
"Entahlah, aku tidak tahu, mungkin perasaanku saja kalau dia seperti mirip dengan orang yang pernah aku temui," jawab Vina, lalu memakai sabuk pengamannya.
"Kalau kau menjawab seperti itu, ya sudahlah."
'Apa dai kecewa karena jawabanku tidak sesuai dengan ekpektasinya?' pikir Vina, melihat raut wajah Vano yang tadinya terkejut, sekarang justru terlihat seperti sedang kecewa.
Setelah kepergian dari dua orang tersebut, Delvin yang masih berdiri di tempatnya, terus memandang kepergian dari dua orang tersebut dengan tatapan serta ekspresi wajah yang begitu datar.
'Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.' pikir Delvin, curiga dengan apa yang dia dengar barusan.
Walaupun tidak sopan, sebab Delvin memasang penyadap suara di dalam mobil yang di gunakan oleh Tuan muda nya itu, tapi demi keamanan, dia hal itu pun terpaksa.
Namun yang tidak pernah Delvin pikirkan adalah kalau wanita yang sudah membuat Tuan muda nya tertarik terus kepada wanita itu adalah, dimana Vina ternyata bisa punya insting kuat kalau orang yang sedang menyamar menjadi seseorang yang lebih tua, adalah Delvin sendiri.
'Padahal aku pikir aku sudah menyamar dengan sempurna, tapi tetap ketahuan ya? Sebaiknya aku tes saja dulu.' begitu sudah memikirkan hal tersebut, Delvin pun menghubungi seseorang, "Siapkan penyamaranku berikutnya, aku akan datang ke tempatmu."
TUT....
____________
Dalam perjalanan itu, awalnya suasana diantara mereka berdua cukup canggung, tapi setelah itu, Vina pun mengutarakan pertanyaan kepada Elvano.
"Vano,"
"Hmm?" Vano yang sedang makan coklat almond, tiba-tiba menawarkan bekas gigitannya itu kepada Vina.
Vina pun menggelengkan kepalanya, 'Kenapa dia malah menawarkan aku coklat? Itu kan bekas makanannya, kenapa juga aku harus makan yang dia makan?' pikirnya.
"Kau mau tanya apa?" tanya Vano, memutar stir mobilnya ke arah kanan, sehingga dia pun mengambil arah jalan menuju tempat destinasi wisata paling terkenal di dunia, yaitu menara Eiffel.
"Sebenarnya, kenapa aku bisa di culik sampai ke paris?"
CKITT....
__ADS_1
Tiba-tiba ada bebek yang mendadak lewat, Vano pun jadinya mengerem mendadak.
'Wow, bebek saja bisa punya rambu-rambu lalulintas.' Vina sesaat teralihkan dengan rambu-rambu yang berdiri di samping mobil persis.
"Mungkin saja karena kau adalah perempuan yang cukup menarik?" jawab Vano.
Tapi, Vina sendiri bahkan tidak begitu percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Vano itu.
"Apanya yang menarik? Wajah seperti ini, dan aku bahkan orang dari kampung, sebenarnya apa yang bisa membuat mereka tertarik denganku? Hahh?! Atau- atau jangan-jangan sebenarnya aku itu di jual karena ada orang yang menginginkan organ dalamku?" Vina yang tiba-tiba saja mengambil kesimpulan sendiri, sukses besar membuat Vano melamun menatap Vina. "Jangan-jangan seperti itu ya? Vano, aku tidak kehilangan apapun kan?" tanya Vina sekali lagi dengan wajah paniknya, karena meskipun tubuhnya masih sakit, tapi dia benar-benar tidak tahu dengan kondisi di dalam tubuhnya sendiri, apakah masih lengkap atau tidak?
Hanya saja, ketika Vano mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Vina, Vano pun terus memperhatikan wanita di sampingnya itu dengan cukup serius dari atas sampai bawah.
"Kau-"
"Ya? Aku kenapa? Aku tidak terkena apapun kan? Tidak ada organ dalamku yang hilang kan? Atau su- sudah ada?" ekspresi dari wajah penasarannya itu pun berubah menjadi ekspresi takut.
"Kau- kau tidak kehilangan apapun selain berat badanmu," jawab Vano dengan lugas.
"Memangnya aku punya berat badan berapa?" Vina yang bgeitu polos itu pun menatap tangannya sendiri, dan memang tangannya tetap saja terlihat kurus, terlepas dari apa yang sudah terjadi sebelum ini, karena Vina sendiri, benar-benar tidak ingat dengan nasibnya ketika Delvin datang ke rumahnya untuk membawa Elvano pulang, penculikan itu sendiri, sampai siksaan yang terjadi selama kurang lebih satu minggu.
"Empat puluh kilo,"
"Ya ampun, ternyata berat badanku bahkan tidak sampai setengah kuintal. Jika ada angin besar datang, jangan-jangan aku akan terbawa angin juga?" oceh Vina, dia pun jadinya memeluk tubuhnya sendiri, saking takutnya dengan apa yang Vina simpulkan itu.
