
‘Kenapa pekerjaannya tidak selesai-selesai?!’ Arthur kini sedang ada di balik meja kerja.
Tidak seperti yang dia bayangkan, dia harus segera menyelesaikan penandatanganan dokumen yang dia dapat dari sekretarisnya.
Tentu saja, semenjak dari setengah bulan ini, dia terus bekerja dan punya jadwal untuk rapat rutin di perusahaan.
“Tuan, anda sekarang sudah waktunya untuk anda Istirahat, jam makan malam sudah hampir lewat, sebaiknya lanjutkan besok saja,” tegur wanita paruh baya ini terhadap Arthur yang dia layani itu.
Arthur yang dari tadi fokus untuk menyelesaikannya setidaknya separuh tumpukan dokumen tersebut, akhirnya mencoba melirik ke arah jam tangannya.
Benar, jam sudah hampir menunjukkan pukul delapan malam, tapi dia masih duduk di balik meja kerja.
‘Tidak mungkin anak itu mengerjakan pekerjaan ini seorang diri.
Tapi inilah, ini yang aku inginkan. Menjadi seorang kepala keluarga Travers adalah keinginanku dari dulu.
Aku sadar kalau pekerjaan ini memang tidak mudah, tapi aku akan menunjukkan kalau aku lebih layak untuk menempati posisi ini ketimbang si Elvano itu.
Walaupun masih banyak, aku bisa menyelesaikannya sampai besok siang, setelah itu aku akan pergi menemui si Abel itu.’ tidak mungkin dirinya lembur lebih lama agi, Arthur pun menyudahi pekerjaannya itu.
___________
Esok harinya.
“Hei, bersihkan yang benar dong, lihat itu masih ada sisa jejak kaki yang menempel dipermukaan keramik,” tegur pria ini kepada seorang tukang bersih yang sedang membersihkan lantai di lobi.
Pagi itu, seperti biasa kedamaian masih menyelimuti mereka semua, sehingga tidak ada pekerjaan yang membuat mereka seperti seorang buruh pabrik yang ketar-ketir karena kewalahan.
Mereka bekerja cukup santai.
“Iya Tuan,”
“Kerja yang benar dong, kalau lantainya mengkilap, kan enak dipandang,” ucapnya lagi, membual omong kosong lagi dan lagi.
“Saya mengerti Tuan. Tapi, apakah anda akan tetap disini menemani saya bekerja? Padahal teman-teman anda sudah berkumpul di depan,” wanita ini pun menegur balik laki-laki tersebut sambil menunjuk ke arah pintu lobi.
__ADS_1
“Berkumpul?” penasaran dengan maksud dari tukang bersih itu, dia pun menoleh ke belakang dan melihat seseorang yang cukup berpengaruh untuk mereka, baru saja keluar dari mobil. “Tuan muda!”
Terkejut bukan main, laki-laki ini pun langsung berlari untuk ikut menyambut kedatangan dari majikan pertama mereka .
Wanita ini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat betapa paniknya mereka semua saat baru menyadari kalau Tuan muda Arthur yang sudah lebih dari setengah bulan itu tidak mereka lihat, tiba-tiba saja datang dengan mendadak.
“Hah, padahal kalau Tuan muda pertama dan Tuan muda kedua hidup rukun, pasti tidak akan seperti ini. Ini seperti perang duina ke tiga,” wanita ini menggerutu, memikirkan nasib dari Travers dengan hubungan persaudaraan dari Arthur dan Elvano yang terus saja renggang, dan tidak ada tanda-tanda untuk membaik. ‘Tapi melihat Tuan Elvano justru memberikan kesempatan posisi itu kepada Tuan Arthur, bukannya Tuan Elvano begitu dewasa?’
Tidak dapat dipungkiri, kalau alasan kenapa Tuan besar mereka sebelumnya memilih Elvano untuk mendapatkan hak waris itu adalah pilihan yang cukup tepat.
Sebab dari segi perjalanan pengaruh kualitas kinerja antara Arthur dan Elvano saja cukup berbanding jauh.
Hanya saja, ketika waktu peralihan posisi itu hanya tinggal setengah bulan lagi, banyak yang khawatir dengan ke depannya.
Akankah ada pertumpahan darah lagi atau tidak, semuanya masih misteri, mengingat tidak ada satu orang pun yang dapat memahami cara berpikir dari Elvano juga Arthur.
___________
“Livia, apa kau sudah menemukan mata-mata milik Elvano?” tanya Abel.
