Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Rangkulan


__ADS_3

Vina langsung terpegun, rupanya Elvano mampu bicara dengan terus terang seperti itu tentang fisik seseorang di depan orangnya secara langsung, dan sekarang yang terjadi adalah di depannya Vina langsung.


Vina mengakuinya, dia sama sekali tidak menyangkalnya kalau dirinya jelek, tapi entah kenapa di dalam dadanya dia merasakan sedikit perih, padahal itu adalah fakta yang bisa di lihat dengan jelas.


'Untuk apa aku mendengarkannya? Kenyataannya aku kan memang seperti ini, dari pada memikirkannya aku harus tetap menerima perkataannya itu, meskipun lumayan nylekit.' pikirannya sama sekali tidak berubah, dia benar-benar merasa sakit, tapi apa boleh buat, itu pantas untuk dirinya di katai jelek.


"Apa kau sakit hati?" tanya Vano dengan jelas. Dia tahu apa yang di katakan nya cukup menjadi hinaan yang lumayan kasar, tapi dia hanya bicara apa adanya, dan lebih baik jujur ketimbang harus berbohong, karena itu justru akan lebih menyakitkan.


"Ya, aku lumayan sakit hati, karena aku memang jelek. Makannya aneh saja, aku yang jelek ini kenapa bisa di sukai oleh orang sepertimu?" Vina tidak berani berpaling dari tempatnya untuk menatap lawan bicaranya.


Dia takut, sekaligus enggan untuk menghadapi wajah dengan berjuta pesona itu.


Sangat tidak adil, ketika banyak orang yang melirik ke arah Elvano, Elvano malah melirik ke arah Vina.


Itu menjadi beban berat yang tidak mampu Vina tanggung secara terus menerus.


"Keluar sana," Vina mengusir keberadaan Elvano.


Mulut yang awalnya tertutup itu mengatup dan berkata, "Tidak. Pekerjaanku bisa aku kerjakan nanti, dari pada melihatmu bersedih sendiri di dalam kamar, mending aku menemani rasa sepimu itu"


'Kenapa dia terus saja seperti ini? Kalau seperti ini terus ke depannya, apakah aku akan sanggup menghadapinya? Kebaikannya, pesonanya, dan godaannya?' pejam Vina, dia sebenarnya tidak ingin memikirkan hubungan diantara mereka berdua untuk ke depannya. Akan tetapi itu tidak bisa terjadi, karena dia sendiri adalah orang yang cukup pemikir.


Namun, ada yang lebih Vina khawatirkan.


"Apa aku sama sekali tidak bisa bicara dengan kedua orang tuaku?" akhirnya Vina bertanya soal keluhannya itu, karena selama ini dirinya tidak pernah sekalipun menghubungi kedua orang tuanya.


Tapi, sayangnya dari tadi dia sama sekali tidak mendapatkan jawabannya.

__ADS_1


'Kenapa dia tidak menjawab?' tanya Vina pada dirinya sendiri.


Karena penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada orang yang ada di belakangnya, Vina pun menoleh ke belakang dan melihat pria yang sempat menyindirnya, tiba-tiba saja sudah tidur.


'Dia tidur? Apa dia kelelahan bekerja? Mau bagaiamanapun, bekerja sambil duduk memang hal yang sangat membosankan.' melihat wajah kalem milik Vano yang sedang tidur, Vina perlahan terus memperhatikannya. 'Memang tidak ada duanya. Kira-kira kedua orang tuanya seperti apa ya?'


Terhanyut dalam pikiran yang membuatnya tidak mampu berpaling dari wajah yang sedang santai itu, Vina tiba-tiba mencoba untuk mengangkat tangan kanannya.


'Akh~ Ini bahkan masih sakit.' Vina langsung sedih, dia ingin menyentuh rambut itu, tapi dia sendiri kesulitan untuk menggapai wajah tampan itu. "Aku jadi ragu, apakah tanganku bisa normal lagi. Biasanya kalau tangan pernah cedera, susah sembuhnya."


Ada perasaan yang cukup menyesal pada diri Vina, karena dia jadi terlibat dalam masalahnya Elvano, tapi di satu sisi dia sendiri setidaknya bisa jadi seorang pahlawan untuk pria itu, walaupun tidak seberapa.


Karena Elvano sudah tidur, Vina pun bebas mengekspresikan diri. Dia menghela nafas dengan panjang, rasa lelah memang ada, kantuk pun ada, tapi rasa frustasi karena bukan berada di rumahnya, tetap menyelimutinya.


