
Daini Hanindiya Putri Sadikin
Tak terungkap dengan kata betapa bahagianya ummi saat menyambut kedatanganku. Tangis pilu mewarnai suka-cita ummi. Berulang kali menatapku haru sambil menciumi keningku.
"Geulisna (cantiknya) Ummi, kenapa baru pulang sekarang?"
"Sibuk, Ummi," jawabku seraya mendekap tubuh ummi, airmataku berjatuhan.
Saking bahagianya aku pulang, ummi belum mempertanyakan keberadaan dokter Rahmi dan kak Listi yang saat ini dengan percaya dirinya sudah merebahkan tubuhnya di teras rumahku.
"Neng Daini? 'Kok pulang malam-malam? Kang Hendraaa, Kang! Cepat ke siniii! Neng Daini pulang," teriak ceu Jani. Dia terkejut saat melihatku. Langsung memanggil mang Hendra, suaminya.
"Eueleuh-euleuh, benar ini teh ada Neng Daini?"
Mang Hendra belari dari sisi rumah sambil mengucek matanya karena mungkin merasa tak percaya kalau aku pulang di pagi buta. Aku belum tahu ini jam berapa.
"Mang, Ceu, kumaha damang (apa kabar)?"
"Alhamdulillah, sae Neng (baik, Neng)," jawab mereka serempak. Mang Hendra dan ceu Jani adalah pasangan suami-istri yang bekerja di rumahku.
"Ini siapa? Cantik-cantik sekali."
Ummi melepaskan dekapannya, segera menghampiri dokter Rahmi dan kak Listi.
"Ummi lupa? 'Kan kita sering video call, aku Listi. Sahabat baiknya Daini. Nah, kalau yang ini dokter pribadinya Daini, namanya dokter Rahmi." Kak Listi memperkenalkan dirinya dan juga dokter Rahmi.
"Dokter pribadi?"
Sambil bersalaman dengan dokter Rahmi dan kak Listi, ummi tampak kaget. Pun dengan mang Hendra dan ceu Jani. Mereka saling berpandangan.
"Menantu Ummi 'kan horang kayah, hehehe," goda kak Listi.
"Kak," aku mencubit bahu kak Listi.
"Saya dokter yang akan memantau kandungan Neng Daini," timpal dokter Rahmi.
"A-apa? Kandungan Daini?"
Ummi, mang Hendra dan ceu Jani membelalak, akupun demikian. Dokter Rahmi mungkin mengira kalau ummi sudah mengetahui kehamilanku."
"Apa saya salah bicara?" Dokter Rahmi termangu.
"U-Ummi, ayo kita masuk dulu, nanti aku jelaskan," ajakku di saat ummi masih menatapku dalam kebingungan.
"Abah mana?" tanyaku saat kami tiba di ruang tamu.
"Abah nginep di pondok, katanya mau lihat Putra sorogan." Sorogan adalah sistem belajar mengajar dimana santri membaca kitab yang dikaji.
"Oh," jawabku sambil berpikir. Bingung harus memulai dari mana menjelaskan kehamilanku pada ummi dan abah.
"Bu, maaf, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Ibu, saya sebagai dokter yang mendapat amanah dari pak Zulfikar untuk menjaga Neng Daini, merasa keberatan jika Neng Daini harus menjelaskan semuanya pada saat ini. Saya berharap Ibu mengerti dan mengizinkan Neng Daini istirahat," kata dokter Rahmi.
Aku dan ummi saling menatap. Benar kata kak Listi kalau dokter Rahmi sangat tegas dan mirip dengan sikap pak Zulfikar.
"Kami baru saja melewati perjalanan jauh Bu, dan kandungan Neng Daini masih dalam fase observasi ketat karena hampir saja mengalami keguguran," tambah dokter Rahmi di saat aku dan ummi masih saling menatap.
"A-apa? Hampir keguguran?" Ummi tambah panik. Ummi memelukku dan tentu saja kembali menangis.
"Huuu, ada apa sebenarnya, Dai? 'Kok kamu gak cerita sama Ummi? Kenapa kamu merahasiakan ini dari Ummi?"
"Bu, Neng Daini harus istirahat, nanti pagi saja ceritanya." Dokter Rahmi memegang bahu ummi.
"Ya Ummi, Daini memang perlu banyak istirahat," jelas kak Listi.
