
Iptu Sabil Sabilulungan
Bersyukur tiada terkira karena di akhir pekan ini aku dan Listi libur bersama-sama. Oiya, seminggu lagi kita akan melangsungkan resepsi pernikahan. Rasanya tidak sabar ingin segera melewati hari itu. Hari di mana aku memberitahukan pada dunia jika wanita ini adalah milikku. Resepsi aku dan Listi diundur karena adalah masalah yang berhubungan dengan pekerjaanku.
Akhir pekan ini, aku dan Listi tinggal di apartemen. Aku sengaja membawanya ke sini karena tidak ingin tergangggu.
"Ayang," panggilku. Ia masih terlelap sambil memelukku.
"Hmm," jawabnya. Tapi matanya masih terpejam.
"Bangun, kita mau jenguk bu Dewi dan bayinya, 'kan?"
"Hmm, aku tahu. Tapi bisa enggak A kalau tidak hari ini?"
"Kenapa? Kemarin ayang 'kan yang ngajak Aa ke rumah sakit."
"Iya, tapi ...." Dia mencubit lenganku.
"Auhh, Tia, sakit atuh ayang." Sambil menciumi pipinya.
"Kan gara-gara A Abil," cemberut.
"Oh, hahaha. Masih sakit ya?" bisikku.
"Ya iya 'lah. Lagi pula kenapa bisa lebih dari sekali 'sih A? Sakit tahu!" sentaknya.
"Sakit? Masa 'sih? Bukannya semalam kamu bilang e ---."
"Ssst." Ia langsung membekap bibirku.
"Hei, kenapa? Di kamar ini tidak ada siapa-siapa. Hanya ada kita ayang."
"Ada cakcak bodas, A. Tuh," ujuknya ke atas langit-langit kamar.
Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucunya. Ya, semalam aku memang menyerangnya bertubi-tubi. Kenapa begitu? Sebab, ia baru selesai datang bulan. Bayangkan, dia haidnya lama sekali, sampai sepuluh hari. Di sepuluh hari itu, aku benar-benar putus asa. Syukurlah, buah dari kesabaran, sepuluh hari yang membosankan itu bisa kulewati.
"Kalau menjenguknya tidak sekarang? Mau kapan ayang?"
"Nanti sore saja ya, A."
"Baiklah, kamu terlihat segar. Sebelum sarapan, apa kita bisa main-main dulu?" Aku mengungkung tubuhnya.
"Main-main? Maksudnya?" Bibirnya langsung mengerucut. Pasti memikirkan yang bukan-bukan. Tapi memang iya, 'sih.
"Lato-lato," bisikku.
"A-apa?!"
Selanjutnya, ya seperti itu. Aku kembali menikmati tubuhnya. Hmm, bibirnya memang sibuk menolakku. Tapi tubuhnya, emm ... jelas sangat menginginkanku.
"Mana yang katanya sakit?" godaku sambil menikmati pergerakan tubuhnya yang terlihat indah.
"Di-diam," katanya.
Pipinya memerah. Ya ampun, lucu sekali. Aku sangat menyukai teriakan dan lenguhannya. Semakin keras dia beteriak, maka semakin dahsyat pula hantamanku.
"A-Abil ...."
Aku juga suka saat ia memanggil namaku. Kukulum bibirnya saat ia mengerang-erang. Kupeluk tubuhnya saat ia gemetaran. Ternyata, menikah itu bisa senikmat ini ya.
Bagi pria, hubungan suami-istri adalah kenikmatan. Namun bagi wanita, hubungan suami-istri itu adalah bentuk dari cinta. Itu yang dikatakan bidan saat aku dan Listi mengikuti kelas konseling pranikah. Maka dari itu, berikan cinta yang lebih pada wanita, lalu buatlah ia merasa istimewa dan diistimewakan.
