
"Vin?" panggil Vano, dia mencoba menepuk-nepuk lengan Vina, tapi Vina sama sekali tidak meresponnya. "Vin? Kau tidak apa-apa kan?"
"Ehmm? Apaan sih? Jangan ganggu aku, aku ngin tiduran sebentar," Vina yang kelelahan itu langsung menepis tangan Vano yang sempat menyentuh lengannya.
'Dia kelihatan sangat kelelahan.' Vano yang merasa tidak enak mengganggu Vina yang ingin tiduran itu, memutuskan menarik kembali tangannya dan kembali duduk.
"Ei, mas, apa mas bule?" tanya salah satu pengunjung dari tempat makan tersebut, karena tersadar bisa menemukan pria yang begitu menarik perhatiannya.
Ya, lebih tepatnya pengunjung itu adah seorang emak-emak yang sudah gatal ingin kenalan dengan Vano. Dia saat ini tengah tersenyum dengan penuh harap, bisa berkenalan dengan Vano.
Vano yang merasa jijik dengan penampilan dari emak-emak itu, karena punya make up yang cukup tebal dan bibir menor, dia hanya diam saja.
"Ih, sombong sekali jadi orang," ketus emak-emak tersebut, karena merasa di cuekkin secara terang-terangan.
Mendengar hal itu, Vano lantas meliriknya dengan tatapan yang cukup tajam. "Kalau sombong memangnya kenapa? Apakah masalah buatmu?" sahut Vano dengan nada merendahkan.
"Kau, anak muda tidak tahu diri ya, aku ini lebih tu-"
"Hahh~" menghela nafas dengan kasar, Vano yang bersandar ke sandaran dari kursi plastik itu, seketika membuat ibu-ibu itu langsung tersentak kaget. "Jika ujung-ujungnya ingin menceramahiku, lebih baik dari awal tidak usah bicara denganku lebih dulu," ucap Vano dengan nada sommbongnya.
"Ada apa ini ribut-ribut?!" tanya pria paruh baya ini, ketika dia yang baru saja keluar dari toilet, harus mendengarkan keributan dari suara milik sang Istri dengan seorang pemuda yang sedang duduk bersandar di kursi dengan tampang santai tapi dia tiba-tiba saja merasakan aura yang cukup mencekam di sekitarnya.
"Sebagai anak muda, dia bicara tidak sopan padaku pa," ucap sang istri seraya menunjuk ke arah Vano yang sedang berdiam duduk sambil mencoba mendengarkan drama apa lagi yang akan di lakukan oleh ibu tersebut. "Main nyolot, dan bahkan tidak ada sopan-sopan nya sama sekali,"
Mendengar ucapan dari Istrinya mengatakan kalau Istrinya baru saja di hina dengan demikian, pria ini pun langsung berjalan dengan langkah cepat dan lebar.
"Jadi kau barusan menghina istriku?" tanya laki-laki ini kepada Vano yang terlihat sedang duduk dengan gaya seperti sedang santai tapu juga serasa seakan sedang menantang.
__ADS_1
"Hei, ayolah, menghina apanya? Istrimu sendiri yang ingin kenalan denganku, tapi aku diam saja, dan ujung-ujungnya dia langsung bicara aku ini sombong." sahut Vano dengan cepat.
"Pa, jangan dengarkan dia, dia bohong," sela ibu-ibu ini, agar suaminya itu tidak usah mendengarkan omong kosong dari Vano.
Ditengah di luputi sebuah kebingungan dan ketegangan, Vina yang tadinya sedang berusaha tertidur itu langsung terbangun.
"Ahh~ Ya ampun, mau tidur saja susah sih?" sela Vina detik itu juga.
Vano langsung menurunkan salah satu kakinya yang sempat ia tumpuk di atas paha dari kaki kirinya.
"Kalian bisa tidak jangan berisik," kata Vina dengan serta merta, sambil melirik pada ketiga orang di sekitarnya itu secara bergantian.
"T-tuh kan pa, dia saja juga nyolot seperti itu!" ucapnya dengan jari telunjuk menunjuk ke arah wajah Vina.
Tapi, Vina yang diam tanpa bicara itu, tiba-tiba mengeluarkan handphonenya dan meletakkannya di atas meja lalu menyetel hasil rekaman dari pembicaraan mereka berdua tadi, sehingga membuat sepasang suami istri itu langsung diam membisu.
