Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Hatinya Luluh


__ADS_3

Hanya dengan memikirkan imajinasi yang dia buat sendiri, dia pun tersenyum lebar penuh dengan kemenangan.


Banyak hal yang sebenarnya ingin dia perbuat bersama dengan Vina. Akan tetapi dia tahu betul, kalau dia tidak boleh melakukannya terlalu terburu-buru.


____________


Namun, dari sekian banyak hal untuk mencegat Vina pergi dari sisinya, padahal Elvano sendiri sudah bertekad betul dengan keyakinannya, akan tetapi semuanya pun musnah.


Ketika Elvano sudah pulang dengan cepat setelah dia menyelesaikan urusannya, dia harus mendapatkan kejutan tidak terduga dari Vina.


"Kau ingin aku menciummu? Jika itu syarat agar aku bisa pulang, aku akan melakukannya."


Lalu, tanpa sepatah kata pun, Vina yang sudah bersiap dengan apa yang akan di lakukannya, tiba-tiba dia berjalan menghampiri Elvano.


Jarak yang begitu dekat, membuat pandangan mereka untuk melihat wajah mereka masing-masing jadi semakin jelas.


Vina pun mengulurkan tangan kirinya ke depan, meraih tubuh Vano dengan begitu pelan, lantas Vina mulai membungkuk, dan ..


CUP ...


" ...! " Elvano seketika tercengang.


Tidak butuh waktu yang lama, untuk melaksanakan perintah dari pria yang ada di depannya itu.


Kata ciuman, langsung membuat Vina berani mengambil tindakan untuk mencium Elvano.


"Sekarang aku sudah boleh pulang ke negaraku kan?" Vina bertanya sambil menatap lawan bicaranya itu dengan begitu berani.


Elvano jelas mematung, begitu dia baru saja mendapatkan sebuah kecupan.


Namun, masalahnya adalah dia justru mendapatkan kecupan singkat di atas punggung tangannya Elvano.


"I-itu kau bilang ciuman?"


"Iya lah, kan katamu aku harus menciummu? Sebagai orang yang lebih tua dariku, bukannya hal yang pantas untuk memberikan salam perpisahan dengan ciuman tangan sebagai penghormatanku kepadamu?"


Kata-katanya tidak ada yang salah, akan tetapi sebenarnya bukan itu yang diharapkan oleh Elvano, jika sudah berurusan dengan kata ciuman.


Yang Elvano ekspektasikan adalah dia bisa berciuman antara bibir dengan bibir, bukan tangan dan bibir.


Hanya saja, berkat itu pula hati yang tadinya seperti batu, secara perlahan jadi meleleh sendiri.


Keinginannya untuk membuat perempuan di hadapannya itu terus berada di sisinya dan berada di dalam rumahnya terus, tiba-tiba jadi buyar saat melihat tatapan teduh yang terlihat di matanya Vina.


"Aku hanya ingin pulang."


Itulah yang tersirat di dalam tatapan matanya itu.


Tidak ada keinginan lain yang ada pda diri Vina selain pulang itu.


"Apa yang akan kau lakukan jika aku tetap bersikukuh tidak mengizinkanmu pulang?" satu pertanyaan itu pun datang juga.


Vina pun sudah punya alasan tersendiri untuk menjawab pertanyaannya Elvano.


Vina terus memandang Vano dengan tatapan berani.


"Aku akan membencimu. Sekalipun kau adalah tipe idealku, tapi lebih baik aku sendirian seperti ini terus dan membencimu seumur hidupku.


Entah pikiran bodoh macam apa yang kau miliki sampai menyukai perempuan sepertiku, tapi aku tetap masih punya akal sehatku." tepatnya, 'Kau orang yang cukup berbahaya. Ini bahkan lebih buruk jika aku benar-benar hanya memilih egoku untuk tetap menyukaimu, padahal kau ternyata punya akal busuk untuk tetap membuatku berada di rumah ini.


Walaupun dia dapat memilikiku, dan meskipun akal pikiranku juga hatiku akan terganggu, tetap saja, pilihan liciknya, jika dia benar-benar mencegatku pulang, itu berarti dia adalah orang yang jahat, yang bahkan sama sekali tidak cocok untuk membuat aku terus menyukai sifatnya itu.

__ADS_1


Aku benar-benar bodoh, jika hanya mengandalkan indera penglihatanku, dengan menyukai Vano karena penampilannya.


Padahal sifatnya saja sungguh di luar ekspektasi terus.'


Lantas, jawaban dari Vina itu pun membuat Vano justru berpikir lain. 


Pikiran yang menyatakan kalau Vina pada dasarnya sudah cukup menyukai dirinya. 


