Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
40 : Vina Tersiksa


__ADS_3

BYURR....


"Akhhh! Hahh...hah..hah..." Vina tadinya sedang memejamkan matanya, tapi begitu air satu ember itu tiba-tiba saja di guyur ke tubuhnya, Vina sontak langsung terkejut setengah mati. Betapa dinginnya air yang baru saja membuat kesadarannya langsung sepenuhnya kembali?


"Wahahaha, akhirnya bangun juga dia. Bagus, bagus, tanpa perlu berteriak-teriak atau menyentuh tubuhnya, akhirnya bisa bangun juga." suara tawa dari seorang perempuan langsung menggema ke segala sudut ruangan tersebut.


"Siapa kau?! Kenapa kau menyiramku?!" tanya Vina. Walaupun suaranya sangat pelan dan lirih, tapi tidak membuat wanita berambut pirang dengan pakaian jas hitam di tubuhnya itu tidak mendengarnya atau bahkan tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Vina ini.


"Aku siapa, itu bukan urusanmu. Lagi pula tidak ada waktu juga kau mengenal siapa aku. Dan alasan aku menyiram kau, itu juga karena dengan baik hati, aku ingin membangunkanmu, karena sekarang sudah waktunya makan." wanita ini pun menjelaskan segala alasannya kepada Vina seraya menyodorkan piring berisi lauk pauk yang setidaknya cukup lengkap, ada sepotong telur rebus, rebusan kentang, siwiran daging ayam, serta semangkuk nasi yang sudah di campur dengan sup.


Mau dilihat dari sudut manapun, walaupun itu terlihat bagus, tapi tetap saja juga ada kesan jijik.


Sampai Vina sendiri merasa itu bukan makanan yang pas untuknya.


"Lebih baik aku makan nasi dan kacang goreng saja dari pada itu." gerutu Vina, bahkan sudah di perlihatkan makanan yang layak di makan itu di depannya, tapi dengan begitu enggan makan itu, Vina benar-benar menolaknya.


"Yah terserah, itu akan jadi menu selanjutnya, jika kau benar-benar ingin makan itu. Tapi yang paling penting, sekarang kau harus makan ini sekarang juga!" dengan ekspresi wajahnya yang kesal itu, wanita itu pun langsung mencengkram rahangnya Vina agar Vina membuka mulutnya lebar-lebar, dan setelah itu, barulah tangan kirinya dia gunakan untuk menyendok makanan yang sudah bercampur aduk itu kedalam mulutnya Vina.


"T-tidak- aku tidak mau-mphhh..!" dengan sangat tegas, keras, bahkan perlawanannya yang begitu sia-sia, membuat satu suapan yang terasa menjijikan itu akhirnya langsung masuk kedalam mulutnya. 'H-hambar sekali! Makanan macam apa yang dia berikan kepadaku?!' protes Vina detik itu juga. "Huweekk~"


Dengan cepat, muntahan itu hampir saja mengenai sepatu yang di gunakan oleh wanita tersebut.


"Akhh...! Dasar kau! Tidak tahu diri sekali, padahal aku menyuapimu agar kau bisa makan. Tapi kau seenaknya malah memuntahkannya?!" marah wanita ini kepada Vina yang terlihat tidak sopan atau bahkan lebih ke tidak bersyukur, padahal masih bisa di beri makan, tapi Vina justru memuntahkannya.


"Kak, lebih baik paksa saja terus, lumayan juga melihat penampilannya yang bertambah menjijikan itu," ucap rekan kerja dari wanita itu.

__ADS_1


"Kau benar juga, bisa membuat penampilannya lebih kotor dan jelek, jauh lebih baik. Percuma juga kan ya, marah-marah tidak jelas tapi hanya membuatku lelah bicara," sahutnya.


"Nah itu, yang penting tugas kita memberikan dia makan kan tuntas, membuat dia mandi juga beres, jadi tunggu apa lagi, sikat habis saja sekalian, buat dia tambah seperti gelandangan, atau bahkan seperti jala*ng yang di buang di pinggir jalan,"


Semua hinaan itu pun terus tertuju pada Vina, meskipun Vina sendiri tidak tahu apa yang di katakan oleh teman dari wanita yang baru saja menyuapinya makanannya itu.


Tapi karena instingnya mengatakan kalau dirinya akan mendapatkan hal yang lebih buruk lagi, Vina pun ingin sekali berteriak.


Tapi karena suaranya tiba-tiba saja hilang sendiri, maka hal itu pun jadi sebuah kesempatan besar untuk dijadikan bahan bulan-bulanan.


