
“Hehehe, rencana kita benar-benar berhasil!” kata pria ini melihat satu wanita yang menjadi incarannya, sekarang sudah duduk di belakang mobil dengan begitu tenang.
Dengan bantuan seseorang yang bisa menghipnotis, mereka akhirnya bisa membawa Vina pergi dari sana saat itu juga.
Itu adalah kemajuan yang bisa dijadikan sebagai bahan prestasi.
“Jangan senang dulu, kita tidak tahu apa yang menghadang kita di depan,” kata orang ini, berperan untuk menyetir mobil.
“Iya, tapi sekarang tujuan kita membawanya pergi ke bandung? Jakarta? Atau mana?” menoleh ke arah temannya.
“Jakarta, ada seseorang yang sedang menunggunya di sana,” jawab supir ini.
Lalu mobil van hitam ini pun pergi menuju jakarta?
Untuk memangkas perjalanan, mereka mengoper Vina dengan menggunakan helikopter.
Karena Vina kena hipnotis, dan sekaligus diberikan obat bius, maka lag-lagi Vina pun kecolongan, karena dirinya berhasil diculik lagi oleh penjahat.
___________
Kembali ke tempat dimana pertarungan sengit itu berada.
“Apa ini yang namanya awal dari runtuhnya Travers?” gumam Evan, dia berdiri di ambang pintu rumahnya sendiri, dan melihat dari kejauhan sebuah kota yang tampak jadi terlihat kecil untuk dipandang.
Disanalah, tempat dimana Evan tinggal, di sebuah mansion di salah satu bukit yang menghadap ke arah kota paris.
Walaupun tidak begitu tinggi, tapi hal itu masih bisa menikmati pemandangan dari kota di depan sana.
“Hahh, untung aku menyadari kalau cincin yang sempat aku pakai terdapat alat pelacak, jika tidak, kemungkinan besar aku justru akan langsung berhadapan dengan anak itu.
Yah, walaupun aku tidak begitu mempermasalahkannya, karena aku ingin bertemu langsung dengannya.
Tapi mau bagaimanapun juga, dia tentu saja harus melewati banyak rintangan dulu,” menikmati suasana malam yang dingin dan tenang, Evan cukup senang dalam kondisi seperti itu, meskipun yang membuatnya tidak begitu senang adalah ketika dia harus menerima fakta kalau kedua orang tuanya sebenarnya meninggal.
Tempat itu menjadi saksi bisu kebersamaannya bersama dengan keluarga kecil, tapi semua itu sudah tidak ada lagi, setelah kepergian mereka.
“Apa dengan seperti ini, pembalasan bisa membuatmu merasakan jauh lebih baik?” tiba-tiba saja temannya datang dari arah belakang.
“Mungkin saja. Aku tidak pasti, tapi aku akan tetap bersikukuh pada tujuan awal, yaitu membuat Elvano kena imbas dari apa yang sudah dilakukan oleh keluarganya itu kepadaku,” jawab Evan, menatap langit yang begitu bersih dan hanya dihiasi oleh taburan bintang yang tidak bisa terhitung jumlahnya.
“Hmm, aku juga. Gara-gara mereka, aku juga jadi kehilangan Istri dan anakku,”
“Kau masih muda, tapi sudah punya anak?” tanya Evan.
“Apa salahnya? Bahkan jika kau memang sudah ingin punya teman untuk diajak bicara di luar datau di rumah, kau hanya tinggal mencari wanita dan membuat anak agar bisa bertambah banyak,” jawabannya benar-benar menyinggung Evan yang masih jomblo, sekalipun dia sudah berkepala tiga.
“Enak sekali kau, seolah semua itu bisa dilakukan dengan mudah.”
“Kalau atas dasar cinta, itu cukup mudah, kau bisa merelakan apapun yang sebenarnya kau inginkan, hanya demi mendapatkan hatinya,” pungkas pria ini. “Kau juga bisa melakukannya kok. Seperti aku contohnya, aku menyukai Istriku sejak aku usia delapan belas tahun, menikah di usia sembilan belas, saat itu juga di umur dua puluh aku sudah punya anak dengan cintaku itu, tapi semua itu berakhir sudah,”
Dia tidak bisa berkata lebih banyak dari itu, karena setiap kali mengatakan cerita kelamnya, dia jadi semakin sakit hati dengan takdirnya yang harus berpisah dengan orang-orang yang dicintainya hanya karena satu orang pembuat onar, yaitu Arthur.
