
Di ruang cctv, dua orang anak buahnya Delvin langsung memeriksa semua rekaman terakhir dari beberapa pelayan yang bekerja di dalam rumah milik Tuan muda mereka.
"Lisiana, dia punya kontur wajah yang berbeda dari sebelumnya, ada dia adalah orangnya!" kata pria ini kepada Delvin lewat sambungan telepon.
-"Sekarang dia bergerak ke arah mana?"- tanya Delvin. 'Gara-gara satu orang penyusup saja, membuatku harus turun tangan juga. Anak buah dari Tuan muda pertama memang tidak kaleng-kaleng.'
KLEK....
Berhasil mengisi magazine senjatanya dengan yang baru, Delvin pun menyimpan kembali pistolnya ke dalam sarung pistol yang dia gunakan dan terletak di bawah ketiaknya.
Sudah jadi hal umum bagi mereka semua sebagai seorang yang bekerja di bawa organisasi mafia akan memiliki senjata mereka masing-masing. Maka dari itu, bahkan gudang senjata pun jelas mereka miliki.
"Ke arah barat menuju gudang belakang," jawabnya.
-"Dia sedang memancing aku, agar aku pergi ke sana. Silon, kau menyamar jadi aku, dan pergi ke sana. Lalu beritahu aku siapa lagi yang punya gerak-gerik mencurigakan,"- Delvin yang sudah tahu dengan segala strategi berdasarkan prediksi dari satu orang yang bergerak untuk memancingnya pergi menjauhi Vina, dengan segera mencari pilihan dari kemungkinan lain yang harus dia bereskan.
Delvin sekarang berjalan keluar dari rumah menuju area taman, lalu tidak selang berapa lama kemudian, Delvin mendapatkan jawaban dari anak buahnya itu, soal orang lain yang punya gerak gerik mencurigakan.
-"Tuan, dia sekarang ada di posisi arah jam lima dari tempat anda berdiri sekarang! Dia salah satu anak buah anda!"- begitu orang ini bicara memberitahu dengan nada berteriak kepada Delvin, Delvin pun dengan segera langsung mengambil senjatanya dan menodongkannya ke arah belakang.
KLEK....
"Kau sudah terkepung, lebih baik menyerah saja, Delvin," ucapnya, di bantu dengan kesepuluh temannya yang lain, mereka semua pun langsung mengepung Delvin.
Delvin yang ada di tengah dalam kekacauan yang tidak lama lagi akan segera terjadi, hanya diam dan memperhatikan satu per satu dari mereka semua.
_____________
Sedangkan di dalam kamar, Vina yang baru saja masuk ke dalam kamar, harus melihat pemandangan diman Delvin sudah di kepung oleh anak buahnya sendiri?
'Kenapa hidup mereka rumit sekali?' pikir Vina. Dia takut, jadi dia pun mencoba untuk bersembunyi di tempat lain, selain kamar itu. 'Apa di sini juga akan jadi medan perang? Hidup mereka kenapa begitu sia-sia hanya untuk mendukung majikan mereka sendiri yang bahkan pasti tidak peduli soal nyawa. Nyawa kalian hanya di hargai sedikit, apa kalian benar-benar begitu menginginkan hal tersebut?
Apa kalian semua pernah bersenang dengan hasil kerja kalian yang ingin mengambil nyawa orang dengan cara seperti itu? Aku tidak suka ini, aku harus segera bersembunyi.'
Hanya saja, saat Vina membuka pintu kamarnya, pintunya tiba-tiba sudah di kunci dari luar, atau dari dalam, tapi dengan syarat seseorang baru saja mengunci untuknya?
"K-kau, siapa kau?" tanya Vina dengan gagap. "Hchum!"
Seorang pria berpakaian serba hitam, berjalan menghampiri Vina setelah berhasil mengunci pintu kamar itu dengan kunci yang kini sudah di pegang di tangannya.
"Keterlaluan sekali jika kau malah bertanya pada orang yang pernah menyiksamu, Vina~" sahutnya, dia tersenyum simpul melihat Vina yang ketakutan itu, sebab sekalipun beberapa saat tadi Vina bertanya soal siapa dirinya, tapi dia tahu kalau Vina sekarang sudah tahu siapa.
__ADS_1
Postur wajah, tubuh, dan suara yang hampir mirip dengan Elvano, Vina langsung menyimpulkan dengan benar, kalau orang yang ada di depan matanya itu justru adalah Arthur, kakak kandungnya Vano.
