Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Debaran Hati [Visual]


__ADS_3

Dewi Laksmi


"Bang Radit, apa kamu lihat mas Zul?"


Aku sibuk mencarinya. Tadi, dia izin mau ke mini market, tapi 'kok enggak datang-datang ya? Sudah mau tengah malam, tapi dia belum datang juga. Mas Zul benar-benar tidak menghargaiku lagi.


"Tidak Bu, saya tidak lihat Bapak. Terakhir lihat saat Bapak keluar bawa mobil. Katanya mau ke mini market. Sudah saya tawari agar saya saja yang pergi ke mini market. Tapi, Bapak menolak, Bu."


"Ya sudah."


Akupun kembali ke kamar. Acara tahlilan untuk papi sudah selesai sedari tadi. Jadi, rumahku mulai sepi dari pelayat. Sebelum ke kamarku, aku pergi ke kamar mami untuk melihat kondisinya. Sejak papi dinyatakan meninggal, mami benar-benar berubah. Selain tidak mau bicara dengan mas Zul, mami juga enggan bicara denganku. Kata dokter, mami mengalami shock dan trauma yang berlebihan.


"Mami, Mami belum tidur?"


Perlahan membuka pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Selain mami, di kamar ini juga ada dokter Dena. Ia merupakan salah satu anggota tim dokter yang bekerja untuk keluargaku.


"Non Dewi," sapa dokter Dena.


"Kenapa mamiku belum tidur, Dok? Apa enggak di kasih obat penenang saja supaya bisa istirahat?"


"Bu Silfa tidak butuh obat penenang, Non. Saya sudah menawarinya."


Aku mendekat. Lalu memegang bahu mami.


"Mi, sudah malam. Mami tidur ya. Aku temani Mami tidur. Mau?"


"Tidak perlu! Cepat pergi dari kamar Mami! Untuk saat ini, Mami belum mau bicara sama kamu dulu!" usirnya.


"Mami, Mami kenapa? Aku juga sedih papi meninggal, maka dari itu kita melakukan autopsi pada papi untuk mengetahui penyebabnya. Tapi, jangan sampai meninggalnya papi membuat kita terpuruk, Mi. Dokter Dena, apa Anda bisa keluar dulu? Aku dan Mami mau bicara empat mata."


"Baik, Non. Saya permisi."


Setelah dokter Dena pergi, aku melanjutkan pembicaraan.


"Mi, Mami sudah tahu 'kan awal mula kerumitan ini dimulainya dari mana? Jadi, aku mohon sama Mami agar segera bangkit dan bisa menggantikan posisi papi. Ingat Mi, kita belum balas dendam sama wanita sok suci itu. Wanita yang sudah merebut kebahagiaanku dan membuat keluarga kita seperti ini. Jika ada orang yang bisa disalahkan atas kematian papa, maka yang akan aku salahkan adalah si Daini."


Mami masih terdiam. Ia memalingkan wajah seolah tidak ingin melihatku. Namun, di sudut matanya aku melihat ada lelehan air mata.


"Mi, bicaralah. Dengan tidak adanya papi, kita harus lebih kuat. Aku juga harus tetap berada di sisi mas Zulfikar untuk menjamin perusahaan kita. Ya, kita memang masih kaya-raya. Kekayaan kita bahkan akan semakin meningkat setelah polis asuransi kematian papi dicairkan. Tapi, jika aku melepaskan mas Zul, saham perusahaan kita yang bekerja sama dengan keluarga Antasena bisa anjlok. Please, Mami kuat ya. Mami harus membantu dan mendampingiku melanjutkan perjuangan papi." Sambil mendekat dan memeluknya.


"Huuu, Mami bingung memulainya dari mana? Sebenarnya, ada hal yang terjadi sebelum papi jatuh di kamar mandi," lirihnya.


"A-apa?! Hal apa, Mi? Cepat ceritakan!"


"Papi menerima telepon dari seseorang. Mami enggak tahu siapa yang menelepon. Pokoknya setelah menerima telepon itu papi terlihat kaget dan panik."


"Apa yang papi katakan Mi? Apa Mami sempat mendengarnya?"


"Karena lelah banyak kegiatan di kantor, saat itu, Mami ada di posisi setengah tidur. Tapi Mami mendengar sama-samar seperti ini, 'Tidak mungkin! Mana buktinya?!' Mami merasa terganggu dengan teriakan papi, jadi Mami membuka mata. Saat itu, Mami melihat papi sedang melihat HP-nya sambil membelalakan mata. Tangannya gemetar. Mami langsung bangun dan berlari ke papi."


