Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Asisten Manajer


__ADS_3

"Haniiin, kamu tidak apa-apa, kan? Jangan membuat aku khawatir."


Pal Zulfikar masih berada di balik pintu.


"Aku tidak apa-apa, kok," jawabku.


"Kalau tidak apa-apa cepat buka pintunya, aku juga mau mandi," katanya.


Dilema ini bertambah. Kalau mandi bareng dia, aku khawatir dia main-main dengan tubuhku lagi. Tapi kan aku sudah mandi.


Lalu, bagaimana dengan tespek ini?


Aku kembali berpikir. Ya, kehamilan ini belum tentu benar. Aku perlu memastikannya lagi. Kalau tidak salah, bisa saja ada kondisi tertentu yang menyebabkan tespek positif dua walaupun sebenarnya bukan kehamilan. Aku masih berharap tespek ini salah.


"Sayang? Hanin."


'Tok tok tok.'


Akhirnya dalam kepanikan ini, aku memutuskan untuk merahasiakan dulu tespek positif dua ini pada pak Zulfikar. Aku akan mengatakannya nanti setelah aku yakin dan siap.


Aku tidak ingin hal ini menimbulkan masalah baru dan membebani pak Zulfikar. Aku juga belum yakin jika bu Dewi benar-benar ikhlas berbagi ranjang denganku.


Walaupun dia menolak pak Zulfikar menceraikanku, tapi jika dugaan pengacara benar kalau bu Dewi ingin balas dendam, itu artinya keberadaanku di sisi bu Dewi akan terancam.


Jika bu Dewi tidak suka padaku, kemungkinan terbesarnya adalah dia juga tidak suka dengan kehamilanku. Benar, aku harus merahasikannya demi keselamatan bayi ini.


Aku tidak ingin berburuk sangka, tapi waspada itu perlu, kan?


Ya, pak Zulfikar memang bisa melindungi kehamilanku, tapi dia belum tentu bisa merahasiakan kehamilan ini dari bu Dewi. Karena biar bagaimanapun bu Dewi adalah istrinya. Istri yang dicintainya, sekaligus istri kebanggaan yang direstui oleh keluarganya. Di mata orang tua pak Zulfikar, posisi bu Dewi jelas lebih bernilai daripada aku.


"Ya, Pak."


Aku membuka pintu setelah setelah mencuci tespek dan menyembunyikannya di balik handuk kecil yang melingkar di kepalaku.


"Kenapa lama sekali buka pintunya?" protesnya saat ia memasuki kamar mandi.


"Emm, tadi lagi tanggung, Pak." Aku berusaha menyembunyikan kepanikan dengan menebar senyum.


"Yah, kamu sudah selesai mandinya?" Dia memelukku. Menghidu leherku.


"Wangi," pujinya.


"I-iya Pak. A-aku sudah selesai. Aku permisi," Aku mengurai tangannya.


"Tunggu Hanin, aku mau ini dulu," dia menahanku.


"Ma-mau apa? Jangan Pak ... ma-masih sakit, se-sedikit perih," keluhku.


"Hahaha, pikiranmu mesum juga ya," tuduhnya. Sambil kembali memelukku.


"Pak se-serius, i-ini mau apasih?"


"Hahaha, bercanda sayang. Aku tidak ingin apa-apa kok." Dia melepasku. Aku segera berlari menuju keran air yang dikhususkan untuk berwudhu.


Pak Zulfikar menatapku saat aku berwudhu. Dia menghela napas saat aku mencuci kakiku. Entah apa yang dia pikirkan. Dan aku berharap tespek itu tidak jatuh dari kepalaku.


Selesai wudhu aku bergegas, keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru. Aku membungkus tespek dengan tissue, lalu menyembunyikannya di bawah tempat tidur.


Aku cepat-cepat memakai bajuku. Lalu menggelar dua sajadah untuk aku dan pak Zulfikar. Seusai melaksanakan shalat sunat, aku bersujud di atas sajadah seraya mencurahkan keluh-kesahku. Aku meminta pertolongan-Nya atas lika-liku kehidupanku ini.


Tak terasa air mata ini kembali mengalir. Aku tiba-tiba menyesali semuanya. Aku menyesalinya setelah mencari banyak informasi tentang keluarga besar Antasena. Aku takut keberadaanku dianggap menjadi duri bagi kehidupan mereka yang terlihat begitu sempurna dan diidamkan.