"Nya tos atuh (ya sudah) kamu cepat ke kamar ya. Ceu Jani, tolong bawa tamu kita ke kamar tamu," kata ummi seraya menuntun tanganku menuju kamar.
"Bu, tunggu." Dokter Rahmi menyusul.
"Ya, Dok," sahut ummi.
"Tolong langsung ajak Neng Daini untuk tidur. Saya takut dimarahi pak Zulfikar kalau sampai terjadi sesuatu." Ya ampun, kurasa dokter Rahmi overprotektif.
"Ya, Dok. Saya tak mungkin membahayakan calon cucu saya," kata ummi sambil tersenyum.
"Baik, saya percayakan pada Ibu," kata dokter Rahmi sebelum akhirnya ia berbalik badan dan menyusul kak Listi sambil berlari.
...***...
"Ummi," setibanya di kamar, giliran aku yang memeluk ummi.
"Kemarin, Ummi tiba-tiba saja mau ganti sprei kamar kamu. Eh, tahunya kamu mau pulang. Cepat tidur ya." Malah menyuruhku tidur.
"Ta-tapi Ummi ---."
"Sssttt, jangan sampai Ummi menyuruh untuk yang kedua kalinya. Ceritanya nanti saja, cepat cuci muka, cuci kaki, terus ganti bajunya." Sibuk menyiapkan baju tidur untukku.
"Aku mau shalat tahajud dulu, Mi."
"Boleh, tapi apa kamu tak apa-apa shalat sambil berdiri?" Wajahnya terlihat khawatir.
"Di Jakarta, aku juga shalat Isya seperti biasa 'kok," jelasku sambil meraih handuk dan pakaian yang disodorkan oleh ummi.
"Ya sudah, ummi temani kamu ke kamar mandi." Menyusulku.
"Tak perlu, Mi. Aku yakin bisa menjaga calon cucu Ummi," kataku sambil tersenyum. Tak terbayang bagaimana bahagianya ummi dan abah saat tahu kalau aku mengandung bayi kembar.
Aku berganti pakaian di kamar mandi. Sebab khawatir bekas gigitan bu Dewi terlihat oleh ummi. Kalau ummi melihatnya, masalahnya akan tambah runyam.
Saat aku keluar dari kamar mandi, ummi sudah tidak ada di tempat, namun di meja riasku sudah tersaji susu putih yang mengepul, biskuit, pisang ambon, dan makanan ringan yang disimpan di toples. Bahagia rasanya diperlakukan semanis ini oleh ummi.
"Jangan langsung tidur, susunya minum dulu, sama kue-kuenya juga dimakan ya."
Ketika membuka ponselku, aku mendapat pesan itu dari ummi. Aku terenyuh. Lantas menyeruput susu hangat itu seraya bersyukur karena memiliki seorang ibu seperti ummi.
"Ngawangkongna kin bae mun abah tos dongkap ti pondok nya (ceritanya nanti saja kalau abah sudah pulang dari pondok ya). Intinya, ummi sangat bahagia atas kehamilan kamu." Pesan yang ini diakhiri emoji mata dipenuhi cinta.
Setelah meminum susu dan beberapa camilan, aku merebahkan tubuhku perlahan. Lantas menatap langit-langit dengan perasaan sedih. Terakhir kali aku berada di kamar ini adalah setelah dinikahi pak Zulfikar.
Lalu pada malam itu, dengan bodohnya aku memasrahkan kembali tubuhku untuk yang kedua kalinya. Harusnya, malam itu aku menolaknya.
Andai saja aku menolak, mungkin pak Zulfikar bisa menceraikanku dan status janda itu bisa kumiliki.
"Mas ...," lirihku.
Astaghfirullah. Mulutku spontan memanggilnya 'Mas.'
Jangan Dai, jangan memanggilnya 'Mas.' Dia suami yang berbeda. Dia atasanmu.
Batinku mengelak dan menolak. Aku ingin menepis segenap rasa ketergantungan ini.
Pak Zulfikar, a-aku serakah, aku salah ....
Aku meratapi rasa ini. Perasan ini benar-benar tak tahu diri. Aku tiba-tiba ingin menjadi istri pak Zulfikar satu-satunya.
"Astaghfirullahaladzim."