"Mami langsung tanya, 'Kenapa Pi?' Papi langsung jawab, 'Tidak ada apa-apa.' Tapi, saat bicara papi terlihat gugup. Dari situ Mami melihat napas papi tersenggal-senggal. Terus, papi batuk-batuk. Karena batuk, Mami lari ambil air minum dulu. Saat Mami kembali, papi sudah tergeletak di kamar mandi. HP-nya juga retak, tapi masih nyala."


"Ja-jadi begitu? Sekarang di mana HP papinya, Mi?"


"Karena sebelumnya Papi dapat ancaman, Mami tidak berani menyentuh apa lagi mengambil HP papi. Jadi saat polisi datang, mereka langsung mengamankan HP papi. Tapi, Mami masih ingat sesuatu. Sebelum layar HP-nya mati, Mami melihat jika HP papi sedang on di menu galeri."


"A-apa?! Harusnya Mami mengambil HP papi."


"Lho, kamo 'kok seperti menyalahkan Mami? HP papi 'kan bisa salah satu barang bukti."


"Emm, maksudku, kalau kita menahan HP papi, kita bisa menyelidiki sendiri rahasinya yang disembunyikan papi, Mi. Mami juga harusnya berpikir jauh ke depan."


"Maksud kamu?"


"Mami tahu 'kan papi pernah dituduh terlibat penculikan pada si Daini? Walaupun kasusnya sudah selesai karena kesaksian dari paman, tapi dengan adanya HP papi di tangan polisi, aku khawatir polisi menemukan fakta dan informasi baru dari HP tersebut yang ada kaitannya sama kasus penculikan si Daini."


"Ma-Mami tidak terpikirkan ke arah sana."


"Dalam hal ini, Mami berarti bodoh."


"Apa?! Beraninya kamu mengatakan bodoh sama orang yang sudah melahirkan kamu! Ini salah kamu juga! Coba saja kamu tidak memilih tinggal di rumah Antasena! ungkin saat ini kamu bisa memegang HP papi!"


"Aku di sana demi harga diriku juga Mi! Kalau aku menjauh dari mas Zul, ya si Daini semakin senang, Mi! Ada aku saja mereka lengket kayak lem gajah, apa lagi kalau enggak ada aku! Sudahlah, Mi! Bicara sama Mami tidak berguna!" Aku membalikan badan dan berlalu.


"Harusnya Mami tahu diri kalau Mami sedang bicara sama anak yang punya penyakit."


"Mami bicara apa 'sih?!" Menghentikan langkahku dan menoleh pada mami.


"Lupakan! Cepat pergi!" Sambil mengibaskan tangannya, mengusirku.


"Oh, jadi Mami kecewa memiliki anak yang punya gangguan kepribadian kayak aku?!" Bertolak pinggang sambil menatap tajam pada mami.


"Ti-tidak sayang, Mami tidak kecewa. Maaf ya. Kemari, Mami mau peluk kamu." Sekarang mami melambaikan tangan untuk memelukku.


"Sikap mami berubah cepat. Apa Mami juga memiliki penyakit kepribadian ganda seperti aku?" tuduhku saat kami berpelukan.


"Amit-amit. Biar kamu saja. Jangan bawa-bawa Mami," sangkalnya.


Karena mas Zul tak juga pulang, akhirnya, aku memutuskan tidur di kamar mami. Beberapa menit kemudian, aku mendapat pesan dari pria berengsek yang paling aku cintai. Zulfikar saga Antasena.


"Wi, aku lanjut mencari Hanin. Besok, sepulang dari kantor aku ke rumah mami lagi."


Aku segera meneleponnya. Sial! Setelah mengirim pesan, dia sepertinya sengaja mematikan HP-nya. Semoga si Daini tidak ditemukan oleh siapapun. Selamanya.


Papi ....

__ADS_1


Kembali mengingat cerita mami tentang papi sebelum jatuh di kamar mandi. Jantungku tiba-tiba berdegup.


Mungkinkah?


Tidak! Itu tidak!


...⚘️⚘️⚘️...


Bu Ratih


Jika terjadi apa-apa sama neng Daini, aku adalah orang yang akan dilibatkan. Biar bagaimanapun, aku adalah pemilik kost ini. Aku bertanggung jawab atas keselamatan semua penghuni kost. Alhasil, malam ini aku gelisah. Benar-benar tidak bisa tidur sebelum memastikan neng Daini baik-baik saja.


