Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Sangat Membutuhkannya


__ADS_3

"Ya ampun Pak Direktur, Anda kenapa bisa seperti ini? Jadi, gosip kecelakaan itu benar ya?"


Setibanya di ruanganku, Listi langsung histeris. Ia terkejut luar biasa.


"Kamu tenang, duduk, tarik napas, kalau perlu minum dulu," kataku.


Tiga puluh menit berlalu dari dibawanya Hanin ke ruang kebidanan. Aku tengah menunggu kabar terbaru dari suster tentang kondisi Hanin. Namun, Listi datang lebih dulu sebelum ada kabar dari Hanin.


"Terima kasih, Pak."


Listi duduk di kursi tunggu. Segera meneguk segelas air mineral yang ada di hadapannya. Matanya tak henti mengitari keadaan ruangan ini. Lalu ia teperangah saat melihat ponsel Hanin tergeletak di lantai dalam keadaan retak.


"Itu HP-nya Daini 'kan, Pak? Kok bisa rusak begini 'sih? Daininya ke mana, Pak?" tanyanya sambil mengambil itu dan meletakkannya di meja.


"Ada yang harus aku ceritakan padamu, Listi. Tapi, tolong kamunya tenang dulu dan jangan marah ya. Aku menyesali perbuatanku."


Serius, aku agak takut pada Listi. Dia bar-bar. Sekarang saja bicaranya mulai halus. Dulu, bahasa dia sangat kasar.


"Ceritakan saja pak Direktur. Jangan sungkan," katanya.


Aku menghela napas berulang-ulang. Lalu memilah kalimat terbaik untuk diungkapkan pada Listi. Akhirnya, dengan sedikit terbata-bata, aku mulai menjelaskan detailnya. Dari mulai Hanin mendapat tekanan dari keluargaku, dikasari oleh Dewi, Hanin memintai cerai dan Hanin yang hari ini menangis berkepanjangan.


Aku juga menjelaskan jika aku menceraikan Hanin karena tak ingin melukai Hanin lagi. Namun aku jujur pada Listi kalau aku tak ada niat menceraikannya.


"Jadi ... aku terpaksa mengambil keputusan itu," pungkasku.


Sepanjang aku menjelaskan, wajah Listi benar-benar menyeramkan. Seolah menahan amarah dan nyaris menerkamku.


"Kalau saja Pak Direktur tidak sakit, saya sudah memukul kepala Bapak!" bentaknya. Nah, kan? Sudah kuduga, dia pasti marah.


"Silahkan saja kalau kamu mau memukul kepalaku. Mumpung akunya ada di rumah sakit. Kalaupun kepalaku terluka, 'kan bisa langsung ditangani dokter."


"Haish, saya tidak segila itu, Pak! Tapi saya menyesalkan keputusan Bapak! Harusnya, Anda menceraikan Daini setelah masa nifas saja! Dia mengandung darah daging Anda! Kembar lagi! Selama kehamilannya, Daini pasti membutuhkan dukungan dari seorang suami."


"Tapi Listi, Hanin mengatakan jika dia tidak mencintaiku. Selama ini, dia baik dan mau melayaniku hanya karena terikat kewajibannya sebagai seorang istri. Aku terlalu percaya diri. Dari perlakuannya, tatapannya, aku merasa kalau Hanin juga mencintaiku. Ternyata ... aku salah."


"Apa?! Maaf kalau saya lancang, Pak! Izinkan saya untuk mengatakan kalau Anda bodoh!" sentaknya.


Listi bahkan berdiri dan menunjuk wajahku. Baru kali ini aku diperlalukan seperti ini oleh karyawanku. Dewi juga pernah mengatakan kalau aku bodoh saat aku menjelaskan padanya kalau Hanin tak mencintaiku.


"Daini mencintai Anda, Pak! Hanya saja, dia tak berani mengatakannya secara langsung karena merasa tak pantas berada di sisi Anda! Daini selalu menuduh dirinya sendiri sebagai biang keladi atau orang ketiga dalam rumah tangga Anda! Ya, dia memang orang ketiga, tapi Daini berbeda dari kebanyakan orang ketiga pada umumnya," tambahnya seraya mengatur napas.


"Kenapa kamu yakin sekali kalau Hanin mencintaiku?"


