Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
30 : solusi


__ADS_3

Di tengah malam, pukul 1 pagi dini hari, Vina yang masih belum bisa tidur itu, tiba-tiba keluar dari rumah dan berdiri sendirian di bawah pohon.


Akan tetapi, di saat yang sama juga, Delvin yang memang pada dasarnya sedang menunggu Vina yang sudah dia prediksi tidak bisa tidur dengan nyenyak itu, akhirnya sama-sama keluar.


Dia berjalan dengan cukup senyap, berjalan di dalam kegelapan dengan suhu pagi yang cukup dingin itu, Delvin pun menghampiri Vina yang sudah berjongkok di bawah pohon persis.


"Apa ada yang bisa aku bantu?"


"Hwahh...!" terkejut Vina dengan kehadiran dari Delvin yang datang secara senyap itu. "Kenapa kau belum tidur? Itu mengejutkanku tahu?!" protes Vina, dia sama sekali tidak mampu untuk menahan keterkejutan yang bisa terlihat jelas dari ekspresi wajahnya yang mudah di baca itu.


"Itu karena kau melamun sendirian, makannya kau tidak sadar dengan kedatanganku," jawab Delvin dengan alasan yang cukup simpel, padahal sebenarnya dia memang dengan sengaja datang dengan langkah senyap, agar bisa membuat Vina yang tengah melamun sendirian sambil berjongkok itu bisa terkejut.


Dan hasilnya cukup sukses besar.


Tapi, apa yang akan di lakukan oleh perempuan ini di tengah pagi buta seperti ini?


Ketika banyak orang yang masih terlelap dalam mimpi mereka, justru Vina sedang duduk sendirian di luar rumah.


"Apa kau sedang punya masalah?" tanya Delvin dengan singkat dan jelas, sampai dia bahkan langsung bertanya ke intinya secara langsung.


Vina yang sebenarnya mengantuk, tapi sedang tidak mau tidur sekarang, segera menjawab : "Kalau iya memangnya kenapa? Lagian ini masalahku sendiri, kenapa kau tanya?"


Tapi, pria berambut pirang ini pun justru meresponnya dengan senyuman kecilnya, "Kenapa? Aku tanya tentu saja karena aku penasaran. Mungkin saja aku bisa membantumu,"


Vina yang masih duduk itu, melirik ke arah Delvin yang terlihat dengan jelas, ekspresi dari wajah rasa penasaran yang cukup tinggi itu benar-benar meminta sebuah jawaban pada orangnya langsung, dan orang itu adalah Vina sendiri.


"Memangnya kau bisa bantu apa?" tanya Vina dengan penasaran juga.

__ADS_1


"Makannya, jika kau mengatakan masalahmu kepadaku, aku jadi tahu solusi seperti apa yang bisa aku berikan kepadamu. Lagi pula, sebagai balas jasa kau sudah menyelamatkan temanku, bukankah sudah cukup sebagai alasan, agar aku bisa membantu si pahlawan yang sedang kesusahan ini?" ucapnya dengan sorotan mata yang nampak sedang meremehkan Vina sendiri.


Vina pun diam, dia ragu tapi ingin sekali bisa membagi seidikit luapan emosi yang Vina pendam itu pada seseorang yang setidaknya bisa mengerti permasalahannya, walaupun sedikit saja, itu tidaklah masalah untuk Vina.


Vina kembali menundukkan kepalanya ke bawah, lalu dia segera bergumam, "Aku tiba-tiba di cium oleh seseorang, itu menyebalkan, karena dia adalah orang asing yang tidak aku kenal," akhirnya dia pun menjawab untuk memberikan jawaban atas rasa penasaran milik Delvin.


Delvin yang sedang mendengarnya itu pun, bertanya lagi : "Di cium? Bukan di cium kekasihmu?"


"K-kan~ k-kau bahkan sama saja seperti mereka semua, hiks..hiks..., padahal aku ini kan jomblo, tapi mengapa aku terus di anggap sudah memiliki pacar?" racau Vina, dia yang merasa risih sendiri dengan pertanyaan dari Delvin itu, membuat Vina langsung memeluk lututnya sendiri sambil mencoba untuk menahan tangisnya.


"...!" Delvin yang merasa salah bicara itu, dengan buru-buru langsung kembali angkat suara. "Tunggu, kau jangan menangis hanya karena di cium orang, anggap saja yang menciummu itu adalah seekor ayam,"


"A-ayam?" di katai untuk menganggap orang yang menciummnya tadi sore adalah Ayam, Vina pun dengan berusaha keras mencoba untuk berimajinasi tinggi, apakah bisa, orang tampan layaknya oppa korea itu di anggap ayam?


Dan hasilnya, Vina segera menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak bisa, aku mana mungkin bisa menganggap laki-laki tampan jadi seekor ayam," jawabnya.


Raut mukanya menjadi sedih. Sebagai perempuan yang masih punya akal sehat untuk mencoba memilih serta membandingkan antara yang satu dengan yang satunya lagi, Vina pun tidak bisa membuat pilihan.


