiksa dan mengakuinya!" teriakku.
"Zul! Resepsionis itu pasti memberikan keterangan palsu! Dia mungkin sudah diberi uang sama wanita itu!" teriak mama.
"Ma, kalau mama bersikeras, baik! Sekarang aku mau telepon pengacara dan polisi agar datang ke sini dan menjelaskan kronologinya sama Mama!"
"Oke! Sekalian saja kamu suruh mereka untuk membeberkan kasus ini ke media! Ayo kita buat kegaduhan! Kamu memang sudah terbiasa jadi pembangkang! Kamu tak belajar dari kasus kamu dengan si Angel!" teriak mama. Dewi memeluk mama.
"Ma, sabar Ma," katanya.
"Ada apasih ribut-ribut?!" Kakakku datang.
"Gendis, kamu tak tahu apa-apa! Sudah, kamu masuk lagi saja ke kamar kamu! Jangan menambah beban Mama! Cukup adik kamu saja yang sulit diatur!" sentak mama pada kak Gendis.
"Ish! Mama," kak Gendis cemberut.
"Mama dan papa baru saja rehat dari kasus peceraian kamu, Gendis! Tolong, kamu jangan ikut campur masalah adik kamu! Cepat ke kamar lagi!" usir mama.
Kak Gendis pergi. Aku tahu kalau dia menahan tangisan. Ya, kak Gendis memang baru saja ketuk palu dan dinyatakan sah becerai.
Alasan peceraian mereka karena kak Gendis tak kunjung hamil setelah 8 tahun menikah. Kak Gendis sering mendapatkan tekanan dari mertuanya untuk segera memiliki momongan. Kak Gendis sebenarnya sudah beberapa kali melakukan program kehamilan seperti inseminasi dan bayi tabung. Tapi selalu gagal.
"Pak Sabil, cepat datang ke rumah orang tuaku. Bawa data milikku yang kasus salah kamar itu." Selesai menelepon polisi, aku lanjut menelepon pak Ikhwan, pengacaraku.
"Aku sudah menelepon mereka Ma. Sekarang, aku mohon pada Mama agar jangan melibatkan media dalam masalah ini. Hanin korban, Ma. Saat aku menidurinya, dia masih suci. Dia wanita baik-baik," terangku.
"Zul, siapapun wanitanya pasti akan senang hati dan lapang dada kalau ditiduri sama kamu! Kamu kaya, terpandang, ganteng dan kamu juga punya jabatan. Siapa sih yang gak mau sama kamu?! Dia pasti sengaja mengorbankan keperawanannya demi mendapatkan kamu, Zul! Mama yakin sifat wanita itu sebelas dua belas sama si Angel!"
"Tidak, Ma! Sifat Hanin dan Angel bagai langit dan bumi!" sangkalku.
"Zul! Kalau dia merasa jadi korban, harusnya dia melaporkan masalah ini sama polisi! Bukannya malah meminta kamu menikahinya!"
"Mama betul Mas, harusnya si Daini lapor polisi. Kalau begini ceritanya, jelas sekali kalau dia memang mau mendapatkan keuntungan dari menikah dengan kamu. Di samping itu, dia juga pastinya ngerasain enak kali Mas dicelup sama kamu. Jadinya ketagihan dan gak mau ngelepasin kamu," sela Dewi.
"Wi cukup! Setelah Mas telaah, kamu itu ternyata plin-plan, ya! Kamu berubah pikiran dan pendapat setiap waktunya! Ma, Mama harus tahu, aku pernah akan menceraikan Hanin, tapi Dewi melarangku menceraikannya. Selain itu, Dewi juga mengancamku, Ma."
"Huuu, Ma. Mama lihat, kan? Mas Zul berubah drastis setelah mengenal wanita itu. Dia sembarangan menuduhku. Padahal, aku memang tulus ingin menerima wanita itu." Dewi langsung menangis dan memeluk Mama.
"Ck ck, ck, bagus sekali aktingmu, Wi." Aku tersenyum sinis. Tak habis pikir dengan perubahan sifat dan sikapnya.
"Zul, Dewi itu membela kamu, lho!" sentak Mama.
"Ma dengarkan aku! Kata Mama, Dewi mengatakan pada Mama kalau aku minta izin untuk poligami. Lalu sekarang, Dewi tiba-tiba mengatakan tentang pertemuanku dan Hanin pada malam itu."
"Harusnya Mama sadar kalau pada keterangan sebelumnya Dewi mengarang cerita. Dewi sudah memfitnahku dengan mengatakan kalau aku minta izin poligami. Padahal, aku tak pernah mengatakan itu!" tegasku.
"Huuu, Ma ... aku mengatakan demikian karena aku syok. Siapa sih yang tidak syok saat mengetahui suaminya tiba-tiba punya istri muda? Aku stres dan tertekan, Ma. Ja-jadi a-aku terpaksa mengarang cerita, huks."
Mama menghela napas.
"Ya sudah, kamu tenang ya, Wi. Dan kamu Zul, cepat bawa wanita itu ke hadapan Mama. Masalah wartawan, biar Mama yang atasi."
Nada bicara mama tak lagi meluap-luap. Syukurlah, aku jadi merasa sedikit lega.
Aku segera kembali ke taman.
...🍒🍒🍒...
Setibanya di taman, aku terkejut. Aku tak menemukan Hanin. Dia tidak ada di bangku taman. Plastik sistik dan pudingnyapun tak ada di tempat.
"Haniiin, sayaaang," panggilku.
...~Tbc~...
__ADS_1
...Yuk komen yuk! Percalah, satu kata komentarpun sudah cukup membuat nyai lebih semangat. Yang masih punya vote, jika berkenan, vote TBR juga ya. Semoga karya nyai lebih dikenal oleh pecinta NT/MT....
...Kira-kira, neng Daini pergi kemana ya? Jangan bikin kaget dong, neng Dai! Oiya, apa benar mama Yuze tak jadi melibatkan wartawan? Semakin penasaran....