Harusnya, dulu aku terima saja uang dari pak Zulfikar dan tidak memintanya untuk menikahiku. Sekarang, aku merasakan akibatnya. Aku terjebak di dalam perangkap yang kubuat sendiri. Aku mengangkat kepala dari sujudku lalu menengadahkan tangan dan kembali menangis.


Lalu teringat lagi akan tespek garis dua itu.


Apa benar aku hamil? Apa benar aku mengandung keturunan Antasena? Apa dengan kehamilanku semuanya akan lebih baik?


Ya Allah, ini terlalu tiba-tiba, aku takut Ya Rabb, tolong pegang tanganku wahai Raja alam semesta, agar aku sabar dan kuat menghadapi semua ini. Aamiin.


Aku mengusap wajahku. Bersamaan dengan itu, pak Zulfikar keluar dari kamar mandi. Aku spontan menoleh. Dia segar sekali, dari ujung kepala hingga kaki terlihat seolah tanpa cela.


Dia mengambil kunci di laci meja rias. Benar saja, lemari yang terkunci itu ternyata berisi baju-bajunya.


"Mau nonton aku ganti baju?" celotehnya.


"A-apa? Ti-tidak tuh," aku spontan memalingkan wajah. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. Dia memakai peci hitam. Tampan sekali. Lagi, aku meliriknya.


"Aku shalat sunat dulu, kamu sudah?"


"Sudah," jawabku.


Aku memperhatikan setiap gerakannya hingga selesai. Selesai shalat, pak Zulfikar berdoa lumayan lama. Tapi aku tak bisa mendengar doanya. Setelahnya, ia membalikan badan. Menatapku dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa?" tanyaku.


"Tidak kenapa-napa." Sambil tersenyum.


"Kamu mau ngaji ya?"


Aku mengangguk.


"Aku mau mendengarkan, boleh 'kan sambil tidur di pangkuan kamu?"


"Apa?"


Aku ragu. Namun sebelum aku mengatakan kalimat lain, dia sudah merebahkan kepalanya di pangkuanku.


"Kalau aku ketiduran, gak apa-apa 'kan? Nanti pas adzan Subuh bangunin ya," ucapnya. Kepalanya miring ke kanan, tepat menghadap perutku. Dan aku kaget karena dia malah mengusap perutku.


"Kalau kamu hamil, perut ini akan membesar. Hahaha, pasti lucu," ucapnya. Sambil menyingkap mukena dan menutupi kepalanya dengan mukenaku.


"Pak, nanti aku batal wudhu," protesku.


"Tidak akan sayang. Janji tidak akan sentuh kulit kamu. Lagian kamunya juga kan pakai baju," sangkalnya.


"Ya sudah, terserah Bapak."


Daripada banyak bicara. Lebih baik aku mulai ngaji saja. Aku melantunkan surat Al-Fatihah, kepala pak Zul tak begerak. Ada dua kemungkinan, dia menyimak, atau malah tertidur.


"Suara kamu merdu," pujinya saat aku menyeselesaikan bacaanku.


Ternyata dia tidak tidur. Aku lantas menyingkap mukenaku. Dia memejamkan mata. Entah tidur sungguhan atau pura-pura. Aku menatap rambutnya yang masih basah dan daun telinganya yang tampak putih, bersih dan sehat.


Ingin rasanya aku membelai rambutnya, tapi ... aku tak memiliki keberanian. Namun dia malah menarik tanganku dan meletakan di kepalanya.


"Belai dong sayang. Masa suami segini gantengnya dianggurin sih," candanya. Ya ampun, dia manja sekali. Saat bersama bu Dewi, dia mungkin lebih manja dari ini.


Ucapannya membuat hatiku berdesir. Aku menelisik rambutnya perlahan-lahan. Andai dia benar-benar mencintaiku, andai hanya aku yang ada di hatinya, momen seperti ini pasti akan membuatku sangat bahagia. Aku segera mengusap airmataku agar tidak jatuh ke pipinya.


Dia terlelap di pangkuanku, bahkan sampai mendengkur halus. Aku mengelus daun telinganya sembari menahan tangis. Tangisan ini berasal dari perang batinku yang bergejolak karena belum bisa menempatkan rasa untuknya.


