Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Demi Dia yang Tidak Berdosa


__ADS_3

Tiba juga di kantor penyidik, penjagaan di sini sangat ketat. Aku diperbolehkan masuk karena aku adalah sekretarisnya pak Direktur.


Di ruang gelar perkara. Pak Direktur dan bu Dewi duduk berdampingan. Namun mereka tak saling komunikasi. Mataku beredar. Tentu saja sedang mencari keberadaan seseorang.


Pak Sabil di mana ya? Dua minggu ini, aku dan pak Sabil hanya dua kali bertemu. Itupun di rumahku, dan kami sama sekali tidak melakukan kontak fisik. Kami berusaha berkomitmen untuk tidak melakukan sentuhan fisik kecuali bersalaman. Janjinya tentang 'dosa terakhir' benar-benar ditepati. Namun di balik komitmennya itu, dia tetaplah pria mesum yang nakal dan spesialis gombal.


"Kangen manis dan lembutnya bibir kamu."


"Rindu hangatnya tubuh kamu."


"Terpesona sama wanginya leher kamu."


"Mau pegang kamu, mau peluk kamu. Mau memakanmu."


Seperti itulah pesan-pesan yang sering dikirimnya selama dua minggu ini. Lalu hari ini ia mengirim pesan ....


"Tiga hari lagi kita mau nikah gantung, aku enggak sabar ayang. Tahu enggak? Aku merasa tiga hari itu bak tiga tahun. Ayang, aku sebenarnya sedang tidak tenang. Makan rasanya tidak enak, tidur juga tidak nyenyak. Aku ingin segera kita nikah gantung, tapi aku gugup menghadapinya. Kalau boleh tahu, yang kamu rasakan seperti apa ayang? Apa kamu juga gugup sepertiku?"


Tadi, aku membalasnya seperti ini ....


"Aku merasa biasa-biasa saja, 'tuh. Lagi pula, ini hanya nikah gantung, A. Istilahnya, ini hanyalah sebuah try out pernikahan. Aa tenang saja."


"Aarrggh! Ayang, 'kok bisa-bisanya kamu bilang biasa-biasa saja. Awas ya, setelah kita nikah gantung, aku akan membuktikan sama ayang kalau pernikahan itu akan sangat menyenangkan."


Aku jadi senyum-senyum sendiri saat mengingatnya. Baru tersadar saat seseorang menyapaku.


"Assalamu'alaikuum calon istri," sapanya pelan.


"A Abil?" Dia duduk di sampingku dan membuatku tersipu.


"Sstt, jangan bicara terlalu keras. Gelar perkara akan segera dimulai. Jangan lupa jawab dulu salamnya," pintanya.


"Wa'alaukumussalaam, calon suami gantungku," godaku.


"Baiklah, langsung saja ke agenda pembacaan hasil autopsi post mortem." Setelah pembukaan, seorang penyidik akan membacakan hasil autopsi. Semua yang hadir tampak fokus.


"Setelah dilakukan identifikasi lanjutan, penyebab kematian korban diduga murni akibat kecelakaan yang diduga disebabkan oleh lantai kamar mandi yang saat itu dalam keadaan licin. Hal ini dibuktikan karena tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik, tidak ada riwayat penyakit penyerta, dan tidak ditemukan kejanggalan apapun pada barang bukti yang ditemukan di TKP."


"Apa?!" geram pak Direktur, ia mengepalkan tangannya dan nyaris berdiri untuk melakukan protes. Namun bahunya segera ditahan oleh pak Sabil dan pak Ikhwan yang duduk tepat di belakang pak Direktur.


"Sabar Pak, kita dengarkan dulu sampai dengan selesai," bisik pak Sabil.


"Yang meninggal itu papiku, Mas. 'Kok kamu yang tegang 'sih?!" ketus bu Dewi. Ia tersenyum sinis saat menatap pak Zulfikar. Rahang pak Zulfikar mengeras. Ia berusaha mengatur napas agar tidak terpancing emosi.


"Akibat dari lantai kamar mandi yang licin, korban tergelincir dan terjatuh ke lantai dengan posisi terlentang dan bagian kepala korban diduga mengalami benturan keras hingga menyebabkan pendarahan otak. Saat ditemukan di kamar mandi, saksi tidak menemukan perdarahan. Kemungkinan, korban mengalami perdarahan intracranial. Hal itu dibuktikan dengan hasil CT-Scan (terlampir)."


"Perdarahan itulah yang diduga menyebabkan kematian pada korban. Dengan demikian, setelah mendapatkan identifikasi dari forensik, penyidik menyimpulkan jika kematian korban adalah murni karena adanya trauma berat pada kepala korban akibat jatuh di kamar mandi," jelas penyidik.


Mendengar penjelasan itu, pak Direktur langsung pergi sambil berusaha menahan kemarahannya yang nyaris meledak. Aku, pak Sabil, dan pak Ikhwan segera menyusulnya. Sementara bu Dewi, mbak Gendis dan yang lainnya tetap berada di lokasi gelar perkara.


...⚘️⚘️⚘️...


"Kurang ajar!" pak Direktur memukul dinding lift. Untung saja di lift tersebut hanya ada kami berempat.