"Nih makan, makan yang banyak ya~" ucap salah satu perempuan di depannya Vina itu.


Seperti yang terjadi saat pertama tadi, rahangnya kembali di cengkram kuat, dan di saat itu juga, makanan yang di bawa itu langsung di masukkan kedalam mulutnya Vina.


"Unghh-mphh..!" seketika itu, begitu mulutnya sudah di masukkan nasi dan segala lauk dengan paksa, mulutnya bahkan langsung di tutup, membuat Vina yang merasa eneg itu tidak bisa memuntahkan makanannya. 'Padahal perutku sedang tidak enak, aku tidak bisa menelan makannya, karena setiap kali aku makan, inginnya selalu saja muntah.' pikir Vina.


Matanya sudah berlinangan dengan air mata, rasa sakit di sekujur tubuhnya kembali kambuh saat tubuhnya harus bergerak diluar batas kemampuannya lagi, sebab sudah terlalu lemas, apalagi dengan dada yang terasa sesak, setiap nafas yang dia ambil saja cukup sakit, dia sungguh dirinya seperti berada di dalam neraka.


"Hahaha, ini makan lagi, habiskan ya. Jangan sia-siakan makanan yang mahal ini loh~"


"Iya, kau tidak tahu ya, kalau satu mangkuk nasi saja harganya sudah mahal, tidak seperti di negaramu itu yang serba murahan."


Ucap mereka, terus menghina Vina.


_____________

__ADS_1


Sudah lebih dari dua hari semenjak Elvano meminta bantuan dari Delvin untuk menemukan apa yang sebenarnya terjadi kepada Vina. Tapi sampai sekarang saja tidak ada satu pun kabar dari anak muda itu.


Dan Vano yang masih dalam masa pemulihan itu, terus mendapatkan terapi dengan macam-macam alat, agar pemulihannya bisa berjalan dengan cepat.


Termasuk dengan ingatannya yang satu per satu, mulai pulih, walaupun hanya satu atau dua ingatan saja yang dia miliki, bagi dokter yang bertanggung jawab atas kondisi Elvano, itu merupakan kemajuan yang cukup bagus.


Tapi, Vano yang tidak memperdulikan soal tubuhnya gimana atau apapun itu, pikirannya itu terus saja tertuju pada Vina yang sampai detik ini saja tidak bisa di hubungi.


"Tuan, kenapa anda terus memasang wajah dingin seperti itu? Apakah ada masalah?" tanya dokter tersebut terhadap Elvano yang kini tubuhnya sedang di pijat.


Itu adalah salah satu layanan yang di berikan dari pihak rumah sakit untuk Elvano.


"Vina, aku sama sekali tidak bisa menghubungi wanita itu," jawab Vano dengan jujur. Bahkan karena saking malasnya, bosannya, karena tidak bisa menghubungi Vina berkali-kali, dia pun jadi serasa semakin stress.


Bahkan handphone yang tadinya terus di pegang itu, kini akhirnya di letakkan di atas nakas, dan segera menikmati pijatan dari dokter pribadinya itu.


"Memangnya sudah berapa hari anda tidak bisa menghubunginya?"


"Gara-gara Delvin juga, totalnya aku sampai tidak bisa menghubunginya hingga sepuluh hari lamanya.


Delvin ini, katanya aku ini hebat, seharusnya dia yang merupakan anak buahku itu, juga sama-sama hebat denganku, ya kan? Kenapa hanya mencari Vina saja sampai selama ini? Aku sudah sangat lelah menunggu," gerutu Vano dengan wajah masih di posisi telungkup menghadap ke arah sebuah lubang yang menjadi tempat dimana wajah Vano berada.


"Ya ampun, jika sudah selama itu, artinya pasti ada yang sudah terjadi kepadanya. Antara mengganti nomor, atau satu lagi, yaitu jika mengingat posisi anda itu siapa, seharusnya anda sudah tahu satu konsekuensi dari orang yang berhasil menyelamatkan anda," begitu dokter ini menjelaskan dua kemungkinan tersebut kepada Vano, Vano seketika itu juga langsung terdiam.


'Benar juga, jangan-jangan itu!' Vano yang langsung tersadar dengan kemungkinan besar apa yang sudah terjadi kepada Vina, mengingat dirinya adalah orang yang berhasil Vina selamatkan dari maut, itu artinya Vian berada di tangan orang-orang yang sedang mengincarnya.

__ADS_1


__ADS_2