Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Perbandingan


__ADS_3

Setelah melewati jalan yang cukup panjang, dan waktu yang cukup banyak untuk sekedar sampai di toko bunga, Vina dan Vano akhirnya sampai.


'Hahh..hah..hah..., aneh, padahal aku hanya memboncengnya saja, tapi kenapa rasanya lelah sekali?' Dia yang memang sempat kebelet untuk buang air kecil, membuatnya sekarang ini berada di dalam kamar mandi dan sedang merutuki nasibnya sendiri karena dia harus pergi dengan membawa beruang besar di belakangnya.


"Dia bule ya?"


"Wah, tampannya. Aku tidak menyangka kalau aku bisa melihatnya di sini."


"Aku juga tidak percaya, di sini di datangi bule seperti dia."


"Tapi dia mau apa ya datang kesini? Aku pikir orang sepertinya datangnya ke mall."


Satu per satu dari para perempuan pun mulai berbicara, membahas Vano yang lagi-lagi mencuri pusat perhatian mereka semua.


"Ngomong-ngomong, dia berdiri di depan toilet, apa dia sedang menunggu giliran atau-" Belum selesai bicara, pintu toilet terbuka.


KLEK....


Vina, dia langsung keluar dari sana dan tiba-tiba langsung di sambut oleh Vano dengan sebuah usapan di atas kepala Vina persis.


"Kau sudah selesai?"


BLUSHH....


Sontak semua orang langsung tersipu malu melihat kemesraan alias perhatian Vano yang begitu sepele, tapi terkesan romantis, sampai menusuk hati mereka, gara-gara mereka seperti baru saja dikhianati.


"Y-yah, dia sudah punya kekasih."


"Tapi apa iya dia kekasihnya? Jelek seperti itu? Dari pada dia, cantikan aku juga kali." ucapnya dengan nada sombongnya.


Vano yang masih bisa mendengar ucapan mereka, langsung mendelik tajam ke arah mereka.

__ADS_1


Dan tentu saja yang di tatap langsung terkejut.


"Kenapa kau mendelik ke mereka?"


"Dia mengataimu jelek." sahut Vano, dan suaranya itu segera mengusik indera pendengaran mereka yang terasa cukup seksi.


"Yah, hidup mereka dengan aku kan beda, mereka bisa jadi cantik karena sering buang uang untuk merawat diri, sedangkan aku? Kalau kau naksir mereka, pergi saja dengan mereka." tukas Vina, tidak begitu peduli dengan omongan mereka, dan dia pun segera menepis tangan Vano dari atas kepalanya dan berlalu pergi lebih dahulu, meninggalkan Vano yang seketika itu juga langsung menoleh ke arah mereka bertiga, ketiga perempuan yang baru saja bergosip, baik itu tentangnya ataupun tentang Vina.


TAP...TAP....TAP.....


Karena Vano bisa mencari keberadaan Vina dengan mudah, Vano pun membiarkan Vina lebih dulu pergi, sedangkan dirinya langsung pergi berjalan menghampiri ketiga perempuan itu.


Tinggi, punya aroma yang cukup maskulin, dengan wajah tampan dan rambut hitam pekat yang di padukan dengan kulit putih pucat, membuat Vano yang ketika itu berhasil berdiri di depan mereka bertiga, menjadi sorotan utama para tamu pengunjung di sana.


'Gila, dia tinggi, tubuhnya bagus, tampan juga. Sebenarnya dia berasal dari mana?' batin wanita ini, saat dia langsung di hadapi Vano yang sudah berdiri di depannya persis.


"A-apa?" Salah satu dari teman yang tadi sempat membicarakan Vina tadi, seketika jadi langsung gugup, karena tampang wajah Vano yang seketika berekspresi dingin seperti hendak membunuh.


Ya, aura membunuh yang keluar dari tubuh nya Vano, benar-benar menusuk dan bahkan terasa seperti memenuhi seluruh sisi dari toko tersebut.


__________


Di lantai dua, Vina memilih berbagai bunga yang ingin dia beli untuk mendekor mahar yang akan Vina buat.