"Feeling, Pak. Dari cara dia menceritakan tentang Anda, jelas sekali jika Daini sangat tertarik dan mengagumi Anda. Dia pernah cerita berlama-lama tentang Anda yang tak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Katanya, kalau Bapak membantu Daini memasak, malah merepotkan dan membuat pekerjaannya jadi tambah sulit. Dia bercerita sambil tersenyum-tersenyum."


Aku menyimak penjelasan Listi sambil mengingat kembali kejadian menyenangkan yang telah aku lalui bersama Hanin. Mataku berkaca-kaca, teringat jika di suatu pagi ... saat aku pura-pura masih tidur, Hanin membelai rambutku, mencium tanganku, menyelimutiku, lalu mengecup kening dan bibirku sambil mengatakan ....


"Aku masak dulu, masih pagi, kok. Aku janji tidak akan membuat Anda terlambat pergi ke kantor."


"Hanin ...," gumamku.


"Terlambat kalau Anda menyesalinya saat ini. Hanin lumayan faham agama, Pak. Dia pasti tahu juga hukum-hukum cerai dalam Islam."


"Ya, aku tahu ... tadi ... kami sempat berdebat. Aku butuh penengah, Listi. Tolong bantu aku."


"Pak, saya ke sini untuk Daini. Bukan untuk membantu Anda. Maaf ya, Anda hanya perlu menjentikkan telunjuk untuk menyuruh orang agar membantu Anda. Jadi, saya rasa, Anda tak memerlukan bantuan saya," tolaknya.


"Baiklah, aku tak akan memaksamu. Tapi kondisi saat ini sangat berbeda. Keluargaku tak ada yang bisa kuhubungi. Aku juga heran," jelasku.


"Apa?! Masa 'sih?" Listi tak percaya.


"Kalau kamu tak percaya, silahkan kamu hubungi papa mamaku. Atau hubungi kak Gendis." Aku menyodorkan ponselku pada Listi.


"Ih, mana berani saya bicara dengan mereka. Sudah 'lah Pak. Jangan banyak drama. Saya mau menemui Daini," katanya. Lalu bersiap-siap pergi.


"Listi, aku serius, tolong dengarkan dulu penjelasanku. Tolong kamu bantu aku agar Hanin bisa dirawat satu ruangan denganku," pintaku saat Listi bergegas.


"Maaf ya, Pak. Aku tak bisa. Permisi," katanya.


Benar-benar tak menolehku. Listi pergi begitu saja, bahkan menutup pintu ruangan dengan cara dibanting keras. Itu membuktikan jika dia sangat marah.


"Listi," panggilku.


Tapi percuma saja. Aku akhirnya pasrah. Lantas mengulurkan tangan untuk menekan bel emergency. Namun, belum juga jariku mencapai bel, pintu kamar ini terbuka, dua orang suster yang tadi membawa Hanin memasuki kamarku.


"Bagaimana kabar istriku?"


"Alhamdulillah, kondisinya sudah membaik, Pak. Denyut jantung janinnya juga bagus. Tekanan darah dan nadinya sudah stabil."


"Apa dia memerlukan perawatan?"


"Kami sudah menyarankan agar bu Daini dirawat, tapi bu Daininya menolak, Pak. Dia mengatakan baik-baik saja. Bu Daini juga beralasan kalau dia pingsan karena kelelahan," terang suster. Aku menghela napas, jadi bingung harus melakukan apa untuk membujuknya.


"Sekarang istriku sedang apa, Sus? Ada di mana?"


"Masih ada di ruang kebidanan, Pak. Tadi 'sih saya lihat sedang konsultasi dengan dokter kandungan," terangnya. Lalu suster itu memeriksaku.


"Sus, maaf merepotkan, tolong suruh istriku agar segera menemuiku. Sampaikan juga pada dia kalau aku sangat mengkhawatirkannya dan merindukannya," pintaku pada suster saat mereka hendak meninggalkan ruangan.


"Baik, Pak. Akan kami sampaikan."


Dari ujung mata mereka yang menyipit, aku yakin jika di balik masker, bibir suster-suster itu sedang tersenyum.


...⚘⚘⚘⚘...


