
"Aku ke sana!" tegas pak Direktur.
Langsung menutup panggilan secara sepihak. Aku dag dig dug. Takut terjadi perang dunia ke tiga.
Aku segera keluar dari kamar mandi dan berjalan cepat ke kubikelku. Serius, tak bisa langsung bekerja. Aku malah mengetuk-ketuk kubikel dan semakin panik. Aku takut status Daini dan pak Direktur dicurigai oleh karyawan lain. Yang tidak tahu apa-apa, yakin pasti bakal menyalahkan Daini.
Aku saja yang sahabat baiknya sempat menghakimi Daini sebelum mendapat penjelasan dari pak Direktur.
Tak lama, pak Direktur masuk. Wajahnya kaku sekali, terlihat dingin bak beruang kutub yang membeku dan diselimuti salju. Sontak seluruh staf divisi mutu terkejut. Sebab mereka tahu jika hari ini tak ada wacana atau agenda apapun yang menyebutkan kalau pak Direktur akan berkunjung ke divisi kami.
"Pak," sapa kami.
Kami semua berdiri dan menunduk. Jelas saling menatap satu sama lain. Akupun pura-pura keheranan.
"Tenang, aku ke sini bukan untuk urusan pekerjaan. Aku ke sini karena ada perlu pada istriku," jelasnya.
Kami mengangguk.
"Oiya kamu, Listi Anggraeni, temani aku menemui istriku," katanya.
Aku kaget, dong. Apalagi teman-temanku. Mereka langsung mengalihkan pandangan. Menatapku pastinya.
Sejak kapan pak Direktur minta ditemani staf biasa saat ingin bertemu istrinya?
Semoga mereka tak mencurigaiku dan berpikir macam-macam.
"Baik, Pak." Aku segera menguntitnya.
Tak ada kalimat apapun yang terucap dari pak Direktur saat kami berjalan beriringan. Langkahnya panjang sekali. Pantas saja bu Tania tinggi, mungkin sengaja supaya bisa menyesuaikan dengan langkah pak Direktur.
'Tok tok tok.'
Dia mengetuk pintu.
"Wi, Dewi, ini Mas. Buka pintunya," serunya.
Wajahnya gelisah. Beberapa kali membetulkan dasinya yang padahal sudah terlihat rapi. Sesekali meremas rambutnya juga. Rambutnya terlihat basah dan lembab. Jujur, pak Direktur memang tampan dan gagah sekali. Tapi di mataku, yayang Akmal 'lah yang paling tampan di dunia ini.
"Cinta, buka pintunya! Cepat buka!" Mulai tegas dan tentu saja terlihat kian cemas.
"Huuu huuu."
Aku dan pak Direktur kaget. Dari dalam ruangan bu Dewi terdengar suara tangisan. Entah itu suara siapa. Antara Daini atau bu Dewi. Aku tak mengenalinya karena samar-samar.
"Dewi Laksmi!"
"Hanindiya!"
Pak Direktur memanggil lagi. Dan beliau rupanya tak sabaran. Segera menabrakkan tubuh proporsionalnya ke pintu.
Bersamaan dengan itu, pintu ruangan bu Dewi ternyata dibuka dari dalam oleh bu Dewi. Untung saja pak Direktur bisa menjaga keseimbangan, kalau tidak, hampir saja bu Dewi tertabrak.
"Dewi, di mana Hanin?!" teriaknya.
"Huuu, huuu, Mas ...." Ternyata yang menangis itu bu Dewi.
"Daini?! Ya Allah, Neng!" pekikku.
Aku yang mengedarkan pandangan tak sengaja melihat sekilas ke pintu kamar mandi yang terbuka. Aku melihat Daini berada di dalam kamar mandi dan tergeletak di lantai. Aku bahkan tak percaya dengan apa yang kulihat.
"Astaghfirullah, sayang!"
Pak Direkturpun menyadarinya. Aku kalah cepat. Pak Direktur mendahuluiku masuk ke kamar mandi.
"Hanin! Ya Allah, kamu kenapa sayang?!"
Pak Direktur panik luar biasa. Ia segera memangku tubuh Daini ke dalam dekapannya.
Aku mematung kebingungan dan terheran-heran. Wajah Daini pucat. Ia sepertinya pingsan di dalam kamar mandi. Jilbabnya basah, dan tapi anehnya, dalaman kerudungnya tergeletak begitu saja di lantai kamar mandi. Baju Dainipun basah.
"Kamu apakan istriku Dewi Laksmi?!" teriak pak Direktur sambil membawa Daini keluar dari kamar mandi.
"Mas, jangan menyalahkan aku, Mas! Huuu, aku tak tahu apa-apa, Mas! Aku juga kaget si Daini tiba-tiba jadi seperti itu!" jelas bu Dewi sambil beteriak dan menangis.
"Jangan bohong, Wi! Tolong jangan bohongin Mas lagi! Sudah cukup tadi pagi kamu membohongi Mas dengan pura-pura sakit dan pingsan!" teriak pak Direktur.