“Sudah Tuan, namanya Kei,”
Mendengar nama Kei yang di sebut oleh wanita di belakangnya, Abel sesaat memejamkan matanya, berpikir sejenak untuk mencari tahu di dalam isi kepalanya, wajah dari pria bernama Kei itu sendiri.
Sebagai orang yang punya kelebihan dalam mengingat, tidak perlu waktu yang lama, dia pun ingat dengan jelas siapa Kei dan berasal dari mana.
“Oh, jadi dia anak yang waktu itu aku ambil di lampu merah. Kei, dia sama sekali tdiak tahu di untung sekali ya?”
Wanita itu hanya diam dan mendengarkan.
TIdak ada kemarahan yang tersirat di wajah kalem milik Abel, sehingga membuat wanita tersebut tetap merasa nyaman.
Namun, jangan salah sangka, di balik ekspresi wajahnya Abel yang tampak santai, ada sedikit kekecewaan yang tersirat di senyuman kecilnya itu.
“Livia, apakah dia tahu soal rencanaku yang sudah mengirimkan beberapa orang anak buahku dengan Veronica ke Indonesia?” tanya Abel.
__ADS_1
Untuk menutupi percakapan diantara mereka, tentu saja Abel membuat trik sendiri dengan membuat dirinya bersama dengan Livia tampak seperti sedang saling berjumpa kasih dalam balutan kerinduan.
Ya, Abel bukanlah pria yang bersih juga, jadi dia cukup mudah untuk memulai skenario dengan orang lain dengan caranya yang tampak begitu liar untuk sekedar bertukar informasi dengan anak buahnya sendiri yang menyamar sebagai kekasihnya.
Dia memeluk Livia dengan jarak wajah yang sangat dekat, dan cukup untuk membuktikan kalau mereka berdua tampak seperti sedang berciuman.
“Hah, apakah tidak ada cara lain untuk bisa berkomunikasi? Gedung ini wilayah anda dan Tuan muda pertama, kenapa anda begitu berhati-hati sekali terhadap Tuan muda kedua?” tanya Livia dengan bisikan, ketika wajah mereka berdua saja saling berhadapan satu sama lain.
“Ini rencanaku, biarkan Elvano terlambat menyadarinya saja. Kau hanya perlu menuruti caraku ini,” balas Abel, tangan kanannya yang kekar, tampak menggerayang ke punggungnya Livia.
Sejujurnya Abel masih dalam proses pemulihan karena kakinya yang terluka, tapi bukan berarti dia tidak bisa berdiri, kan?
Tapi, seperti yang diharapkan, pembicaraan mereka berdua tidak lama lagi akan selesai karena kedatangan tamu penting. Siapa lagi kalau bukan Arthur?
“Tapi, mau sampai kapan anda akan bermain seperti ini?”
“Setidaknya aku harus menunggu kabar dari mereka, jika posisinya sudah cukup untuk menculik wanita kesayangannya Elvano, saat itu juga, barulah aku akan melonggarkan rencana rahasiaku.” jawab Abel,
Livia tersenyum, sampai pada akhirnya, karena jarak bibir mereka berdua sudah terlanjur tinggal beberapa sentimeter lagi, Livia dengan inisiatifnya pun langsung memberikan kecupan.
“Maaf Tuan, tapi saya ingin melakukannya sebentar,”
Abel yang tampak sudah lebih dulu mengetahui akhir dari pembicaraan mereka berdua, hanya tersenyum simpul, “Terserah, tapi berikan kecupan terbaikmu kepadaku,” seringai Abel.
Livia pun tanpa sungkan akhirnya melakukannya juga. Dia dengan terus terang langsung memberikan kecupan berupa ciuman yang begitu intens.
CUP …
“Apa aku mengganggu kencan kalian berdua?” sampai suara parau milik Arthur yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam rumahnya Abel, berhasil mengacaukan kebersamaan diantara Livia juga Abel.
“Tidak juga, ya kan Livia?” balas Abel dengan santai.
“Ya. Tuan, karena Tuan Arthur sudah ada disini, saya akan pergi,” sebelum pergi, Livia pun segera memberikan kissmark di lehernya Abel dan setelah itu, barulah dia pergi meninggalkan kedua pria itu di dalam ruangan yang sama.
“Jadi ini pekerjaanmu selama diam di rumah?” akhirnya Arthur memberikan pertanyaan pertamanya kepada Abel sambil memperhatikan kepergian Livia.
__ADS_1
“Sebagai hiburan di dalam kejenuhan, apakah anda melarang saya yang menginginkan kesenangan sesaat?” sahut Abel, dengan menggunakan tongkat, dia berjalan menghampiri Tuan majikannya.