
Daini Hanindiya Putri Sadikin
"Haniiin, sudah belum? Cepat dong, aku lapar," teriaknya. Sengaja aku mengucinya dari dalam agar dia tak bisa masuk saat aku ganti baju.
Bagaimana aku mau keluar kamar kalau bajunya seperti ini?
Baju rumahan yang dia maksud benar-benar membuatku malu. Ya, aku memang suka pakai rok, tapi bukan rok seminim ini. Aku berharap bang kargo cepat datang supaya aku bisa memakai baju rumahan yang sesuai dengan seleraku. Aku mematung di balik pintu.
Apa aku pakai bawahan mukena saja?
Baju yang kupakai juga tak kalah seksinya. Lengan panjang sih, tapi ini sangat ketat. Lekuk tubuhku tercetak sempurna. Selera pria itu benar-benar mengerikan.
"Hanindiya, apa kamu akan membiarkanku kelaparan?"
Lalu pintu kamar terbuka, aku kaget. Ya iyalah, dia pasti punya kunci cadangannya. Dia langsung menatap ke arahku sambil mengulum senyum.
"Lucu, can ---, emm kamu seperti boneka," ledeknya. Aku diam saja, lebih baik menatap lantai mengkilat yang terbuat dari lapisan kayu jati.
"Ayo makan," dia mengulurkan tangan.
"Pak, a-aku tidak nyaman memakai baju seperti ini," protesku.
"Hahaha, Hanin, kamu seperti ini hanya di hadapanku, hanya aku yang boleh melihat kamu seperti ini." Benar-benar mata keranjang. Beraninya dia memonopoli tubuhku. Atas dasar apa coba kalau bukan karena nafsu.
"Aku mau pakai daster," sambil menepis tangannya.
"Boleh, nanti kubelikan." Karena ditepis, dia memaksa meraih tanganku, lalu menuntunku menuju dapur.
Pada akhirnya selalu seperti ini. Aku tak bisa melawannya. Kadang aku juga heran karena sekuat apapun aku menolak, tubuhku selalu berkhianat. Tubuhku seolah menyukai tipu daya dan segenap kemesumannya.
.
Dia bahkan menarik kursi untukku saat kami tiba di meja makan. Sungguh pandai dia berakting. Saat bersama bu Dewi, dia mungkin bersikap lebih manis dari pada ini. Walaupun masih kesal, aku tetap mengambilkan nasi dan ikan untuknya. Lalu sayur bening yang aku pisah di mangkuk yang lain.
Saat makan hendak dimulai dia tampak kebingungan.
"Kenapa?" tanyaku.
"Maaf Hanin, aku tidak bisa membuang tulang ikan, bisa kamu ajari?"
Aku hanya menghela napas. Tak menyangka ada manusia sebesar ini tapi belum bisa makan ikan yang bertulang. Daripada banyak protes dan mengganggu waktu makan, aku memutuskan untuk membuangi tulang ikan itu dan menyimpan di piringnya setelah tanpa tulang.
"Terima kasih Hanin," ucapnya.
Lalu dia makan dengan lahap. Sesekali aku meliriknya acap kali ia menyuap atau mengunyah, aku mencuri pandang ke arahnya.
Tiba-tiba ada perasaan hangat di dada ini. Aku senang karena dia manyukai masakan sederhanaku. Lain kali, kalau dia datang lagi akan kubuatkan masakan yang lebih spesial. Aku juga harus bertanya makanan kesukannya.
Ya Allah, ada apa dengan hati ini? Kenapa aku berharap dia kembali untukku dan berharap bisa memasak lagi untuknya?
Tidak, perasaan dan harapan bodoh ini tidak boleh tumbuh. Seketika, nasi yang kutelan serasa sekam, hati ini sakit manakala sadar jika dia bukan milikku.
"Hanin, jangan melamun," dia berucap sambil menyelipkan anak rambut ke telingaku. Saat aktivitas makan selesai, dia memintaku untuk mengajarinya mencuci piring.
"Tidak perlu, Pak. Nanti tangan Anda terluka."
"Tugas rumah sebenarnya tugas suami, kan?" tanyanya. Ia berdiri di belakangku. Tangannya mengurung tubuhku dengan cara memegang tepian wastafel.
Pada umumnya, banyak orang yang beranggapan bahwa mencuci dan memasak adalah kewajiban seorang istri. Sedangkan mencari nafkah merupakan kewajiban bagi suami. Islam memang sudah mengatur hak dan kewajiban suami dan istri. Mulai dari urusan menjaga ikatan tali pernikahan hingga perkara setelah perceraian.
"Memang bukan kewajiban istri, Pak. Tapi akan lebih baik jika aku sebagai istri membantu suami dalam urusan rumah tangga sebagaimana yang telah berlaku di masyarakat, aku ikhlas kok," jelasku.