Namun, dikarenakan tidak suka dengan sifat kasar, kemampuan menolak Vina tetap tidak sebanding dengan rasa suka yang sudah tertanam di dalam hatinya Vina. 


“Baiklah, tapi sayangnya kau bahkan tidak melakukan syarat paling dasar yang seharusnya kau lakukan kepadaku,” ungkap Elvano, tanpa membiarkan eksistensinya menghilang, bahwa diantara miliyaran orang di dunia ini, hanya dialah yang pantas untuk mendapatkan perhatian dari Vina. 


‘Kenapa sekalinya aku dapat orang yang menyukaiku, orang itu malah seperti orang yang suka bermain-main dengan persaan orang lain seperti ini?


Dia seperti bukan Elvano yang aku kenal terakhir kalinya. 


Aku benci dia yang seperti ini, seolah hanya dia saja yang terbaik daripada siapapun.’ dalam hatinya, Vina pun kecewa terhadap Elvano yang lebih bersikap seperti orang gila. 


Padahal, segila-gilanya menyukai seseorang, apalagi Vina yang punya tipe iedal dengan paras maksimal, dia tidak akan bersikap seperti itu, bersikap yang membuat orang yang di sukainya malah kecewa. 


“Apa mentang-mentang karena kau punya segalanya? 


Makannya, kau pun jadi seenaknya melakukan sesuatu kepadaku seperti ini?” kata Vina dengan nada berbisik. “Aku tidak suka denganmu. Gara-gara kau, aku jadi terseret dengan masalahmu.


Mau kau punya penampilan sempurna sekalipun, jika kau seperti ini, lebih baik aku jomblo seumur hidup, dan hidup menyukai pria 2D aku.”


Orang-orang yang mendengar hal tersebut, langsung melongo bukan main. 


‘Padahal Tuan itu orang yang terkenal dengan ketampanannya. Banyak wanita yang setiap hari mengantri ingin bertemu dan berfoto dengannya. 


Tapi Nona Vina? Bukannya anda begitu berani mengatakan hal itu kepada Tuan muda?!’ teriak hati dari salah satu anak buah Elvano yang berjaga di teras rumah, tapi dia juga sekalian mendengarkan pembicaraan dari majikannya itu dengan Nona yang harus mereka jaga itu. 


Nona, anda sungguh orang pertama yang benar-benar ingin menjauh dengan Tuan muda.’


Semua orang di sana mengira kalau Vina tidak akan berani bicara demikian, mengingat Tuan muda mereka adalah yang terbaik untuk mereka, sehingga merasa tidak begitu pantas untuk menerima penolakan dari seorang wanita. 


Tapi, sikap Vina berhasil mengubah suasana di dalam kediaman tersebut menjadi tegang. 


‘Padahal saat di jalan tadi, aku sempat bersikeras untuk bersikap kasar agar dia takut. Tapi yang ada, dia malah bisa berani bicara seperti kepadaku. 


Melihatnya seperti ini, aku jadi tidak bisa melawannya.


Apa lebih baik aku kirim saja dia pulang dulu?’ Elvano terus saja berpikir keras untuk mengatasi masalah diantara mereka berdua. 


Dimana mereka berdua sudah mengalami pertengkaran yang entah sudah berapa kali mereka lakukan. 


Walaupun begitu, mereka tetap sempat berbaikan. 


Tapi, kali ini dia rasa akan lebih sulit, begitu melihat ekspresi wajah Vina yang begitu marah kepadanya. 


Meskipun banyak orang yang mendengarkan pertengkaran mereka berdua, tapi mereka sama sekali tidak berpikir untuk menyela pembicaraan mereka berdua. 


‘Kenapa dia terus menatapku? Apakah dia benar-benar memilih untuk mengurungku disini?


Padahal dia hanya menatapku, tapi kenapa aku jadi semakin takut?


Daripada seperti ini terus, lebih baik aku mengurung diri di dalam kamar saja.’ 


Vina yang tidak nyaman ditatap seperti itu terus oleh Elvano, segera berbalik pergi. 


Tapi, Elvano yang tidak rela untuk membiarkan Vina pergi tanpa bicara kepadanya, segera meraih pinggangnya. 

__ADS_1


BRUKK …


Satu pelukan berhasil menguasai tubuh Vina yang lebih kecil dari pada Elvano.


“Apakah aku menyuruhmu untuk pergi dari sini? Padahal pembicaraan kita belum selesai,” bisik Elvano, tepat di samping telinganya Vina. 


Seperti angin panas yang berhembus di telinganya, sontak wajah Vina pun memerah. 


