
Zulfikar Saga Antasena
"Cepat ke alamat yang aku kirim! Jangan lama-lama ya! Kamu harus sudah ada di sana sebelum aku datang!" Sambil menyetir, aku menelepon dokter Rahmi agar segera ke sana dan memeriksa Hanin.
Hari ini, aku terpaksa membawa mobil sendiri ke sana ke mari karena pak Reza sibuk mendampingi mama. Semenjak kecelakaan itu, papa memang belum aktif ke kantor lagi. Papa hanya bekerja di rumah dan melimpahkan wewenang penting pada mama.
'Kok bisa Hanin sakit? Apa penyakit darah rendahnya kambuh lagi? Apa kelelahan gara-gara semalam? Apa kandungannya baik-baik saja? Serius, aku sangat khawatir.
Ponselku berbunyi. Dari siapa ya? Segera diterima. Ternyata dari bang Radit.
"Ya kenapa, Bang?"
"Bapak ada di mana?"
"Aku ke arah jalan pulang menuju rumah mama."
"Kenapa?"
"Bu Dewi pingsan, Pak."
"A-apa?! 'Kok bisa pingsan?"
"Saya tidak tahu Pak."
"Sekarang bagaimana kondisinya?"
"Sudah ditangani sama dokter Dena. Bapak mau pulang kapan?"
"Bang Radit, sebenarnya, Hanin juga sedang sakit. Tapi posisiku lebih dekat ke tempat Hanin berada. Jadi, aku akan mengatasi Hanin dulu, setelah itu, baru akan menemui Dewi."
"Baik, Pak. Saya mengerti." Bang Raditpun mengakhiri panggilannya.
Dewi juga sakit? Ada apa dengan hari ini? Kenapa mereka berdua sakit bersamaan? Lalu ada telepon lagi. Kali ini dari dokter Rahmi.
"Kenapa?"
"Pak, ma-maaf. Aku terjebak macet, Pak. Panjang banget. Bagaimana ini, Pak?"
"Ya ampun, di saat aku hampir sampai, kamu belum datang? Sebenarnya, dokter Rahmi niat kerja tidak 'sih?!" Jadi marah-marah.
"Maaf Pak, maaf. Maksud saya, kalau Bapak tiba duluan, Bapak langsung bawa neng Daini ke klinik atau rumah sakit saja."
"Enggak perlu kamu ajari! Aku sudah tahu!" teriakku. Lanjut menutup panggilan secara sepihak karena terlanjur kesal. Lalu menambah kecepatan mengemudi sambil beristighfar.
...⚘️⚘️⚘️...
Sampai juga. Cepat-cepat turun dari mobil.
"Pak Zulfikar?!" Bu Ratih yang sedang menyapu halaman tampak panik.
"Ya." Hanya itu yang aku katakan. Sambil bergegas menuju kamar kost Hanin.
"Neng Daininya sedang tidur, Pak. Dia baik-baik saja, 'kok." Sambil mengikuti langkahku. Aku tidak bicara. Walaupun bu Ratih mengatakan baik-baik saja, aku belum puas sebelum melihat kondisinya.
Kamarnya tidak dikunci? Aku kaget karena bu Ratih bisa langsung membukanya. Bagaimana kalau ada yang masuk dan mencelakai istriku? Oiya, di sini aman. Di depan ada polisi yang ditugaskan oleh pak Sabil untuk menjaga Hanin. Saat ada tamu yang mencurigakan, mereka pasti melapor. Setelah membukakan pintu, bu Lela pergi.
"Sayang?" Aku mendekatinya. Memeriksanya.
"Astaghfirullaah! Sayang, bangun sayang. Kenapa kamu pucat sekali?" Aku membuka selimut dan membangunkannya.
"Pak ...." Dia membuka mata.
"Kenapa tidak mengabariku langsung?! Kamu pucat, tanganmu dingin. Apa yang kamu rasakan?" Sambil menahan tubuhnya.
"Le-lemas, Pak. Mungkin, darah rendahku kambuh. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku memeluknya dan teramat khawatir.
"Tidak ada mulas, 'kan? Tidak ada perdarahan 'kan? Apa ada pecah ketuban?"