'Ya ampun, mahal-mahal. Bagus sih, tapi cara mereka berjualan cukup licik juga, agar aku bisa beli dengan harga murah, masa aku harus beli tiga, biar harganya di bawah dua puluh ribu? Ini namanya pemerasan.' Kutuk Vina.


"Kau pilih bunga untuk apa?" Tanya Vano, akhirnya bisa menyusul Vina yang sudah bersembunyi di balik rak bunga yang tinggi-tinggi itu.


"Kenapa malah tanya? Kan aku sudah pernah bilang padamu, aku itu membuat mahar, buket bunga, snack, jadi tentu saja aku butuh bunga untuk sebagai pemanis." jelas Vina tanpa mengalihkan pandangannya dari bunga yang sedang dia pegang itu.


Harganya lumayan, untuk satu bunga ukuran jumbo dengan lima tangkai bunga, harganya sampai seratus ribu, itu cukup untuk membeli lima bunga dengan jenis yang berbeda, jadi dia pun hanya mengambilnya untuk sekedar melihatnya saja.

__ADS_1


Bunga berwarna biru muda yang cukup bagus itu pun akhirnya di kembalikan oleh Vina ke tempat semula, lalu Vina pun pergi ke rak bunga yang lainnya.


'Aku pikir dia akan mengambilnya.' Tatap Vano, saat melihat bunga yang sempat di ambil oleh Vina justru di kembalikan ke tempat semula.


Karena Vano penasaran, dia pun mengecek harga yang ada di tangkai bunga itu, dan benar saja, harganya lumayan menguras kantong.


'Tapi dia kelihatan ingin membelinya.' Seandainya Vano memiliki uang yang banyak, sebenarnya di benak hatinya itu sudah terbesit ingin membelikan bunga yang di kembalikan oleh Vina tadi sebanyak yang bisa Vano beli.


Tapi karena dirinya saat ini tidak memiliki uang, dia pun hanya bisa menelan kenyataan pahit dari dirinya sendiri yang begitu menyedihkan, karena masih belum bisa membayar balas budi apa yang sudah di lakukan oleh Vina kepadanya.


Jadi, tangan yang hendak mengambil bunga berwarna biru itu, akhirnya dia tinggalkan dan pergi menyusul Vina yang sudah mulai pergi ke tempat lain.


'Kalau saja ingatanku kembali, aku akan membalas kebaikannya lebih apa yang sudah dia berikan kepadaku.' pikir Elvano, dan dia pun akhirnya terpaksa meninggalkan tempat rak bunga di sana dengan berat hati.


"Kak, tolong jumlahkan semuanya." Kata Vina kepada seorang pegawai perempuan yang bekerja di kasir.


"Baik, tolong tunggu ya." Jawab kasir ini dengan ramah.


Selagi di total, belanja yang di beli oleh Vina, Vina pun sempat melihat-lihat barang-barang di sana, yang kemungkinan masih bisa menarik perhatiannya untuk membelinya lagi.


Sampai dia malah pergi membeli satu kantong plastik berisi batu kerikil berwarna putih.


"Batu itu-"


Ucapannya langsung terpotong, begitu Vina langsung menyerahkannya ke meja kasir dan menjawab : "Aku ingin membuat seperti ini." Menunjuk pada pot bunga berisi batu kerikil yang sudah di campur dengan lem, lalu di masukkan ke dalam pot dan di beri bunga.


'Dia suka dengan seni seperti itu ya? Yah, itu memang pantas saja sih, karena kesan saat aku melihat dia membuat buket bunga waktu itu, dia terlihat sangat serius tapi juga menikmati proses pembuatannya. Vina, aku akui dia memang tidak secantik wanita tadi, tapi mau bagaimanapun, dia justru punya hati yang lebih baik ketimbang mereka.'


"Totalnya seratus lima puluh lima ribu."


"Bisa pakai kartu debit kan?" Tanya Vina dengan polos, karena dia memang tidak punya banyak uang cash, dan lagian dia juga malas pergi ke ATM karena tidak mau mengantri panjang seperti di SPBU tadi.

__ADS_1


"Bisa."


Dan Vina pun memberikan kartu debit nya kepada kasir tersebut.


__ADS_2