Aku menunggunya dengan perasaan gelisah. Saat ini, aku benar-benar merasa sendiri. Aku yang kata orang kaya-raya, namun mirisnya, malah merasa ditinggalkan oleh keluarga sendiri dan orang-orangku di saat aku membutuhkan dukungan dan bantuan mereka. Saat ini, hanya Hanin harapanku satu-satunya.


"Sayang, cepat kemari," gumamku.


Lantas teringat pada Dewi. Dewi masih istriku, tapi entah kenapa, aku semakin merasa jika Dewi adalah orang asing.


Pintu kamar kembali terbuka. Aku yakin jika yang datang adalah Hanin. Dugaanku benar, Hanin kembali ke kamarku bersama Listi. Tangan Hanin dituntun oleh Listi.


"Sayang," sapaku. Namun ia diam saja. Dia duduk di sofa dan menunduk. Listipun duduk di samping Hanin.


"Pak Direktur, Anda dan Daini sudah tak ada hubungan apa-apa lagi. Kata Daini, ia akan berada di sini sampai ada orang yang menemani Anda. Tapi, karena sudah becerai, Daini meminta saya agar menemaninya. Jadi, malam ini, saya akan menginap di sini," terang Listi dengan nada ketusnya.


"Hanin, apa kamu membenciku? Ayo bicara sayang. Jangan menunduk saja, aku ingin melihat wajah kamu."

__ADS_1


"Pak, jangan paksa Daini. Dia masih shock. Dia mau menemani Anda saja sudah untung," sela Listi.


"Sayang, kamu masih peduli padaku?" Aku terus mencoba berkomunikasi dengannya.


"Aku ada di sini karena alasan kemanusiaan," jawabnya sambil beranjak. Akhirnya, dia mau bicara juga. Matanya masih memerah.


"Sayang, mau ke mana?"


"Mau shalat Isya," jawabnya. Lantas berlalu ke kamar tunggu. Listi tetap di kursi.


"Kamu tak shalat?" tanyaku. Karena tak ada tema pembicaraan, terpaksa berbasa-basi dengan Listi.


"Lagi halangan, Pak. Oiya Pak, Daini memintaku merahasiakan perceraian ini dari ummi dan abahnya. Dia beralasan tak mau memperburuk citra Anda di hadapan kedua orang tuanya. Dari hal ini saja, harusnya Anda bisa berpikir dan menyimpulkan kalau Daini sangat memedulikan Anda."


"Dia berkata demikian?" Aku tak mengira jika Hanin akan sejauh itu membelaku. Listi mengangguk.


"Aku khilaf, Listi. Aku juga terpaksa. Jadi, aku tak menganggap kalau kalimat cerai itu sah. Aku masih suaminya Hanin."


"Percuma, Pak. Daini sudah menganggap kalau dia bukan istri Anda lagi. Saat ini, bahkan sudah ada saksi yang tahu kalau Pak Direktur sudah menjatuhkan kalimat talak pada Daini."


"Saksi? Tidak ada saksinya Listi," sangkalku.


"Saya saksinya, Pak. Tadi, saat Bapak cerita, Bapak sudah mengatakan padaku secara gamblang kalau Bapak sudah menjatuhkan talak pada Daini."


"Apa?! Mana bisa seperti itu?! Kamu jangan mengada-ada ya Listi!" Aku jadi emosi.


"Jangan marah-marah, Pak. Kata Daini, kalau Anda beteriak, drainse telinganya bisa perdarahan lagi." Listi menatapku sambil tersenyum sinis. Menyebalkan!


"Kamu ---." Aku ingin marah tapi sadar diri tengah berada di posisi yang lemah.


"Saya menyetujui permintaan Daini untuk tetap di sini sebab Daini menjelaskan kalau Anda jadi seperti ini gara-gara menolongnya," tambahnya.


"Sudah, diam. Kamu cerewet, telingaku makin sakit mendengar kamu bicara."


"Hahaha." Listi malah sengaja tertawa terbahak-bahak. Aku menutup telingaku.


"Kak, jangan berisik."


Hanin tiba, saat aku meliriknya, dia memalingkan wajah. Sekarang, ia bahkan memakai cadar. Benar-benar tak ada celah untukku menatap wajahnya.


"Sayang, Listi jahat, dia sengaja mentertawakanku." Aku mengadu padanya.


