
Bu Ratih
Kagetnya luar biasa saat neng Daini tiba-tiba datang dan meminta izin ngekost di bekas kostan lamanya. Untungnya, kostannya lagi kosong alias belum ada penghuninya.
Tidak banyak yang bisa kutanyakan kepadanya. Sebab, saat melihat kondisinya, aku sudah bisa menebak kalau neng Daini sedang ada masalah. Selain itu, melihat perutnya yang besar, aku jadi tidak tega mengintrogasinya.
Sejak menikah dengan bosnya, hidupnya memang berubah. Bisa dibilang sudah tiba-tiba jadi artis dadakan. Namun, sampai saat ini, ada saja media yang menyudutkan dan menyalahkannya. Setahuku, neng Daini orangnya tegar dan sabar. Tapi, entah kenapa, hari ini aku melihat jika dirinya benar-benar rapuh. Mungkin, efek dari kehamilannya juga ya?
"Aku salah, Bu. Aku tahu aku salah. Tapi ...."
Kalimat itu yang ia katakan sebelum masuk ke kamar kost. Selanjutnya, yang kudengar hanya tangisannya. Ingin menasihatinya dan bertanya tentang permasalahannya, tapi tidak tega. Apa ada hubungannya dengan kematian pak Pratama Surawijaya? Aku sempat berpikir demikian.
Akhirnya, aku memilih tidak ikut campur. Aku tahu benar neng Daini mengerti agama. Jadi, untuk sementara waktu, biarkan saja. Terkadang, menyendiri adalah cara terbaik untuk menenangkan hati yang gundah.
Saat ada sebuah masalah yang begitu berat untuk dihadapi, terkadang memang butuh waktu untuk menyendiri. Bukan untuk lari dari masalah atau menghindari masalah, melainkan untuk menjernihkan pikiran.
Menurutku, tiap orang punya caranya sendiri untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikiran. Ada juga yang mencari teman atau sahabat untuk diajak curhat. Tapi, ada juga yang sengaja mengucilkan diri selama beberapa waktu. Entah dengan pergi ke suatu tempat sendiri atau menikmati sesuatu seorang diri. Jadi, aku tidak serta-merta menyalahkan neng Daini.
"Neng, makan dulu yuk!" ajakku. Sebagai seorang ibu, aku tentu saja memiliki pengalaman lebih banyak dari neng Daini. Di jam ini, ibu hamil suka lapar.
"Masuk, Bu. Tidak dikunci," jawabnya dari dalam.
Aku membawakan soto ayam yang masih mengepul. Wanginya segar, dengan warna yang menarik karena aku memperbanyak jumlah tomat irisnya.
Tiba di kamarnya, aku meletakan soto tersebut di atas meja. Neng Daini sedang mengaji. Matanya sembab. Sesekali mengusap air mata yang menggenang di sudut matanya.
"Ada soto ayam, Neng. Nasinya nasi merah. Neng Daini pasti suka." Lalu mendekat dan memegang bahunya. Aku juga melihat HP-nya yang tergeletak. Sepertinya, memang sengaja dimatikan.
"Terima kasih, Bu."
Ia menutup Al-Qur'an. Lalu membuka mukenanya. Di lehernya yang putih mulus, aku tak sengaja melihat jejak-jejak cinta. Jadi malu sendiri. Neng Daini pasti tidak menyadarinya. Syukurlah, neng Daini segera memakai hijabnya. Jika tidak, aku yang humoris pasti tidak bisa menahan tawa.
"Sama-sama, Neng. Ibu senang banget Neng ke sini. Tadi, Ibu kira cuma mimpi."
"Maaf kalau kedatanganku mengagetkan Ibu."
"Tidak sama sekali, Neng. Hayu atuh, makan."
"Baik, tapi ... Ibu juga makan ya. Aku mau makan bersama, Bu."
"Ya sudah, Ibu temani. Ibu ambil piring lagi ya."
