Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Menantu Kesayangan [Visual]


__ADS_3

Listi Anggraeni


Selalu begini, kalau menginap di rumah Daini, aku selalu kesiangan. Pas bangun sudah jam enam pagi. Padahal, aku pasang alarm jam lima. Lah 'kok bisa alarmku enggak terdengar sama sekali? Alarmku yang eror? Atau, akunya yang kebo? Otomatis langsung ke kamar mandi, gosok gigi, wudhu, dan shalat Subuh.


Eh, saat shalat malah rupa rakaat, terpaksa diulang lagi. Maafkan hamba yang cantik dan menggemaskan iniYa Rabb. Berteman dengan Daini, salah satu tujuanku adalah agar terdampak sisi positifnya.


Tapi perasaan, aku belum ada perubahan juga. Mau pakai baju tertutup, agak gerah. Mau pakai jilbab, malah panas dan garuk-garuk kepala terus. Kalau kata Daini, garuk-garuk terus itu disebut 'gugubrut.' Entahlah itu bahasa Sunda versi mana. Aku berpikir mungkin versinya kolonial Belanda.


Setelah shalat Subuh, barulah aku mandi dan bersiap.


Sekarang, aku sedang berpose manja di depan cermin sambil memilih busana yang cocok. Ya, cewek tomboy memang tak terlalu ribet dalam hal bersolek, tapi aku tidak percaya diri kalau penampilanku tidak rapi. Daini bilang jadi wanita itu jangan 'kuprut.'


Aku juga enggak tahu secara detail definisi 'kuprut.' Intinya, kalau penampilan kita 'kuprut' jadi tak sedap dipandang.


"Kira-kira, baju ini cocok enggak 'sih buat aku? Pakai aksesoris kalung biar sedikit girly."



"Perasaan kurang cocok, 'deh. Ganti! Masa pakai jaket?"


Lantas aku berganti dengan t-shirt berwarna putih, namun tanpa lengan.


"Hmm, ini terlalu terbuka, yang mana ya?"


Aku juga malu sama abahnya Daini kalau memakai baju ini. Selain itu, jika kebetulan ada wartawan yang memotretku, aku bisa malu kalau tidak pakai busana yang passionable.



Lanju ganti baju lagi.


"Nah, yang ini kayaknya agak lumayan."



'Tok, tok.'


Siapa 'sih?


Pasti ceu Jani atau kang Hendra. Semalam, aku sempat bantu benah-benah bekas acara juga 'sih, jadi makin kesiangan 'deh.


"Aku enggak makan bareng Ceu. Duluan saja. Sebelum tidur, aku makan mie rebus pakai telur dua, masih kenyang," sahutku dengan suara keras.


"Ini aku, bisa kita bicara?"


Apa?! Itu suara pak Sablon.


Ada apa 'sih?


Serius, ada dia di dunia ini, hidupku jadi tak tenang. Ibarat kata, ruang gerakku jadi sulit gara-gara keberadaan manusia itu.


"Tunggu, issh, ada apa?!" Terpaksa membuka pintu kamar.


"Jangan cari masalah ya Pak Sabil! Anda tahu 'kan kalau kita sedang bertamu? Apa jangan-jangan, Anda amnesia? Baik, aku ingatkan, saat ini, kita sedang ada di Bandung. Di rumah orang tuanya Daini," jelasku.


Aku lanjut mengomel karena dia malah bengong, menatapku, sambil mengerjapkan mata.


"Li-Listi? A-apa k-kamu sengaja ---?"


Dia terbata-bata, lantas memalingkan wajah sambil mengepalkan tangannya dan meninju udara alias ruang hampa.


"Ada apa, 'sih?! Ganggu 'deh, ah! Gue belum selesai dandan! You know?!"


"Ya, i know, dan kamu belum mengancingkan kancing atas baju kamu. Memang tidak terlalu besar 'sih, tapi bukan berarti untuk diumbar," katanya.


"A-apa katamu?!"

__ADS_1


Mataku membelalak sempurna. Seketika menutupnya dengan kedua telapak tangan. Lalu tersadar dan spontan mengancingkan bajuku sambil berbalik badan.


"Bunda, tolong, mata Aa terdonai," gumamnya.


Siaaal! Enak saja dia bilang tidak terlalu besar! Maksudnya apa coba? Manusia ini benar-benar selalu membuatku meradang dan kesal. Aku harus memberinya pelajaran.


"Anda tadi sudah melakukan kekerasan secara verbal Pak Sabil yang terhomrat! Gue akan ingat terus kalimat kekerasan itu sampai kapanpun! Cepat minta maaf dan cepat katakan ada apa, hahh?!" sentakku sambil bertolak pinggang dan menyandarkan tubuhku pada tiang bingkai pintu.


Jujur, agak malu juga 'sih karena lupa belum mengancingkan baju. Tapi aku berusaha jadi wanita tegar. Pokoknya, jangan sampai manusia ini tahu kalau aku sebenarnya sedang menanggung beban rasa malu. Semoga pipiku tidak memerah.


