
Zulfikar Saga Antasena
Alhamdulillah, aku bersyukur karena kondisiku pasca dipindahkan dari ruang HCU kian membaik. Hanya saja, telinga kananku sering berdenging. Padahal, yang pecah gendang telinga kiri. Tapi tak apa, aku harus sabar, ini ujian. Aku ikhlas, asalkan Haninku dan bayi kembarku selamat.
Setelah aku melewati insiden Dewi mencekik Hanin dan insiden kak Gendis versus mami Silfa, aku langsung meminta bantuan pak Sabil dan pak Ikhwan untuk menindaklanjuti kejadian ini. Sayang seribu sayang, CCTV-nya malah rusak. Padahal, tinggal selangkah lagi aku bisa membuktikan jika psikologis Dewi kemungkinan mengalami gangguan.
"Jika sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan akibat Bapak menceraikan bu Dewi, maka orang yang paling merasa bersalah adalah aku. Aku ingin becerai dan meninggalkan kesan yang baik. Harapanku adalah memutus rantai masalah yang terjadi di antara kita. Bukan malah menambah masalah baru dengan keluarga bu Dewi. Tolong pertimbangkan lagi keputusan itu."
Aku kembali mengingat semua hal yang dikatakan Hanin.
"Untuk masalah rekam medis itu, jikapun Anda mempunyai bukti, pihak bu Dewi pasti memiliki banyak cara untuk mengelak. Satu hal yang pasti adalah ... mereka mungkin akan menuduh jika gugatan Anda didasari karena kehadiranku di sisi Anda. Anda beralibi menggunakan rekam medis bu Dewi karena ingin menceraikannya."
Kalimat yang keluar dari bibir indahnya benar-benar membuatku rapuh. Lalu, aku semakin sadar diri akan keegoisanku. Hanya karena merasa jika Haninpun mencintaiku, aku terus berharap dan yakin bisa memilikinya. Aku terlalu percaya diri dengan sesuatu yang ternyata semu. Faktanya, cintaku bertepuk sebelah tangan. Sakit, tapi berdarah.
"Aku tak mau jika kehadiranku membuat hidup Anda menjadi sulit. Aku hanya ingin agar Anda dan aku bisa hidup tenang dengan memilih jalan hidup masing-masing."
Kalimat tersebut membuat kalbuku terluka. Aku berasumsi jika hidup Hanin tak lagi tenang setelah berada di sisiku. Berbanding terbalik denganku, aku justru merasa tenang saat berada di dekatnya. Dunia ini seolah hanya milikku saat aku melewati berbagai hal menyenangkan bersama Hanin.
"Anda harus beradaptasi agar bisa hidup bahagia bersama bu Dewi dan membahagiakannya. Jika memang benar bu Dewi memiliki masalah medis, sebagai seorang suami, bukankah Anda harus membantunya untuk sembuh? Bukan malah meninggalkannya begitu saja."
Dadaku terasa pengap. Hanin sama sekali tak mendukung keputusanku untuk menggugat Dewi. Hanin tak memahami perasaanku. Benar, dia boleh saja tak mencintaiku, tapi seharusnya ... dia tak memaksaku untuk mencintai Dewi.
Kamu tega sayang .... Kamu melukai perasaanku.
Aku berubah jadi pria lemah saat berhadapan dengan Hanin. Aku bahkan merasa jika aku kuat dan tangguh di hadapan Hanin hanya ketika sedang memadu kasih dengannya. Memalukan!
Saat malam tiba, pikiranku kian kalut dan kacau-balau. Sebab, pak Reza ataupun bu Juju tak datang ke rumah sakit untuk menemani aku dan Hanin. Aku mengkhawatirkan kesehatan Hanin. Ditambah dengan perasaan tak enak hati yang muncul begitu saja. Ada apa ya? Aku bingung mendeskripsikannya. Semua orang rumah seolah mengabaikanku. Apa mereka sengaja membuatku lebih dekat dengan Hanin?
"Ada apa? Apa yang dikatakan pak Ikhwan?" tanyaku.
Hanin baru baru saja berbicara dengan pak Ikhwan menggunakan ponselku. Aku menatap wajahnya yang terlihat memucat. Mungkin, aku salah lihat.
"Pak Ikhwan mengatakan di rumah pak Aksa banyak tamu, semua orang sibuk. Jadi, aku ditugaskan menjaga Anda," jawabnya. Dia menunduk sambil memainkan ujung jilbabnya.
"Benarkah? Tapi 'kan, kamu sedang hamil sayang. Kamu tak boleh kelelahan."
"Kan ada suster, Pak. Suster bisa membantuku." Kali ini, ia menjawab pertanyaanku sambil melamun.
