
"Apa kau tahu, ucapanmu itu sangat menggangguku?!" tegur Elvano, dia masih mencoba untuk menahan kemarahannya, sekalipun semua urat nadinya yang ada di wajah atau bahkan lehernya, tampak begitu jelas.
Vina yang bingung dengan kemarahan yang di perlihatkan oleh pria ini, Vina pun segera menjawab, "Aku hanya bicara yang semestinya aku bicarakan, kenapa kau! Ah tidak~ lagian kenapa aku bisa hamil? Padahal kem-"
"Vina! Apa kau berpikir kalau anak di dalam perutmu itu miliknya Abel? Padahal akulah yang membuatnya denganmu sepanjang hari?!" bentak Elvano terhadap Vina yang sudah membelalakkan matanya dengan tatapan mata tidak percaya.
"A-apa?!"
Vina ingin segera bangkit dari atas pangkuannya Elvano, akan tetapi sepasang tangannya Vano yang kekar itu justru terus menahan bahunya Vina agar tidak beranjak dari tempatnya.
"Hah~ Kalau bercanda jangan berlebihan deh, mana mungkin aku dan kau melakukan itu- memangnya kau dan aku ini siapa? Kau tetaplah orang asing dari negara asing, dan aku-" Vina terdiam sejenak untuk mengatur nafasnya dan kemudian dia berbicara lagi, "Hanya orang desa, kau dan aku itu beda kasta, jangan membuat lelucon berlebihan seperti ini, ini tidak lucu sama sekali!" ungkap Vina.
Elvano yang mendengar penjelasan dari Vina, terus mendengarkan sambil memperhatikan terus wajah Vina yang memang terlihat serius dengan apa yang di ucapkan nya sendiri.
"Kau tidak percaya?" tanya Vano dengan wajah seriusnya.
"Ya, aku tidak percaya, lagian apa-apaan sih, ini sangat tidak menyenangkan sama sekali," gumam Vina, lalu di lanjutkan dengan kata batin yang menyatakan kalau jantungnya sebenarnya benar-benar sangat berdebar.
"Hah~ Ternyata aku memang harus membuktikannya kepadamu," cibir Vano setelah menghela nafas dengan kasar.
'Apa-apaan dengan tatapan matanya itu?' pikir Vina, untuk beberapa saat, Vina seperti baru saja melihat sorotan mata Elvano yang terlihat sangat jauh dari kata hangat, bahkan sangat bertolak belakang dengan ekspresi wajahnya yang tadi. Di ibaratkan, Vano seperti baru saja mengibarkan bendera perang!
"Aku akan membuktikannya kepadamu, atau setidaknya biar kau sadar sepenuhnya dari tidurmu," ucap Vano, dan tiba-tiba saja pria ini membopong tubuhnya Vina pergi dari bangku taman.
"Apa yang mau kau lakukan?! Turunkan!" teriak Vina dengan penuh amarahnya.
Sangat tidak di pungkiri, Vina sangat terkejut dengan semua sikap yang di perlihatkan oleh pria yang dia anggap sebagai orang asing ini, karena sebagai kaum jomblo, dia tentu saja sangat merasa aneh.
"Kau kan tadi tidak percaya, maka aku membawamu untuk membuktikan apa yang aku katakan tadi, di perutmu itu ada anak kita, dan lagian sebentar lagi kan kau lahiran, sekarang waktunya yang tepat untuk olahraga juga," dengan tampang wajahnya yang cukup serius itu, Vina jadi kehilangan kata-katanya.
'Olahraga apa? Kenapa aku tiba-tiba jadi setakut ini kepadanya?' Vina menelan salivanya sendiri.
Begitu masuk ke dalam rumah, Vina langsung di kejutan dengan keberadaan mereka berdua yang justru masuk rumah lewat pintu kaca dari balkon kamar yang terhubung langsung dengan taman tadi.
Dengan perlahan Vina di turunkan ke atas tempat tidur, dan aksi selanjutnya yang paling membuat Vina seperti akan kena serangan jantung adalah ketika Elvano yang tiba-tiba saja membuka pakaiannya.
__ADS_1
"Kau mau apa?! Pergi! Jangan ganggu aku!" dengan wajah marah-marah, Vina menendang Elvano yang hendak mendekatinya.
GREP...
Tapi, sayangnya kedua kakinya Vina, berhasil Vano tangkap dan langsung di buka lebar, sehingga Vano secara perlahan, mampu menanggulangi bencana yang bisa membuat satu-satu aset berharganya di tendang oleh Vina.
"Mengganggu apanya? Kau sendiri yang tidak percaya denganku kan? Aku hanya ingin membuktikan kalau aku ini adalah satu-satunya orang yang membuatmu seperti ini, Vina-" jawab Elvano, tangannya terangkat dan mendarat di atas perutnya Vina, mengusapnya dengan kelembutan yang menciptakan sensasi geli yang cukup menggelitik setelah diberikan kecupan singkat di tepat di atas pusar milik dari Vina itu sendiri.
CUP....
__________
"Akhhhh?!" teriak Vina.
Sontak matanya terbuka lebar, jantungnya sudah berdegup kencang dam cepat, serta pikirannya yang tidak kalah syoknya, dia terus teringat dengan kecupan hangat yang justru mendarat di perutnya persis, perutnya yang sangat buncit.
"Hah ... Hah ... Hah ..., tadi itu apa? Mimpi gila macam apa itu?" keluh Vina, dia mengusap wajahnya dengan kasar, dan sudut matanya pun melihat Elvano yang baru saja menjadi tokoh utama dalam mimpinya tadi, sekarang sudah ada di sampingnya dengan ekspresi khawatir.