Aku beristighfar berulang-ulang. Keinginan ini terbesit setelah aku tahu jika pak Zulfikar menikah karena perjodohan, dan setelah aku tahu jika bu Dewi sering menyakiti fisik suamiku. Aku tak rela tubuh suamiku dilukai.
Maafkan aku bu Dewi ....
Aku janji akan menghapus keinginan itu. Aku sadar jika itu hanya keinginan semu yang didasari nafsu. Aku harus kembali pada prinsip awal. Pak Zulfikar tidak boleh menceraikan bu Dewi, karena hingga saat ini, rasa bersalah itu belum lekang dari relung hatiku.
__ADS_1
Kemudian akupun merindukannya. Tapi dia sedang bersama bu Dewi. Aku tak boleh mengganggunya. Kumainkan ponselku, kubuka kembali riwayat percakapan dengannya. Aku menghelas napas, pak Zulfikar membaca pesanku, tapi tak membalasnya.
"Kenapa tak membalas pesanku, Pak?" Hanya bisa menatap fotonya yang kuambil saat dia baru saja bangun tidur. Aku suka barefacenya.
'Tok tok tok.' Ada yang mengetuk pintu kamarku.
"Assalamu'alaikuum."
"Wa'alaikumussalaam," sahutku.
Beranjak pelan untuk membuka pintu. Aku tahu benar kalau itu suara ceu Jani.
"Ceu Jani? Dokter Rahmi?" Ternyata mereka.
"Neng, Ceu Jani dimintai tolong sama dokter Rahmi untuk ke sini."
"Ya Neng Daini, saya sengaja ke sini untuk memastikan kalau Neng Dai benar-benar tidur, dan saya memutuskan akan menginap di kamar ini," terang dokter Rahmi.
Ya ampun, aku yakin itu perintah pak Zulfikar. Dia memang tidak di sisiku, tapi sikap mendominasinya tetap terasa.
"Boleh, Dok. Silahkan," kataku. Dokter Rahmipun masuk sambil membawa selimutnya, ceu Jani berlalu.
"Saya tidur di sofa, Neng Daini lanjutkan istirahatnya. Tadi sudah ke kamar mandi, kan? Bagaimana? Apa ada flek darahnya?"
"Tidak ada, Dok," jawabku.
"Sungguh?" Memastikan lagi.
"Ya, Dok. Aku serius."
"Oke, ayo kita tidur," ajaknya, lalu memejamkan mata.
"Tunggu, apa tadi Neng Daini makan camilan itu?"
"Ya, Dok."
"Sudah gosok gigi?" tanyanya.
Aku melongo.
Apa-apan ini? Masa ya gosok gigipun harus diatur?
"Tadi sudah kumur-kumur pakai air putih, Dok."
"Harusnya gosok gigi, bumil itu ada kecendrungan mengalami gusi berdarah. Jadi, kesehatan gigi dan mulut harus terjaga. Tunggu," katanya.
Lalu ke kamar mandi dan kembali lagi sambil membawa gayung, pasta gigi, sikat gigiku, dan cairan obat kumur.
"Ayo gosok gigi dulu," titahnya saat aku masih menatapnya.
Dokter Rahmi bahkan menuangkan pasta gigi ke sikat gigiku. Akupun patuh. Bisa-bisanya pak Zulfikar merekrut dokter pribadi serumit ini.
"Muntahkan ke sini," sambil menyodorkan gayung dan segelas air minum untuk aku berkumur.
"Dok, harusnya tak perlu repot-repot," kataku saat kegiatan gosok gigi usai.
"Hehehe, saya sudah dibayar, Neng. Saya akan melakukan yang terbaik. Ini ada salep memar. Kita obati dulu lukanya. Cepat buka bajunya, Neng."
Tak ada pilihan lain kecuali patuh. Dokter Rahmi mengobatinya. Syukurlah, dia hanya mengobati. Tak pernah sekalipun bertanya kenapa luka bekas gigitan ini bisa ada di tubuhku.
"Neng Daini cantik sekali. Pantas pak Zulfikar tergila-gila," pujinya.
"Terima kasih," jawabku.
Lalu aku menarik selimut dan memejamkan mata. Berada di kamar ini, aku merasa tenang.
"Siap, Pak. Saya sudah menginap di kamarnya. Perdarahannya tidak ada. Luka di dadanya membaik, tinggal lebamnya saja," kata dokter Rahmi.