"Aku ingin pulang. Walaupun hanya punya tempat tidur yang keras, itu lebih baik dari pada numpang. Semoga semua ini bisa cepat berakhir, aku ingin bisa pulang dan bebas dari semua ini," harap Vina, dia kembali memiringkan tubuhnya untuk memunggungi Elvano, lalu perlahan dia pun memejamkan matanya.


Jadi, sebelum hubungan ini lebih jauh, semua perasaannya harus aku tolak dengan jelas.' pikir Vina.


Jika Vina terus mengeluh keinginan terbesarnya untuk bisa pulang, Vano yang sebenarnya masih belum tidur itu, justru berpikir lain, 'Aku tahu kau ingin pulang ke negaramu. Tapi setidaknya, selama kau berada di sini, kau harus lebih mengenalku dan tempat tinggal aku.


Tidak ada yang tidak mungkin, aku akan mewujudkan semua keinginanku dan membuatmu ada di genggamanku.


Jadi, jangan salahkan aku Vin, kebaikanmu yang tidak seberapa itu, ternyata tanpa sadar memicu perasaanku.'


Elvano membuka kelopak matanya lagi, setelah itu dia pun menatap punggung Vina yang tampak kecil itu.


Dia terus menatapnya, sampai Elvano sendiri sempat terbesit sebuah pikiran soal tubuh Vina yang tampak kecil itu.

__ADS_1


'Kau seperti bisa remuk kapanpun aku memegangnya. Tapi di balik itu semua, kau ternyata wanita yang cukup kuat. Aku jadi ingin mengukurnya.' tiba-tiba pandangannya itu terpaku pada pinggangnya Vina.


Dia mencoba untuk mengukur pinggang itu dengan sejengkal dari tangan kanannya, dan benar saja, lebar pinggang itu membuat Elvano sedikit terkejut.


'Lebarnya hanya sejengkal telapak tanganku? Yang benar saja? Aku baru menyadarinya, ini ternyata begitu kecil. Apa jika aku memegang pinggangnya itu, tubuhnya akan patah?' perlahan tangannya pun menghampiri pinggangnya Vina yang ada di depan matanya persis.


Awalnya dia sekedar ingin mengukurnya tanpa menyentuhnya. Tapi berkat rasa penasaran yang ada di dalam dirinya, Elvano tanpa sengaja jadi menyentuh pinggangnya Vina.


'Hangat. T-tapi sepertinya aku membuat kesalahan.' terlanjur tangan kanannya memegang pingangnya Vina, Elvano dengan cepat langsung menutup matanya.


"Vano, apa kau belum tidur?" tanya Vina sambil menoleh ke belakang dengan sipu malu di wajahnya, karena tangan kanannya Elvano yang kekar itu tiba-tiba saja sudah mendarat di atas pinggangnya. 'Ini geli. Aku pikir dia sudah bangun, tapi sepertinya dia tidak sadar melakukannya.'


Begitu polos dengan pikirannya sendiri, Vina langsung menepis tangannya Elvano dari pinggangnya.


Namun, baru juga di tepis, tangan itu justru lebih ganas untuk melingkar di pinggangnya Vina dan berakhir dengan mengusap perutnya?!


'Elvano, apa dia benar-benar tidur? D-dari pada aku di goda setan seperti ini, lebih baik aku membangunkannya saja.' Vina yang sudah punya pikiran seperti itu, langsung mencubit salah satu jarinya Elvano.


GRTTT...


'Gara-gara tangan kananku tidak bisa aku gerakkan dengan leluasa, aku terpaksa mencubitnya. Tapi apakah sudah mencoba sekuat ini, dia masih saja belum bisa bangun juga?' tanya Vina kepada dirinya sendiri.


'Ini cukup sakit, tapi aku sama sekali tidak bisa membiarkan kesempatan ini.' Elvano yang bersikeras pada keinginannya itu, terus berpura-pura tidur.


'Vano! Aku sudah mencubitnya sekuat ini, tapi dia bahkan sama sekali tidak bereaksi? Apa kulitnya kulit buaya? Saking tebalnya, bahkan sama sekali tidak terasa?!' teriak Vina dalam benaknya.


Padahal hanya menghadapi satu orang yang sedang tidur, namun rupanya itu bukanlah perkara yang cukup mudah.

__ADS_1


__ADS_2