"Ti-tidak Pak."
"Biar aku cek dulu."
"Pak, tidak perlu."
"Sayang, aku harus cek."
Aku memaksanya, merebahkan tubuhnya, dan memeriksanya. Hanin menghela napas, menutup wajahnya, dan sedikit cemberut. Sesekali, ia juga mengintip apa yang kulakukan dari balik jemarinya.
"Tidak ada yang janggal, 'kan?" tanyanya seraya memalingkan wajah.
Dia menutup diri. Aku mengatur napas sambil menelan salivaku dengan susah payah. Sedang menahan perasan dan keinginan liar itu. Jika kulakukan sekarang, hal ini pasti akan membahayakan dan sangat memalukan.
"Secara umum memang baik-baik saja. Yuk bangun sayang. Kita ke rumah sakit ya." Setelah merapikan kembali. Aku membantunya bangun. Lalu menelepon dokter Rahmi agar langsung ke rumah sakit yang ingin kudatangi.
"Haruskah ke rumah sakit?"
"Harus sayang, kamu harus diperiksa." Aku memapahnya. Tangannya terasa semakin dingin. Bu Ratih inisiatif merapikan tas milik Hanin dan membantuku membukakan pintu mobil.
"Maaf ya Pak Zulfikar, saya merasa bersalah," ungkap bu Ratih setelah Hanin duduk di dalam mobil.
"Tidak Bu, justru aku yang terima kasih. Ini untuk Ibu." Aku memberinya amplop. Hanin diam saja. Aku yakin tubuhnya sedang bermasalah.
"Tidak perlu Pak Zulfikar," tolaknya.
"Kalau Ibu tidak mau, berikan untuk anak Ibu saja, untuk jajan ya. Jangan ditolak. Atau, Ibu berikan ke keropak mesjid yang ada di ujung jalan."
"Baik, Pak. Terima kasih." Akhirnya mau menerimanya. Aku melajukan kemudi setelah Hanin menyalami dan berpelukan dengan bu Ratih.
"Sabar ya sayang." Aku memegang tangannya.
"Aku baik-baik saja, Pak. Hanya lemas."
"Tapi, bayinya gerak 'kan sayang?"
"Gerak 'kok Pak," lirihnya.
"Ya sudah, kamu lanjutkan boboknya lagi ya. Aku akan bangunkan setelah tiba di rumah sakit."
"Baik."
Ia memejamkan matanya. Kasihan sekali istriku. Oiya, aku juga khawatir sama kandungannya Dewi. Akhirnya, menepikan mobil sejenak untuk mengirim pesan pada dokter Dena agar membawa Dewi ke rumah sakit. Sekalian saja kubawa ke rumah sakit yang sama dengan Hanin untuk memudahkanku mengontrolnya.
...⚘️⚘️⚘️...
Ternyata, Hanin mengalami anemia dan darah rendah. Saat tiba di rumah sakit, tensinya hanya 80/60 mmHg. Yang membuatku kaget adalah kadar hemoglobin darahnya. Kadar HB-nya 7,8 gram persen. Hanin mengalami anemia sedang. Mau tidak mau, ia harus dirawat untuk mendapatkan transfusi darah. Saat ini, ia sudah mendapatkan perawatan di kamar VVIP.
"Dok, 'kok bisa istriku anemia dan darah rendah? Setahuku, dia selalu makan banyak. Makanan yang dihidangkan di rumahkupun beragam dan bergizi tinggi. Di rumahku bahkan ada ahli gizi dan koki hotel bintang lima," protesku saat dokter melakukan visit. Dokter itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaanku. Hanin diam saja.
"Anemia pada Bu Daini, kemungkinan terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara peningkatan volume plasma dan masa eritrosit dalam sirkulasi maternal Ibu. Hal ini menyebabkan terjadinya hemodilusi. Sebenarnya, hemodilusi merupakan penyesuaian fisiologis selama kehamilan dan bermanfaat bagi kehamilan. Tapi, bisa menjadi membahayakan ketika ibu mengalami penurunan kadar HB yang terlalu banyak."