Apa dokter Rahmi sedang teleponan dengan pak Zulfikar? Tapi, kenapa dia tak membalas pesanku?
Mungkin, pak Zulfikar mau fokus dulu pada bu Dewi. Aku tak boleh cemburu.
"Bapak kapan ke sini?"
Deg, pertanyaan itu membuatku berdebar. Pertanyaan dokter Rahmi seolah mewakiliku. Aku ingin tahu kapan pak Zulfikar menemuiku.
"Oh, begitu? Baiklah. Terima kasih, Pak."
Kalimat dokter Rahmi ambigu. Padahal, aku sangat ingin tahu jawabannya.
Kira-kira, yang dikatakan pak Zulfikar apa ya?
Tapi ... aku bahagia karena pak Zulfikar masih memedulikanku. Walaupun dia tak membalas pesanku, namun ia tetap menanyakan kabarku melalui dokter Rahmi.
...🍒🍒🍒...
Zulfikar Saga Antasena
Setelah menelepon dokter Rahmi secara diam-diam untuk menanyakan kabar Hanin, Aku naik kembali ke bed pasien. Dewi tak ingin jauh-jauh dariku. Dia terus memelukku. Katanya, tak marah lagi dan sudah memaafkanku.
Kata dokter, Dewi hanya mengalami gejala maag ringan dan Hari ini sudah boleh pulang. Berita tentang Dewi yang stres atas kasus perselingkuhan itu, ternyata hanya issue yang sengaja dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Mami dan pami tidur di kamar tunggu. Bang Radit kusuruh pulang. Walaupun sedang mendekap Dewi, namun jiwaku tetap mengingat Hanin.
Di jam 03.30 WIB, aku baru merasakan kantuk. Kulepaskan perlahan tangan Dewi yang menelusup ke dalam pakaianku. Lalu kumenutup pelan mataku dan mulai melupakan semuanya.
Jam 04.30 WIB, alarmku menyala. Aku segera bangun dan meninggalkan kamar untuk melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Aku berniat pergi ke masjid agung yang letaknya bersebelahan dengan rumah sakit.
...***...
Saat melewati lobi, aku terkejut. Ada sekelompok wartawan yang sepertinya akan meliput.
"Wartawan?" gumamku. Melajukan kemudiku perlahan-lahan.
"Mereka bukan akan meliput Dewi, kan?" gumamku lagi.
"Hmm, jangan beperasangka buruk, Zul," kataku pada diri sendiri. Lalu melajukan mobilku ke posisi normal dan meninggalkan area rumah sakit.
Setelah melaksanakan shalat Subuh berjamaah, aku menelepon Tania untuk mengurus surat cutiku. Alasanya tentu saja karena Dewi sakit.
"Baik, Pak."
Aku mengakhiri panggilan setelah memastikan Tania mengerti intruksiku.
Di parkiran masjid agung, kantuk itu datang lagi. Kupikir tak masalah kalau tidur sejenak sampai jam 6 pagi. Kuatur posisi jok mobil menjadi rebahan dan tertidur.
Entahlah di jam berapa, aku membuka mata karena ponsel di dashboard bedering. Aku terkejut maksimlal. Jam tanganku menujukkan pukul 08.20 WIB. Aku ternyata tidur lumayan lama.
"Halo, Bang," yang menelepon bang Radit. Aku menerima pangilan sambil sibuk mengatur posisi kursi dan memasang sabuk pengaman.
"Bapak ke mana saja? Ada hal gawat, Pak! Saya tak tahu ceritanya seperti apa, ta-tapi ...." Bang Radit panik.
"Bang, coba tenang dulu. Aku ada di parkiran masjid agung samping rumah sakit. Aku ketiduran Bang. Sebenarnya ada apa 'sih?"
"Kok Bapak bisa tidak tahu? Bu Dewi dan orang tuanya sedang preskon, Pak."
"Apa?!" Sontak aku terkejut.
"Ya, Pak. Preskonnya dari jam setengah delapan pagi," terang bang Radit. Aku memegang dadaku. Napasku langsung memburu.
__ADS_1
"Apa yang mereka bicarakan, Bang?" Sambil melajukan kemudi dengan perasaan gusar.
'Tuts.' Panggilan bang Radit malah mati.
Aku menghela napas, aku harus tenang. Kutepikan dulu kemudi untuk mencari ide. Ternyata, yang meneleponku bukan bang Radit saja, pak Sabil dan pak Ihkwanpun sudah menghubungiku dari jam 07.00 WIB.