Baginya, itu adalah pilihan yang cukup sulit, karena dia memang lemah terhadap orang tampan.


Meskipun, sebenarnya pria yang ada di sampingnya itu juga sama-sama tampan, tapi..., Vina tetap saja bingung.


"Aku tidak tahu, tapi tetap saja menyebalkan, dia merebut ciuman pertamaku," ucap Vina sekali lagi seraya memegang bibirnya yang rasanya memang masih terasa ada sisa dari sentuhan lembut dari bibir orang tersebut.


Mendengar rupanya ciuman itu adalah ciuman pertama yang berhasil di rebut oleh orang yang tidak di kenal oleh Vina, Delvin pun menutup mulutnya rapat-rapat.

__ADS_1


'Jadi dia benar-benar baru pertama kali mendapatkan ciuman?' pikir Delvin. "Jadi permasalahannya, apakah karena ciuman itu, atau orang yang kemungkinan mengambil gambar kalian?"


"Dua-duanya! Sebenarnya keduanya itu sama-sama hal yang menjadi masalahku, tapi jika kau bertanya mana yang lebih bermasalah adalah kemungkinan besar aku akan jadi viral," ucap Vina, dia yang tidak mampu untuk memandang lawan bicaranya itu, hanya berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di atas tumpukan kedua tangannya di atas lutut. 'Nanti pasti aku akan jadi viral, bagaimana jika semua orang, termasuk tetangga dan kedua orang tuaku tahu? Apa yang akan terjadi kepadaku? Aku benar-benar mempermalukan keluargaku, hiks, aku tidak mau aku tidak mau jadi bahan gosip lagi.' racau Vina dalam benak hatinya.


Walaupun tetangga, atua lebih tepatnya adalah manusia, walaupun dari luar terlihat baik dan ramah kepadanya, tapi tidak dengan hati mereka.


Di belakangnya, jelas sudah pasti banyak yang bergosip tentangnya.


Di tengah-tengah Vina sedang menghadapi dilema, setelah keterdiaman diantara mereka berdua, Delvin tiba-tiba angkat suara lagi, "Jika permasalahanmu adalah tidak mau foto atau videomu tersebar di medsos, aku bisa membantumu,"


"Tidak mungkin, bahkan tepat di saat aku masih di sana, pasti gambarku sudah di tonton lebih banyak orang, apalagi ini sudah lewat dari delapan jam," kata Vina, dia tetap saja masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Delvin ini, karena memang, tidak ada orang yang bisa menghentikan sebuah penyakit layaknya kangker, jika sudah tersebar, maka tidak ada yang bisa menghentikannya.


Delvin menghela nafas dengan kasar, dia kemudian pergi menuju mobil yang terparkir di depan rumah kosong lainnya, kemudian Delvin sudah kembali dengan membawa sebuah PC.


Pada akhirnya, karena tidak ada kursi di bawah pohon, dia pun tetap duduk di atas lantai halaman yang kotor itu, bersandar ke pohon, lantas Delvin membuka PC miliknya.


Vina yang dari tadi awalnya hanya diam dengan menyembunyikan wajah frustasinya, tiba-tiba dia tertarik untuk melihat apa yang akan di lakukan oleh Delvin.


"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Vina, dia masih tidak paham dengan tujuan dari Delvin yang membawa keluar PC itu.


"Aku kan sudah bilang, aku akan membantu permasalahanmu itu," jawab Delvin, tanpa mengalihkan perhatiannya itu dari layar PC nya.


Dari situ, sepuluh jarinya pun bergerak cukup cepat, bahkan lebih cepat dari apa yang bisa Vina lakukan saat menulis novel dengan keyboard terpisah. Tentu saja, hal itu membuat Delvin terlihat jadi keren, apalagi ketika wajah seriusnya itu benar-benar terpampang langsung di depan matanya Vina.


Namun, di balik mereka berdua yang sedang duduk berdekatan, ada satu orang yang sedang mengintai mereka berdua.


'Delvin, rupanya kau sudah ada di sini ya? Pasti dia sedang membereskan masalah dari wanita itu kan? Ok, aku akan membiarannya, lagi pula kurang cocok saja, jika wanita itu menjadi viral karena ciuman yang aku berikan padanya tadi sore.

__ADS_1


Ciuman itu setidaknya akan terus mengguncang hatinya. Huh, untung saja dia wanita polos.


Tapi, kira-kira apakah Elvano ada di dalam rumah tersebut? Karena aku baru saja menemukan rumah wanita itu, aku jadi bisa menemukan Delvin juga. Yah, setidaknya usahaku seharian ini tidak sia-sia. Aku berhasil menemukan wanita itu, di satu sisi aku juga akhirnya menemukan mereka berdua juga' selesai berpikir, Abel pun menyimpan kembali teropongnya, lalu pergi dari sana dengan senyap. "Heh,sekarang hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja," seringai Abel sambil berjalan menuju sepeda yang dia bawa.


__ADS_2