Setelah kembali lagi ke kamarnya, kamipun makan bersama. Sengaja tidak membahas hal apapun agar ia lahap dan bisa sejenak melupakan masalahnya. Aku menatapnya sesekali. Neng Daini semakin cantik dan berisi. Kukunya dicat dengan warna merah terang. Terlihat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
Tak salah jika neng Daini digilai konglomerat. Secara visual, ia memang memiliki nilai jual. Ditambah dengan sikapnya yang ramah. Rasanya, semua hal yang dimiliki neng Daini memang sangat menarik. Terutama bagi lawan jenis.
Makannya cukup lahap. Selesai makan, seperti biasa, ia sibuk merapikan dan mencuci piring. Padahal, aku sudah melarangnya, tapi neng Daini bersikukuh mau cuci piring.
"Aku sudah lama tidak mencuci piring, Bu. Rindu cuci piring," katanya sambil tersenyum. Padahal, aku yakin itu senyuman yang dipaksakan.
...⚘️⚘️⚘️...
"Apa boleh Ibu mendengarkan cerita kamu? Kamu kenapa, Neng? Suami kamu pasti khawatir. Bukan hanya suami kamu, semua orang yang sayang sama kamu pasti khawatir. Tadi, saat Ibu nonton TV, Ibu enggak sengaja lihat suami kamu tersorot kamera di tempat pekamannya pak Pratama. Kasihan lihatnya Neng. Dia kelihatan sedih banget. Menunduk terus dan kayak tidak punya semangat."
Setelah neng Daini terlihat tenang, aku berusaha membujuknya agar becerita. Aku duduk di samping tempat tidurnya.
"Huuu, Bu ... saat aku menyendiri dan menghabiskan waktu dengan diri sendiri, aku merasa lebih mudah melonggarkan perasaanku yang sesak. Aku sedang mendengarkan suara hatiku. Saat ini, aku sedang menghadapi perasaanku sendiri. Masalahku sudah berlangsung lama, Bu. Lama, pelik dan rumit. Bahkan, aku sempat merasa telah kehilangan kewarasan. Dengan cara ini, kupikir bisa membantuku jadi lebih tenang."
"Neng ... Ibu mengerti. Pasti tidak mudah berada di posisi kamu. Ibu tahu Neng Daini selalu berada di pihak yang tersudutkan, disalahkan, dan dihakimi."
"Bu, saat aku menyendiri, setidaknya ... aku bisa menenangkan diri dengan caraku sendiri. Aku merasa bisa berdamai dan menerima keadaan dengan apa adanya tanpa merasa terburu-buru ataupun terdesak. Energiku rasanya bisa kembali terisi ulang sesuai dengan kebutuhanku. Dengan begitu, setelah cukup menyendiri, aku bisa kembali punya tenaga untuk mengambil langkah baru dalam menyelesaikan masalahku," lirihnya.
Aku memeluknya. Membiarkan neng Daini menangis di bahuku. Dia pasti sangat menderita. Sebesar apapun kesabarannya, neng Daini tetaplah manusia biasa.
"Neng, sebesar apapun masalah yang kamu hadapi saat ini, semoga bisa segera teratasi dengan baik ya. Ibu akan berdoa demi kebaikan kamu. Ibu tidak tahu duduk perkaranya, tapi ... Ibu yakin kamu bisa menghadapinya. Seperti yang sering Neng Daini katakan sama Ibu, 'Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya.' Jadi, Ibu harap Neng tidak berlarut-larut terlalu lama di dalam kondisi seperti ini."
"Huks, ya Bu ...." Ia terisak-isak. Jadi ikutan menangis dibuatnya.
"Siapa yang tahu Neng bersembunyi di sini?" Dia menggelengkan kepalanya.
"Ummi dan abah tidak tahu?" Dia menggangguk.
"Ya ampun, Neng. Kenapa bisa seperti ini? Kasihan, mereka pasti khawatir."
