Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
83 : Malam Bersama Dengan Elvano


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan puding bersama-sama Vina dan Vano pun sama-sama menonton tv.


"Vano Apakah aku akan disini lebih lama lagi?" tanya Vina dia sebenarnya sudah ingin pulang tetapi karena kondisinya dia harus menuruti apa yang dikatakan oleh dokter juga.


Elvano yang sedang memakan keripik, dan entah dari mana asalnya pria itu bisa mendapatkannya, Vano pun segera menjawab, "Ya tentu saja kau harus berada di sini cukup lama, setidaknya kau harus benar-benar pulih, bahkan kau tahu mentalmu itu masih terguncang dengan apa yang sudah terjadi sebelum ini. jadi aku pikir kau tidak perlu mengkhawatirkan kedua orang tuamu yang ada di rumah karena aku sudah mengurusnya untukmu itu saja yang bisa aku beritahu kepadamu."


Vina pun terdiam dia sebenarnya bingung dia ingin pulang tapi kondisinya memang seperti ini dan apabila kedua orang tuanya tahu kalau Vina mengalami banyak luka hal itu akan membuat situasi akan sangat memburuk dia tidak ingin hal itu terjadi maka dari itu dia pun menuruti apa yang dikatakan oleh Vano barusan.


Lalu sebagai gantinya untuk mengalihkan topik pembicaraannya agar tidak terlihat Canggung Vina pun bertanya kepada Elvano.


"Kau seharian ini ngapain saja?" 


Elvano yang hendak memasukkan keripiknya ke dalam mulut langsung menghentikan tangannya tersebut, dan langsung menoleh ke arah Vina keripiknya ke dalam mulut langsung menghentikan dan langsung menoleh ke arah Vina yang sedang bertanya dengan ekspresi wajah penuh penasaran.


"Aku tentu saja bekerja mencari uang dan bisa membeli keripik juga puding yang tadi kita makan."


Dan Vano tidak memberikan rincian dari pekerjaannya itu.


Ya, Vina pun tahu kalau dirinya tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan Alvano itu sendiri. 'Sepertinya itu pekerjaan penting atau karena pekerjaannya cukup rendahan? makanya tidak mau mengatakannya kepadaku?' batin Vina dia masih penasaran tapi dia tidak boleh memaksakan diri untuk bertanya dan menuntut Elvano untuk menjawab, sebab dia masih yahu batasan kesopanan.


"Oh begitu ya? Apakah aku boleh melihat uangmu?" pinta Vina. Dia ingin tahu seperti apa uang dari negara ini.


Elvano tanpa sungkan langsung memperlihatkan puluhan lembar dolar miliknya kepada Vina, agar Vina bisa melihatnya dengan bebas.


Baru pertama kali menyentuh uang dolar, Vina pun diam-diam mencium aroma di balik dolar itu 'wah ini memang aromanya elvano kenapa aku jadi seperti ini. jangan-jangan semua barang yang menempel ke tubuhnya akan punya aroma khas seperti ini?'


Isi pikirannya Vina pun jadi ya acak-acakan ingin itu dan ingin itu juga.


bahkan elvano sendiri melihat kelakuan dari Vina ini cukup menarik perhatian. Win Kenapa kau mencium uangku?"


"Aku ingin tahu aromanya mungkin saja berbeda dengan uang dari negaraku."

__ADS_1


"Kau ini memang punya sisi yang aneh ya?" 


"Ya seperti itulah aku. Aku memang sering dikatakan kalau aku ini aneh, tapi aku sama sekali tidak mempermasalahkannya karena. Karena aku memang seperti ini, jadi harus bagaimana lagi? Apakah aku harus menyesuaikan selera orang lain?" oceh Vina.


"Kau ada benarnya juga. Yah, aku tidak mempermasalahkan sikapmu itu. Mau kelakuanmu itu seperti apa yang penting kau jadi dirimu sendiri, tidak perlu memikirkan perkataan orang lain, itu saja yang kusuka dari dirimu." 


Mendengar kalimat kata suka keluar dari mulutnya Elvano, tiba-tiba hal tersebut membuat di dalam hatinya seperti tersentuh. Karena ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan suka walaupun itu bukan dalam artian dalam bentuk cinta, tapi Vian cukup senang.


Setidaknya dirinya tidak sendirian karena ada orang yang menemaninya. Walaupun dia sendiri tidak tahu sebenarnya siapa Elvano ini, dan masih menjadi rahasia besar untuk Vina yang benar-benar tidak tahu apapun soal latar belakang dari pria ini, selama evano tidak berbuat jahat kepadanya itu tidak dipermasalahkan.


Namun, Iya tahu benar bahwa sifat asli seseorang pasti akan selalu disembunyikan dengan sangat hati-hati agar orang luar tidak mengetahui isi sebenarnya di dalam hatinya itu. sebuah metode untuk melindungi dirinya sendiri dari dunia yang keras dengan penuh tipu muslihat ini. 