"Kau mau apa sekarang? Apa kau tidak puas setelah apa yang sudah kau lakukan selama ini kepadaku?!" jerit Vina, dia sudah marah kepada pria yang ada di seberang tempat tidurnya, sebab pria itu benar-benar mengerikan, atau tepatnya hanya dengan sekedar tersenyum saja Vina merasakan aura yang cukup mengintimidasinya.
Sangat tidak biasa, tapi dia sangat familiar karena selama satu minggu lebih dia sudah merasakan siksaan yang di lakukan oleh pria ini terhadapnya. Oleh karena itu, Vina sungguh jadi merasa cukup ketakutan.
'Apa aku sekarang sendirian? Apa tidak ada yang bisa menolongku? Delvin, Vano, mereka berdua sedang menghadapi masalahnya masing-masing. Sekarang aku sama sekali tidak bisa pergi atau mencari bantuan, bagaimana ini?' Vina yang sudah panik itu mencari sesuatu untuk di jadikan pertahanan diri, dan akhirnya dia menemukan sebuah sapu yang ada di ujung lemari.
Vina berlari ke arah dimana sapu itu berada, tapi Arthur justru lebih cepat dalam hal untuk sampai ke tempat tujuan.
BRUKK ...
"AKh..~" rintih Vina, dia tiba-tiba saja jadi langsung di seruduk oleh Arthur, dan membuat mereka berdua sekarang pun jadinya jatuh.
"Huh, padahal hanya satu orang perempuan, tapi bagaimana bisa kau begitu sulit untuk aku tangkap, hm?" tanya Arthur, sudut matanya menatap tangan kanannya Vina yang kena gips, dan selain itu sekarang dia pun berhasil membuat Vina berada di bawahnya, sehingga Vina sekarang ini sama sekali tidak bisa pergi kemanapun. "Tidak cantik, tapi kau begitu mendapatkan perhatian besar dari adikku itu, apa yang sudah kau lakukan padanya, Vina?"
"Ukh ..., lepaskan aku," pinta Vina, dia ingin sekali bisa pergi dari bawah tubuhnya Arthur, tapi rupanya beban berat tubuh Arthur yang sedang menekan tubuhnya, berhasil membuat Vina sama sekali tidak bisa pergi semudah yang dia harapkan.
"Lepas saja sendiri kalau bisa, atau bahkan lepas dari ini," sahut Arthur, tiba-tiba saja dia memperlihatkan handphone nya kepada Vina, dan di dalam handphone tersebut terlihat ada dua orang dengan wajah yang sangat Vina kenal dengan sangat baik! "Wah lihat wajah yang begitu terkejut ini, kau pasti tahu siapa dua orang yang baru saja aku dapatkan ini. Mereka berdua kedua orang tuamu, kan?"
Arthur pun mulai membuat ancaman kepada Vina, dengan menggunakan kedua orang tuanya Vina yang berhasil di culik, Arthur pun cukup percaya diri yang apa yang dia lakukan saat ini.
"Tentu saja itu artinya anak buah adikku yang tidak begitu becus itu, tidak bisa menjaga kedua orang tuamu, makannya mereka berdua sekarang bisa berada di tanganku dengan mudah," jawabnya dengan begitu entengnya. Senyumannya yang begitu lebar itu benar-benar menyiratkan sebuah kemenangan.
Vina sangat tidak suka dengan senyuman itu. Sekalipun pria di atasnya itu cukup mirip dengan Elvano, tapi senyuman dan bahkan sifatnya saja benar-benar cukup berbeda dari Elvano yang dia kenal.
"Jadi apa yang kau mau dariku, setelah kau berhasil menangkap kedua orang tuaku?"
Arthur tersenyum puas, "Walaupun kau berasal dari desa, tapi kelihatannya kau sangat mengerti dengan baik dengan semua kejahatan yang kau hadapi ya?"
Entah itu sebuah pujian atau sindiran, Vina sama sekali tidak begitu peduli dengan hal tersebut, sekalipun terusik dengan sentuhan tangan yang sempat menyentuh wajahnya Vina hanya karena ingin menepis helaian rambutnya.
"Kau bahkan tahu apa maksud dari permintaanku ini, karena aku berhasil mengancamu dengan kedua orang tuamu yang sudah ada di tanganku. "
Tentu saja, jika kau menolak keinginanku, bukan hanya kau saja yang akan jadi tumbal, tapi kedua orang tuamu itu juga, Vina," jelas Arthur dengan panjang lebar.