"Padahal setahuku, nafsu makan istriku lumayan baik." Sambil mengelus tangan Hanin yang sedari tadi hanya terdiam dan tersenyum.
"Hemodilusi pada Bu Daini jadi berlebihan bisa jadi karena Ibu hamil kembar. Selain itu, setiap tubuh ibu memang memiliki adaptasi yang berbeda dalam proses penyerapan gizi di dalam tubuh."
"Apa ada faktor lain yang memengaruhinya? Terus, bahanya untuk bayi-bayiku dan istriku seperti apa, Dok? Apa ada hubungannya dengan tensi darahnya yang sering rendah?"
"Hingga kini penyebab turunnya tekanan darah belum diketahui secara pasti, Pak. Tetapi, beberapa hal umum yang bisa menjadi pemicunya adalah kehamilan dan masalah hormonal. Untuk anemia pada kehamilan, efeknya pada ibu dan bayi sangat beragam, Pak. Salah satunya, pada ibu bisa menyebabkan perdarahan, dan pada bayi bisa menyebabkan kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah."
"Terima kasih infonya, Dok." Akhirnya, Hanin bicara juga.
__ADS_1
"Sama-sama, Bu. Nanti sore, Ibu akan ditransfusi darah ya. Sejauh ini, bayi kembar Ibu dan Bapak baik-baik saja, 'kok. Jadi, jangan terlalu khawatir," lanjut dokter tersebut.
Lalu mereka meninggalkan ruangan setelah menyelesaikan seluruh pemeriksaan pada Hanin.
"Sayang, aku malu."
"Malu kenapa, Pak?"
"Masa istriku anemia? Kamu tahu 'kan kalau anemia itu identik dengan kurang gizi?"
"Muhun (ya), Pak. Tapi, aku juga tidak tahu kenapa bisa anemia. 'Kan dokter sudah menjelaskan kemungkinan penyebabnya, bisa 'kah Anda memaafkanku?" Malah minta maaf.
"Sayang, aku tidak menyalahkan kamu."
"Maksudku, maaf karena sudah membuat Anda malu. Oiya, Anda tak boleh bilang sama ummi atau abah kalau aku dirawat. Aku tidak mau membuat mereka khawatir."
"Ya sayang, tenang saja. Acara tujuh bulanan kamu dua hari lagi. Kalau kamu masih butuh perawatan, kata mama-papa, acaranya akan diundur."
"Bagaimana kalau tidak perlu ada acara tujuh bulanan, Pak?"
"Enggak bisa sayang, mama dan papa sudah mempersiapkannya. Kita harus menghargai usaha mereka."
"Baik." Dia memeluk lenganku. Setelah mendapatkan infus, Hanin tampak lebih segar.
"Oiya, tadi ... saat bang Radit ke sini, dia bilang bu Dewi juga ada di rumah sakit ini untuk diperiksa. Memangnya bu Dewi kenapa, Pak?"
"Oh, tadi pagi, Dewi katanya pingsan, sayang. Jadi, aku menyuruh bang Radit untuk sekalian saja merawat Dewi di rumah sakit ini juga. Tapi setelah diperiksa, dokter mengatakan kalau Dewi baik-baik saja. Dia tidak perlu dirawat. Hanya butuh cukup istirahat. Paling juga Dewi pura-pura pingsan."
"Pak, jangan asal tuduh, tidak baik."
"Sebelumnya Dewi memang pernah pura-pura pingsan, sayang."
"Dulu itu dulu, Pak. Jangan samakan dengan saat ini. Bisa jadi 'kan sekarang mah pingsan sungguhan?"
"Baiklah, kamu menang sayang." Sambil mencubit cuping hidungnya. Dia selalu membela Dewi.
"Kata dokter, perawatan kamu kemungkinan sampai empat atau lima hari ke depan. Emm, lama juga ya sayang?"
"Kenapa memangnya, Pak?"
"Sayang, kamu tahu 'kan kalau aku enggak bisa lama-lama tidak menikmati tubuh kamu," godaku sambil menciumi perutnya yang terlihat besar dan penuh.