Pada pukul dua pagi, aku akhirnya memberanikan diri untuk mengecek ke sana. Berjalan mengendap-endap agar tidak didengar siapapun. Setibanya di depan kamar neng Daini, aku tidak mendengar suara apapun, sepi. Pertanda baik. Berarti, mereka sudah akur dan berdamai.


Tapi, perasaan ini masih penasaran. Tanpa pikir panjang, aku mengambil kursi agar bisa mengintip keadaan di dalam kamar dari bakil roster. Agak deg degan juga mau ngintip mereka. Tapi, apa yang kulakukan demi kebaikan neng Daini. Ada maksud baik yang menjadi motif dan motivasiku mengintip.


Kakiku sudah berpinjak ke kursi. Sedikit gemetar karena khawatir kursi kaya ini tidak bisa menopang berat tubuhku. Lalu perlahan berjinjit. Mulai mengintip dari celah kecil roster.


Di mana mereka? Aku tidak melihat keberadaan mereka di atas ranjang. Di ranjang tidak ada apapun. Selimut dan bantal gulingpun tidak ada. 'Duh, hatiku jadi enggak tenang. Semakin berdebar-debar. Kemudian menggeser kursi ke arah yang lain agar bisa mengintip dari sisi yang berbeda. 'Nah, berhasil.


"Huphh ...."


Aku bisa bernapas lega. Ternyata, mereka tidur di atas sofa. Kenapa di sofa ya? Bukankah kalau di ranjang lebih nyaman karena lebih luas? Aku tidak bisa melihat wajah neng Daini, wajah pak Zulfikarpun tidak begitu jelas karena pandanganku terbatas.



Yang penting, aku sudah memastikan kalau mereka baik-baik saja. Segera turun dari kursi, kembali mengendap-endap dan terkikik. Aku tidak bisa membayangkan jika saat melakukan aksi mengintip, neng Daini dan pak Direktur sedang bercocok tanam.


"Hihihi." Tiba di kamar, langsung tertawa lepas. Syukurlah, jadi bisa tidur nyenyak.


"Hoaaam," langsung baca doa sebelum tidur dan bersiap untuk bobok cantik.


...⚘️⚘️⚘️...


Daini Hanindiya Putri Sadikin


Kutelusuri garis wajahnya. Kutatap lekat-lekat ketampanannya. Kumainkan belahan bibirnya dengan jemariku. Setelah ia mandi, aku menyisiri rambutnya. Katanya, nanti Subuh tidak perlu mandi lagi dan bisa langsung ke kantor. Itulah alasan yang membuatnya inisiatif mandi bersamaku di jam tiga pagi.


Menatap wajahnya dalam keadaan tidur, membuatku merasa tenang. Sedikit kesal juga karena semalam, dia benar-benar 'sangat nakal.' Tapi, pria tampan ini 'kan suamiku. Jadi, dia memang berhak melakukan apapun terhadap tubuhku. Selagi hal itu tidak menyakitiku dan tidak melanggar norma agama dan susila.



"Pak tidurnya jangan tengkurap. Tidak baik untuk kesehatan," bisikku.


"Hmm, enak sayang," gumamnya. Matanya tetap terpejam.


"Ya, tidur tengkurap memang nyaman, tapi tidak baik untuk organ-organ pernapasan karena menekan diafragma dan sistem pencernaan kita, Pak."


"Maksudku, yang enak itu kamu sayang," gumamnya lagi sambil tersenyum. Dasar mesum, aku spontan mencubit hidungnya.


"Hehehe," malah tertawa. Seperti tidak terpengaruh dengan ucapanku, ia tetap tidur tengkurap.


"Hmm," sahutnya.


"Kelainan pada posisi lidah ini juga dapat menyebabkan gangguan tidur lainnya seperti mendengkur. Selain gangguan pada tidur, Bapak juga akan merasakan tubuh tidak nyaman setelah bangun dari posisi tersebut. Intinya seseorang yang tidur dengan posisi tengkurap dapat mengalami peregangan tulang belakang. Hal tersebut dapat membuat Anda merasakan sakit punggung, sendi, dan sakit di bagian leher," tambahku.


"Bawel sekali." Sekarang ia menarik tanganku dan merenggut bibirku begitu saja.


"Mmm, uhmm ...." Dia selalu serius saat melakukannya.


"Masih mau menjelaskan tentang tidur tengkurap lagi?" tanyanya setelah berhasil membuatku nyaris tidak bisa bernapas.