"A-aku tahu Bu. Tapi ... a-aku bingung. Aku hanya ingin sendiri dulu. Aku ingin memberi kesempatan pada mentalku sendiri untuk membangun kembali kepercayaan diri dan kesabaranku, Bu."
"Kak Listi juga tidak tahu?"
"Ya, Bu."
Aku menghela napas, jadi bingung mau mengatakan apa untuk menasihatinya.
"Hidup itu memang tidak selalu berjalan mulus, Neng. Ada saatnya kita merasakan kegembiraan, namun ada juga waktu terberat yang harus dilalui. Saat hal itu terjadi, pengendalian diri memiliki peran yang sangat penting. Sebab, semakin seseorang bisa mengendalikan diri, maka akan semakin terasah dan terarah kemampuannya dalam menghadapi sebuah masalah."
"Neng, Ibu dan kamu sama-sama wanita. Setahu Ibu, laki-laki yang baik pastinya akan mengingat kalau perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk yang memiliki sifat bengkok. Jadi, jika suami terlalu keras dalam menghadapi dan mendidik istrinya, maka tulang itu akan patah. Jika terlalu lemah, posisinya akan tetap bengkok. Dengan demikian, yang dibutuhkan adalah kesabaran dari seorang suami sebagai pemimpin rumah tangga."
"Bu, suamiku baik dan penyabar. Aku melarikan diri bukan karena bertengkar dengannya. Aku pergi karena alasan lain yang tidak bisa aku ceritakan sama Ibu."
"Oh, Ibu kira kamu bertengkar. Pantas saja tanda cinta di leher kamu kelihatannya seperti masih baru." Sedikit menggodanya agar ia terhibur.
"I-Ibu melihatnya? Ka-kapan? Perasaan, aku pakai jilbab terus." Wajahnya langsung memerah.
"Hehehe, tadi Neng. Saat kamu buka mukena. Maaf ya, Ibu enggak sengaja."
"Ti-tidak apa-apa, Bu."
__ADS_1
"Terus, rencana Neng mau seperti apa? Maaf, bukannya Ibu keberatan Neng tinggal di sini. Ibu hanya mau tahu, Neng mau tinggal di sini sampai kapan?"
"Emm, mu-mungkin sampai lusa, Bu. Boleh ya, Bu?"
"Boleh, Neng. Pada dasarnya, Ibu tidak masalah jikapun kamu mau tinggal selamanya. Tapi, suami kamu bukan orang sembarangan, Neng. Ibu khawatir keberadaan kamu di sini terendus wartawan dan kedepannya malah akan memperbesar masalah kamu."
"A-aku paham, Bu."
"Ya sudah, sekarang kamu tidur ya. Sudah malam. Tidak apa-apa, 'kan kalau Ibu tinggal?"
"Tak masalah, Bu. Terima kasih atas nasihatnya. Aku bersyukur mengenal ibu kost sebaik Ibu."
"Hehehe, Neng Daini paling bisa kalau merayu." Aku beranjak setelah menyelimutinya.
...⚘️⚘️⚘️...
Tiba di kamarku, malah tak bisa tidur. Kepikiran terus sama neng Daini. Aku juga mengkhawatirkan keadaan suami dan keluarganya. Saat ini, mereka pasti sedang panik mencari neng Daini.
"Huphh ...." Jadi gelisah. Sudah berganti posisi tidur, tetap saja tidak nyaman.
'Teeet.'
Tiba-tiba bel berbunyi. Aku terkejut, perasaanku jadi tidak enak. Tak biasanya ada yang bertamu di jam semalam ini. Daripada penasaran, aku bergegas untuk mengeceknya.
Jantungku seperti hendak meloncat saat aku melihat kenyataan yang kulihat dari balik dari tirai. Tanganku langsung dingin. Lututku jadi gemetaran. Pria itu memakai baju biasa, namun di saku celananya terlihat ada sebuah benda menyerupai pistol.