Itulah kerja dari dunia penuh dengan drama, dimana setiap orang pasti harus melewati segala ujian dari orang-orang yang tidak menyukai diri kita.


ini sudah hampir jam 12.00 malam apa aku tidak mau tidur


"Aku tidak tahu Apakah aku bisa tidur atau tidak." kata Vina bergumam sendiri tapi elvano sendiri juga masih bisa mendengarnya maka dari itu alvano langsung menyakata Vina bergumam sendiri tapi elvano sendiri juga masih bisa mendengarnya maka dari itu alvano langsung menyahut ucapannya Vina tadi.


"Mengeloni? Kenapa kau bisa tahu arti kata mengeloni?" Vina pun jadinya memberikan tatapan penuh selidik kepada pria ini bagaimana bisa seorang pria yang sangat fasih dalam berbicara bahasa Inggris atau bahkan bahasa Prancis, bisa tahu arti kata mengeloni?


"Waktu itu kan aku pernah tanya kepada ibumu." sungguh itu adalah jawaban yang cukup singkat tapi Vina sendiri masih tidak percaya.


"Oh..begitu. Tidak usah repot-repot mau mengeloni aku, kau sendiri saja sana tidur. Aku ingin menonton TV lagi." Itulah jawaban dari Vina. 'Dia tahu kan arti kata mengeloni? Itu sama saja mau menemaniku tidur. Dan dia kalau bicara gampang sekali ya? Apa dia tidak memperhatikan lawan bicaranya akan bereaksi seperti apa? atau dia memang sengaja mengatakan itu kepadaku agar aku jadi salah tingkah?'


"Ya sudah deh kalau begitu besok aku kan mau kerja lagi jadi aku harus tidur lebih awal." Elvano pun pindah dari tempat duduk pergi ke tempat tidurnya.


Dengan bermodalkan tirai yang memisahkan kedua tempat tidur mereka, Elvano pun sebenarnya sudah melepaskan pakaian atasannya dan menggantinya dengan piyama yang sudah ada di dalam lemari kecil disamping tempat tidurnya.


Setelah berganti pakaian Elvano lantas naik ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya sampai ke bagian dada.


"Hahaha…kartunnya bagus.' suara cekikikan yang keluar dari mulut Vina membuat Elvano tidak bisa tidur.

__ADS_1


Dari tempat tidurnya dia masih bisa menonton TV dari sana dan itu berlangsung lebih dari satu jam lamanya. Dari tawa tangis bahkan teriakan kecil yang mengisyaratkan rasa takut semuanya keluar dari mulutnya Vina.


meskipun televisi masih menyala tapi ada yang berbeda suara tawa atau apapun itu sudah tidak terdengar lagi.


"Kenapa tiba-tiba jadi diam?" ingin mengetahui apa yang terjadi kepada Vina alvano turun dan mencoba mengintipnya dari sana.


Barulah terlihat Vina yang masih dalam kondisi duduk ternyata matanya sudah terpejam


Elvano tersenyum, "Kelihatannya dia sudah lelah habis nangis tertawa dan ketakutan tadi."


Suara dengkuran halus pun mulai terdengar. Betapa pelan dan stabilnya Vina dalam bernafas dia seperti seorang boneka jika dilihat dari kejauhan seperti ini.


Elvano yang tidak bisa terusan melihat Vina tertidur dalam kondisi terduduk seperti itu mencoba memperbaiki posisi tidurnya dengan menurunkan ranjang bagian belakang, agar bisa kembali sejajar.


"Ehmm.." Vina mengernyitkan matanya karena tiba-tiba saja seperti ada sedang mengganggu tidurnya tapi. Tapi karena saking ngantuknya, dia pun terus memejamkan matanya.


"Ujung-ujungnya TV lah yang menontonmu bukan kau yang menonton TV. Dasar," lirih Elavmo, memperbaiki posisi selimutnya.


"Remotnya di mana ini?" Vano mencari remote untuk mematikan televisi itu tapi dia sama sekali tidak melihatnya. dan setelah ditelusuri dia menemukannya tapi ada di bawah pantatnya Vina. ""Haishh…remot jika di duduki? Dia menyembunyikannya dengan cukup baik ya, padahal aku juga tidak mungkin berebut remot dengannya."


Dikarenakan televisinya harus dimatikan, Elvano dengan berani menyentuh pant*tnya Vina dan dengan cepat segera mengambil remote itu sebelum Vina terbangun.


"Apa yang kau lakukan di sana?" Vina tiba-tiba bertanya dalam tidurnya.


Vano langsung menjawab, "Aku hanya mematikan televisi, kau tidurlah lagi aku tidak akan mengganggumu lagi." Vina pun mengangguk dan kembali tertidur pulas dengan dengkuran halus yang kembali terdengar.


Setelah itu, Elvano pun bisa tidur dengan nyenyak karena Vina sudah tertidur dan semua pekerjaan juga sudah selesai.


Dianya tinggal mengistirahatkan badannya yang cukup lelah gara-gara seharian ini dia harus mengurusi banyak hal dari pekerjaannya sampai kekasih yang akan dia putuskan tidak lama ini.


"Semoga mimpi yang indah," ujung jarinya sempat menyentuh keningnya Vian, dan pergi ke tempat tidurnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2