"Ya Rabb, berikan petunjuk-Mu."
Aku menengadahkan tangan untuk melafalkan beberapa doa yang biasa kugunakan di saat hatiku sedang tak tenang.
Setelah tenang, segera melajukan kemudi menuju lobi rumah sakit.
...***...
Kondisi saat ini sangat ramai. Mobilku bahkan disuruh parkir di luar rumah sakit. Setelah mendapat tempat parkir, aku berjalan kaki menuju lobi dan berbaur dengan awak media.
Untungnya tak ada yang mengenaliku. Mama dan papaku memang tak pernah mengekpos wajahku ke hadapan publik.
Saat aku menikah dengan Dewipun, pada vidio pernikahanku yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi, wajahku dan wajah Dewi diblur.
Aku menerobos ke depan guna mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh Dewi.
"Anda siapa? Geser ke sana!" sentak salah satu wartawan yang tubuhnya tak sengaja terdorong olehku.
Sip, aku dapat juga posisi yang pas. Dari jarak ini, aku bisa melihat Dewi yang diapit mami dan papinya dengan cukup jelas. Di sisi mami dan papi ada dua orang lawyer. Jadi total ada empat lawyer.
Dewi memakai masker medis dan kaca mata hitam. Aku segera menyimak saat Dewi hendak berbicara.
"Intinya, aku dan keluargaku mau mengklarifikasi berita itu. Berita perselingkuhan itu tidak benar. Itu hoax. Yang benar adalah, ada seorang wanita nakal yang sengaja menjebak dan menggoda suamiku hingga mau tak mau harus menikahi wanita itu secara siri," terang Dewi.
"Jadi cerita sebenarnya seperti itu?" celetuk seorang wartawan.
"Terus bagaimana dengan pernikahan siri itu? Apa pernikahan itu belum berakhir?" tanya wartawan yang lain.
"Apa kami boleh tahu penyebab suami Bu Dewi harus menikahi wanita itu?"
"Aku juga tak tahu pastinya. Tapi ke depannya, tolong jangan menggembor-gemborkan berita itu lagi. Sebab, suamiku sudah menceraikan wanita itu dan rumah tangga kita saat ini baik-baik saja," terang Dewi.
"Apa?" gumamku pelan.
Aku tak terima Dewi mengutarakan pendapat tersebut sebelah pihak tanpa sepengetahuanku.
Aku berusaha maju ke depan mendekati area inti preskon. Namun saat kakiku hampir sampai, seseorang menarik tanganku.
"Pak Zulfikar, apa yang akan Anda lakukan? Jangan ceroboh!"
"Pak Ikhwan?"
"Ya, Pak. Saya ke sini karena khawatir Anda melakukan hal-hal yang bodoh," katanya.
Akhirnya, aku mundur dan mengurungkan niatku.
"Kita tinggalkan tempat ini!" katanya.
"Mau ke mana?" tanyaku.
"Ke rumah Anda, Pak. Pak Aksa dan bu Yuze sudah tiba dari luar kota. Saya yakin mereka juga sudah mengetahui kabar preskon ini. Sebelum hasil preskon ini dipublikasikan, kita harus bertindak," jelasnya.
Aku menghela napas. Perang dingin ini rupanya akan segera dimulai.
"Kenapa? Cepat putuskan dari sekarang, Pak. Mau maju atau mundur? Mereka sudah jauh di depan kita. Saya yakin orang tua bu Dewi telah mengetahui kalau Anda memiliki istri lain. Dan Anda harus ingat, Pak. Kita tidak tahu cerita semacam apa yang dikatakan oleh bu Dewi pada orang tuanya."
"Anda benar Pak Ikhwan, aku akan maju. Aku akan berjuang untuk wanita yang kucintai dan untuk calon anak-anakku," kataku seraya mengepalkan tangan.
"Baik, dan Anda harus punya langkah sendiri."
"Maksudnya?" Aku menatap pak Ikhwan.
"Saat mama dan papa Anda tak berpihak pada Anda. Maka Pak Zulfikar harus melangkah sendiri untuk mengatasi masalah ini."
"Anda tidak akan membantuku lagi?" tanyaku.
"Maaf Pak, atasan pertama saya 'kan pak Aksa," ucapnya saat kami tiba di area parkiran luar rumah sakit.