Saat berhubungan badan, wanita biasanya tidak berani mengungkapkan hal-hal yang diinginkannya. Jadi, tugasku adalah memahaminya. Aku membelai lehernya, punggungnya, dan bagian tubuh lainnya. Wanita itu selalu menginginkan agar suaminya senantiasa mencitai tubuhnya. Baik dia berbadan gemuk atau kurus, istri selalu berharap suaminya mencintai tubuhnya, dan membuatnya selalu merasa nyaman.
"I love you, ayang, aku sangat menyukai semua hal yang ada pada dirimu," bisikku.
Jika kebanyakan pria selalu tidur setelah diberikan kenikmatan, maka itu tidak berlaku untukku. Setelah mencapai titik itu, aku selalu mencium keningnya, memeluknya dan beterima kasih. Kata pak Zulfikar, hal itu sangat penting agar pasangan kita merasa lebih istimewa dan merasa dihormati.
"Bagaimana? Apa kamu puas?" bisikku setelah mencium, memeluk dan beterimakasih.
"Hmm," hanya itu jawabannya. Matanya tertutup.
"Masa jawabannya cuma, 'hmm,' ayang? Apa kamu tidak puas? Perlu diulang?"
Dijawab dengan cubitan keras di kulit perutku.
"Puas A Abil! Sangat puas! A Abil sangat luar biasa!" sentaknya.
Eh, kok jadi marah 'sih? Wanita memang sulit dipahami. Tapi aku berusaha memahaminya. Padahal, tadi jelas-jelas dia sangat manja.
"Jangan marah atuh ayang." Aku mencium kembali puncak kepalanya.
"Siapa yang marah? Aa jangan fitnah ya. Aku enggak marah tahu," elaknya. Hmm, 'lah, sekarang aku malah dituduh memfitnahnya.
"Ya sudah, Aa minta maaf kalau ada salah. Kamu istirahat ya. Aa mau order makanan dulu," kataku. Diakhiri dengan menghela napas karena selimutnya terbuka dan itu sangat seksi.
__ADS_1
"Kenapa Aa menghela napas? Apa itu pertanda kalau Aa malas order makanan? Apa sebagai simbol kalau Aa merasa aku tidak berguna karena hanya bisa memasak air?"
"Hah? A-apa?" Salah lagi. Padahal aku menghela napas karena melihat tubuhnya yang seksi.
"Aa menghela napas karena melihat ini," sekalian saja aku sentuh lagi. Saat ia mau protes, aku membungkam bibirnya. Wah, bisa-bisa pesan makanannya tidak jadi.
"Mmh ...."
Kukira, ia bakal marah dan menolak. Faktanya, ia melingkarkan tangan di tengkukku, memejamkan matanya dan memperdalam jalinan itu. Tuh 'kan, jadi ada yang bangun lagi.
"Uhhuk, A-Abil, su-sudah ya, aku lapar." Sekarang mendorong dadaku.
"Baiklah."
Untuk sementara lebih baik mengalah. Katanya, wanita kalau sedang lapar itu suka emosian. Enggak wanita doang 'sih, aku juga kalau lapar suka cepat emosi.
"Tunggu ya, ayang." Sambil meraih bajuku yang tersangkut di sandaran tempat tidur.
"Tidak perlu pakai baju." Nah, lho. Aku salah lagi. Baju yang sudah kupegang diletakkan lagi. Jadi garuk-garuk kepala yang padahal tidak gatal sedikitpun.
"Kan Aa bisa pesan makanan di tempat tidur sambil peluk aku," jelasnya sambil mengulum senyum.
"Ya ampun ayang, hahaha." Aku kembali memeluknya. Ternyata, dia masih ingin dimanja.
"Aa mau makan apa?" tanyanya. Kali ini sembari menggesekkan ujung hidungnya pada dadaku.
"Kalau kamu mau apa?"
"Aku ikut A Abil."
"Emm, Aa mau lontong sayur."