"Hanin," dia merangkulku. Sudah kuduga, adegan selanjutnya akan seperti ini.
"Pak ... ja-jangan begini, aku jadi susah mencuci piringnya," keluhku. Ingin menepisnya tapi sulit karena tanganku berlumur sabun.
"Meskipun kamu sebagai istri sudah ikhlas melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci, memasak, menyapu, dan lain sebagainya, tapi aku sebagai suami wajib tahu dan menjelaskan bahwa pekerjaan itu bukanlah kewajiban kamu," terangnya.
Aku senang dia faham masalah ini. Bu Dewi beruntung memiliki suami seperti dia. Aku diam. Ingin segera menyelesaikan kegiatan mencuci ini. Sungguh, dia bukan mau belajar mencuci piring, tapi ingin menggangguku.
Ahh, desahku dalam hati saat dia mengecupi tengkukku. Sementara tangannya membelit erat pinggangku. Dia menjengkelkan. Aku kian kesal saat tangannya mulai menelusup ke area itu.
'Ting tong, ting tong.' Bel berbunyi.
"Tunggu, aku cek dulu." Dia berlari menuju pintu keluar. Beberapa saat kemudian datang lagi dan cepat-cepat mencuci tanganku.
"Hanin, ada petugas kargo, barang-barangmu sudah datang. Kamu cepat masuk ke kamar. Aku tidak mau mereka melihatmu." Mengelap tanganku, lalu menarikku agar segera ke kamar. Dia panik dan sibuk sendiri.
"Jangan pernah keluar kamar sebelum mereka pulang, intinya sebelum aku membolehkan kamu keluar jangan berani-berani keluar, oke?" titahnya.
Aku hanya mengangguk. Senang rasanya karena sebentar lagi bisa mengganti baju kurang bahan ini dengan baju yang layak.
.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
"Hanin," dia membuka pintu kamar. Dia membawa koperku. Aku sudah memakai mukena karena sebentar lagi waktu Maghrib tiba.
"Ya Pak," aku melirik.
"Wah, apa kamu suka sama mukena yang kubelikan?"
"Emm, suka," sambil begeser.
Aku takut batal wudhu kalau dia menyentuhnya. Sejujurnya, aku kurang nyaman dengan mukena ini. Karena banyak renda, jadi terasa sedikit berat. Tapi aku tidak mungkin mengatakan kurang suka.
"Oiya barang-barang lainnya aku simpan di dapur."
"Terima kasih," jawabku.
Lalu adzan berkumandang. Aku segera menunduk khidmat untuk menjawab panggilan itu.
"Kita shalat berjamaah, tunggu ya. Kalau nanti bacaanku jelek, harap maklum," katanya.
Ia berlalu ke kamar mandi. Aku jadi tak sabar ingin segera mendengar bacaan shalatnya, tiba-tiba jadi berdebar. Saat dia selesai wudhupun aku masih berdebar.
"Unit ini masih luas, kalau kamu setuju, nanti kita buat ruangan khusus untuk moshola. Ayo iqomah," katanya.
Ternyata, bacaan shalatnya cukup bagus, suaranya juga merdu. Makhorijul hurufnya juga sesuai. Jika banyak berlatih, aku yakin dia pasti fasih.
Aku memandang pundak dan punggungnya saat dia tengah berdoa. Aku mengamini doanya seraya berurai air mata. Pernikahan ini seperti pernikahan sungguhan. Namun saat aku ingat ada hati yang terluka akibat kehadiranku, air mata ini kian deras hingga isakanku pasti terdengar olehnya.
"Hanin."
Pak Zulfikar membalikkan badan dan mengulurkan tangan. Aku tidak mungkin menolak uluran tangan suamiku. Aku meraihnya, mencium tangannya. Lalu dia juga mencium tanganku dan menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Aku menangis di dadanya.
Kenapa? Kenapa aku menangis di dada pria yang menjadi sumber tangisku?
Aku tidak ingin seperti ini, aku ingin memaki dan mengusirnya, tapi ... tiba-tiba ada perasaan tenang saat aku didekapnya.
"Menangislah sepuasmu, sesuka hatimu. Kamu juga boleh membenciku seumur hidupmu, tapi ... jangan pernah berharap jika kebencianmu bisa merubah keputusanmu untuk menceraikanmu," lirihnya. Dia mengusap airmataku.
Aku kemudian memberanikan diri menatapnya. Mungkin aku salah lihat, tapi ini jelas sekali. Mata Pak Zulfikar berkaca-kaca. Aku terus menatapnya untuk memastikan jika yang kulihat adalah salah.