Dia siapa ya? Apa dia polisi sungguhan? Jangan-jangan polisi gadungan lagi. Perasaan pernah lihat, tapi ... di mana ya? Untuk apa dia kemari? Salahku apa? Apa di sekitar sini ada maling? Ada terduga t e r o r i s mungkin? Otakku berpikir keras.
Ting, Daini?
Ya, aku yakin jika orang itu adalah polisi yang sedang mencari neng Daini. Tapi, 'kok dia bisa menduga neng Daini ada di sini?
'Teeet.'
Pria itu menekan bel lagi. Dari sorot matanya, sepertinya bukan orang jahat. Dari segi penampilanpun terlihat meyakinkan. Kurasa, dia memang bukan polisi gadungan. Secara visual, dia juga tampan dan gagah.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku. Posisiku berdiri di ambang pintu yang kubuka sebagian.
"Maaf mengganggu istirahat Ibu. Perkenalkan, aku Iptu Sabil Sabilulungan. Aku sahabatnya pak Zulfikar. Aku pernah ke sini, ini pertemuan kita untuk yang ketiga kalinya," katanya.
"Oya? Emm, Ibu lupa. Ada apa ya? Oiya, silahkan duduk, Pak." Aku mempersilahkannya duduk di kursi plastik yang berada di teras rumah.
"Terima kasih, Bu."
"Langsung saja, ada apa ya, Pak?" Pura-pura tidak tahu.
"Aku sedang mencari istrinya pak Zulfikar, Bu. Dulu, dia pernah kost di sini. Ibu pasti sudah tahu. Sebenarnya, ini sudah di luar jam tugas, tempat ini juga tidak termasuk ke dalam daftar rute pencarian. Tapi, aku tiba-tiba merasa jika bu Daini berada di sini. Firasatku bisa jadi salah. Tapi, aku butuh pembuktian, Bu," jelasnya. Faktanya, feelingnya memang tepat.
Aku bingung. Beri tahu jangan ya? Aku juga belum yakin jika dia adalah sahabatnya pak Zulfikar. Aku tidak boleh sembarangan dan langsung percaya begitu saja.
"Baik, ini KTP-ku. Ini kartu anggotanya."
Dia menyodorkan kartu-kartu tersebut ke hadapanku. Aku mengeceknya. Hasilnya, kartu-kartu ini sepertinya memang asli.
"Buktikan kalau Bapak adalah sahabatnya pak Zulfikar."
Dia tersenyum lagi sambil garuk-garuk kepala. Menghadapi ibu-ibu sepertiku memang harus ekstra sabar. Dia kemudian menunjukkan vidio kebersamaannya dengan pak Zulfikar. Ada neng Daini juga di vidio tersebut. Fix, aku yakin jika dia tidak berbohong.
"Pak Sabil, mohon maaf. Saya hanya akan menjelaskan kebenarannya pada pak Zulfikar. Tadi, Anda sendiri bilang jika kedatangan Anda ke rumah saya di luar jam tugas. Jadi, secara hukum, saya boleh tidak memberikan tanggapan karena Anda tidak bisa menunjukkan surat perintah di luar jam tugas. Ya, 'kan?"
"Hmm, sudah kuduga, menghadapi ibu-ibu tidak mudah. Tapi, dari keterangan Ibu, aku menyimpulkan jika bu Daini ada di sini. Apa dugaanku benar? Apa bu Daini baik-baik saja?" Lagi, dugaannya tetap.
"Itu hanya dugaan Bapak saja. Jangan terlalu PD, Pak."
"Bu, mohon kerja samanya. Keluarga Antasena sedang menjadi sorotan. Jika media tahu bu Daini hilang, masalahnya akan semakin rumit. Aku di sini sebagai penengah, Ibu tidak perlu panik ataupun takut. Sekali lagi, aku ingin bertanya baik-baik sama Ibu. Apa benar bu Daini ada sini?"
Sejenak, aku menghela napas. Apakah pria ini bisa dipercaya? Apa neng Daini tidak akan kecewa kalau keberadaannya dibocorkan?
