Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Gara-gara pembalut


__ADS_3

"Ya ampun, kenapa bisa seperti ini?" rutuk Vina, dia merasa sangat terpukul dengan apa yang sedang dia hadapi saat ini.


Karena itu, Vina pun keluar dari toilet lebih dulu, dan dengan langkah mengendap-endap, Vina menilik keluar toilet untuk mencari keberadaan dari Vano.


"Apa kau sudah selesai?" tanya Vano dengan cepat.


"Hwah!" suara milik Vano yang terdengar secara tiba-tiba, alhasil membuat Vina jadi terkejut setengah mati, apalagi Vano yang rupanya malah sedang bersandar di dinding depan toilet wanita, hal itu justru jadi lebih mengejutkan jantung miliknya.


Bisa-bisanya, seorang pria malah dengan terang-terangan berdiri di depan toilet perempuan.


Bagi Vina, ia merasa ada yang salah dengan isi kepala pria yang terlihat punya umur yang sudah bisa di bilang cukup dewasa itu.


"Pfft, kenapa kau terkejut seperti itu?" tanya Vano dengan tawa kecilnya. Padahal Vina sendiri sadar, alasan dari Vina terkejut adalah karena Vina jelas tidak menyangka kalau dirinya akan di temani sampai terus menunggu di depan toilet perempuan, padahal sekarang sedang banyak-banyaknya perempuan keluar masuk ke dalam toilet.


"L-lagian, kenapa kau malah berdiri di depan toilet wanita?" tanya Vina dengan perasaan tidak puas hati, karena selain jantungnya masih berdebar dengan cepat, gara-gara terkejut, dia juga harus menahan tingkah dari pria ini yang baru saja menertawainya.


"Masa kau bertanya hal yang sudah jelas? Aku kan menunggumu," sahut Vano detik itu juga, membuat Vina sendiri sebenarnya langsung merasa kena tembak pesona dari godaan yang diberikan oleh Vano kepadanya, apalagi orang yang sedang lewat?


Mereka jauh lebih salah paham, karena itu sama saja seperti menyatakan kalau Vano sedang menunggu kekasihnya, karena anak zaman sekarang, satu pikiran yang langsung terlintas adalah apakah mereka berdua kekasih?


"Wihh, ternyata dia yang sedang di tungguin," suara milik kaum hawa pun terdengar lagi.


"Jadi aku tanya, apa kau sud-" ucapannya seketika langsung di sela oleh Vina.

__ADS_1


"B-belum, sini berikan kantong belanjaan tadi," meminta kepada Vano untuk memberikannya kantong berisi belanjaan yang tadi mereka beli di lantai pertama.


"Kau cari apa?" tanya Vano penasaran dengan sikap Vina yang terlihat begitu tergesa-gesa untuk mencari sesuatu yang sebenarnya tidak lain adalah pembalut.


"Cari ini!" tekan Vina seraya mengeluarkan bungkusan besar berisi pembalut itu.


Itulah harta karun milik para wanita di dunia ini yang sebenarnya tidak boleh tertinggal, kapanpun dan dimanapun, apalagi jika sudah mendekati jadwal, itu seharusnya sudah di persiapkan lebih dulu, agar tidak terjadi seperti hari ini.


"Bocor ya~" ledek Vano, membuat sipu malu Vina langsung menjadi-jadi.


"Diamlah, jangan membuatku salah tingkah kenapa sih!" geram Vina, karena sudah saking malunya, dia pun cepat-cepat merobek bungkusan pembalut itu.


Namun, dari sekian banak kejadian yang sudah terjadi di hari yang padat ini, Vina yang sudah merasa lelah, marah, tapi harus di tahan, sayang sekali tidak bisa menahan kekuatannya yang besar itu untuk merobek bungkusan pembalut itu, sampai akhirnya.


Dalam sepersekian detik itu juga, tiga puluh pembalut yang ada di dalam bungkusan besar tadi, langsung jatuh semua.