Tes, aku tidak salah lihat. Pria mesum ini meneteskan air mata sambil tersenyum kepadaku. Entah apa yang ia tangisi. Mungkin, dia menangis bahagia karena sudah berhasil memperalatku menjadi wanita pemuasnya.
"Akhirnya aku bisa melihat air mata buaya," gumamku sambil beranjak dari dekapannya.
"Apa katamu?" Sambil mengusap airmatanya.
"Air mata buaya," tegasku.
"Jangan ganti baju. Tetap memakai baju itu, aku tahu kamu mau ganti baju, kan?" duganya.
"Issh," dengusku, kesal.
"Aku mau nonton TV, temani aku nonton ya." Dia keluar dari kamar. Padahal di kamar juga ada televisi.
"Baik Tuan Zulfikar Saga Antasena," kataku sambil berdiri, memegang dada, lalu membungkukkan badan membuat gerakan hormat ala-ala kerajaan.
"Kamu mau menggodaku?" Dia mendekat.
"Menggoda? Ti-tidak, aku tidak kepikiran menggoda Anda." Aku mundur saat dia kian mendekat.
"Jangan bohong, awas kamu ya," dia berjalan cepat ke arahku.
"Tunggu, Bapak mau apa?" Aku spontan menghindar saat dia akan meraih tanganku.
"Hanin, apa maksudnya kamu menghindar, hahh?" Dia kembali meraih tanganku, dan aku spontan menghindar dengan cara berlari keluar kamar
"Hei, Hanindiya! Berani kamu lari? Apa imbalannya kalau aku bisa mengejar kamu?!" Serius, dia mengejar.
"Aaaa," aku beteriak, berlari ke ruang tengah, lalu bersembunyi di balik sofa.
"Hahaha, kamu kira aku tidak bisa melihatmu?" Dia ada di belakangku.
"Aaa, ummiii," pekikku.
Aku berlari lagi mengitari sofa saat dia lanjut mengejarku. Dia merentangkan tangan untuk mengepungku.
Adegan ini persis seperti permainan ucing udag. Yaitu sebuah permainan yang berasal dari dataran Sunda, dimainkan oleh dua orang pemain atau lebih. Di Bandung ada yang menyebutnya udagan atau udag-udagan yang artinya kejar-kejaran.
Saat Pak Zul mengejar ke kiri aku menghindar ke kanan. Saat dia mengejar ke kanan, aku ke kiri. Aku bingung, dia sengaja tidak bisa mengejar, atau bagaimana sih? Serius aku mulai lelah.
"Hhh, hhh, a-aku lelah Pak, tolong jangan kejar aku lagi," napasku bekejaran. Aku nyaris terpojok.
"Huhh, menyerah kamu rupanya ya. Dasar payah," ledeknya. Dia membalikan badan dan sepertinya tidak akan mengejar lagi. Syukurlah, aku bisa bernapas lega. Aku menggeliatkan badan agar tidak pegal. Namun ....
"Kena kau! Hahaha."
"Haaa," aku membeliak. Saat aku menggeliat dan lengah, dia menangkap tubuhku. Memiting leherku sambil tertawa-tawa.
__ADS_1
"Pak, lepas! Anda curang," aku bersikeras melepaskan diri, tapi kesulitan. Dia menyeret tubuhku ke sofa.
"Tidak akan kulepaskan, jangan harap!" katanya. Karena kebisan ide, akupun menggelitik perutnya.
"Hahaha, ahh Ha-Hanin, auh ah ah, hahaha Hanin hentikan! Ah, hahaha, ge-geli, hahaha," dia menggelinjang sambil terpingkal.
"Rasakan!" kataku.
"Kamu kira aku bisa dikalahkan, hmm? Mustahil," katanya.
"Ahh, Pak a-ampun, hahaha," dia mendorong tubuhku ke sofa hingga aku terlentang, dia balas menggelitikku.
"Aaa. Ahh, a-ampun Pak," aku meronta ke sana ke mari, sungguh melelahkan. Geli sekali dan akupun mulai lemas.
"Hahaha, makanya jangan main-main denganku," dia berhenti tapi langsung mengurung tubuhku. Aku masih mengatur napas saat dia tiba-tiba mencengkram daguku dan memagut kuat bibirku.
"Uhm, mmm ...."
Aku terhenyak hingga melotot sempurna. Tapi ... seketika tubuhku melemas saat dia terasa begitu lembut dan manis. Aku memejamkan mata, sementara dia terus menggodaku dengan mahirnya hingga tubuhku bedesir dan merinding.
Lagi, tubuhku kembali berkhianat. Pelan tapi pasti, tangan bodoh ini memeluk lehernya. Aku bahkan membalas apa yang dia lakukan. Memalukan! Dia sampai terkejut. Sejenak mengambil udara dan menatapku.