Jika benar aku hamil, itu artinya ... aku memang belum bisa becerai dari pria ini.


Ya Allah, apakah ini jawaban dari doa-doaku? Apakah kehamilan ini jawabannya?


Tes, airmataku menetes jua. Jatuh tepat di pipinya. Tanpa sadar kepalaku begerak pelan, lalu mengecup pipinya. Aku sampai kaget dengan apa yang kulakukan. Untungnya pak Zulfikar tidak tahu karena dia sedang tidur.

__ADS_1


Sampai kapan perasaan ini akan terus mengusikku? Sampai kapan aku mampu menyembunyikan ini dari khalayak? Terutama dari kak Listi. Sejak aku tidak kost lagi. Dia selalu bertanya, aku ada di mana? Dengan siapa? Apa aku sakit dan lain-lain.


Kak Listi pasti merasa aneh dengan perubahan sikapku. Kalau aku jujur padanya, apa dia akan percaya? Apa dia akan ada di pihakku?


Kalau dia tahu aku tinggal di apartemen semewah ini, dia mungkin saja berpikir kalau aku jadi wanita simpanan. Kalaupun aku mengatakan ini apartemen pemberian abah, dia pasti tidak akan percaya.


Kemudian adzan Subuh berkumandang. Aku membangunkannya sambil terus menelisik dan membelai rambutnya.


"Pak, bangun. Sudah adzan," ungkapku.


Tapi dia bergeming.


"Pak," aku menekan pipinya. Tetap bergeming. Kucubit saja agar cepat terjaga.


"Awh, Hanin, masa bangunin suami begitu? Cium dong." Dia terlentang, lalu mencucukan bibirnya.


"Awh awh," rintihku. Tiba-tiba kesemutan.


"Are you oke?"


Dia langsung bangun dan kaget.


"A-aku kesemutan. Ah, ja-jangan sentuh kakiku!" teriakku.


Aku meringis. Terlalu lama menekuk dan beban kepala pak Zulfikarlah penyebab kesemutan ini.


"Maaf Hanin, tapi harus diselonjorkan biar peredaran darahnya lancar." Dia menarik kakiku.


"Awh, a-aduh ...." Aku masih meringis.


"Biar kulihat, aku usapin ya." Dia menyingkap mukena bawahku lalu mengelus kakiku.


"Pak, please ja-jangan disentuh. Nanti juga sembuh sendiri," protesku.


"Ya ampun, maaf ini gara-gara aku. Aku cium kamu saja ya. Semoga dengan aku cium, kesemutannya cepat sembuh.


"A-apa? Ti-tidak perlu Pak, ja --- mmph ...."


Dia nakal sekali! Seenaknya saja mencium bibirku. Mana aku tak bisa begerak lagi. Dia bahkan menekan daguku hingga bibirku terbuka. Sejenak, aku terseok-seok di dalam pagutannya. Aku lantas mencubit bahunya kuat-kuat agar dia melepasku.


"Sudah sembuh?" tanyanya sambil mengusap bibirnya sendiri dan tersenyum.


"Sudah!" ketusku seraya meninggalkannya untuk segera berwudhu. Dia membuntutiku sambil terkekeh.


.


Selesai shalat Subuh, dia langsung bersiap dan berpamitan. Katanya, mau menyusul bu Dewi ke rumah orang tuanya.


"Aku akan membujuk Dewi agar dia mengurungkan niatnya untuk hidup satu atap denganmu. Doakan ya, semoga Dewi dilunakan hatinya," ucapnya saat aku membantunya memakaikan dasi.


"Ya, Pak," jawabku.


"Jangan lupa makan dan minum obatnya, kalau ada apa-apa cepat kabari. Jangan membuatku tidak tenang."


"Ya, Pak."


"Emm, kalau aku berhasil membujuk Dewi, kemungkinan, untuk seminggu ke depan, aku tidak akan menemuimu. Tidak apa-apa, kan?"


Aku mengangguk. Apa kuasaku melarangnya? Sebagai istri siri, aku hanya bisa pasrah.


"Aku juga akan menyusun rencana untuk membicarakan pernikahan ini pada mama dan papaku. Aku harus mengatakannya terlebih dahulu sebelum Dewi cerita pada mama dan papaku," jelasnya.