"Pak, bagaimana kalau saya menjamin keselamatan neng Daini?" Dengan suara pelan, aku akhirnya jujur.
"Maksud Ibu?"
"Se-sebenarnya, neng Daini memang ada di sini."
"Apa?! Alhamdulillah."
Dia terkejut dan mengucap syukur. Wajahnya sumringah seketika. Lanjut mengambil ponselnya. Mungkin hendak memberi tahu kabar baik ini pada seseorang.
"Pak, tunggu. Jangan dulu kabari siapapun. Ibu ada permintaan dulu." Dia mengurungkan niatnya. HP-nya dimasukkan kembali ke dalam tas kecilnya.
"Permintaan apa, Bu?"
"Tolong Bapak rahasiakan keberadaan neng Daini sampai besok lusa. Saya mohon, Pak. Neng Daini tadi sudah bicara banyak sama saya. Lusa, dia janji akan kembali ke rumah. Mungkin, Neng Daini memang perlu waktu untuk menyendiri dan menenangkan pikirannya. Sampai lusa, keamanannya saya jamin. Saya akan menjaganya." Dia menautkan alisnya. Sedang berpikir.
"Pak, jangan lama-lama mikirnya." Aku jadi tidak sabaran.
"Hmm, baiklah. Aku percaya sama Ibu. Tapi, aku tidak bisa memercayakan begitu saja bu Daini pada Ibu. Jadi, sampai batas lusa, mulai malam ini, aku akan menempatkan anggota untuk berjaga di sini."
"Hahh? Nanti ketahuan dong sama neng Daini, Pak."
"Ibu tenang saja. Mereka akan menyamar dan tidak akan menampakkan diri. Jika itu maunya bu Daini, aku tidak bisa memaksanya pulang malam ini. Jika dipikir-pikir, bu Daini memang perlu diberi kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya. Selama ini, yang kulihat, dia selalu patuh sama suami dan keluarganya. Sedikit banyaknya, aku tahu kalau dia sering tertekan. Eh, maaf Bu. Aku jadi bergosip." Dia tersenyum setelah menyadari kesalahannya. Bergosip seperti oknum ibu-ibu.
"Hehehe, Bapak lucu ya."
"Haish, baru Ibu yang mengatakan aku lucu. Biasanya, orang-orang mengatakan kalau aku itu ganteng. Eh, maaf karena aku terkesan menyombongkan diri."
__ADS_1
"Hahaha."
Akhirnya, kami tertawa bersama. Lalu sadar belum memberinya air minum.
"Pak, maaf lho. Saya belum suguhi apa-apa."
"Tidak apa-apa, Bu. Sebenarnya, agak seret, 'nih. Karena seharian ini sibuk mencari bu Daini, aku jadi kurang minum."
"Ya, ampun. Kasihan sekali Bapak ini. Ya sudah, saya ambilkan air dulu ya." Aku beranjak.
"Bu, tak perlu repot-repot," laranganya.
Lalu, kami terkejut karena di depan ada mobil yang tiba-tiba berhenti. Pak Sabil melongo sambil mengatakan ....
"Wah, gawat Bu. Itu mobilnya pak Zulfikar. Itu suaminya bu Daini. Dia pasti ke sini karena ada firasat juga."
"A-apa?!" Aku mematung kebingungan.
Ya ampun neng Daini. Bagaimana ini? Kamu gagal minggat, neng. Benar saja, saat pengemudi mobil itu turun. Aku langsung mengenalinya. Dia adalah pak Zulfikar Saga Antasena.
"Pak Sabil?!" Langsung terkejut saat ia melihat keberadaan pak Sabil.
"Hahaha, Bapak ke sini juga?" Malah bertanya.
"Pak Sabil, aku tidak bisa tertawa. Hanin belum ditemukan. Mana bisa aku tertawa. Beraninya Pak Sabil tertawa di atas penderitaanku," ketusnya sambil duduk di kursi. Padahal, aku belum mempersilahkannya.