'Kyaaa! Kenapa malah aku tidak bisa menahan tenagaku untuk membuka plastiknya!' dalam hatinya pun benar-benar meronta, ingin masuk saja ke lubang tikus, jika memang ada.


Tentu saja kejadian itu di saksikan oleh banyak orang, dan Vina yang tidak tahan lagi dengan kejadian paling memalukan yang pernah ada dalam hidupnya itu, sontak langsung berjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


'Aku malu sekali!' teriaknya, tanpa ada yang bisa mendengarnya selain dirinya itu.


Sedangkan Vano, dia langsung mematung, dengan kejadian yang memang super memalukan itu, hanya karena gara-gara pembalut yang seketika langsung bertebaran di mana-mana, seakan sedang menyatakan kalau Vina ini sedang bocor hebat.

__ADS_1


'Dia pasti malu sekali,' pikir Vano, melihat betapa merahnya sepasang telinganya Vina saat harus menghadapi kenyataan pahit yang membuat image nya langsung tercoreng di depan banyak orang. 'Aku bantu saja deh, walaupun sebenarnya aku ingin tertawa keras dengan kejadian ini, tapi hati nuraniku ini terus mengatakan untuk menahannya, karena dia saat ini sedang dalam posisi malu yang paling tinggi.'


"Mas, ini. Aku bantu ambilkan," seorang wanita paruh baya sekitar awal empat puluh tahunan itu tiba-tiba datang membantu mengambilkan pembalut yang berserakan di lantai.


"T-terima kasih," dengan gugupnya, Vano pun jadi ikutan membantu. Lalu Vina yang tadinya berjongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya itu, segera menyadari kondisinya, kalau ada yang harus dia bereskan.


Tentu, dengan perasaan yang tidak karuan, karena malu dengan situasinya sendiri, dia pun memungut barang pribadinya itu.


"T-terima kasih tante," ucap Vina dengan malu-malu. Dia sebenarnya memang cukup malu, tapi lebih malu lagi ketika dia harus melihat Vano yang rupanya membantu memungut pembalut miliknya yang berserakan di jalan, dan membuat banyak orang langsung terhambat untuk masuk maupun keluar dari toilet.


"Iya, sama-sama. Tapi ngomong-ngomong, kekasihmu tampan juga ya?" ucap wanita ini kepada Vina. Dengan pujian yang keluar dari mulutnya, Vina seketika itu juga langsung merasa malu setengah mati, karena akhirnya ada juga yang mengatakan kalau Vano adalah kekasihnya secara langsung, padahal selama ini dia hanya mendengar dari bisikan-bisikan saja.


Maka dari itu, sensasi yang ia miliki pun benar-benar berbeda dari sebelumnya, seakan damage nya benar-benar sangat kuat.


'Kekasih, apakah dia bahkan beranggapan kalau kita ini kekasih? Yang benar saja? Pasti di dalam hatinya berkata, kalau aku tidak pantas,' Vina langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, dan menjawab : "Dia bukan ke-"


Tapi tatapan mata dari sebuah peringatan milik Vano, sontak membuat Vina jadi berpikir keras lagi, kalau dirinya jujur bahwa tidak ada hubungan diantara mereka berdua, Vano akan jadi bulan-bulanan dengan deretan para wanita yang sudah mengantri ingin kenalan dengan Vano.


"Ini sudah beres, lain kali hati-hati ya." ucap wanita ini kepada Vina, seraya memberikan sisa dari pembalut yang bisa dia pungut dengan tangannya sendiri.


Vina hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban miliknya, dan setelah itu, perempuan itu pun pergi, dan Vano yang tadinya terdiam itu, kembali angkat bicara, "Makannya hati-hati, ini, kau pasti sedang butuh, sampai tidak isa mengontrol kekuatanmu sendiri,"


Memberikan pembalut itu kepada Vina, Vina pun segera mengambilnya dan bergegas pergi dari sana, karena dia tidak mau berlama-lama lagi di sana, apalagi setelah adanya kejadian yang super memalukan itu.

__ADS_1


__ADS_2