"Sayang, kenapa melamun?"
"Tidak apa-apa, Pak."
Lalu aku mengatakan pada Hanin kalau perasaanku tak tenang. Aku juga menelepon ulang papa dan mamaku. Tapi, nomor mereka tidak aktif.
"Ya sudah, Bapak istirahat saja ya. Aku akan shalat dan membaca Al-Qur'an di dekat Anda."
"Baik," jawabku sambil menghela napas.
Saat Hanin shalat, aku terus menoleh untuk memandanginya. Di lihat dari samping, hidungnya semakin cantik, bulu matanya lentik. Namun ada hal lain yang mengganggu relung hatiku. Entah kenapa, dari awal shalat, ia seperti menahan tangisn. Di rakaat kedua, jelas sekali jika airmatanya terus bederai. Di rakaat ketiga, aku melihat matanya memerah dan sembab.
Kamu kenapa sayang? Ini pasti gara-gara aku.
Bayangkan, dia yang baru saja lulus kuliah dan diterima bekerja, secara tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa dirinya kehilangan kehormatan dengan cara yang tak biasa, terpaksa menikah siri denganku, dan resign dari perusahaan bonafit karena hamil. Lantas harus menghadapi berbagai problematika berupa fitnah, dituduh sebagai pelakor, disakiti secara fisik dan verbal oleh Dewi, serta mendapat perlakuan tak adil dari orang tuaku.
Walaupun jiwa dan raga ini sudah terlanjur mencintainya, namun pada akhirnya, akupun luluh jua. Dengan keterpaksaan, logikaku mengatakan, wajar jika Hanin ingin becerai dariku.
Pertahananku runtuh mana kala melihatnya bersujud dan terpekur lama seraya menangis di akhir shalatnya. Kepiluannya terlihat begitu mendalam. Hatiku hancur berkeping-keping saat mendengar isakannya. Ternyata, seperti ini rasanya melihat sang tambatan hati bersedih dan terluka.
Karena cintaku tulus, aku berpikir untuk menghapus air mata dan mengurangi luka di hatinya dengan cara mengabulkan permintannya sesegera mungkin. Ini keputusan teberat dalam hidupku. Namun ... aku terpaksa melakukannya.
Aku menahan tangisan saat Hanin menyalamiku. Dia mencium tanganku lama.
"Pak, aku minta maaf," lirihnya.
"Kamu tak punya salah, tak perlu minta maaf."
Aku mengusap punggung tangannya di saat dada ini mulai bergemuruh dan bergejolak. Apakah aku sanggup melepasnya? Apakah ini saat yang tepat?
__ADS_1
"Huuu ...."
Hanin kembali menangis. Tangisannya membuat logikaku menyimpulkan bahwa ... mempercepat rencana itu adalah solusi yang tepat. Gugur sudah pertahananku. Airmataku meleleh begitu saja kala bibir ini berucap ....
"Hanin ... aku begitu sering melihat kamu menangis dan bersedih. Kamu benar-benar tak bahagia saat berada di sisiku. Jika dengan perpisahan airmatamu akan berhenti bederai, maka ... dengan berat hati ... aku akan mengabulkannya ... ma-malam ini juga."
"Pak ---." Dia sejenak menatapku lalu kembali menundukkan kepala. Jemarinya meremat satu sama lain.
Lalu ... dengan niat mulia untuk mengobati luka dan mengurangi beban hidupnya, akupun memberanikan diri untuk melontarkan kalimat yang sebenarnya tak ingin aku katakan. Kalimat ini merupakan sesuatu yang halal tetapi paling dibenci Allah. Kalimat ... perceraian. Ya, perceraian memang tidak dilarang, namun Allah membencinya.
"Da-Daini Hanindiya Putri Sadikin ---."
Dengan suara gemetar aku menyebut namanya. Sebuah nama indah yang telah terukir di dalam relung hati dan sanubariku.
"Ya, Pak," sahutnya pelan. Nyaris tidak terdengar.
"A-aku mentalak kamu, talak satu," ucapku.
Serius, sekujur tubuhku bedesir saat mengatakannya. Aku sendiri hampir tak percaya dengan apa yang kuucapkan.
Hanin melongo, ia memegang dadanya sambil memegang pinggiran bed pasien. Dia metanapku lekat, seolah tak percaya dengan kalimat yang kukatakan. Semburat pilu terukir jelas di wajah cantiknya. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat. Aku tak sanggup melihat wajahnya.
Kenapa kamu bersedih sayang? Bukan 'kah kamu sangat menginginkan perceraian ini?