"Anda memang pantas ditertawakan," jawabnya.


"Apa? Sayang, kenapa kamu tak membelaku?"


"Rasakan! Makanya, kalau bicara 'tuh difilter, Pak." Lagi, Listi menyulut emosiku.


"Kak, bicaranya jangan terlalu kencang. Silahkan Kakak memarahinya, tapi jangan keras-keras." Aku tersenyum karena Hanin membelaku.


"Mana ada yang marah dengan suara pelan, Neng. Kamu ada-ada saja," kata Listi sambil merebahkan dirinya di sofa.


Lalu pintu kamar ada yang mengetuk. Ternyata, ada petugas keamanan yang mengantarkan makanan. Sepertinya, Listi memesan makan malam melalui aplikasi.


"Terima kasih, Pak." Listi terlihat akan memberikan tips pada petugas keamanan, namun ditolak.


"Tak perlu, Mbak," katanya.


Listi membuka pesanan dan menggelarnya di meja. Menunya ada soto ayam, nasi goreng, mie goreng, dan sosis bakar yang berlumur saus tomat, mayonanaise, dan saus tomat. Aku spontan menelan saliva. Jujur, tergiur dengan sosis bakar.


"Itu tidak pedas, kan? Makananya bersih, kan?" tanyaku.


"Bersih, dong. Sudahlah, Pak. Kita mau makan, jangan ganggu," kata Listi.


"Apa ada yang Anda mau?" tawar Hanin. Dia benar-benar masih memedulikanku.


"Neng, kamu ngapain menawari Pak Direktur? Lagi pula, dia sudah makan, kan?" Listi mendelik.


"Kak, ini porsinya banyak, kok. Sosisnya kita kasih satu ya. Tapi yang ini, yang tidak pedas. Dia tak begitu suka makanan pedas," kata Hanin.


Padahal, aku sedang diobservasi. Hanya boleh minum susu selama masa observasi. Tapi, aku merasa sudah baik. Jadi, tak masalah kalaupun aku makan sosis.


"Ya sudah, bagaimana kamu saja 'lah, Neng. Mau-maunya kamu peduli sama suami orang. BTW, bu Dewinya ke mana? Harusnya ada di sini, kan?" kata Listi sambil mengunyah. Dia makan nasi goreng campur sosis bakar.


"Biar bagaimanapun, dia tetaplah ayah dari anak-anakku," kata Hanin. Ia menghampiriku sambil membawa sosis. Hanin sepertinya lupa kalau aku sedang observasi diit cair. Aku tersenyum dan langsung membuka mulutku.


"Anda makan sendiri ya, Pak. Tangannya masih berfungsi, kan?" Matanya menatap ke arah lain.


"Oh ya ampun sayang, kukira kamu akan menyuapiku." Terpaksa aku mengambil sosis itu dan memakannya secara mandiri. Kukunyah perlahan dan lama agar tak memberatkan ususku.


"Hahaha, kasihan 'deh kamu Pak Direktur," Listi kembali tertawa mengejek.


"Aku hanya kasihan, Kak. Tak ada maksud lain. Wajar kalau aku balas budi. Dia menyelamatkankan nyawaku dan bayiku."


"Bayiku juga sayang, kita membuatnya bersama-sama," godaku.


"Panggil 'Hanin' saja, jangan memanggil 'sayang' lagi."


"Tidak mau," tolakku. Mulai menelan sosis bakar. Hmm, enak. Gurih dan lembut.


"Hahaha, sosis makan sosis," celetuk Listi sambil terkekeh.


"Kak Listi!" sentak Hanin, ia memukul lengan Listi.


"Hahaha, maaf Neng."


Listi masih terkekeh. Entah apa yang dipikirkan wanita itu. Sosis makan sosis? Maksudnya? Aku merenung, tapi tak menemukan jawabannya. Aku tahunya istilah 'jeruk makan jeruk.'


...⚘⚘⚘⚘...


Waktu sudah menujukkan pukul 22.10 WIB. Listi sudah tak berdaya. Ia tidur di sofa dan mendengkur. Hanin duduk menghadap Listi sambil membaca Al-Qur'an aplikasi di ponselnya.