"Ya, Pak."


"Hanin, kenapa 'ya Pak- ya Pak' mulu? Apa kamu tidak ada saran atau ide?"


"Hmm," dia menghela napas, lalu memelukku.


"Selama aku tidak menemuimu, jangan terlalu merindukanku ya. Kan di kantor kita masih bisa saling bertemu. Saat apel, kita juga bisa berpandangan dari kejauhan, emm ... atau aku akan menyuruhmu ke ruanganku untuk mengerjakan sesuatu," katanya. Dia percaya diri sekali.


"Siapa juga yang merindukan Anda? Aku? Tidak akan!" tandasku. Sambil melepaskan diri dari dekapannya.


"Yakin?" tanyanya.


"Yakin," jawabku mantap. Padahal, aku sebenarnya tidak terlalu yakin.


Akhirnya, dia benar-benar pergi setelah menghujani wajahku dengan kecupan. Lucunya, dia juga mengecup perutku sambil berkata ....


"InsyaaAllah, benih yang tadi aku tumpahkan, akan tumbuh dengan baik di rahim kamu. Aamiin."


Setelah pintu apartemen tertutup. Aku mengusap perutku. Kesedihan langsung melanda sepeninggalnya.


Apa aku telah jatuh cinta padanya? Tidak, itu tidak boleh terjadi.


...🍒🍒🍒...


Saat ini, aku sudah berada di kantor. Sebentar lagi apel pagi. Kak Listi terus bergelayut di pundakku. Dia juga memberondongku dengan banyak pertanyaan.


"Lu sekarang ngekost di mana sih, Dai? Please deh jangan kucing-kucingan lagi. Daini yang kukenal rasanya sudah hilang ditelan bumi. Daini yang ini seperti orang lain," ujar kak Listi. Dia menggandeng tanganku menuju tempat apel pagi.


"Hehe, aku baik-baik saja, Kak. Nanti aku cerita deh," bisikku.


"Minimal lu bilang tinggal di mana, Dai? Kalau lagi galau, gua bingung mau minta dibikinin seblak sama siapa," katanya sambil cemberut.


Lalu kami semua membungkukkan badan saat petinggi perusahaan melintas. Ada pak Zulfikar di antara mereka. Dan pria itu sama sekali tak menolehku. Dia sedang serius mengobrol sambil berjalan dengan direktur eksekutif, pak Aryo Antasena.


"Dai, lu sudah tahu belum kalau bu Caca mau dimutasi ke divisi lain?" tanya kak Listi.


"Belum tahu Kak. Aku baru dengar dari Kakak. Berarti nanti ada pengganti bu Caca dong."


"Ya pastilah Dai. Tapi kandidatnya masih dirahasiakan lho, gua tanya-tanya sama yang lainpun belum ada yang tahu."


"Oh, begitu ya."


"Gua sih agak aneh Dai. Secara kinerja bu Caca kan bagus. Tapi malah dimutasi."


"Huss, jangan asal tebak, Kak. Lagipula bu Caca itu dimutasi, bukan dipecat," kataku.


"Hmm, ya juga sih. Jadi penasaran, manajer baru kita seperti apa ya? Semoga saja ramah dan baik seperti bu Caca."


"Aamiin," timpalku.


.


Setelah sampai di area apel pagi, seperti biasa, aku dan kak Listi selalu mengambil barisan di paling belakang. Lalu para petinggi datang. Aku mencuri pandang pada suamiku. Tidak, maksudnya pada pak Direktur. Dia terlihat mencolok dan paling tampan.


Lalu tanpa kuduga, pak Zulfikar juga menoleh ke arahku. Sepersekian detik kami bertemu pandang. Aku cepat-cepat memalingkan wajah saat apel dimulai.


Sekarang, waktunya pak Aryo untuk memberikan masukan. Kami semua menyimak.


"Sebelumnya, untuk bu Caca sebagai manajer divisi mutu, silahkan maju ke depan," kata pak Aryo. Bu Caca maju dengan senyum sumringah.


"Hari ini, kita akan kedatangan manajer baru untuk divisi mutu yang akan menggantikan Bu Caca."