Vina menelan salivanya, sungguh dia sedang di pojokkan dengan orang gila. "Jadi maumu apa?"
Arthur terus tersenyum, sampai akhirnya dia tiba-tiba saja membungkukkan tubuhnya ke arah Vina dan berbisik dengan lirih, "Khianati Vano, kalau kau bisa membunuh Elvano, aku akan melepaskan kedua orang tuamu,"
"Dia itu adikmu sendiri, kenapa kau begitu menginginkan kematiannya?" tanya Vina dengan cepat.
__ADS_1
"Kau tidak perlu tahu soal itu, yang penting aku ingin kau bisa menyingkirkan adikku itu dengan tanganmu, dengan begitu aku bisa melepaskan kedua orang tuamu itu," jawab Arthur detik berikutnya.
'Padahal mereka saudara kandung kan? Kenapa satu keluarga tapi menginginkan saudara mereka untuk mati?' Vina pun jadi di buat semakin penasaran dengan tujuan dari saudara kembar itu, karena sama sekali tidak membiarkan Vina tahu masalah diantara mereka berdua itu. "Tapi, meskipun aku melakukannya, tidak ada jaminan juga kalau aku selamat atau tepatnya kau menepati janjimu,"
"Kau itu sekarang berada di posisi untuk tidak bisa bernegosiasi denganku, mau atau tidak, sekarang hanya ada dua pilihan itu saja yang kau miliki," balas Arthur. "Kau bahkan sudah berada di posisi seperti ini, apa kau bahkan tidak pernah berpikir kalau aku hanya sekedar bicara saja denganmu?"
Lalu, Vina pun jadinya tersadar, kalau sekarang di dalam kamar itu hanya ada mereka berdua.
Seorang pria dan wanita di dalam kamar yang sudah terkunci. Bukannya itu lebih bahaya?
'Sial, aku baru sadar.' Vina jadi mulai lebih merasa terancam dengan keberadaan dari Arthur ini.
Pria ini bukan pria baik-baik, dia bisa melakukan apa saja sesuai dengan keinginan hatinya, sedangkan Vina dia di batasi dengan tangan kanannya yang sedang terluka.
"Hah, kau pasti baru menyadari posisimu untuk tidak memberontak, ya kan?"
"Kenapa kau begitu tersenyum bangga hanya karena lawan bicaramu seorang wanita?" tanya Vina saat dia benar-benar melihat Arthur yang malah tersenyum bangga.
"Tentu saja karena aku jadi terlihat keren, kan?"
"Jadi kau melakukan ini agar kau terlihat keren, begitu?"
Arthur lantas tersenyum simpul, menatap Vina dengan tatapan lembut?
Jangan konyol, itu hanyalah akting yang di buat-buat oleh Arthur sendiri.
"Aku hanya ingin melakukan yang ingin aku lakukan dan di rasa terlihat keren," bisik Arthur, terutama saat aku akhirnya bisa mencari tahu efeknya dengan tanganku sendiri.
Vina melirik ke arah wajah Arthur yang ada di samping kanannya persis. Sebuah senyuman yang begitu lebar menyiratkan makna kalau pria di sampingnya itu benar-benar memiliki rencana lain yang tidak Vina ketahui.
"Memangnya kau ingin melakukan apa?" Vina jadi merasa lebih terancam, saat senyuman Arthur yang tiba-tiba saja menghilang dan di gantikan dengan ekspresi yang begitu dingin.
"Ini-"
Lalu, tepat setelah Arthur berkata demikian, Arthur tiba-tiba membekap mulutnya Vina.
"Umphh! Mphhh...!" Vina seketika meronta, dia bukan meronta karena dia akan di bunuh atau apapun itu, melainkan satu obat yang tiba-tiba saja di masukkan ke dalam mulutnya Vina.
"Nah, telan ini, aku ingin melihatmu bisa memberikan pertunjukkan kepadaku dengan hal yang paling menarik," kata Arthur, merasa puas dengan apa yang barusan dia lakukan.
'Obat apa ini?! Aku tidak boleh menelannya!' pekik Vina dalam benak hatinya. Semua usahanya untuk melepaskan diri dari kendali Arthur, menjadi sia-sia, karena pria ini punya kekuatan yang melebihi kekuatannya Vina sendiri, sehingga pada akhirnya entah apa yang Arthur berikan kepadanya, Vina pun jadinya menelan pil tersebut, begitu Arthur menyumbat hidungnya Vina.
__ADS_1