"Sabar, Pak. Tangan Anda bisa terluka."


Pak Ikhwan menahan tangan pak Direktur. Sementara pak Sabil melindungi tubuhku agar tidak terkena imbas kemarahan pak Direktur.


"Aarrghh! Kenapa penyidik tidak membahas vidio itu?! Kenapaaa?! Pak Sabil! Tolong jelaskan padaku kenapa penyidik menutupi vidio itu, hahhh?!" Sekarang, pak Direktur mencengkram kerah baju pak Sabil. Aku panik. Berharap agar segera sampai di lobi.


"Pak Direktur, ja-jangan ---."


"Diam kamu Listi!" Sambil menghentak bahu pak Sabil yang responnya biasa saja.


"Kita kembali ke kantor dan bicarakan di sana. Mata-mata kita sekarang sudah berada di kantor, ia akan menjelaskan semuanya," jelas pak Sabil.


"Sudah kuduga, setelah papi meninggal, dia semakin semena-mena! Dia pasti melakukan kongkalikong dengan seseorang yang berkuasa untuk menutupi temuan itu agar tidak dimunculkan pada gelar perkara!" teriak pak Direktur.


Syukurlah, kami sudah sampai di lobi. Segera mengiring pak Direktur yang masih emosi ke dalam mobil. Aku lantas mengambil alih kemudi dan melajukan mobil tanpa berbasa-basi.


...⚘️⚘️⚘️...


"Pak Zulfikar, penyidik sudah menyimpulkan jika vidio dan foto itu tidak ada hubungannya dengan kasus kematian pak Surawijaya. Kematiannya murni kecelakaan," jelas mata-mata.

__ADS_1


Ia ternyata masih muda. Namun memakai masker dan kaca mata. Jadi, aku tidak bisa melihat wajahnya. Saat ini, kami sudah berada di kantor.


"Kenapa vidio itu tidak diselidiki?! Bukankah kamu bilang mereka akan menyelidiki pemeran dalam vidio itu?!"


"Ya, awalnya memang akan diselidiki. Namun, saat penyelidikan, penyidik meminta bantuan dari keluarga inti pak Surawijaya untuk membantu penyidik mengidentifikasi vidio tersebut. Hasilnya, keluarga inti tersebut bersaksi jika ia mengenali seluruh pemeran dalam vidio itu."


"Apa?! Siapa keluarga inti yang bersaksi itu?! Siapa?!" Wajah pak Direktur memerah. Ia berdiri sambil berkacak pinggang.


"Emm, saksi tersebut adalah istri Anda, Pak. Bu Dewi Laksmi."


"A-apa?!" Pak Direktur membelakak. Pun denganku, pak Sabil, dan pak Ikhwan.


"Benar Pak. Lalu saksi alias bu Dewi Laksmi melakukan kesepakatan dengan penyidik. Untuk isi kesepakatannya, saya juga tidak tahu."


"Kurang ajar! Dasar wanita biadab!"


Pak Direktur tidak bisa menahan diri lagi. Pak Sabil dan pak Ikhwanpun tidak mampu mencegahnya. Mata-mata terkejut mendengar umpatan pak Direktur.


"Tunggu, siapa yang Anda maksud wanita biadab? Apa Anda juga mengenali salah satu dari pemeran di vidio dan foto-foto syur itu? Bukankah Anda belum pernah melihat foto ataupun vidionya?"


Mata-mata menatap pak Direktur. Ia pasti curiga. Pak Ikhwan dan pak Sabil saling menatap. Aku diam saja. Semua keputusan ada di tangan pak Direktur. Apakah pak Direktur akan membocorkan fakta pada mata-mata dan mengatakan jika pemeran wanitanya adalah istrinya sendiri? Kita lihat saja.


"Maaf, aku salah bicara. Terima kasih penjelasannya. Anda boleh pergi," katanya.


Pak Sabil spontan mengusap dadanya. Demikian dengan pak Ikhwan, ia tampak lega. Akupun merasa lega, sebab pak Direktur ternyata memilih menjaga rahasia dan masih bisa menahan diri untuk tidak membocorkan aib istrinya pada mata-mata.


"Baiklah, kalau begitu, saya pamit."


'Prang.'


Setelah mata-mata pergi, pak Direktur mengamuk. Ia melempar lampu belajar yang ada atas meja kerjanya.


"Pak Zulfikar, yang Anda lakukan sudah benar. Saya bangga pada Anda," puji pak Ikhwan.


"Aku melakukannya demi anakku! Aku tidak mau anakku yang tidak berdosa, di masa depan akan menanggung malu dan merasa hina akibat ulah menjijikkan ibunya! Aku akan menjadikan bukti vidio itu untuk mengancam Dewi agar dia menolak posisi Komisaris dan tidak mengakuisisi perusahaanku!" Napas pak Direktur terengah-engah karena menahan emosi.


"Aku setuju. Setidaknya, Anda harus bersabar sampai bu Dewi melahirkan," kata pak Sabil.


"Saya yakin Anda akan menang, Pak. Sebab, Komisi Perlindungan Anak, jelas tidak memperbolehkan seorang anak diasuh oleh ibu yang mengidap penyakit kepribadian ganda."