"Kan Anda bisa melakukannya sama bu Dewi," celetuknya. Aku menghela napas. Ya, memang masih bisa melampiaskannya pada Dewi. Tapi, rasanya pasti akan berbeda.
"Ya sudah, jangan bahas itu dulu ya, sayang."
"Lagi pula, siapa yang membahasnya duluan? Bapak, 'kan?"
"Oh, hehehe. Ya juga, 'sih."
"Kalau hanya pegang-pegang dan cium-cium boleh kali."
Lagi, aku menggodanya. Bercengkrama dengan Hanin, selalu membuat moodku membaik. Apa lagi kalau sudah melakukan adegan suami-istri, duniaku langsung secerah mentari pagi, sebening embun pagi.
"Pak," Hanin membuyarkan lamunanku.
"Ya sayang, apa mau sesuatu?"
"Tidak mau apa-apa, Pak. Hanya mau tanya, apa hari ini Anda tidak kerja?"
"Kerja, tapi digantikan dulu sama Listi. 'Kan mau menjaga kamu, sayang."
"Pak, harusnya, kalau Anda mau kerja, ya kerja saja. Nanti mau ada Ipi 'kan yang menjagaku?"
"Hari ini sampai malam, hanya aku. Tidak boleh yang lain."
'Tok. Tok.' Ada tamu.
Kupikir dokter atau perawat. Ternyata Dewi dan bang Radit. Bang Radit membawa parsel buah. Langsung diletakkan di atas meja. Dewi menghampiri.
"Kamu anemia?" tanya Dewi sambil duduk di sisi tempat tidur.
"Ya, Kak."
"Memangnya kamu enggak makan? Apa jangan-jangan, kamu cacingan, lagi."
"Wi, jaga bicara kamu. Ini rumah sakit. Hanin sedang sakit. Tolong jangan menyulut emosiku."
"Mas, aku ke sini dengan niat baik lho. Ingin menjenguk maduku yang katanya sedang sakit. Apa salahnya coba?"
"Kamu menang tidak salah, tapi cara bicara kamu yang harus diperbaiki."
"Pak Zulfikar, saya pergi dulu."
Bang Radit pasti merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah kami. Ia berlalu tanpa menunggu jawabanku.
"Kamu 'kan selalu menyalahkan aku, Mas."
"Wi, sudah ya. Aku malas bertengkar."
"Baik, aku akan diam dan bersikap baik, tapi mau ini dulu." Dia menarik tanganku, merangkulku, dan menciumku tiba-tiba.
"Uhm ...." Dia memang iseng dan kurang etika. Sama sekali tak memedulikan keberadaan Hanin.
"Bibirmu manis, Mas." Sambil mengusap bibirku.
"Puas?" tanyaku. Hanin tidak ada respon apa-apa. Ia sedang menatap tetesan infus.
"Belum 'lah, Mas. Oiya Dai, selama kamu sakit, kamu harus mengikhlaskan Mas Zul bersamaku."
"Kak, aku selalu mengikhlaskan Pak Zul untuk Kakak, selamanya. Bukan hanya saat aku sakit saja," jawab Hanin. Aku malas berkomentar lagi.
"Dai, dengar ya. Aku mau jujur sama kamu. Sebenarnya, setelah aku hamil, Mas Zul tidak pernah meniduriku lagi," tegasnya.
"Dewi! Maksud kamu apa?! Aku tidak melakukannya karena kandungan kamu lemah! Kalau kamu mau cari masalah, lebih baik cepat keluar dari sini!" usirku. Hanin menghela napas.
"Jangan bohong kamu ya Mas! Saat dokter sudah memperbolehkanpun, kamu enggan menyentuhku, kan?! Pokoknya, aku tidak terima Mas! Dan ini juga salah kamu Daini. Setiap Mas Zul tidak sudi menyentuhku, aku berharap kalau kamu juga akan mendapatkan dosanya" Sambil menunjuk Hanin. Hanin menunduk. Aku naik pitam.
"Dewi! Apa seperti ini cara kamu menarik perhatianku?! Kalau kamu ingin aku adil, bisakah kamu juga bersikap baik?! Jika kamu tidak bisa seperti Hanin, setidaknya, kamu bisa menjaga tutur bahasa kamu!"