"Kekerasan verbal? Aku tak merasa melakukan kekerasan verbal," sangkalnya.


Sekarang, dia juga bersandar pada dinding kamar. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Anda tadi bilang 'memang tidak terlalu besar 'sih, tapi bukan berarti untuk diumbar.' Itu maksudnya untuk dadaku, kan?!"


"Oh itu, hahaha."


Dia malah tertawa. Sialan! Rasanya ingin kugetok kepalanya pakai palu kang bangunan.


"Jangan tertawa Sablon! Berani ya Anda menghinaku! Padahal punya Anda juga belum tentu besar! Bisa jadi hanya sebesar cabai rawit!" sentakku lagi. Kekesalanku memuncak, jika digambarkan, dari lubang telingaku mungkin sudah keluar asap.


"Apa? Hey, kamu juga berani sekali berkata seperti itu! Coba ulangi lagi! Kamu bilang sebesar apa tadi?!" Sambil memegang kedua tanganku.


"Ca-be ra-wit, puas?! Ihh, lepas! Anda kebiasaan ya selalu pegang-pegang gue tanpa izin!" Aku menepisnya.


"Apa?! Apa perlu aku tunjukkan?! Akan kupastikan kamu pingsan tiga hari tiga malam setelah melihatnya! Kamu juga sudah melakukan kekerasan verbal karena menuduh milikku sebesar cabai rawit, Listi Anggraeni! Begini saja, kita impas ya," timpalnya sambil tersenyum dan melepaskan tanganku.


"Oke, deal! Kita impas! Ya sudah, cepat katakan! Ada apa?!"


Aku malas berdebat lagi. Kalau dia benar menunjukkannya bisa terjadi perang dunia ketiga. Ihh, amit-amit jabang bayi. Aku dapat kalimat itu dari Daini.


"Aku ke sini karena mau tahu kamu akan pulang jam berapa. Sudah kukirim pesan, tapi kamu tak membalasnya. Aku juga sudah telepon kamh tapi tidak diangkat. Hari ini, aku masih izin sakit. Jadi, hari ini tidak ada jadwal jaga."


"Untuk apa Anda menanyakan jadwal gue pulang? Mau pulang kapanpun ya terserah gue, 'lah. Satu hal lagi, mau Anda jaga atau tidak, izin sakit ataupun tidak, itu bukan urusan geu. Faham?"


"Apa?! Dengar ya Pak Sabil! Aku datang ke sini naik mobil Anda dan diantar sama ajudan ayah Anda karena dipaksa! Jadi, jangan harap kalau Anda bisa memksaku lagi. Silahkan kalau Anda mau pulang duluan! Gue mau pulang bareng sama rombongannya pak Aksa. Intinya enggak bakalan bareng sama Anda. Titik! Lu gue, END!" tegasku sambil membuat gerakan menebaskan sisi tangan ke leherku sendiri.


"Oh, mau pulang sama rombongan pak Aksa? Baiklah."


Dia mengangguk dan kembali tersenyum. Lalu pergi bergitu saja sambil bersiul-siul.


"Dasar aneh!" dengusku, kesal. Lalu kembali lagi ke kamar untuk merapikan barang-barangku.


...⚘️⚘️⚘️...


"Yakin kamu tak ingin ikut pulang sama Mama dan Papa?" tanya bu Yuze.


Saat ini, kami sedang berada di ruang keluarga. Di ruangan ini ada aku, Daini, bu Yuze dan ummi Fatimah. Kaum Adam alias para pria ada di ruang tamu. Entahlah polisi mesum itu sudah pulang apa belum, aku tak peduli. Suaranya tak terdengar 'sih. Boleh jadi, dia dan ajudan ayahnya sudah pulang. Syukurlah. Jadi, aku tak perlu bertemu dia lagi.


"Ummi mah bagaimana Neng saja. Kalau mau ke Jakarta sekarang, ya silahkan. Kalau mau tetap di sini juga ya tak masalah. Jadi, besan jangan merasa kalau Ummi melarang Daini, ya," timpal ummi Fatimah.


"Enggak 'kok Ummi, saya tahu kalau Ummi dan abah selalu menghargai apapun keputusan Neng Daini. Begini saja, nanti, kalau Zul jemput kamu, kamu harus ikut ya Neng. Jangan sampai tidak ikut. Mama dan papa maunya kamu sudah ada di Jakarta sebelum usia kandungan kamu memasuki tujuh bulan. Mama dan papa ingin mengadakan acara tujuh bulanan kehamilan kamu di rumah Mama. Kamu mau kan, Neng?" bujuk bu Yuze.


Aku menyimak perbincangan mereka sambil menikmati lantak. Lantak adalah istilah yang baru kutahu maknanya dari Daini kemarin malam.


Katanya, lantak adalah jenis makanan yang terbuat dari singkong yang dikukus. Setelah dikukus diiris pipih memanjang, lalu dijemur. Setelah kering, barulah digoreng. Jadi, lantak adalah makanan ringan yang sejenis dengan kripik


"InsyaaAllah, Ma," lirih Daini, matanya sembab.