"Jangan lontong sayur A, aku kurang suka." Nah, salah lagi. Sabaaar. Padahal jelas-jelas tadi bilangnya mau mengikutiku.
"Kalau bubur ayam?"
"Emm, enggak ah. Suka cepat lapar lagi. Aku maunya yang mengenyangkan tapi enggak bikin kenyang-kenyang banget." Yah, susah deh. Aku harus mikir keras. Makanan apa kira-kira ya?
"Apa ayang ada ide kita mau sarapan apa?"
"Tadi 'kan aku sudah bilang yang mengenyangkan tapi enggak bikin kenyang-kenyang banget, A." Itu bukan ide ayaaang, itu kisi-kisi. Sabar, apa bu Daini juga seperti ini? Kayaknya 'sih enggak.
"Emm."
Aku berpikir keras. Harus berhasil menganalisa makanan yang ia maksud. Kalau perlu, aku akan menggunakan teknik kepolisian saat memecahkan kasus.
"Makan bakso itu siang-siang, A. Kalau jam seginimah kurang cocok."
"Ketoprak?"
"Emm, ketoprak?" Nah, sedikit lagi. Ia menautkan alisnya. Tanda-tanda akan mengatakan pendapatnya.
"Aku enggak mau ketprak Aa, bumbu kacangnya kadang-kadang suka bikin aku mulas." Belum berhasil. Akan aku coba dengan cara yang ini.
"Ayo, ayang pikirkan lagi," sambil menciumi lehernya dan mengelus punggungnya. Berusaha memberikan pijatan-pijatan halus di punggungnya.
"Ya sudah lontong sayur saja, A." Alhamdulillah. Aku sampai mematung sejenak karena terharu. Ternyata, kembali lagi ke pilihan awal.
"Siap, Bu Komandan."
"Hehehe, Aa kesal ya?" duganya.
"Kesal? Eng-enggaaak."
"Jangan bohong."
"Enggak ayang, serius."
"Terima kasih ya sudah sabar." Sambil mengelus wajahku.
"I love you," bisikku.
"I love you too."
Lalu bibir kami kembali menyatu.
Cinta memang unik, dan hati ini seolah memiliki hukumnya sendiri yang membuatku terpaut dengannya. Perasaan cinta ini membuat hatiku berdebar dan selalu ingin berada di sisinya. Lalu setelah aku berhasil menikmati tubuhnya, perasaan cinta ini semakin kuat.
...⚘️⚘️⚘️...
Daini Hanindiya Putri Sadikin
"A-apa?! Do-dokter yakin?"
Aku mematung dan ternganga. Hari ini, aku datang ke klinik kandungan untuk memeriksa posisi IUD. IUD adalah alat kontrasepsi yang dipasang di dalam rahim. Awalnya aku menggunakan pil. Tapi karena khawatir lupa, aku memutuskan mengganti dengan yang non hormonal dan efektivitasnya lama. Pak Zulfikarpun mendukung keputusanku.
__ADS_1
"Saya yakin, Bu." Dokter tersebut tersenyum-senyum dan lanjut men-USG perutku.
"Emm." Aku masih tidak percaya. Sampai gemetaran karena terlalu kaget.
"Kasusnya memang langka, Bu Daini. Tapi banyak terjadi," jelasnya.
"Sayang?" Pak Zulfikar yang tadi izin ke kamar mandi dulu sudah kembali.
"M-Mas," aku segera memegang tangannya.
"Kenapa sayang? Dok, istriku kenapa?" Ia langsung menatap tajam pada dokter.
"Selamat ya Pak Zulfikar," jawab dokter.
"Maksudnya? Selamat untuk apa?" Ia kebingungan.
"Bu Daini hamil lagi."
"A-apa?!" Sama sepertiku, ia pun kaget. Langsung menatapku dan mengerjapkan matanya.