"Cukup Pak. Aku ingin sendiri," kata Hanin. Matanya berkaca-kaca.
"Sayang, jangan terlalu memikirkan Dewi. Dia memang seperti itu."
"Kamu selalu bersikap manis sama dia, Mas."
"Hanin pantas mendapatkannya, Wi."
"Aku juga pantas, Mas! Aku istri kamu! Lagi pula, apa bedanya coba?!"
"Cu-cukup," lirih Hanin sambil menutup telinganya.
"Bang Radiiit!" panggilku.
"Ya, Pak." Bang Radit langsung masuk. Sudah kuduga, ia pasti ada di depan kamar.
"Cepat bawa pergi istriku."
"Baik, Pak. Bu Dewi, mari pulang," ajaknya.
__ADS_1
"Aku mau menjaga Daini, Mas."
"Menjaga Daini? Hahaha, jangan bercanda." Aku merasa lucu mendengar ucapannya.
"Aku serius, Mas!"
"Baik, nanti malam aku janji akan mendatangi kamu. Tapi kamu pulang ya," bujukku. Terpaksa mengiming-iminginya dengan kalimat itu. Semoga berhasil.
"Be-benarkah? Kamu tidak akan bohong 'kan, Mas?" Benar saja, dia langsung memelukku dan berubah ramah.
"Kalau kamu bohong, aku akan bunuh diri," bisiknya.
Aku hanya bisa mengepalkan tangan mendengar ancamannya itu. Mau bagaimana lagi? Dewi memang memiliki penyakit kepribadian ganda dan gangguan psikis.
"Yuk Bang, kita pulang." Dewi akhirnya pulang setelah menciumi wajahku bertubi-tubi.
"Sayang, apa yang terjadi barusan, jangan dipikirkan ya. Maaf karena aku belum bisa menaklukan Dewi."
"Pak, kumohon jangan mempersulit keadaan."
"Maksud kamu?"
"Kenapa Anda tidak menjaga perasaan bu Dewi? Kenapa Anda tidak mau melayaninya? Nafkah itu tidak cukup hanya dengan harta saja, Pak."
"Sayang," sambil menangkup pipinya.
"Bu Dewi itu istri Anda. Anda berdosa jika mengabaikannya."
"Aku tahu sayang, tapi sikap Dewi selalu membuatku marah dan ilfeel. Dia juga kasar dan sering memakiku."
"Anda imamnya. Jadi, Anda berkewajiban mengubah sikapnya. Anda juga harus menyembuhkan penyakitnya. Itu tantangan untuk Anda, Pak. Bisa jadi, keberadaan bu Dewi adalah ujian untuk Anda. Aku ikhlas dengan kehidupan poligami ini. Jika kita menjalankannya sesuai syariat, aku yakin akan bernilai pahala yang berlimpah. Terutama pahala untuk Anda. Bayangkan, jika mengasihi satu istri saja sudah bernilai pahala, apa lagi dengan dua istri? Ya, 'kan?"
"Ya, kamu benar. Baiklah, aku akan mengupayakannya. Oiya, maaf untuk yang tadi."
"Maaf untuk apa, Pak?"
"Tadi, Dewi menciumku di depan kamu."
"Ti-tidak apa-apa, Pak. Karena tubuh Anda ini, bukan hanya milikku seorang, 'kan?" Sembari tersenyum dan mengusap dadaku.
"Ya, aku tahu sayang. Tapi, tubuhku ini selalu mengatakan kalau dia adalah hanya milikmu." Aku lantas memeluknya. Saat aku sedang menyesap bibirnya dalam-dalam sambil memejamkan mata, pintu ruangan terbuka.
"Zul?!"
"Ma-Mama?!"
Aku terperanjat. Segera turun dari tempat tidur dengan cara meloncat. Ada papa dan kak Gendis juga. Mereka semua menatapku. Hanin refleks membekap bibirnya. Lalu menutupi wajahnya dengan selimut.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanyaku.
"Zul-Zul. Ck ck ck, istri kamu lagi sakit, lho. Main sosor saja," oceh kak Gendis sambil senyum-senyum.