Aku yakin kalau semalam dia pasti nangis. Semoga, dia menangis karena berdzikir. Bukan menangis karena pak Direktur. Saat Daini menginap di rumahku, aku pernah melihat dia berdzikir sambil menangis setelah selesai shalat malam. Lalu aku bertanya, "Kenapa kamu menangis sampai sepilu itu, Neng?"


"Aku menangis karena banyak dosa, Kak." jawabnya saat itu.


'Krauk krauk.'

__ADS_1


Aku baru sadar kalau kunyahanku cukup keras sampai-sampai mereka semua menoleh ke arahku.


"Hehehe, lantaknya enak banget, Ummi. Renyah," kataku.


Daini jadi tersenyum melihat ulahku. Baguslah, setidaknya, aku bisa sedikit menghiburnya. Lagi pula, kenapa 'sih pak Direktur enggak cepat-cepat jemput Daini?


Padahal, tiap aku bertemu sama pak Direktur, dia selalu mengatakan, "Oh, Neng Daini. Aku merindukanmu, sayang." Aneh, bukan? Aku yakin pasti ada sesuatu. Jangan-jangan, pak Direktur dapat ancaman dari Dewi Ular. Upps, maksudku bu Dewi.


"Sok, dimakan lagi lantaknya, Kak. Masih banyak 'kok. Ummi juga sudah suruh ceu Jani bungkus lantaknya untuk oleh-oleh."


"Wah, terima kasih, Ummi." Aku langsung mendekat ke ummi dan memeluknya.


"Kak Listi, ini ummiku," protes Daini.


"Sini, Daini sama Mama saja." Mama Yuze memeluk Daini. Daini tersenyum.


"Bumil memang suka manja," gumam bu Yuze sambil mengusap perut Daini.


"Maaf ya, Neng, Ummi, Mama benar-benar enggak tahu kalau Zul tidak mau ke sini. Mama juga heran. Makanya Mama dan papa kecewa dan tak mengabari dia kalau mau ke sini."


"Pak Zulfikar sibuk, Ma. Sudah bilang 'kok sama aku," bela Daini. Ya, dia memang selalu menjaga dan membela nama baik suaminya.


"Oiya Neng, sampai kapan kamu mau panggil Zul dengan panggilan 'bapak." Terus terang, Mama merasa tak nyaman mendengarnya."


"Ya atuh, Neng. Jangan panggil 'bapak' terus. Kenapa tidak panggil mas atau aa saja," tambah ummi Fatimah.


"Emm, aku pernah panggil 'mas' 'kok, tapi tidak lama. Alasannya aku juga tidak tahu Ummi, Mama. Yang jelas, aku nyaman memanggilnya bapak. Pak Zulfikarnya juga tidak pernah protes lagi," jelas Daini.


"Ya sudah atuh terserah kamu. Tapi, kalau nanti Neng sudah melahirkan harus diganti ya," saran ummi. Daini mengangguk. Raut wajahnya masih menunjukkan kesedihan.


"Neng, jangan sedih dong. Ibu hamil ceria dan bahagia. Pokoknya, kalau libur kerja, aku pasti ke sini." Aku memegang tangannya.


"Terima kasih Kak Listi."


"Permisi, kata pak Aksa, kita harus siap-siap pulang." Seorang pria menghampiri.


Aku langsung tersedak.


"Uhhuk, uhhuk."


"Minum, Kak." Daini menyodori air mineral.


Pria itu si ajudan. Berarti, manusia itu belum pulang dong. OMG.


"Ya ampun, tidak terasa ya. Besan Ummi, saya mau pamit." Bu Yuze berpamitan, memeluk ummi. Lanjut mencium pipi Daini dan perutnya.


"Ya, Besan, terima kasih atas kehadirannya." Ummi bergandengan tangan dengan bu Yuze menuju ruang tamu. Aku bergandengan dengan Daini.


"Tenang, Neng. Aku akan menjadi telinga dan mata kamu. Aku akan mengawasi pak Direktur," bisikku.


"Tak perlu diawasi, Kak. Aku dan dia sudah saling percaya."


"Terus, kamu sudah benar-benar jatuh cinta?" bisikku lagi. Daini tidak menjawab malah mengalihkan topik pembicaraan.


"Kakak mau naik mobil siapa? Mama Yuze apa papa Aksa? Katanya, mereka akan pisah mobil."


"Kok pisah, Neng?"


"Mama dan papa ada urusan masing-masing, Kak. Beda jalur. Mama mau ke Purwakarta, papa mau ke bandara Soerkarno-Hatta," jelasnya.


"Hmm, namanya pembisnis ya. Ya sudah, berarti, aku nebeng sama pak Aksa." Tak masalah, yang penting tak nebeng di mobil pria itu.


Akhirnya, setelah berpamitan, kamipun bersiap pergi. Sekarang sedang berkumpul di halaman rumah. Bu Yuze memeluk Daini, dan kali ini, ia kembali memohon pada Daini agar segera ke Jakarta dalam waktu dekat. Bu Yuze juga menitipkan Daini pada ummi Fatimah dan abah Sadikin.


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2