"Ka-kamu?"
Dia tersenyum sambil mengusap bibirku. Pipiku panas, pasti merah sekali. Aku menggulirkan pandangan, tak ingin bersitatap dengannya karena malu.
"Kita lanjut ya," ucapnya. Tangannya menelusup nakal ke sana sini. Aku teperanjat, tapi tak bisa berbuat banyak.
"P-Pak, emh ... ja-jangan."
"Maksudmu jangan berhenti, kan?" godanya.
"Pak, please ...."
"Hmm, maksudnya kamu memohon untuk disegerakan? Baiklah," godanya lagi.
Dia kembali bermain-main dengan tubuhku. Aku menutup mulutku, ingin menolak. Tapi ke dua kakiku sudah dicekalnya. Kemudian ... aku tak bisa mendeskripsikan lagi perasaan ini. Saat aku sudah tak berdaya, dia menanggalkan seluruh milikku, pun melucuti miliknya.
"Hanin ... a-aku ingin melakukannya di sini, bo-bolehkah?" bisiknya seraya mencium daun telingaku. Napasnya tersengal-sengal.
"Ti-dak bo-boleh, Pak ... A-aku tidak mau," tolakku.
"Ta-tapi a-aku mau sayang ... sangat mau, kamu canduku, Hanindiya." Tatapannya nanar, dia seperti orang mabuk.
"A-apa?"
Aku kaget karena dia memanggilku 'sayang.' Mungkin itu hanya spontanitas. Rayuannya juga memautkan. Dia mengatakan aku sebagai candunya. Benar-benar buaya sejati.
"Pak, a-ada CCTV, ja-jangan di sini yahh ...."
"Hanin, ja-jangan memanggilku 'Pak' lagi. Panggil aku 'Mas Zul.' Eh tidak, jangan Mas Zul. Panggil Mas Fi, atau Mas Sena," katanya.
"Pak, a-aku tidak mau di sini, di sini terlalu terbuka." Aku menutup diri dan tubuhku.
"Hanin, ini rumah kita, ini tertutup sayang, bukan di tempat umum," desaknya. Lagi, dia tak sadar memanggilku 'sayang.'
Aku kembali dilema. Aku tak ingin melakukan ini, tapi tak punya kuasa untuk menolaknya. Kembali pada asumsiku sebelumnya, aku wanita pemuas hasratnya, aku mainannya. Aku kupu-kupu malamnya.
"Pe-pelan-pelan ...," lirihku. Menahan tangannya sambil memalingkan wajah. Aku merasa malu, memalukan, dan dipermalukan.
"I-iya sayang, aku akan perlahan. Mari berdoa bersama," katanya sambil meraih kepalaku sejenak untuk dikecupnya.
Dia begitu manis, tutur kata dan rayuannya benar-benar menipuku. Namun tiba-tiba ponselnya bedering.
"Tunggu ya," katanya.
Dia cepat-cepat memakai penutup, mengambil ponselnya dengan terburu-buru. Dia meninggalkanku begitu saja.
"Halo cinta," sapanya. Dia berlalu dariku.
Aku beringsut, di ujung sofa aku memeluk tubuh polosku. Lalu memunguti apa yang telah dilepasnya. Aku tidak ingin menangis, tapi air mata ini memaksa keluar. Dia menetes terus menetes.
Aku tahu dia bukan milikku, aku tahu diri ini hanya orang ketiga, aku tahu jika posisiku tidak lebih dari pemuasnya. Aku tahu jika di matanya diri ini tak berharga.
Ya, aku memang sadar diri, tapi ... apa yang baru saja dia lakukan terasa menyesakkan dada. Dia yang meninggalkanku dalam keadaan seperti ini, telah membuat jiwa dan ragaku terluka. Aku juga merasa jika tubuh ini begitu menjijikkan.
Tidak, aku tak bisa seperti ini dalam waktu yang lama. Aku tidak boleh menyiksa diri. Jika pak Zulfikar belum memiliki keberanian untuk membeberkan semuanya. Maka aku sendiri yang akan melakukannya. Benar, aku harus menemui bu Dewi.
Dengan tangan gemetar, aku memakai kembali pakaianku. Lalu beranjak ke kamar.
"Oke, Mas tidak jadi menginap, tapi Mas baru bisa pulang jam 12 malam, sabar ya cinta, mau dibelikan apa?" tanyanya. Aku tak sengaja menguping percakapannya.
Airmataku semakin deras. Aku membanting tubuhku ke kasur, lalu membenamkan kepalaku pada bantal. Aku menangis sepuasnya.
"Abah ... ummi ... aku tak bisa melanjutkan ini, huuu huuu," ratapku.
__ADS_1
...~Tbc~...