Hanin masih bersembunyi. Tadi, kulihat pipinya merona. Ia pasti merasa malu. Aku tak menggubris ocehan kak Gendis. Segera menyalami mama-papa dalam keadaan pipi yang terasa panas. Baru kali ini aku kegep (ketahuan). Ini salahku juga, kenapa tadi lupa mengunci pintu? Lagi apes mungkin ya.
"Neng, enggak apa-apa, 'kok. Hahaha." Kak Gendis menarik selimut Hanin. Tawa kak Gendis, mencairkan suasana.
"Ma-maaf," ucap Hanin terbata-bata. Pipinya masih merona. Ia terus menunduk sambil memainkan jemarinya.
"Papa enggak lihat 'kok," celetuk papa.
"Oiya, Mama juga enggak lihat 'kok sayang," sahut mama.
"Kalau aku 'sih pura-pura tidak lihat," timpal kak Gendis.
"Hahaha."
Aku dan papa tertawa. Saat Hanin mengangkat wajahnya dan tersenyum, mama dan kak Gendispun ikut tertawa. Sungguh, senyuman dari seorang Hanin, seolah mampu mengalihkan duniaku.
...⚘️⚘️⚘️...
Listi Anggraeni
"Aaarggh."
Aku sedang berguling-guling di kamarku. Tengah merutuki segenap kejadian yang terjadi di hari ini. Diawali dari membangunkan pak Sabil, sampai ke saat ini. Semuanya terlintas di dalam otakku. Yang paling teringat adalah saat aku dan dia ....
"Aaarggh."
Hari ini, aku sudah melakukan dosa. Bisa-bisanya aku tak berontak ataupun menolak saat dia mencium bibirku. Aku juga setuju tidak memanggilnya 'Bapak' lagi. Sekarang, aku resmi memanggilnya 'A Abil.'
Walaupun aku stres berat karena harus mewakili pak Direktur, kehadiran pak Sabil ternyata membuatku sedikit tenang. Hari ini, dia terus mendukungku. Dia bahkan menjemputku dan mengantarku pulang ke rumah. Di rela naik ojek online demi ke kantorku dan menjadi sopirku.
"Hari ini, aku sangat bahagia. Aku memaknai hari ini sebagai hari jadian kita."
Itu kalimat yang ia katakan saat dia mengantarku. Sejak kejadian di kantor Propam, ketika berhadapan dengannya, aku jadi pendiam. Sebab, kejadian itu terbayang lagi dan membuatku teramat malu.
Aku menyesal karena bersikap pasrah. Dan yang membuatku malu adalah ... aku membalas perlakuannya. Aku bahkan melenguh pelan dan membuatnya tertawa. Memalukan bukan? HP-ku berbunyi. Ada pesan. Apa dari dia? Aku mengambil ponselku dengan jantung berdegupan. Benar, ini pesan dari pak Sabil.
"Aku sudah di depan rumah kamu. Kita jadi membesuk bu Daini bersama-sama, 'kan?"
"A-apa?!" Aku terkejut. Bisa-bisanya aku lupa.
"Baik, tunggu ya," balasku.
"Apa aku boleh menunggu di dalam rumahmu?"
"Boleh."
"Hehehe. Sebenarnya, aku sudah berada di ruang tamu rumah kamu. Sedang mengobrol sama ibu dan bapak."
"Oh, ya sudah tunggu ya, Pak."
"Apa?"
"Tunggu."
"Apa?"
Ish, mau dia apa 'sih?
"Call me A Abil, atau Aa."
Ya ampun, ternyata itu penyebabnya.
"Tunggu aku ya, A."
"Oke ayang. Enggak sabar lho mau bertemu ayang. Hehehe. Aku bucin, you know?"
Tidak terasa, bibirku tersenyum saat membaca pesannya. Pakai baju apa ya?
"A Abil pakai baju warna apa?" tanyaku. Mengetik itu sambil mengatur napas.
"Coba tebak."
"Apa hitam putih?" dugaku.
"Kok bisa tepat, 'sih? Itu artinya, kita berjodoh.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
...~Tbc~...