Aku ingin berkata seperti itu, tapi aku berusaha keras agar terlihat tegas di hadapannya. Karena tak sanggup melihat wanita yang kucintai bersedih hati, akupun memalingkan wajah dan mempertegas kalimatku.
"Mu-mulai saat ini ka-kamu bukan istriku lagi."
Airmataku menetes. Segera kuusap dan berharap jika Hanin tak menyadari tangisanku. Telingaku berdenging. Sakiiit. Aku bak sengaja menyambarkan petir ke tubuhku sendiri. Entah dengan cara apa dan kapan luka ini bisa kesembuhkan. Aku hanya bisa berserah kepada-Nya.
"Pak ...."
Saat aku meliriknya, Hanin telah bersimpuh di lantai. Masih memakai mukena.
"Ke-kenapa?" tanyanya.
"Bukankah kamu sangat ingin becerai dariku?" Aku berpura-pura tegas.
"Setelah ini, a-aku berharap kamu tak akan bersedih lagi. Ma-maaf jika selama ini sudah membuat jiwa ragamu terluka, tertekan dan tersiksa. Terima kasih atas segenap hal indah dan menyenangkan yang telah kamu berikan untukku. Aku tidak akan melupakanmu, selamanya," lirihku.
"Pak Zulfikar ... aku ---."
"Kenapa? Kamu mau beterima kasih?" selaku.
"Huuu ... maaf ... tadinya ... a-aku masih berharap bisa bersama Anda. Setidaknya sampai masa nifas selesai," gumamnya.
"Hanin, aku tak tega melihat tangisan dan kesedihan kamu. Aku tak sampai hati menyiksa perasaan kamu lebih lama lagi. Aku tak bisa membiarkan kamu menangis dan bersedih terus-menerus. Aku akan bahagia kalau kamu juga bahagia."
"Pak ... aku menangis karena ---."
"Karena apa?" selaku. Namun ia malah terdiam.
"Oiya, semua kebutuhan kamu dan bayi kita akan menjadi tanggung jawabku sampai batas waktu yang tak ditentukan. Maksudku, selamanya akan tetap menjadi tanggung jawabku."
"Huuu ... i-ini terlalu mendadak, Pak. Seharusnya ... Anda memberitahuku dulu. Setidaknya ... jika aku tahu malam ini Anda akan menceraikanku, aku bisa berlama-lama memegang tangan Anda di saat-saat terakhir kebersamaan kita."
"Ma-maksud kamu?"
Kenapa kalimatnya menyiratkan seakan ia tak mau berpisah?
"Setidaknya ... Anda memberiku kesempatan untuk bisa mengurus Anda dan menjaga Anda selama masa pemulihan atau selama dirawat di rumah sakit," tambahnya.
"Sa-sayang ...."
Bibir ini spontan mengatakan 'sayang.' Jujur, aku sendiri masih ragu apa kalimat talakku sah atau tidak. Sebab, di dalam lubuk hatiku, aku tak ingin menceraikannya.
Sedangkan menurut jumhur ulama, tidak terjadi talak terhadap orang yang dipaksa, sebab orang yang dipaksa tidak bermaksud untuk menjatuhkan talak. Seperti halnya aku, aku juga terpaksa menjatuhkan talak pada Hanin.
__ADS_1
Namun, aku dengan sengaja melakukannya demi kebaikan Hanin. Yaitu, untuk mencegah agar tekanan batin, penganiayaan batin, fisik, dan verbal yang dilakukan oleh Dewi dan tekanan dari publik serta keluargaku tidak terjadi lagi pada Hanin.
Sedangkan kalangan Hanafiyah menghukumi tetap jatuh talaknya orang yang dipaksa. Karena, orang yang dipaksa bermaksud untuk menjatuhkan talak meskipun ia tidak rela dengan dampak yang akan terjadi.
Perbedaan itu pendapat itu membuatku ragu. Aku harus meminta pendapat pada Ihsan atau pak Ikhwan.
"Ja-jangan memanggilku sayang lagi," katanya. Ia merapikan sajadah dengan tangan gemetaran. Lalu menutupi punggung tangannya dengan sajadah.
"Hanin, aku meragukan talakku."
"Anda jangan bermain-main dengan kata talak. Ada tiga perkara yang seriusnya dianggap serius, dan bercandanyapun tetap dianggap serius. Tiga perkara itu adalah nikah, talak, dan rujuk," tegasnya.
Ia berdiri, memeluk sajadah dan memalingkan wajahnya.
"Di hatiku tak ada niat untuk menceraikan kamu, sayang. Wallahi, aku melakukannya karena terpaksa." Lagi, aku tak bisa menutup diri dari kenyataan bahwa aku teramat sangat mencintainya.