"Pfft, makannya, kalau mau berat badanmu bertambah lagi, kau harus makan banyak buah, sayur dan daging.
Apa kau punya alergi?"
"Entah, aku juga tidak tahu? Waktu kecil aku punya alergi terhadap telur, intinya yang berbau amis, tapi sekarang aku bisa makan semua jenis sih." jawab Vina dengan antusias.
"Berarti setelah kita dari menara Eiffel, kita pergi makan siang, kau setuju?"
"T-tapi- tapi- tunggu Vano. Tapi-"
__ADS_1
"Tapi apa?" senyum Vano, melihat Vina yang tiba-tiba saja terlihat gugup seperti orang yang sedang cemas? 'Apa yang dia cemaskan? Apa ada orang yang mengikuti?'
Vano yang tanpa sadar punya rasa waspada, karena Vina yang tiba-tiba bersikap seperti itu, Vano pun melirik ke arah kanan dan kiri, dimana layar monitor kecil yang memperlihatkan gambar dari kamera pengganti spion mobil, hanya memperlihatkan jalanan kosong saja.
'Tidak ada siapa-siapa? Tapi kenapa Vina terlihat sangat cemas begitu?' pikiran Vano pun jadi tidak tenang, padahal yang sedang cemas sendiri kan Vina, tapi ternyata hal tersebut menular kepadanya.
"Bagaimana kau mendapatkan uang? Hidup di sini kan mahal sekali?! Dan kau bilang menyewa mobil, jadi bagaimana kau bisa punya uang untuk membuat kita berdua jalan-jalan dengan mobil mewah seperti ini?" seketika itu juga, deretan pertanyaan yang paling menusuk ke hati dan jantung Vano, membuat Vano jadinya diam membisu.
'Sial, aku lupa. Bagaimana aku bisa menjelaskannya ya? Dia suka bertanya sampai di titik kritis, aku jadi bingung sendiri.' sambil menyetir, Vano pun mulai di buat untuk berpikir keras.
Melihat Vano seperti menghindari pertanyaannya itu, Vina pun tidak mau memaksanya. "'Kalau tidak mau memberitahuku, ya sudah, tidak apa-apa. Tapi mending dari pada kau harus mengeluarkan uang banyak untuk sekedar jalan-jalan seperti ini, mending di gunakan untuk menyewa sepeda listrik. Di sini banyak yang suka bersepeda, pasti lebih hemat kan?
Katamu saat bicara dengan anak kecil tadi, dari pada naik mobil karena tidak bisa menikmati perjalanan dengan lebih baik, tapi gara-gara aku, jadinya kau menyewa mobil mahal, mending pakai kendaraan yang murah. Itu jauh lebih baik, dari pada se-"
Sadar dengan ucapannya sendiri yang terdengar tidak bersyukur kepada Vano yang sudah rela meluangkan waktu dan uang untuknya, seketika Vina jadi diam sejenak.
'Gawat, aku jadi keceplosan sampai bicara seperti itu. Kedengarannya kan aku jadinya terdengar seperti orang yang tidak tahu berterima kasih, ya kan?' kata hati Vina, dia benar-benar sangat bersalah atas ucapannya sendiri. "V-vano, bukan itu maksudku,"
"Bukan apa?" Vano masih mencoba untuk menyimak.
Dengan ekspresi wajah yang bersalah, Vina pun menjawab : "Maaf, aku bukan bermaksud tidak bersyukur kepadamu, karena kau sudah merelakan waktu dan uangmu untuk membuatku bisa berkeliling kota, tapi- ini terasa berlebihan saja.
Aku tahu kalau biaya di negara ini cukup tinggi, jadi aku punya pikiran yang kolot," jelas Vina, mencoba menjelaskan maksud yang belum lama ini dia jelaskan kepada Vano.
'Dia menganggap kalau ucapannya tadi menyinggung perasaanku ya? Yah, aku tanpa sadar juga, malah punya ide seperti ini.
Walaupun aku masih tidak ingat dengan ingatanku sendiri, tapi seperti yang sudah di ketahui dari Delvin, aku adalah orang yang punya status seperti itu, aku harus bisa menjaga rahasia ini dari Vina.
Seharusnya aku bisa berpikir sederhana, tapi aku bahkan sampai terlalu ceroboh.
Sebelum aku mengajaknya pergi atau beli apapun untuknya, lebih baik aku harus tanya kepada Delvin dan menentukannya lebih cermat lagi, selera dari orang biasa.' pikir Elvano.
Setelah punya pikiran seperti itu, Vano pun akan mencoba lebih kritis lagi dalam mengambil keputusan, jika sudah berhubungan dengan Vina yang punya pikiran untuk selalu hemat itu.
__ADS_1