Pak Zulfikar terlihat kaget. Tapi dia diam saja. Ya, ini apel. Bukan rapat. Jelas tidak ada sesi tanya jawab dan interupsi.


"Maaf jika keputusan ini dirasa mendadak. Saya sendiri baru dapat kabar ini tadi pagi. Karena pak Marcellino ditugaskan menjadi kepala proyek di ritel baru, maka Bu Caca akan menggantikan pak Marcellino menjadi manajer di divisi administrasi dan keuangan."

__ADS_1


"Dan yang akan menggantikan Bu Caca adalah ... emm ... istri Direktur kita. Bu Dewi Laksmi," jelas pak Aryo.


"Waah," hadirin berdecak kaget sekaligus kagum.


Aku mematung tak percaya. Sekilas kumelirik pada pak Zulfikar, dia tertunduk.


Aku tak tahu apakah pak Zulfikar mengetahui prihal ini atau tidak. Aku gugup. Tiba-tiba merasa jika kebijakan ini sengaja dibuat untuk menekanku.


Tidak, aku tidak boleh berburuk sangka.


"Sayangnya bu Dewi belum bisa mengikuti apel pagi. Tapi beliau akan bekerja mulai hari ini. Untuk seluruh staf divisi mutu, saya mohon kerjasamanya," tambah pak Aryo.


Aku berusaha tenang. Aku menyembunyikan kekhawatiran dengan menyimak pidato sekapur sirih dari bu Caca.


Kegiatan apel pagi akhirnya usai jua pada pukul 08.00 WIB. Aku kembali bergandengan tangan dengan kak Listi menuju lift.


"Wah Dai, gak nyangka ya, bu Dewi mau jadi manajer kita? Aku pernah baca profil dia di sebuah majalah. Katanya, dia tak tertarik terjun di dunia bisnis seperti orang tuanya. Makanya memilih jadi guru. Hmm, mungkin berubah pikiran kali ya," kata kak Listi.


"Semua orang berhak menentukan pilihan untuk kehidupannya," timpalku.


"Baik gak ya, Dai? Kok gua tiba-tiba jadi merinding sih? Gua kan paling berisik. Kalau manajernya bu Dewi, mana berani gua berisik lagi. Wah wah, kebebasanku akan tegerus kayanya," oceh kak Listi. Aku menanggapinya dengan tersenyum hambar.


.


Tibalah kita di ruangan divisi mutu. Langsung menuju kubikel masing-masing dan sibuk merapikannya. Akupun sibuk menata tanaman yang menghiasi kubikelku.


"Selamat pagi semuanya."


Tiba-tiba bu Tania masuk ke ruangan kami. Bu Tania adalah sekretarisnya pak Zulfikar.


"Pagi juga Bu," jawab kami serempak.


"Saya ke sini hanya untuk mengabari kalau bu Dewi akan segera tiba. Kalian harus pastikan meja kalian bersih dari barang-barang yang tidak disukai bu Dewi."


Aku dan kak Listi saling menatap.


"Jangan ada makanan apapun di kubikel kalian. Kalau ada, usahakan sembunyikan dulu di dalam tas. Ya, di sini bu Dewi memang hanya manajer, tapi kalian harus ingat kalau papinya bu Dewi adalah anggota dewan pengawas perusahaan ini. Kalian faham?"


"Ya Bu," lagi, kami menjawab serempak.


"Bu Dewi akan ke sini bersama pak Direktur, siapkan semuanya ya. Jangan mempermalukan divisi ini." Setelah itu, bu Tania bergegas pergi. Kami saling menatap.


Aku segera memasukan toples berisi kismis dan kurma kering ke dalam tasku. Tanganku bekeringat. Ada perasaan bimbang dan takut di relung hati ini.


Apalagi saat bu Dewi dan pak Zufikar benar-benar masuk ke ruangan kami.


"Selamat pagi Bu Manajer. Selamat pagi Pak Direktur," kami berbaris menyambutnya.


Pak Zulfikar menggandeng tangan bu Dewi, wajahnya terlihat dingin dan tak bersahabat. Begitupun dengan bu Dewi, dia mengedarkan pandangan dan menatap sinis ke arahku. Aku menunduk.