“Hmm, jadi seperti itu ya, cerita kalian?” di tengah-tengah pembicaraan mereka berdua, tiba-tiba datang tamu tidak diundang.
__ADS_1
Saat mereka berdua menoleh ke kanan dan kiri, mereka berdua bingung soal asal dari suara yang barusan mereka berdua dengar.
“Suara siapa tadi?” gumam Evan.
“Kau mencariku?” suara itu kembali muncul.
Evan dan temannya langsung mendongak ke atas, dan melihat ada satu orang laki-laki yang sedang duduk di kursi sambil minum teh.
“K-kau?!” Evan sontak jadi panik, sebab satu satunya orang yang bisa muncul di manapun itu, justru adalah lawannya sendiri.
“Siapa dia?” tanya temannya Evan.
“Dia yang aku ceritakan, Elvano! Tuan muda berandalan itu!” jelas Evan dengan raut muka yang begitu panik.
“Apa?”
“Ohoho, jadi kalian berdua yang membuat aku kewalahan kesana kemari seperti setrikaan baju?” kekeh Elvano, dia benar-benar berhasil menemukan lokasi dari rumah yang dijadikan tempat bersemayamnya orang yang berhasil menciptakan keributan dengannya.
“Kau tidak mungkin, kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Evan.
“Aku Hanya tinggal mencari jejak dari setiap titik yang aku dapatkan dari alat pelacak yang ada di cincinku itu. Dan sangat kebetulan sekali, ternyata ada di atas bukit seperti ini. Rumahnya indah dan lokasinya bagus, ini bisa jadi tempat yang cocok untuk lokasi pernikahanku,”
“Hah?!” dua orang itu pun begitu ketakutan untuk setiap senyuman yang menghiasi bibirnya Elvano.
Tampak seperti senyuman yang ramah, tapi justru adalah sebaliknya, itu adalah senyuman penuh dengan kejahatan.
Elvano yang sudah cukup lelah dengan semua permainan itu, tiba-tiba melompat dari lantai dua tanpa pengaman apapun.
“Hahaha, apakah paman mengenal orang berandalan sepertiku?” Elvano benar-benar berani untuk meledek orang yang lebih tua darinya itu.
“Tentu saja, karena berkat orang tuamu itu, semua keluargaku jadi meninggal karena dibantai oleh orang seperti- kalian!” suara yang tadinya terdengar ramah, begitu di kalimat terakhir, nadanya berubah menjadi begitu rendah, dan sorotan matanya yang begit tegas, menyiratkan kemarahan dan dendam yang selama ini di pendam.
Sudah berapa lama kemarahan yang ada pada dirinya itu dipendam?
Elvano yang ikutan berekspresi serius, memperkirakan hal itu terjadi cukup lama.
“Jangan menyalahkan takdir,” kata Elvano.
“Takdir katamu? Mereka dibunuh tanpa memikirkan apa yang kira-kira anaknya rasakan, apa kau tidak tahu betapa aku inginnya membunuhmu?”
“Aku tahu, di matamu sudah terlihat untuk menjelaskan situasimu yang ingin balas dendam kepadaku?
Seharusnya kau lampiaskan itu kepada orang tuaku, bukan aku.
Tapi seperti yang kau lihat, kedua orang tuaku saja sudah tidak ada, dan kau sekarang mengincar aku?”
“Selama keluarganya memiliki darah orang itu, berarti itu sama saja untuk jadi bahan pelampiasan dari perbuatan orang tuamu itu!” jawab Evan, dia terus mempertegas kalau masalah ini lebih dulu berkaitan dengan masalah yang dilakukan oleh Ayahnya Elvano itu sendiri.
Vano terdiam, lalu dia pun melirik ke arah satu orang lagi yang ada di sebelahnya Evan itu.