Aku sedang sibuk berkonsultasi pada pak Ihsan tentang kalimat talakku. Namun aku meminta padanya agar tak menceritakan masalah ini pada ummi dan abah. Setelah mendapat jawaban yang membuatku tenang, aku memanggilnya.


"Sayang," panggilku.


Awalnya, aku ingin istirahat, namun tak bisa memejamkan mata karena dengkuran Listi.


"Maaf, Kak Listi memang suka mendengkur." Ia menyimpan ponselnya ke saku gamis.

__ADS_1


"Suruh Listi tidur di kamar tunggu saja," pintaku.


"Aku tak tega membangunkannya, Pak. Dia pasti kelelahan, pulang kerja langsung ke sini. Nanti, kalau Bapak sudah mau tidur, akan aku bangunkan untuk pindah ke kamar."


Jarak aku dan Hanin berjauhan. Hanin juga tak menatapku. Sedari tadi, kalau tak menunduk, dia pasti memalingkan wajahnya.


"Sayang, apa kamu benar-benar tak memaafkanku? Kalau kamu menganggap talakku sah, apa boleh kalau aku meminta rujuk lagi? Komohon sayang."


"Ma-maaf Pak. A-aku tak bisa."


"Kkrrr ... kkrrr ...."


Dengkuran Listi jadi backsound. Terus-menerus dan berkelanjutan. Sesekali, Haninpun menoleh pada Listi.


"Kata Listi, kamu ingin merahasiakan masalah ini dari abah dan ummi kamu. Apa benar?"


"Itu urusanku. Bapak tak perlu ikut campur."


"Sayang ..., setidaknya, tolong maafkan aku."


"Aku sudah memaafkan Anda," katanya.


"Terima kasih. Oiya, maaf sayang, bisa ambilkan sikat gigi dan pastanya? Aku belum gosok gigi."


"Boleh," jawabnya.


"Oiya, Bapak jangan menyentuh tanganku."


Hanin memberi peringatan saat aku hendak mengambil pasta gigi dan sikat gigi dari tangannya.


"Baik," kataku. Tapi aku tak janji, lanjutku dalam hati.


"Aku mau kumur-kumur sayang. Maaf merepotkanmu lagi."


Saat Hanin mengambil kembali gelas dari tanganku, aku segera memegang tangannya.


"Sayang, aku tak bisa pisah, aku minta maaf."


"Pak, apa yang Anda lakukan?! Lepas! Kita sudah berpisah, Pak! Anda tak boleh menyentuhku!" hardiknya. Ia menarik kuat tangannya. Tapi, aku bersikukuh mempertahankan genggamanku.


"Sayang, please ... kita damai lagi ya. Aku ingin hidup bersama kamu selamanya. Aku mau berada di sisimu saat kamu melahirkan. Aku juga ingin mengurus anak-anakku bersama kamu."


"Lepas, Pak! Anda jangan plin-plan! Lepas!" Matanya mulai berkaca-kaca.


"Sayang, aku mencintai kamu. Kamu juga mencintaiku, kan?"


"Tidak!" jawabnya cepat.


"Jangan berbohong lagi sayang, aku yakin kalau kamu juga mencintaiku."


"Pak, lepas! Atau aku beteriak," acamnya. Hanin juga berusaha menekan bel, namun ia kesulitan karena cekatanku membuat bel itu tak mudah dijangkau.


"Sayang ...."


Aku tak peduli dengan penolakannya. Sebab, aku yakin jika kalimat talakku tidak sah. Aku menghentak tangannya hingga ia terjatuh di dadaku.


"Pak! Lepas! Tolooong!"


Hanin bahkan beteriak. Namun teriakannya tak mampu membangunkan Listi. Aku mendekapanya kuat. Aku bahkan menarik ikatan cadarnya hingga terlepas.


"Pak! Anda jangan kurang ajar!" Terus meronta.


"Kamu istriku, Hanin. Aku tak berdosa kalaupun melakukan ini sama kamu."


Aku menahan tengkuknya. Rasa cinta ini mengalahkan logikaku. Kedua tanganku memang bisa begerak bebas. Hanya kakiku saja yang tidak bisa begerak.


"Pak, ja-jangan. I-ingat, Anda sudah menceraikanku." Ia meronta, menjauhkan wajahnya dari wajahku.