"Bukan begitu pa, siapa yang modus sih? Aku kan hanya mau kenalan." ucapnya, akhirnya dia pun mau jujur untuk mengatakan apa yang ia inginkan, demi menuntaskan kesalahpahaman itu lagi.
"Tetap saja, kau membuatku jadi malu seperti ini, hampir saja membuat keributan besar, padahal aku tadinya ingin membelamu. Huh, karena sudah seperti ini, lebih baik pulang," jelasnya, lantas pria ini pun pergi lebih dulu, menyeret jas hitam yang sempat tersampir di kursi, dia pergi lebih dulu meninggalkan Istri nya di sana.
"Pa tunggu! Kita kan belum makan!" teriaknya, dengan ekspresi wajah terkejutnya karena tiba-tiba saja di tinggal pergi oleh suaminya.
Tidak menggubris apa yang di katakan oleh Istrinya, dia tetap pergi dan masuk kedalam mobil.
Akhirnya mereka berdua pun pergi tanpa membuat tempat itu menjadi medan perang untuk mereka semua.
"Hoammh..." Vina yang masih mengantuk itu, kembali tidur, dan membiarkan handphone nya itu di atas meja.
__ADS_1
Sampai Vano yang hendak bicara, hanya bisa mengatupkan mulutnya saja.
'Hah, sejak kapan dia merekamnya?' pikirnya, dia cukup heran, padahal dia mengira kalau Vina memang tidur betulan, tapi rupanya tidak.
'Pusing, ahh...pusing sekali, aku benar-benar ingin cepat-cepat bisa pulang dan tidur!' kata hati Vina dalam sebuah teriakan yang tidak akan bisa terdengar oleh orang lain selain dirinya sendiri.
"Kak, ini pesanannya," ucapnya.
Mendengar pesanannya sudah datang, Vina yang tadinya tiduran itu pun langsung bangkit dan menatap bakso yang masih panas mengepulkan asap putih.
"Dan ini minumannya,'' meletakkan dua gelas besara di meja, lalu dia pun pergi dari sana.
"Oh, jadi ini yang namanya bakso?" gumam Vano, dia pertama kalinya melihat bakso, jadi dia pun penasaran dengan rasanya.
"Iya, jadi makan saja sampai kenyang, itu cukup enak," balas Vina, mengambil saus, kecap, dan sambal, tidak lupa dengan jeruk nipis.
"..." Vano yang memperhatikan cara Vina memasukkan rempah-rempah itu, jadi mencoba mengikutinya, dan ketika dia mencicipinya, bola matanya langsung membulat dengan sempurna. 'E-enak! Padahal jelas, makanannya ini terlihat murahan, tapi lidahku ini tidak bisa di tipu kalau rasanya benar-benar enak, bahkan baksonya, daging sapinya sangat terasa. Vina, dia memang pintar mencari makanan yang enak-enak ya, seleranya memang rendahan, tapi bukan berarti kualitasnya rendahan.' puji Vano dalam hati. "Vin, ini enak,"
"Apa kau mau tambah lagi?" tawar Vina, karena melihat Vano yang terlihat menikmati bakso pertamanya.
"Kapan-kapan lagi. Kalau aku punya uang, aku pastikan kalau aku juga punya restoran bakso juga, Kira-kira menurutmu bagaimana?" tanya Vano, tiba-tiba saja membahas soal bisnis ditengah-tengah mereka berdua yang sedang makan.
"Itu bagus, asal kau punya resep andalan untuk dijadikan ciri khas restoranmu," jawab Vina.
"Hmm, betul juga, sudahlah, yang penting rasakan dulu bakso ini," kata Vani, dia pun mulai memakan bakso yang dia ambil dengan sendok murahan itu, dan segera memasukkannya kedalam mulutnya.
Betapa nikmatnya, ketika di cuaca yang dingin, hujan, dan jalanan yang gelap, mereka berdua akhirnya bisa istirahat di tempat yang tepat untuk melepas lelah mereka dan sekaligus mengisi perut mereka dengan semangkuk bakso yang menyita perhatian mereka berdua, karena sama-sama bisa merasakan makan-makanan yang cukup enak, spesial, dan bahkan membuat mereka berdua seperti benar-benar sedang berkencan.
__ADS_1