“Lalu kau, apa yang terjadi padamu?”
“Apakah aku perlu menyebutkan masalahku kepada orang yang akan mati disini?” balasnya.
__ADS_1
Elvano kembali di buat diam, ternyata meskipun yang dia lawan adalah dua orang, tapi tetap saja cukup merepotkan.
SYUH …
Tiba-tiba salah satu orang sniper, menembak ke arah Vano.
CTANG …!
Dentingan antara peluru dengan pisau belati, menciptakan suara yang begitu nyaring.
‘Apa? Ditangkis? Di suasana yang minim cahaya seperti ini?!’ terkejut bukan main, dengan cara Elvano menangkis peluru itu.’Dia seperti monster.’ detik hatinya.
“Apa kalian begitu ingin balas dendam? Kepadaku? Jika ingin, lakukan secara langsung denganku! Jangan menggunakan orang lain!
Apa kalian tidak tahu kalau perbuatan kalian juga sama-sama menciptakan kerugian bagi anak buah kalian sendiri karena perintah konyol hanya karena dendam kalian?!” kilah Elvano.
Dia sungguh benar-benar sangat marah dengan cara berpikir dua orang di depannya itu.
“Mereka mati, tapi karena ulah dari tangan kalian sendiri, bukankah itu artinya kalau keluarga mereka yang mati karena ini, patut untuk dijadikan bahan dasar membalaskan dendam mereka pada kalian berdua?!” imbuh Elvano.
“Aku tidak peduli dengan orang lain, yang penting dendamku bisa aku lampiaskan pada orang-orang sepertimu yang sok punya status tinggi!” teriaknya.
Suasana di sana pun jadi semakin mencekam, untuk menghindari skenario terburuknya, Evan pun melemparkan bom asap.
DHUAK …!
Elvano dengan begitu tangkas, langsung menendang bom itu sebelum meledak dan menciptakan asap yang mengganggu jarak pandangnya.
“Ayo, perlihatkan semua kemampuan kalian jika kalian memang ingin balas dendam. Aku sudah ada disini sesuai dengan harapan kalian, jadi ayo, lawan kau,” Elvano menawari dengan tawaran yang begitu serius.
_________
Di dalam markas.
“Hadeh, apa yang sedang dilakukan oleh Tuan muda? Kenapa Tuan muda pakai melakukan hal yang tidak berguna seperti itu? Jika sudah menemukan tersangkanya, tinggal lumpuhkan saja, kenapa pakai acara memberikan tawaran bertarung sih? Kan membuang-buang waktu,” bebel orang ini, dia adalah Jefferson, salah satu anak buah Elvano yang sempat bertugas untuk menjaga Vina di rumah sakit satu bulan yang lalu.
"Ini namanya kesempatan, Tuan muda itu ingin membuat mereka berdua bisa melepaskan kemarahan mereka terhadap Tuan muda, sebagai ganti dari Tuan besar yang sudah meninggal," jawab temannya Jefferson.
Mereka berdua pun terdiam sambil melihat pertandingan dari dua orang pendendam dengan Tuan muda mereka sambil memakan popcorn rasa karamel hasil buatan Jefferson.
"Nyam, itu termasuk pemikiran yang hebat dan dermawan," puji Jefferson.
"Makannya, orang tidak terduga seperti Tuan muda itu, memang pantas untuk di jadikan pemimpin kita, ingat itu."
"Hmm, tapi apakah dengan begini kasus yang sempat merembet ke dewan negara akan lolos begitu saja? Ini sudah termasuk teror skala nasional,"
"Itu kan urusannya Tuan muda, yang penting kita masih bisa hidup disini, sehat walafiat, dan menuruti semua tugas Tuan muda jika kita memang benar-benar di butuhkan.
Aku berkata seperti ini karena aku percaya dengan semua keputusan dari Tuan muda,"
Jefferson pun jadi paham betul, tapi dia cukup merasa miris, karena akibat dari kasus ini, semua orang jadi kena dampaknya.
"Sepertinya Tuan muda akan benar-benar mengalami krisis keuangan. Saham pasti anjlok," beritahu Jefferson.
__ADS_1