"Vin?! Ada apa? Akhirnya kau bangun juga, apa kau baru saja mimpi buruk?" tanyanya dengan penuh kekhawatiran.
'Kenapa dia meraba perutnya? Apa dia sakit perut?' matanya terus terpaku pada perutnya Vina. Dia tidak paham apa yang di lakukan oleh wanita itu, makannya dia terus memperhatikannya sedemikan rupa untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. "Apa perutmu sakit? Aku akan panggilan dokter,"
Baru juga mau beranjak dari tempat duduknya, tangannya Elvano langsung di cengkram oleh Vina, agar tidak pergi.
"Aku tidak apa-apa,"
"Kau baru sadar, dan baru bangun tapi kau sudah memegang perutmu- kau harus di periksa dulu, nanti baru cerita, karena kelihatannya kau ingin bicara denganku lebih banyak," sela Elvano saat itu juga. Sambil memperhatikan kondisi Vina yang memang baru saja pulih dan juga baru sadar, dia juga tahu arti dari tatapan mata Vina yang begitu berani itu, seperti ingin mengutarakan banyak kata kepadanya, untuk menjalin komunikasi.
Vina yang tidak mampu untuk menahan keinginannya Vano, pada akhirnya dia pun melepaskan cengkraman tangannya.
'Bahkan kehangatannya masih sama, sedangkan yang tadi itu benar-benar hanya mimpi. Tapi kenapa aku merasa itu juga seperti kenyataan? Apa saking jomblonya aku, aku sampai punya mimpi seekstrim begitu dengan orang ini?
Kalau aku cerita, aku pasti hanya jadi bahan tertawaannya, sebaiknya aku diam saja dan bahas yang lain saja.' setelah di pikir cukup matang, Vina pun membiarkan pria itu pergi dari kamarnya?
Nah, baru juga menyadari kalau dirinya sekarang ada di dalam sebuah kamar, tapi bukan kamar rumah sakit, saat itu pula Vina jadi melamun, sebab kamar yang dia tinggali sama persis dengan apa yang ada di dalam mimpinya tadi.
__ADS_1
'Apekah?' Vina jadi langsung tersenyum mencibir, dia melihat baik itu dekorasi kamar, lemari, balkon kamar yang terhubung dengan sebuah taman, dan juga pohon rindang yang ada di luar sana.
Semua itu menjadi satu pemandangan yang membuat Vina seperti akan memasuki era baru kehidupannya.
"Apa itu buah mimpi yang akan menjadi kenyataan?" Vina cengar cengir melihat pemandangan di luar yang menunjukkan jam sore, sepoi-sepoi angin lembut di sore senjata itu tiba-tiba jadi membuat Vina akhirnya melamun.
_______________
"Nona tidak memiliki penyakit apapun, yang di butuhkan sekarang hanya istirahat untuk pemulihannya. Apalagi mengingat hasil operasi pengangkatan peluru itu membutuhkan waktu yang lama, jadi jangan membuat Nona beraktivitas banyak lebih dulu."
Elvano yang sedang mendengarkan semua penjelasan dari dokter pribadinya sendiri dengan sangat seksama, sesaat dia sadar dengan tatapan mata tajam dari seseorang yang sedang mereka berdua bahas.
Ya ... siapa lagi kalau bukan Verina?
'Baru bangun, tapi dia sudah bisa berkeliaran.' nahas, karena Elvano tahu kalau Vina mendengar pembicaraan merea berdua, Elvano pun angkat suara, "Lain kali kalau mau bicara, di ruangkanku saja. Dia bukan wanita yang akan tinggal diam, begitu sudah sadar dari tidurnya," lirih Elvano kepada dokter tersebut.
Jason, dia yang merupakan seorang dokter pribadi dari Tuan muda Elvano, akhirnya mendapati tatapan sengit dari pasiennya sendiri.
"Baik, karena pemeriksaannya sudah selesai, saya undur diri lebih dulu," jawab Jason.
TAP ... TAP ... TAP ...
Elvano berjalan menghampiri kamarnya Vina, dan begitu dia membuka pintunya, akhirnya dia pun melihat Vina yang masih berdiri di balik pintu tersebut sambil memandang ke arahnya.
"Apa kau mendengar semuanya?"
"Apa kau mau menceritakan semua yang sedang kau hadapi?" tanya balik Vina. "Aku bukan mau ingin mendapatkan balas jasa atau apapun itu, karena aku menyelamatkanmu dari kematianmu waktu itu.
Tapi kenapa aku tiba-tiba jadi terlibat sampai sejauh ini? Apa kau mau menceritakan semua yang kau tahu kepadaku? Gara-gara semua ini, tanganku jadi seperti ini," Vina menyentuh tangan kanannya yang sudah dalam kondisi di gips.
itu pertama kalinya, dirinya malah mendapatkan kecelakaan paling berat yang pernah dia dapatkan seumur hidupnya.
"Ok, aku akan menceritakannya kepadamu, tapi-" menatap tangannya Vina yang kadang kala terus menyentuh perutnya, Elvano pun ingin minta penjelasan soal alasan kenapa Vina tiba-tiba bangun dengan berteriak seperti itu. "Apa kau juga mau menceritakan yang kau alami saat kau tidak sadar? Sampai akhirnya kau bangun dengan berteriak seperti itu?"
'Dia, memang orang yang licik ya? Aku sebenarnya marah, aku cukup kesal, karena berkat dia, aku jadi masuk ke ruang lingkup kehidupan pribadinya yang ternyata cukup rumit. Terlebih lagi, gara-gara dia, tanganku jadi seperti ini. Tapi, jika aku membahas apa yang aku impikan tadi kepadanya, kenapa aku jadi malu?' Vina pun hanya bisa mengangguk dengan anggukan lemah.
__ADS_1