Aku tak menyangka jika pak Ikhwan akan berkata seperti itu.
"Saya bawa mobil juga, Pak. Jadi kita naik mobil masing-masing."
Dia berlalu ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari mobilku. Aku masuk ke dalam mobilku. Jika pak Ikhwan tak ingin membantuku lagi, apa aku bisa berjuang seorang diri?
Tiba-tiba ponselku menyala. MasyaAllah, ada pesan dari Hanin. Entah apa maksudnya, namun aku dan dia seolah telah memiliki ikatan batin.
"Assalamu'alaikuum."
"Kita memang tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, namun percayalah, Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan."
"Kesabaran bukan berarti diam dan tak begerak saat ditimpa musibah. Tapi, sabar adalah aktif bergerak mencari kebaikan saat musibah itu datang."
"Semua masalah datang bersama solusinya. Maka bersabarlah untuk bertemu jawabannya."
"Hehehe, aku juga tak tahu kenapa tiba-tiba ingin mengirimkan kata-itu pada Bapak. Oiya, ada salam dari ummi dan abah. Kata abah, dalam waktu dekat, abah dan ummi ingin berkunjung ke rumah pak Aksa."
"Karena aku hamil, katanya, abah akan menempuh jalur hukum guna mendapatkan status hukum untuk calon anak kita, Pak."
"Abah juga ingin bertemu dengan orang tuanya bu Dewi untuk meminta izin agar pernikahan aku dan Bapak disahkan secara hukum negara."
"Maaf ya Pak. Wallahi, tak mendapatkan statuspun aku merasa tak apa-apa. Tapi ternyata ... prinsip abah berbeda denganku."
"Abah juga mengatakan, 'Wallahi, Abah ingin mendapatkan status hukum bukan untuk mendapat pengakuan dan harta dari keluarga Antasena, Abah melakukannya demi kebaikan anak cucu Abah di masa depan.' Lalu untuk masalah biaya hidup, abah mengatakan yakin sangat mampu walaupun tanpa uluran tangan dari keluarga Anda."
Pesan dari Hanin membuatku seolah tengah berdiri di ujung tanduk yang runcing dan hampir kehilangan keseimbangan. Aku tak percaya kalau abah ternyata sangat berani. Dia bahkan mau menemui keluarga Dewi.
Ting, aku ada ide, jika pak Ikhwan tidak mau membantuku lagi, lalu papa dan mama ada di pihak Dewi, maka aku bisa berjuang bersama dengan abah.
"Sayang, katakan pada abah kalau aku ingin bicara dengan tim kuasa hukum yang akan disiapkan oleh abah. Kalau bisa, hari ini, mereka dan aku harus bertemu."
Dan aku terkejut karena Hanin tiba-tiba online dan sepertinya langsung membalas pesanku.
"Pak Zulfikar, ini aku, ummi dan abah kebetulan sedang ngobrol dengan pengacara senior kenalan abah. Lucunya, katanya, adik bungsu beliau pengacara juga, namanya Ikhwan, dan bekerja di firma hukum milik keluarga pak Antasena. Aku berpikir, jangan-jangan pak Ikhwan yang dimaksud adalah pengacara Anda."
"Apa?"
Mataku melotot sempurna saat membaca pesan balasan dari Hanin. Langsung menelepon Hanin. Sebelum Hanin bicara, aku sudah bicara terlebih dahulu.
"Sayang, sepertinya, setelah bertemu dengan papa dan mamaku, aku akan ke Bandung."
"Apa? Bapak mau pulang? Ta-tapi ... ki-kita 'kan belum boleh tidur bersama," katanya.
"Hahaha, sayang, aku ke Bandung bukan untuk bercinta dengan kamu, tapi untuk bertemu dan menyusun rencana bersama dengan pengacaranya abah."
"Jadi, Bapak tidak ingin bertemu denganku?"
"Tidak," jawabku, berbohong. Sengaja untuk membuatnya kesal.
"Aku juga tidak ingin bertemu, kok. Pokonya, nanti kita jangan saling bertemu," katanya.
"Oke, siapa takut?" kataku sambil tersenyum. Aku sedang membayangkan wajah Hanin yang menggemaskan saat sedang marah.
...~Tbc~...
...Yuk, bisa komen yuk!...
__ADS_1
...***...