"Pak Zulfikar, para ulama berbeda pendapat terkait jatuh tidaknya talak karena paksaan. Menurut ulama di kalangan Syafi’iyah, memang tidak terjadi talak karena paksaan. Sedangkan menurut ulama di kalangan Hanafiyah, talaknya tetap sah karena dianalogikan kepada perbuatan yang bercandanya dianggap," jelasnya sambil berjalan terhuyung.
"Sayang, aku minta maaf, mari kita bicarakan lagi. Kecuali kamu, tidak ada saksi yang mendengar kalau aku menceraikan kamu." Aku panik, mencoba memberikan alasan sebisaku.
"Meskipun tanpa saksi, jika suami tiba-tiba mengatakan 'engkau aku cerai satu,' maka hukumnya sudah jatuh cerai atau talak satu," timpalnya. Langkah Hanin melambat. Airmatanya masih berjatuhan.
"Sa-sayang, a-aku mohon, kamu sedang hamil sayang, aku punya tangguhan dan tanggungan atas kehamilan kamu. Talak tadi sepertinya tidak sah sayang. Please, kemarilah, maafkan aku, Hanindiya ...." Penyesalan menggununung di dadaku. Bisa-bisanya aku mengambil keputusan seceroboh ini.
"Pak Zulfikar, aturan hukum di negara kita membolehkan suami menggugat cerai istrinya meskipun istrinya sedang hamil. Selain itu, Rasulullahpun pernah bersabda, 'Silahkan talak istrimu, dalam kondisi suci atau ketika sedang hamil.' Jadi, Anda sudah menceraikanku dengan cara yang diizinkan syariat, yakni talak yang sesuai dengan sunnah."
"Menalak istri memang harus dalam keadaan suci dan tidak dalam kondisi telah dicampuri, atau boleh juga menalaknya pada saat hamil. Maka, kesimpulannya tetap sama, dicerai saat hamil hukumnya diperbolehkan. Anda sudah sah menceraikan aku. Ja-jadi di antara kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi, Pak," tandasnya. Lalu ia kembali terhuyung seraya memegangi perutnya. Aku spontan beteriak dan menekan bel saat tubuh Hanin terkulai menghempas lantai.
"Sayang! Hanin!" teriakku.
Tak sadar, aku berusaha bangun. Namun tak berhasil karena kakiku terpasang penyangga yang bagian luarnya diikatkan ke ujung bed.
"Astaghfirullah!"
Suster yang datang panik seketika. Ia pasti terkejut karena satu jalur cairan infusku terlepas. Darah segar mengalir dari venaku.
"Cepat tolong istriku!" teriakku. Tanganku menepisn saat suster memegang tanganku.
"Ada apa ini?!"
Syukurlah, suster lain, perawat pria, dan seorang dokter kembali datang ke ruangan ini. Mereka sigap membagi tugas tanpa komando. Ada yang memeriksaku, dan ada juga yang memeriksa Hanin.
"Istriku sedang hamil. Cepat tangani dia saja, Dok!" Aku kembali beteriak saat tubuh Hanin dibopong menuju sofa.
"Tekanan darahnya rendah, nadinya lemah, Dok," lapor suster yang memeriksa Hanin.
"Apa?! Cepat tolong istriku, Dok! Kalau perlu, segera lakukan perawatan! Tapi, aku ingin mendapat layanan spesial yang membolehkan aku dan istriku dirawat dalam satu ruangan," pintaku. Mataku tak berpaling dari menatapnya.
"Hanin, maafkan aku sayang," gumamku. Tubuhku bekeringat karena terlalu khawatir.
"Pak, Anda tenang ya. Istri Anda akan kami bawa ke ruangan kebidanan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Masalah rawat gabung, nanti bisa dikondisikan sesuai dengan permintaan pasien atau keluarga pasien," jelas dokter.
Lalu sebagian dari mereka membawa Hanin.
"Ha-Hanindiya ...." Tanganku terulur begitu saja. Aku ingin menyentuhnya.
"Maafkan aku Hanin ...."
Aku kehilangan malu dan gengsiku. Aku terisak pelan di hadapan dokter dan suster.
"Anda narik napas, hembuskan perlahan," bujuk suster. Mereka berusaha menenangkanku.
"Dok, Suster, tolong hubungi lagi keluargaku."
"Ini sudah kami hubungi, Pak. Tapi, dua nomor yang direkomendasikan sebagai penanggung jawab Anda, tidak aktif," jelasnya.
"Tolong hubungi teman istriku. Namanya Listia. Kontaknya ada di ponselku." Aku menyerahkan ponselku pada dokter setelah membuka kuncinya.
__ADS_1
Maaf sayang, aku menyesal, dan aku meragukan keputusanku.
...~Tbc~...