"Ma-masih, ada yang belum aku sampaikan, Pak. Dan ini bagian pentingnya."


"Ya ampun sayang, apa kamu tahu? Kamu itu membuatku semakin jatuh cinta tahu." Dia mencubit gemas daguku. Tangannya menelusup ke sana. Aku kaget. Sempat berpikir yang tidak-tidak. Tapi ternyata, dia hanya ingin mengelus-elus perutku.


"Kenapa Anda suka sekali menciumku tiba-tiba?"


"Karena di mataku, kamu selalu menggodaku. Oiya, siapa yang semalam minta pindah ke sofa? Gara-gara pindah ke sofa, punggungku sakit sayang. Sofanya terlalu pendek, enggak seimbang dengan tinggi badanku," keluhnya. Malah membahas kejadian semalam.


"Kan ranjangnya takut roboh, Pak."


"Aku bisa menggantinya sayang."


"Bukan masalah digantinya, Pak. Tapi malunya itu lho Pak kalau sampai roboh."


"Hmm, ya juga 'sih. Tapi, aku sangat terkesan sayang. Di manapun tempatnya, pada dasarnya, asalkan bersama kamu, aku selalu puas. Terima kasih ya istriku."


"Sama-sama Pak. Aku juga terima kasih. Anda, emm ---." Jadi bingung mau bilang apa.


"Aku kenapa?"


"He, tidak apa-apa."


"Tuh, 'kan, kamu selalu menggodaku."


"Oiya, aku mau bicara masalah penting tentang tidur tengkurap. 'Kan tadi belum selesai."


"Ya ampun, masih membahas itu? Baiklah, katakan sayang." Sekarang, tangan isengnya berpindah ke area lain. Selalu begini. Mau heran, tapi dia suamiku.


"Tidur tengkurap itu tidak disukai [Allah], Pak. Aku lupa bunyi hadistnya seperti apa. Ada juga yang mengatakan jika tidur tengkurap itu seperti berbaringnya penghuni neraka. Begitu, Pak."


"Begitu ya? Baiklah, terima kasih pencerahannya sayangku. Ya, setiap larangan di dalam agama kita, memang selalu ada hubungannya dengan berbagai sisi. Baik sisi medis, maupun sisi budaya."


"Jadi, mulai hari ini, usahakan jangan tidur tengkurap lagi ya, Pak. Miring ke kanan saja."

__ADS_1


"Baiklah. Aduh sayang, bagaimana ini sayang? Kalau pagi-pagi, suka ada yang bangun."


"Astaghfirullah, Pak. Kita baru juga selesai mandi, 'kan?"


"Kan kejadiannya semalam sayang, bukan baru saja." Sambil senyum-senyum. Menyebalkan! Aku langsung cemberut.


"Hei, hei. Sayaaang, aku hanya bercanda. Jangan ngambek ya cantik. Suamimu ini pria normal," jelasnya.


"Janji?"


"Ya sayang. Oiya, hari ini, sesuai keinginanmu, aku akan membiarkan kamu tetap di sini sampai besok lusa."


"Sungguh? Terus, papa dan mama bagaimana?"


"Tenang, aku yang akan menjelaskan semuanya pada mereka. Demi menantu kesayangan, apa 'sih yang enggak boleh? Bukankah ada yang ingin menenangkan diri?" sindirnya.


"Ehm, kalau Bapak setuju, dan sekiranya tidak akan membuat keluarga Anda khawatir, baiklah. Tapi, enggak ah. Soalnya, aku kangen sama mama-papa, kak Gendis dan kak Listi."


"Enggak kangen sama aku? Hanindiya, aku suamimu. 'Kok bisa kamu tidak kangen sama aku."


"Pak, jangan kayak anak kecil. Bapak mah enggak perlu disebutkan lagi kali. Kalau aku enggak kangen sama Anda, semalam, aku pasti tidak mau jadi boneka hidupnya Tuan Zulfikar Saga Antasena."


"Hahaha, tuan katamu? Jangan panggil aku 'tuan.' Aku tidak suka."


"Bercanda, Pak. Memang hanya Anda saja yang bisa terinspirasi dari novel?"


"Hahaha."


Dia kembali tertawa. Ternyata, sebesar apapun kegundahan yang saat ini tengah kualami, tawa riangnya telah berhasil membuat jantung berdebar hangat karena merasakan kebahagiaan.


...⚘️⚘️⚘️...