"Sabar, Pak," ucap pak Sabil.
"Bu, langsung saja. Apa istriku ada di sini?" tanyanya.
"Emm," bingung.
"Bu!" Pak Zulfikar sangat tidak sabaran.
"Pak Zulfikar, sabar Pak. Bu Daini tidak ada di sini, aku sudah mengeceknya," kata pak Sabil. Syukurlah, aku jadi lega.
"Benarkah? Aku belum percaya. Aku harus cek dulu. Bu, izinkan aku mengecek ke kamar kost."
"Maaf, tidak bisa Pak. Itu mengganggu privasi penghuni kost."
Pak Zulfikar memasygul rambutnya. Matanya berkaca-kaca. Melihatnya, aku jadi kasihan. Tapi, apa dia juga dapat dipercaya? Jadinya, aku dan pak Sabil saling menatap.
"Setidaknya, izinkan aku melihatnya, Bu. Supaya hatiku tenang." Pak Zulfikar masih penasaran.
"Maaf, Pak. Tidak bisa."
"Aku jadi curiga. Kalau memang Hanin tidak ada di sini, kenapa aku tidak boleh mengeceknya?!" Nada bicaranya meninggi.
"Pak, sabar. Aku antar pulang ya."
"Tidak bisa, Pak Sabil!"
"Pak, aku yakin bu Daini akan segera ditemukan."
"Ya, aku juga yakin! Tapi, kapan?! Kapaaan?! Dia sedang hamil, aku sangat khawatir Pak Sabil! Kamu belum punya istri 'sih! Jadi tak bisa merasakan bagaimana takutnya kehilangan istri!"
Pak Sabil lalu memberi isyarat. Seolah meminta izin padaku agar jujur pada pak Zulfikar. Aku menggelengkan kepala.
"Sayang, kamu di mana?" Pak Zulfikar kemudian berdiri dan pergi begitu saja. Ia berjalan sempoyongan. Aku jadi khawatir.
"Pak Zulfikar, Anda tidak apa-apa, 'kan?" Pak Sabil menyusul dan memapahnya.
"Jangan pedulikan aku, Pak Sabil! Aku mau lanjut mencari Hanin!"
"Jangan memaksakan diri, Pak. Tak baik kalau Anda mengemudi dalam keadaan seperti ini."
"Aku tidak peduli!" Sambil mendorong bahu pak Sabil.
"Pak Zulfikar, tunggu." Kenyataannya, aku tidak tega melihat kondisi pak Zulfikar. Akhirnya, aku memutuskan untuk memberitahunya.
"Sebenarnya, neng Daini ada di sini."
"APA?! Pak Sabil! Kamu menutupi keberadaan istriku?! Maksudnya apa, hah?!" Langsung mencengkram kerah baju pak Sabil.
"Pak, tenang. Biar Ibu jelaskan dulu. Ini bukan salah pak Sabil. Ibu yang salah," belaku.
"Di mana Haninnya?!"
"Pak, tunggu dulu. Sabar dulu. Saya harus menjelaskan sesuatu." Aku dan pak Sabil menahannya.
"Begini Pak, bu Daini butuh sendiri. Apa bisa Anda menahan diri sampai lusa? Mari kita beri kesempatan pada bu Daini agar ia tenang dulu," bujuk pak Sabil.
"Tidak bisa! Aku tidak bisa!" sentaknya.
Pak Zulfikar menepis tanganku dan tangan pak Sabil. Lalu berlari menuju halaman samping rumahku yang terhubung dengan kamar kost neng Daini.
"Pak Zulfikar."
Aku dan pak Sabil mengejarnya. Waduh, kasihan sekali neng Daini. Mereka yang akan bertemu, aku yang berdebar-debar.
"Pak, neng Daininya sudah tidur. Kasihan, Pak."
"Dia istriku, Bu! Aku berhak atas istriku!" Aku menghela napas, pak Sabil geleng-geleng kepala.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
...~Tbc~...