Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
90 : Emosi Vina


__ADS_3

"Apa sih yang kalian ributkan?!"


BRAKK....


Pintu yang tidak punya salah apapun itu tiba-tiba saja jadi bahan pelampiasan dari Dokter Jason.


"Karena Vano!"


Vina lebih dulu menjawab dengan sebuah teriakan. Vina saat ini masih berada di dalam kamar mandi. Apalagi karena kejadian tadi, dia pun jadinya enggan untuk keluar dari sana, karena tidak mau melihat tampang dari Vano tersebut.


Laki-laki yang punya segala sisi yang cukup sembarangan dalam melakukan banyak hal dengannya.


Dokter Jason pun melirik ke arah sang Tuan muda, dan Deiren sendiri sudah melepaskan diri dari tubuhnya sang Tuan muda, karena beberapa waktu tadi, dia mencoba untuk menahan Tuan muda untuk tidak menghampiri kamar mandi lagi.


"Saya yakin kalau sekarang sudah waktunya untuk pemeriksaan rutin, tapi kenapa jadi seperti medan perang ya?" melihat ada botol sampo yang tumpah di lantai, Dokter Jason pun menyuruh Dairen untuk membereskan kekacauan itu dengan cepat.


"Saya akan segera membersihkannya." Deiren segera pergi dari sana.


Sedangkan Dokter Jason, masih tetap menatap sang Tuan muda.


Dikarenakan Jason sendiri adalah orang yang sedikit lebih tua dari Tuan muda sendiri, maka dari itu, dia pun berani untuk membalas tatapan mata milik Tuan muda yang tegas.


"Nona, memangnya Tuan muda ini baru saja melakukan apa kepada anda?"


"Dia menyerobot masuk ke sini." jawab Vina dengan tegas.


"Hahh~" Jason tiba-tiba saja tertawa meremehkan. "Tuan, anda itu seorang pria, kenapa bisa-bisanya anda malah menyerobot masuk ke dalam area terlarang, karena sedang di pakai oleh Nona?" tanya Jason.


Dikarenakan anak di depannya itu sudah tidak mendapatkan didikan dari kedua orang tuanya, karena kedua orang tua dari sang Tuan muda sendiri sudah lebih dulu meninggal, sebenarnya Jason pun di utus untuk menjadi seseorang yang harus membimbing Elvano untuk berada di jalan yang benar.

__ADS_1


Dan sekaranglah saatnya di mana dia harus memposisikan perannya sendiri.


"Aku kan sudah bilang tidak sengaja." ketus Vano, dia adalah orang yang enggan untuk di salahkan oleh orang lain.


"Tapi anda itu- ah! Bagaimana saya harus menjelaskannya kepada anda ya?" Jason bingung untuk menyampaikan kata-katanya akan lebih mudah di pahami oleh anak di depannya ini. "Lebih tepatnya, apakah anda setidaknya jangan terllau terkejut dengan apa ayang terjadi di sekitar anda. Inilah yang membuat anda pasti melakukan kecerobohan besar.


Kalau di pikir-pikir, apakah anda juga melakukan kecerobohan seperti ini dengan orang lain?"


Jefron yang baru saja keluar dari markasnya sendiri, langsung tertusuk, karena belum lama ini dirinya memang sempat di pojokkan oleh Tuan muda sendiri, jadi terlihat sepertu dua orang yang hendak berciuman.


Tapi Jef yang tidak mau ikut campur dalam urusannya itu, hanya bisa pergi dari sana untuk mengambil jatah makanannya dari sang kakak yang sudah menunggu di bawah.


Tentu saja, dengan penyamarannya yang terbaik, dengan membawa kantong infus, dia pun benar-benar seperti orang sakit asli.


"Sepertinya tidak juga." jawab Vano dengan serta merta.


Vano hanya memberikan anggukan, sehingga Vina yang masih berada di dalam kamar mandi itu pun tidak tahu jawaban macam apa yang di jawab oleh Vano kepada sang dokter.


"Jason pun terdiam sejenak, dan menganggukkan kepalanya. Tapi sepertinya anda baru saja di kutuk ya?"


"Itulah masalahnya, kenapa aku harus di kutuk? padahal bukannya beruntung ya, karena aku bisa mendapatkan layanan cuci mata, dan Vina sendiri bisa tahu kata hati sendiri yang sebenarnya saat ternyata dia di intip oleh seorang pria keren sepertiku?" dan justru dengan ucapan dari Vano yang terbaru ini, menjadi bumerang untuk si Vina yang ada di dalam kamar mandi.