"Semalam aku memang sakit Mas! Hanya saja saat kamu datang sakitku sembuh!" teriak bu Dewi.
Lho, kok jadi berantem 'sih?
"Berikan Daini padaku, Pak Direktur! Saya bisa membawanya sendiri ke klinik!"
Aku berusaha merebut Daini dari pak Direktur. Aku pernah main bopong-bopongan dengan Daini, jadi aku percaya diri bisa membawanya. Jika menunggu mereka beradu mulut dulu, kondisi Daini bisa tambah parah. Ini bukan waktunya berdebat, karena saat ini Daini sangat membutuhkan pertolongan segera.
"Aku yang lebih bertanggung jawab terhadap Hanin. Bukan kamu! Dewi, Mas masih punya urusan sama kamu!"
__ADS_1
Pak Direktur tak membiarkan aku mengambil Daini. Ia berkata demikian sambil menepisku dan berlari meninggalkan ruangan bu Dewi. Pak Direktur rupanya menyadari juga kalau keselematan Daini lebih penting daripada berdebat dengan bu Dewi.
"Mas aku ikut!" teriak bu Dewi.
"Kamu tetap di sini!" tegas pak Direktur.
Bu Dewi mundur sambil mengusap airmatanya. Aku mengejar pak Direktur.
Staf divisi mutu berdiri dan melongo saat melihat pak Direktur membopong Daini dengan posesifnya.
Semoga mereka hanya berpikir kalau pak Direktur sedang menolong stafnya yang pingsan dan tidak berpikir yang bukan-bukan.
"Daini pingsan, aku izin menemani Daini dulu ya. Aku tadi minta tolong sama pak Direktur untuk menggendong Daini," terangku saat melewati para staf.
Walaupun terlihat keheranan, mereka tetap menggangguk. Sip, semoga penjelasanku tak membuat mereka curiga.
"Hanin, sadar sayang," gumam pak Direktur.
Untung saja tak ada yang mendengar ucapan pak Direktur selain aku. Pak Direktur langsung menaiki lift khusus untuk pimpinan dan dewan direksi.
"Maaf Pak, Daini mau dibawa ke mana ya? Ke klinik 'kan arahnya ke sana," protesku.
"Kamu ikut saja denganku, cepat!" titahnya.
"Baik, Pak."
Terpaksa aku patuh. Dia bosku lho, masa ya aku membantahnya?
"Cepat buka tasku! Kamu ambil kunci mobil dan HP-ku!" titahnya lagi saat kami sudah berada di dalam lift.
"Ta-tapi, Pak." Aku ragu mengambilnya.
"Listi, cepat lakukan saja! Kalau Hanin kenapa-napa, kamu mau tanggung jawab?!" teriaknya.
"Siap, Pak!" teriakku.
Aku akhirnya sigap mengambil kunci mobil dan ponsel yang ada di dalam tas selempang milik pak Direktur. Tanganku gemetar saat melihat dompet pak Direktur yang sedikit terbuka.
Gila, ada black cardnya woy!
"Kamu cepat kirim pesan pada Nia! Katakan kalau aku mau keluar dulu. Suruh dia menghandle pekerjanku sementara waktu!" katanya.
"Ya, Pak." Aku segera melaksanakan perintahnya.
"Passwordnya ...." Pak Direktur menyebutkannya.
Dari lift direksi, otomatis langsung sampai ke parkiran VIP.
"Pak Direk ---."
Seorang petugas yang berada di parkiran melongo. Ia sampai tak bisa berkata apa-apa lagi saking kagetnya.
"Kamu bisa bawa mobil, kan? Kamu yang nyetir ya, cepat!" serunya.
"Ba-baik, Pak."
Pak Direktur tak peduli lagi pada tatapan keheranan petugas tersebut. Ia cepat-cepat masuk ke dalam mobil membawa Daini setelah aku membuka kuncinya.
"Ke rumah sakit terdekat! Cepat!" katanya.
Aku mengangguk, lalu melajukan kemudi. Padahal, kepala ini masih dipenuhi rasa kepenasaranan. Ingin protes, kenapa Daini jauh-jauh harus dibawa ke rumah sakit? Kenapa tak dibawa ke klinik kantor saja?
"Sayang ...."
Dari balik kaca spion aku melihat Daini sadar. Ia membuka matanya pelan dan langsung meringis-ringis.
"Pak ...."
Ya ampun, sama suami sendiri dia memanggil 'bapak.' Daini sepertinya tak tahu kalau aku yang menyetir.
"A-apa yang dirasa sayang? Kenapa bisa sampai pingsan di kamar mandi ruangannya Dewi? Kenapa? Kamu tidak diapa-apakan oleh Dewi, kan?"
"Huuu, huuu, sa-sakit, Pak ...," keluhnya.
Daini tak menjelaskan penyebabnya. Malah terisak-isak. Aku mengatupkan bibir karena menahan tangisan. Tiba-tiba saja muncul perasaan sedih.