"Ini meja siapa? Ada tanamannya segala. Tolong tanamannya simpan di bawah meja saja!" titahnya. Padahal, di depan kubikel jelas sekali tertulis nama lengkapku.


"I-itu mejaku, Bu. Ba-baik, akan aku rapikan," aku segera memindahkan tanaman hiasku ke bawah meja.


"Mas, aku perlu asisten, boleh gak kalau salah satu staf aku jadikan asisten?"


"Tidak perlu cinta, bu Caca juga bekerja tanpa asisten," jawab pak Zulfikar. Kami hanya jadi penyimak.


"Bu Caca beda denganku, Mas. Pokoknya aku mau seorang asisten."


"Ya sudah terserah kamu saja." Pak Zulfikar menghela napas. Namun dia tak menoleh ke arahku.


"Emm, aku mau kamu jadi asistenku," menunjuk padaku.


"A-apa? A-aku?" Aku terkejut.


"Iya, kamu. Kamu tak masalah 'kan?"


"Ti-tidak Bu. A-aku tak masalah." Aku gelagapan. Memegang sisi rokku.


"Wi, dia staf paling baru, kalau bisa jangan dia. Cari yang lebih kompeten," sela pak Zulfikar.


"Tak masalah Mas. Aku tetap mau dia. Kompetensi bisa ditingkatkan seiring berjalannya waktu dan banyak latihan. Aku tertarik melihat dia, Mas. Penampilannya agamis sekali. Pasti sangat alim dan suci ya, hahaha," katanya.


Pak Zulfikar terdiam. Yang lain malah ikut tertawa. Yang tidak tertawa hanya kak Listi. Aku kian menunduk. Aku merasa ditertawakan. Padahal, mereka mungkin tidak bermaksud mentertawakanku.


"Kalau wanita seperti dia jadi asistenku, aku tak perlu takut kamu digoda dia, Mas. Secara, akhwat gitu lho, masa ya jadi pelakor, hahaha," tambahnya.


"Hahaha."


"Hahaha."


Tawa itu kembali menggema, aku kian menunduk hingga daguku menempel di dada. Sedangkan mataku sudah mulai digenangi air mata.


Tidak, aku tidak boleh menangis.


"Bagaimana? Kamu bersedia jadi asistenku?"


"Be-bersedia, Bu," jawabku dengan tetap menunduk.


"Ya sudah, sekarang kamu ambilkan aku makanan di kantin. Aku belum sarapan," sambil berlalu menuju ruangannya.


Staf yang lain saling menatap.


"Wi, asisten manajer tidak melakukan pekerjaan seperti itu. Kalau kamu mau makan, tinggal telepon bagian kantin saja," sela pak Zulfikar.


"Mas, kok jadi kamu yang sibuk sih?!"


"Bu, aku akan melakukan apapun perintah Ibu. Ibu mau makan apa?"


Aku tidak ingin ada kesalahfahaman, kecurigaan, ataupun pertengkaran di ruangan ini. Lebih baik aku mengalah demi kebaikan semuanya.


"Bagus, silahkan kamu cari tahu sendiri makanan kesukaanku. Kalau tidak ada di kantin, ya cari ke luar," tandasnya.


"Mohon maaf Bu, apa saya boleh menemani Daini?" sela kak Listi.


"Tidak boleh. Yang lain, ayo lanjutkan pekerjaan kalian," tegasnya.


Aku bergegas ke kantin dan tentu saja tidak bisa mendengar lagi percakapan yang terjadi di divisi mutu.


.


Sepanjang perjalanan menuju kantin, hatiku mencelos. Kepiluan mengiringi derap langkahku. Apa yang diduga oleh pengacara dan polisi sepertinya akan benar-benar terjadi.


Sabar Daini, semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Dan kamu harus percaya jika Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.


Aku memotivasi diri sendiri sambil berjalan cepat.


Namun tiba-tiba saja aku merasakan kepalaku pusing dan mataku berkunang-kunang. Aku sepertinya tak bisa menjaga keseimbangan tubuhku. Pandanganku gelap seketika. Aku merasa tubuhku melayang, jatuh, dan melupakan semuanya.


...~Tbc~...


...Yuk komen yuk!...


...Ini hampir 3000 kata, yang tidak komen...


...'oh sungguh terlaluh.'...

__ADS_1


...🥰😊😍...


__ADS_2