"Posisi IUD-nya begeser Pak, dan ini sudah terbentuk kantung kehamilan. Di kantungnya sudah ada titik hitamnya. Berarti kantung kehamilannya telah terisi bakal janin," jelas dokter sambil menunjuk pada layar USG.
"Sa-sayang," ia kemudian memeluk dan mencium keningku.
"Huuu."
Aku malah menangis. Bukan, aku bukan tidak menerima kehamilan ini. Tapi ... Raja dan Cantik masih kecil-kecil. Usia mereka bahkan belum genap sepuluh bulan.
"Sshhh, tidak apa-apa, alhamdulillah, berarti kamu sangat subur." Ia mengusap airmataku.
"KB IUD yang sudah dipasang dengan tepat sebenarnya jarang sekali bergeser. Namun hal itu tetap bisa terjadi, Pak. Terutama dalam beberapa bulan pertama setelah dimasukkan."
"Kok bisa, Dok? Yang memasangnya dokter kandungan, 'kok," kata pak Zulfikar sambil mengelus punggung tanganku. Ia sedang berusaha menenangkanku.
"Banyak hal yang bisa mempengaruhinya, Pak. Bisa karena kontraksi rahim yang terlalu kuat selama periode menstruasi, bisa karena rongga rahim yang kecil, posisi rahim yang miring, sedang menyusui dan faktor lainnya. Untuk kasus bu Daini, kemungkinan disebabkan karena dua faktor. Pertama karena bu Daini sedang menyusui, kedua karena rongga rahim bu Daini terlalu kecil," jelasnya. Ia adalah seorang dokter obgin perempuan. Namanya dokter Maemunah.
"Apa kehamilannya berbahaya, Dok?" Pak Zulfikar terlihat cemas.
"Ya, kehamilan Bu Daini sangat beresiko, Pak. Ini karena Bu Daini riwayat operasi SC dan jarak kehamilannya terlalu dekat. Karena batas minimal hamil lagi setelah SC adalah 18-24 bulan. Tapi karena ini sudah terjadi, Bu Daini bisa mencegah risiko tersebut dengan cara rajin kontrol dan kehamilannya harus diawasi."
"Baik, Dok. Aku dan istriku pasti akan menjaganya. Ya, 'kan sayang?"
Aku mengangguk dan tersenyum. Melihat aku tersenyum, pak Zulfikar malah mengecup perutku beberapa kali. Ya ampun, aku jadi malu. Dokter Maemunah tersenyum dan memalingkan wajahnya.
"Pak, cu-cukup," bisikku pelan.
"Terus, apa aku masih boleh menyusui, Dok?"
"Boleh, Bu. Tapi kalau tiba-tiba ada mulas, segera hentikan ya, Bu."
"Baik, Dok."
"Dok, aku juga mau bertanya, apa masih boleh ---." Aku tahu maksudnya. Pun dengan dokter Maemunah.
"Hehehe, boleh Pak. Tapi tolong lakukan dengan hati-hati ya. Jangan terlalu kancolah." Sepertinya, dokter Maemunah orang Sunda.
"Kancolah? Apa itu?"
"Tanya Bu Daini saja."
"Sayang kancolah itu apa?"
"Intinya jangan terlalu aktif," jawabku.
"Oh, hahaha. Syukurlah kalau masih aman. Kalau tidak, aku bisa pusing, Dok."
.
Kehamilan ini benar-benar mengejutkan. Dalam perjalanan pulangpun aku terus memikirkannya.
"Anak adalah anugerah sayang." Ia mengusap perutku.
"Ya, aku tahu, Mas." Aku merebahkan kepala di bahunya.
"Di luaran sana banyak pasangan yang sulit mendapatkan momongan," ungkapnya.
"Ya, Mas."
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu? Mau?"
"Terima kasih, Mas. Tapi aku rindu sama Raja dan Cantik, langsung pulang saja ya."
"Baiklah."
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
...~Tbc~...