"Tidak sayang, kamu masih istriku. Aku bermazhab pada Imam Syafi'i, talakku tidak sah. Aku tadi sudah bertanya pada Ihsan melalui pesan singkat. Kata pak Ihsan, Imam Syafi'i berpendapat, ada empat orang yang talaknya tidak dapat dijatuhkan atau diberlakukan. Yaitu anak kecil, orang gila, orang yang tidur, dan orang yang terpaksa. Imam Syafi’i juga mengatakan tidak jatuh talak jika tujuannya hanya untuk membela diri. Posisi membela diri dan keterpaksaan sudah memenuhi dua unsur yang menyimpulkan kalau talakku tidak sah," jelasku.


Aku memperat dekapanku. Lantas cepat-cepat memagut bibirnya saat ia hendak protes kembali.


Aku menyesapnya sesuka hati. Lalu memperdalamnya hingga Hanin nyaris kesulitan untuk bernapas. Hanin memukuli dadaku. Aku bergeming, tetap melakukannya, sedang menyalurkan kerinduanku pada bibir memesona ini. Kemarahannya membuatku semakin tertantang. Airmatanya menetes membasahi pipiku.


"A --- a-ahh ...," rintihku.


Terpaksa menghentikannya karena Hanin menggigit kuat indra pengecapku.


Lalu ia berlari ke kamar tunggu sambil menangis dan menutupi bibirnya. Sementara Listi masih saja asyik dengan dunia mimpi dan dengkurannya. Aku tak percaya ada wanita yang mendengkur sekeras itu.


Aku mengusap bibirku. Manis, lembut dan aromanya masih berbekas. Aku segera mengambil ponsel untuk mengirim pesan pada Hanin.


"Maaf ya sayang," tulisku. Pesan terkirim.


Karena tak bisa tidur akibat dengkuran Listi, aku iseng membuka portal berita online. Di laman beranda depannya ada sebuah berita yang mencuri perhatianku.


"Telah terjadi kecelakaan tunggal di ruas tol Jakarta-Tangerang. Menurut saksi mata, mobil yang dikemudikan korban ditabrak dari arah belakang oleh sebuah mobil jeep hingga terpental ke luar jalur dan menabrak pembatas jalan."


"Saksi mengatakan yakin ini bukan kasus tabrak lari sebab ia sempat melihat jika mobil jeep itu berulang kali memepet mobil korban."


Aku menscroll laman berita sambil mengerutkan dahi. Beritanya ambigu, sebab tak ada kelanjutan lagi dari berita itu. Hanya memperlihatkan TKP yang dibatasi garis polisi dan sebuah mobil Mercy Mercedes Benz yang rusak berat. Nomor polisi mobil tersebut ditutupi stiker berwarna hitam.


Tunggu.


Jariku tiba-tiba kaku. Aku seperti mengenali mobil tersebut. Skotlet krom doff yang terpasang di sebagian badan mobil, sangat identik dengan mobil milik papaku. Aku menzoom gambar. Jantungku mulai bergedegup cepat. Kenapa bentuk skotlet di mobil itu sama dengan mobil papaku? Warna dan detailnya benar-benar sama.


Tidak mungkin!


Aku kembali memperhatikan mobil tersebut guna meyakinkan jika dugaanku salah besar. Namun, semakin kuperhatikan, aku malah semakin yakin jika mobil tersebut adalah mobil papaku. Yang membuatku yakin adalah velg mobilnya.Velg tipe itu hanya ada satu di Indonesia, dan aku sendiri yang membelikannya untuk papa.


Astaghfirullahaladzim.


"Papa ...." Saat membawa mobil itu, papaku biasanya menyetir sendiri. Jika naik Alpard, barulah disopiri oleh pak Reza.


"Mama ...." Bisa jadi mama juga berada di dalam mobil itu.


Aku segera mengirim pesan suara pada Hanin dengan suara gemetar sambil terisak lirih.


"Sayang, aku butuh kamu. Cepat ke sini, aku melihat berita mencurigakan di laman berita online. Aku yakin itu mobil papaku. Tolong lupakan dulu masalah yang tadi, aku sangat membutuhkan pelukan dan dukungan kamu. Please ... jiwa dan ragaku sedang terluka sayang. Hanya kehadiran kamu yang bisa menenangkanku." Pesan suara terkirim.

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2