Listi Anggraeni Permata


Ini sudah pukul 06.50 pagi, bisa-bisanya dia belum bangun. Jangan-jangan belum mandi dan shalat Subuh lagi.


"Ah, bodo amat! Aku tidak peduli! Biar sekalian saja dia kesiangan," gumamku.


Gara-gara nonton di jam malam, aku juga kesiangan. Tadi, aku shalat Subuh jam setengah 6 pagi. Biasanya jam limaan sudah shalat. Semua gara-gara ibu. Tadi, saat aku mandi, aku juga tidak mendengar kehidupan dari kamar mandi sebelah.


Bangunkan jangan ya? Kalau aku 'sih kesiangan juga santai saja. Sebab, hari ini, kebetulan sedang ambil cuti tahunan selama dua hari. Mau mengintip lagi, kapok. Tiba-tiba ada telepon dari ibu.


"Ha ---."


"Sayang, cepat bangunkan a Abil. Ibu khawatir dia kesiangan. Kalau sudah bangun, cepat ajak sarapan ya. Ibu tunggu. Jangan membantah," sela ibu.


"Bu, a ---." Panggilan terputus.


"Issh, ibuuu," dengusku kesal.


Lagi pula, bisa-bisanya pak Sabil memilih tidur di kamar sebelah. Harusnya, dia memilih tidur di kamar tamu yang pernah ditempati ayah bundanya, 'kan?


Bagaimana ini? Bingung sendiri. Jadinya, aku mengamuk di atas tempat tidurku. Lanjut melempar bantang dan guling ke sembarang arah karena mengingat kembali kejadian semalam.


Semalam, aku terhipnotis pria sok tampan itu! Bisa-bisanya aku diam saja saat dia memegang dan mengecup tanganku! Aku juga tidak marah saat dia mencium pipiku. Apa aku sudah gila? Kenapa? Padahal, di dalam hatiku tidak ada perasaan suka, yang ada hanya rasa nyaman. Tidak lebih dari itu. Aku bahkan membiarkan dia menggandeng tanganku saat keluar dari studio.


Satu hal lagi, kenapa aku marah saat dia berkomunikasi dengan dokter klinik itu? Heran 'deh sama jalan pikiranku. Apa aku mulai menyukainya? Tidak mungkin! Dia menuduh aku cemburu. Padahal, itu hanya ungkapan ketidaksukaanku pada pria yang gampangan.


Tapi, kalau tidak dibangunkan, dia bisa kesiangan dan menimbulkan masalah. Oke, akan aku bangunkan. Anggap saja jika tindakanku saat ini adalah bagian dari sikap peduli antar sesama manusia. Atau, anggap saja sebagai tanda patuhku terhadap perintah ibu. Oke, aku ke kamarnya. Eh, maksudnya ke kamarku.


.


Ya ampun, pintunya tidak dikunci. Dasar ceroboh! Benar saja, dia masih tidur. Tapi, kenapa dia tidur di lantai? Apa kepanasan?


"Assalamu'alaikuum," panggilku. Berdiri di ambang pintu. Tentu saja tidak dijawab.


"Hei, Pak Sabil bangun! Jawab salamku! Menjawab salam itu wajib tahu!" teriakku. Tetap tidak ada jawaban. Terpaksa mendekat.


"Pak Sabil! Bangun! Sudah shalat Shubuh belum?" Sambil melihat ke sekeliling. Aku melihat sajadah dan peci yang belum dirapakan. Apa dia sudah shalat tapi tidur lagi?


"Pak Sabil!" Terpaksa untuk yang kesekian kalinya. Kuguncang bahunya.


"Hmm, Aa masih ngantuk Bunda," gumamnya.


"Pak Sabil! Aku Listi!" Teriakanku membuatnya membuka mata.


"Ti-Tia? Selamat pagi calon istri," sapanya.


"Cepat bangun, lalu sarapan," ketusku.


"Bisa membantuku bangun, aku lelah," keluhnya.


"Tidak bisa!"



Daripada melihat terlalu lama wajah bangun tidurnya yang terlihat polos dan seolah tanpa dosa, lebih baik segera pergi.


"Tia, Tia," kembali memanggilku.


"Apa!" Menoleh sebentar.


"I love you."


Sambil menyatukan jempol dan jari telunjuknya, sedang membuat simbol cinta menggunakan jemari ala anak remaja di masa kini. Tunggu, kenapa jantungku berdebar?

__ADS_1


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...


__ADS_2