"Apa yang sakit sayang? Sabar dulu ya." Sambil menciumi kening dan pipi Daini.
Ya ampun, pak Direktur manis sekali. Eh, maksudnya b a j i n g a n sekali. Dia sosok yang sangat pandai berakting. Dia bisa romantis di depan Daini, pun pasti romantis pula di depan bu Dewi.
"Pe-perutku yang sakit, Pak. Mu-mulas ... dan dan sedikit kram," lirih Daini.
"Perut?!" Pak Direktur histeris.
"I-iya, Pak."
__ADS_1
"Listi cepat bawa mobilnya!"
"K-Kak Listi?" Daini baru menyadari.
"Sabar ya sayang ... a-aku tidak akan membiarkan kamu dan bayi kita kenapa-napa." Pak Direktur mendekap Daini.
Tunggu, pak Direktur bilang apa tadi? Bayi?
Benar, aku yakin tak salah dengar.
'Ckiiit.' Aku menepikan mobil dan meremnya.
"Listi! Apa yang kamu lakukan?!" Pak Direktur panik.
"Neng, apa kamu hamil?"
Aku langsung menoleh pada Daini. Jantungku berdegup.
"Huks ... i-iya, Kak," katanya seraya terisak.
"A-apa?! Ya ampun, Neng."
Aku tak kuasa menahan keharuan. Aku juga bingung.
Harus 'kah aku bahagia mendengar kabar ini? Atau harus 'kah aku sedih?
Di satu sisi, jujur aku sangat senang. Namun di sisi lain, aku turut sedih dan bingung saat memikirkan nasib Daini untuk ke depannya. Sebab hingga saat ini status Daini hanya istri siri.
"Listi, apa yang kamu pikirkan? Cepat!" desak pak Direktur.
"Ba-baik, Pak."
Aku kembali melajukan kemudi sambil berurai air mata. Pikirku, baiknya Daini jangan hamil dulu.
Apa Daini memang ingin segera hamil untuk mendapat pengakuan?
Tidak, aku yakin Daini tidak berpikir ke arah sana.
"Ahh ..., Pak ...." Daini mengaduh lagi.
"Ke-kenapa lagi sayang?"
"A-aku merasa ada yang mengalir dari sana, sa-sakit sekali, uhh ...."
"Apa?! Listi cepat!"
Akupun jadi panik dan gugup. Untung saja aku handal dalam hal mengemudi. Aku memang sudah bisa mengemudi dari kelas satu SMA.
"Darah?! Sayang, kamu berdarah!"
Sepintas aku melihat pak Direktur mengangkat tangannya.
Ya, di telapak tangannya memang ada darah. Wajah tampan pak Direktur memucat, bibirnya gemetar. Aku kembali fokus pada jalanan.
Aku tak boleh melihat ke spion lagi. Aku harus menyetir dengan baik dan konsentrasi. Walaupun sultan, pak Direktur memang lebih sering nyetir sendiri daripada bersama supir pribadi.
"Sayang, jujur padaku, apa yang terjadi?" tanya pak Direktur.
Sekilas, kulihat pak Direktur membuka jilbab Daini. Faktanya, aku terus saja melirik ke spion karena khawatir pada Daini.
"Pak ... ja-jangan dibuka."
"Hanin, jilbab kamu basah. Aku baru sadar kalau jilbab kamu basah. Baju kamu juga basah sayang. Cepat katakan, apa yang terjadi?"
"Pak, nanti di rumah sakit aku malu kalau tak pakai jilbab."
Daini lebih memikirkan masalah itu daripada menjawab pertanyaan pak Direktur.
"Sayang, tak perlu mengkhawatirkan masalah itu. Tenang saja, nanti aku akan meminta agar dokter yang melayani kamu perempuan semua," terang pak Direktur.
"Kenapa kamu jadi begini? Sayang, dari tadi kamu belum menjawab pertanyaanku. Pokoknya, kalau sampai terjadi apa-apa pada calon anak kembar kita, aku tidak akan memaafkan kamu," tegasnya.
Apa?! Kembar?!
Aku kembali kaget. Namun kali ini tak sampai mengerem mobil.
"Na-nanti a-akan aku jelaskan, Pak. Ta-tapi ... ja-jangan sekarang ya," jawab Daini.
"Baik, aku akan menunggu penjelasan kamu. Sekarang, ka-kamu tenang ya. Mari kita berdoa bersama-sama agar kandungan kamu baik-baik saja."
Pak Direktur berkata seolah-olah sangat tegar. Padahal, dari nada bicaranya aku tahu kalau beliau sebenarnya masih panik dan tegang. Suaranya jelas sekali terdengar gemetar dan tersendat-sendat.
Apa pak Direktur benar-benar tulus mencintai Daini? Kalau benar, kenapa Daini hanya jadi istri sirinya?
...~Tbc~...
__ADS_1
...Yuk komen yuk! Semoga kandungannya Neng Daini tak apa-apa ya. Aamiin....