"Wanita itu benar-benar gila! Bisa-bisanya dia menipu penyidik dan bersaksi sesuka hatinya! Jika saja mengikuti nafsu, detik ini juga aku akan mengatakan semuanya pada penyidik! Sayangnya, di tubuh wanita itu ada darah dagingku! Aku harus melindungi anakku dari kegilaan wanita itu!"


Lalu HP pak Direktur berbunyi.


"Ya Bu Juju ada apa?" Alisnya mengernyit.


"Apa?!" Ia panik, tangannya tiba-tiba gemetaran.


"Kenapa, Pak?" Aku kaget. Begitupun dengan pak Ikhwan dan pak Sabil.


"Listi, batalkan semua jadwalku hari ini! Ha-Hanin pecah ketuban," terangnya.


Lalu ia mundar-mandir dengan wajah memucat. Lanjut berlari meninggalkan ruangan dan menabrak tanaman hias karena terlalu panik.


"Apa?! Apa Daini mau melahirkan?" Aku mematung.


"Pak Zulfikar! Ini kunci mobilnya, Pak." Pak Ikhwan bergegas mengejar pak Direktur.


"Bagaimana ini?" Aku turut panik.


"Ayang harus tenang. Selesaikan dulu tugas kantornya," kata pak Sabil.


"Tapi, akunya enggak tenang, A. Aku khawatir sama Daini. 'Kan belum cukup bulan, 'kok pecah ketuban 'sih?"


"Pasti karena pak Zulfikar, dia 'kan kecanduan bu Daini."


"Issh, jangan asal tuduh, A. Ya ampun Daini." Kepanikanku kian menjadi. Jadi gelisah tidak tentu arah.


"Hei, tenang dong. Aa akan bantu kamu, oke?"


Ia menenangkan sambil memelukku. Tidak hanya memeluk, sambil cium-cium leher juga.


"A Abil! Lepas, kita sudah janji tidak ada kontak fisik, 'kan?"

__ADS_1


"Oiya ayang. Maaf, aku lupa." Ia melepasku.


Setelah tenang, aku segera meminta bantuan asisten.


"Anwar cepat ke ruanganku!"


"Anwar? Siapa dia?" Langsung menoleh.


"Asistenku, A."


"Asisten? Ganteng enggak? Masih muda?"


"A Abil, enggak penting 'deh. Dia hanya asistenku, A. A Abil jangan aneh-aneh ya."


"Kok bisa asisten kamu laki-laki? Kenapa kamu tidak pilih yang perempuan saja?"


"A Abil apa 'sih? Anwar lulus seleksi. Bukan aku yang pilih!" ketusku. Jadi kesal.


"Nanti aku mau bilang sama pak Zulfikar supaya Anwar diganti."


"A Abil! Issh!"


"Bu Listi, ada apa, Bu?"


Anwar datang. Pak Sabil langsung menatap tajam pada Anwar. Matanya seolah menyelidik, ia juga memerhatikan penampian Anwar yang memang lumayan menarik.


"Kenalkan, aku Sabil Sabilulungan, calon suaminya bu Listi," ia mengulurkan tangan.


"Sa-saya Anwar." Anwar tersenyum sambil membungkukkan badan. Aku hanya bisa garuk-garuk kepala.


"Apa kamu sudah punya pacar?"


"Belum, Pak."


"Mau aku carikan?"


"A Abil, cukup!"


"Bo-boleh, Pak."


"Anwar kemari, kamu koordinasi sama bu Caca ya, pak Direktur mau membatalkan seluruh agenda hari ini," jelasku.


"Dibatalkan?"


"Anwar, cepat laksanakan perintah calon istriku. Kamu juga jangan banyak tanya dan jangan keseringan menatap calon istriku. Paham?"


"Baik, Pak."


Lalu aku terkejut karena ada panggilan dari Daini.


"Neng, halo!"


"Kak Listi, bi-bisa menemaniku? A-aku sudah ada mulas, Kak."


"Apa?!" Bagaimana ini?


"Kenapa ayang?"


"Daini minta ditemani, A. Tapi, 'kan aku harus menggantikan tugas pak Direktur."


"Kamu tenang. Bu Daini pasti baik-baik saja. Kalau kamu pergi, dampaknya untuk perusahaan ini bisa fatal."


Pak Sabil memelukku, aku akhirnya menangis di dadanya. Aku merasa kasihan sama Daini. Ternyata, walaupun ia dikelilingi oleh banyak orang yang menyayanginya, dan juga oleh harta yang melimpah, serta cinta kasih pak Direktur, dia tetap membutuhkanku.


"Huuu, di saat seperti ini, aku malah tidak bisa menemani Daini."


"Tidak apa-apa ayang, setelah urusan kantor selesai, kamu 'kan masih bisa menemui bu Daini." Ia mengusap airmataku. Tapi bukan dengan tangannya, melainkan dengan bibirnya.


"Uhhuk uhhuk." Anwar terbatuk-batuk. Ya ampun, aku sampai lupa kalau di ruangan ini ada Anwar.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2