Hembusan nafas itu sekilas berhasil mengusik akal sehatnya untuk beberapa saat, tapi di satu sisi lainnya, dia sangat malu sendiri, melihat tubuhnya untuk … entah untuk berapa kalinya, dia mendapatkan pelukan. 


“Lepaskan,” Vina sedikit memberontak. 


Tapi pelukan itu justru terus membuat tubuh mereka berdua saling menempel. 


Lalu setiap nafas yang Elvano lakukan, seakan membuat akal sehatnya seperti ditiup juga dan terbawa serta menguap ke udara. 


Apakah itu sungguh yang dinamakan dinamika perasaan yang beralih ke mode terangsang?


Pelukan hangat itu seakan menyatu menjadi satu. Tapi, jika dirinya saat ini saja sudah dibuat mulai menggila sendiri, jika tidak bisa ditahan, apakah itu akan membuatnya benar-benar kalah dalam taruhan?


“Apa kau bisa melepaskannya? selagi aku masih bicara baik-baik?” tanya Vina dengan nada yang begitu pelan. 


Elvano diam sambil melihat samping wajah Vina yang tampak menatap lantai dengan tatapan teduh. 


“Sudah berapa kali kau melecehkanku? Aku tidak suka orang sepertimu, titik. Jadi lepaskan,” kata Vina sekali lagi dengan nada yang tegas, tapi tersirat kesedihan dalam setiap makna yang terkandung di dalamnya. 


Dalam dua bulan lebih, dia sungguh sudah lelah, lelah dengan semua keadaan. Baik dari menghadapi menemukan orang asing seperti Elvano yang terluka, kehilangan ingatan, jalan-jalan, di culik, menjadi buronan, bahkan trauma akan beberapa hal yang sungguh sudah membebani pikirannya. 


Maka dari itu, Vina pun memilih untuk diam dan tidak memberontak, ketika Elvano masih memeluknya. 


‘Aku hanya ingin bertemu dengan kedua orang tuaku, tapi kenapa begitu susah? 


Padahal aku, perasaan tidak melakukan kejahatan, tapi aku malah sering dijahati seperti ini. 


Aku lelah, aku ingin diam, tidak bicara lagi, dan aku ingin pulang ke rumah dan bisa hidup normal seperti dulu lagi.’


Keterdiaman Vina pun tidak bisa membuat Elvano jadi orang yang keras kepala seperti sebelumnya. 


“Baiklah, aku minta maaf Vin, aku hanya ingin kau bisa berada di sisiku. Tapi sikapku yang kekanakan ini, membuatmu malah jadi membenciku,” ungkap Elvano dengan senyuman kecut. 


‘T-tuan?! Tuan minta maaf?! Tuan muda bukannya tipe orang yang akan minta maaf semudah itu, apalagi kepada seorang wanita?! Tapi apa yang aku dengar tadi?!’


‘A-aku tidak salah dengar kan? Tuan muda baru saja minta maaf kepada Nona Vina? 


Ada keajaiban macam apa yang sedang berlaku di kediaman ini? Ya tuhan, ini baru pertama kalinya bisa mendengar Tuan muda minta maaf kepada orang lain secepat itu.’


‘Apakah Tuan muda salah minum obat? Tuan muda baru saja minta maaf! Ini akan jadi revolusi yang besar untuk Tuan muda kedua!’


Dalam diam, mereka semua benar-benar menaruh harapan untuk kedua orang yang menjadi pusat perhatian mereka. 


Tapi, harapan mereka semua langsung pupus, saat melihat nona Vina mereka pada akhirnya, setelah tuan Elvano memutuskan untuk melepaskan pelukannya itu, malah memilih peri tanpa sepatah kata. 


“Vin-” Elvano mencoba untuk memanggil nama Vina, tapi si empu bahkan sama sekali tidak mau meresponnya, karena terlanjur cukup lelah dengan semua drama yang sudah terjadi selama ini. “Vin, jika kau diam seperti itu, aku tidak akan mengabulkan keinginanmu.”


Sesaat, Elvano sedikit tidak rela jika Vina pergi begitu saja. 


Tentu saja, hal tersebut langsung ditegur oleh anak buahnya sendiri. 


“Tuan muda, jangan malah menarik ucapan anda dengan bicara seperti itu. Biarkan Nona mendapatkan waktu sendiri, jangan berikan tekanan seperti itu, atau Nona benar-benar memilih membisu seperti itu terus kepada anda,”


Hanya dengan gerak bibir saja, Elvano pun langsung tahu apa yang dikatakan oleh salah satu anak buahnya yang berada di teras rumahnya. 

__ADS_1


__ADS_2