'Vano! Vano! Aku terus saja mengalami kejadian memalukan seperti ini, dan dia sungguh menikmatinya? Apa urat malunya itu sudah di babat habis?!' teriak Vina dalam benak hatinya yang sudah kacau balau, entah dia harus berbuat apa untuk menangani satu masalah dari orang yang sudah dia tolong itu. "Arggghhh...!!!!"


Teriakan Vina yang sangat keras itu menyeret sebagian besar dari mereka yang langsung terkejut dan menghampiri pintu kamar mandi.


"Vin! Kau kenapa?!" reaksi dari Elvano yang tadinya mencoba untuk bercanda itu, berubah jadi cemas, karena mendengar Vina yang berteriak histeris.


"Kalian keluar! Aku tidak ingin melihat kalian! Keluar!" pekiknya, saking tidak tahannya karena dia harus menghadapi banyak orang yang cukup menghancurkan pikiran dan hatinya.

__ADS_1


"Vina, apa yang terjadi?!"


"Keluar! Jangan tanya lagi! Keluar!" emosinya yang sudah memuncak itu pun membawa kedua tangannya itu langsung melemparkan segala jenis botol yang ada di rak dan melepasnya ke arah pintu persis, sehingga suara keras yang cukup mengganggu itu, membuat mereka bertiga tidak bisa berbuat apapun lagi selain harus keluar.


"Mentalnya tidak stabil, anda memancingnya dengan berlebihan." bisik Jason, dia pun menyuruh sang Tuan muda untuk pergi dari sana juga, dan di susul oleh Deiren juga, yang tadinya sedang mengelap lantai marmer dengan serbet lebih dulu.


KLEK....


"Hahh...hah...hah..., mereka sangat mengerikan, apalagi Elvano. Begitu mudahnya bicara seperti itu seolah apa yang dia lakukan tidak masalah. Bagi dia pasti akan di anggap sebagai buah candaan, tapi aku itu tidak! Dia dengan seenaknya menganggap kalau kejadian tadi itu bukan apa-apa. Aku kecewa, disini aku jelas banyak di rugikan." Vina yang merasa cukup kecewa dengan tindakan yang di lakukan oleh Vano kepadanya, langsung duduk berendam di dalam bathtub.


Dia tidak peduli dengan soal sakit yang langsung menyerang punggungnya itu, karena rasa sakit itu justru lebih baik, seperti obat untuk rasa kesal di dalam dadanya.


"Hiks...hiks..." Vian dalam diam dia pun menangis di dalam kamar mandi. 'Aku ingin pulang, dari pada disini sebenarnya sama sekali tidak ada yang menyenangkan. Aku lebih suka dengan apa yang aku kerjakan saat di rumah.' batin Vina, dia sangat berharap agar dirinya bisa pulang.


Tapi, apakah itu akan terwujud, ketika kian hari berlalu, banyak orang yang mulai mencoba untuk mengincar Vina, sebagai kelemahannya Vano saat ini?


_____________


"Tuh kan, anda lagian, kalau bicara seharusnya ada saring lebih dulu. Mentalnya sekarang jadi lebih terguncang kan?" tegur Jason.


"Namanya juga sudah terlanjur, aku harus apa lagi?" balas Vano, dia sendiri jadi menyesal dengan ucapannya tadi yang terdengar di jadikan sebagai candaan, padahal meskipun di sudut pandangnya adalah candaan, tapi tidak dengan Vina sendiri.


Dan buktinya, mereka semua pun jadinya langsung di teriaki habis-habisan oleh Vina yang sudah sangat marah itu.


"Eh? Ada apa ini?" tanya Jef, dia tadinya memang berniat untuk pergi ke lantai bawah. Akan tetapi karen sang kakak malah naik ke atas, maka dari itu, makannya pun dia dapatkan setelah mereka berdua bertemu di lift.


Dan begitu dia kembali, dia malah di suguhi dengan pemandangan yang kurang mengenakkan seperti itu, dengan wajah muram, tentunya.


"Apa saya ketinggalan sesuatu?" tanya lagi dengan wajah polos sok tidak tahu apa-apa dan tidak merasa bersalah, karena bertanya di waktu yang sebenarnya kurang tepat.

__ADS_1


__ADS_2