
Demi mencapai tujuannya, menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer, adalah satu kewajiban yang harus dipenuhi Vina agar sampai di kampung halamannya.
Meskipun harus banyak halangan, untuk sampai di tempat tujuan, Vina mencoba tetap bertahan.
Ya, seharusnya begitu.
Tapi, sebagai orang yang tidak kuat untuk bertahan di dalam perjalanan yang cukup panjang, Vina pun menyerah.
“Hueek, huekk,” dan akhirnya Vina pun muntah hebat setelah dia sampai di bandara. ‘Padahal aku pikir menyenangkan, kenapa aku terus saja berakhir seperti ini? Ini sangat menyebalkan, kenapa aku terus saja mabuk?’ sesal Vina dalam hatinya.
Seharusnya dia menyiapkan obat mabuk yang banyak, tapi karena ada yang sempat tertinggal, akhirnya dia hnaya minum obat dua kali saja, dan dia sangat tersiksa jika tidak minum obat untuk menahan dirinya mabuk kendaraan seperti itu.
“Huek~ Hah! Bahkan muntahanku sangat menjijikan,” tidak kuat untuk berlama-lamadi kamar mandi, dia pun bergegas untuk membersihkan dirinya, mencuci muka, mencuci tangan juga.
Dengan wajah pucat, Vina pun keluar dari kamar mandi.
“Delvin, apa kau bisa bantu aku?” tanya Vina kepada laki-laki yang sedang duduk di atas koper.
“Bantu apa?” sahut Delvin dengan polosnya.
Tanpa memperdulikan apapun, Vina pun berjalan mendekati Delvin dan duduk di satu koper lain yang Delvin bawa itu lalu menjawab, “Tolong ikatkan rambutku menjadi kepang susun,”
Delvin menatap lurus rambutnya Vina yang sudah acak-acakan itu.
“Apa kau punya pikiran, kalau aku bisa menata rambut wanita?” tanya balik Delvin.
Vina yang menyadari kalau rata-rata pria tidak bisa mengikatkan rambut seorang wanita, dengan buru-buru langsung berdiri.
“Maaf, jika ternyata kau tidak bisa. Aku hanya berpikir, karena kau bisa segalanya, jadi hanya mengikat rambutku, sepertinya juga sesuatu yang bisa kau kuasai dengan mudah,” jelas Vina dengan terus terang.
Delvin yang sedari tadi duduk, lantas menghela nafas dengan kasar, “Hah, sini, aku akan ikatkan,”
Lalu Delvin pun berdiri, dan menekan bahunya Vina untuk duduk di koper. “Eh, kau bisa?”
“Ya, seperti yang kau katakan tadi, aku jelas bisa melakukan segalanya. Aku bukan pria kaleng-kaleng yang lewat dengan tatapan iri itu, Vina. Aku harap kau bisa bertanya dulu, dari pada langsung bicara memerintah seperti itu, apalagi yang kau mintai itu kepada pria.
Jika aku, itu tidak masalah, tapi jika itu orang lain, mungkin kau sama saja sedang mengejeknya secara tidak langsung,”
Dengan penjelasannya Delvin, Vina pun mendapatkan satu ilmu baru, dengan arti untuk berhati-hati dalam setiap bertutur kata, apalagi kepada laki-laki?
Seharusnya tidak hanya kepada kaum adam saja, tapi juga kuam hawa.
Namun, Vina sendiri sama sekali tidak punya pikiran untuk bersikap demikian, sebab dia sendiri jarang meminta bantuan, itulah yang dia pikirkan.
Dengan hati-hati, Delvin pun melepaskan ikat rambut milik Vina yang hendak terlepas itu.
Setelah itu, barulah dia pun mengeluarkan sisir kecil dan mulai rapikan kembali rambutnya Vina dengan hati-hati.
“Dia perhatian sekali,”
“Wow, aku tidak menyangka kalau aku bisa melihat adegan seperti ini secara langsung, apalagi dia tampan lagi. Beruntung sekali dia punya kekasih yang perhatian seperti itu?”
Banyak para pengunjang yang memperhatikan Vina dan Delvin,
Tentu saja, berkat itu juga ada banyak yang merasa iri dengan sikap serta perhatian yang tampak di tuangkan oleh Delvin saat menatarambutnya Vina dengan sepenuh hati.
“Tampan sekali, apa dia artis?”
“Ih, aku ingin foto bersama dengannya deh,”
“Hush, memangnya boleh? Kalau pacarnya marah, apa kau bisa melawannya? Yang ada kau pasti malah diusir oleh mereka berdua, jangan ganggu mereka,”
Karena tidak mau ada keributan, tentu saja tidak ada yang berani mendekat, apalagi saat pihak keamanan di sana, diam-diam berkeliaran di sekitar mereka untuk memberikan peringatan dengan keberadaan mereka, bahwa tidak ada satu pun yang boleh mendeati Delvin dan Vina.
__ADS_1
“Apa kau suka?” tiba-tiba Delvin bertanya, membuat Vina bingung, apa yang di maksud oleh Delvin ini.
“Soal apa?” tanyanya balik.
“Mereka tiba-tiba berspekulasi kalau kita berdua sepasang kekasih. Apakah kau suka dengan pujian dari mereka?” itulah maksud dari pertanyaannya Delvin barusan.
“Ya jelas, walaupun hanya dai hasil pendapat pikiran mereka saja, aku merasa senang,” tanpa sadar Vina jadi mengutarakan hal yang tidak sehasurnya dia katakan.
“Berarti, jika itu Tuanku, apakah kau akan lebih suka lagi?” kecenderungan bicara sesuai dengan isi hatinya, jawaban dari Vina tadi pun jadi alasan untuk Delvin untuk bertanya lebih.
“Kalau Iya, memangnya kenapa?” tanyanya. Karena merasa tatanan rambutnya sudah selesai, Vina pun menoleh ke belakang, “Mungkin aku memang terdengar tidak tahu malu, tapi apakah jujur itu salah?”
Delvin sesaat mengatupkan mulutnya, “Tidak salah,tapi apa kau yakin dengan pilihanmu itu?
Jujur, aku memang tidak suka kalau kau disisi Tuanku. Tapi karena Tuan muda sendiri begitu menyukaimu, aku pikir kau cukup bodoh,”
Vina terkekeh, dengan senyuman mencobir di akhir tawanya yang begitu canggung, Vina pun berkata lagi, “Aku memang cukup bodoh, makannya aku tidak begitu percaya diri mengambil sesuatu yang tidak bisa aku jangkau,
Aku terima ejekanmu karena itulah kebenarannya, dan itulah alasan dibalik keputusanku.
Meskipun aku harus membuang kesempatan besar seperti itu, tapi tetap saja, aku harus sadar diri dengan posisiku yang tidak cocok dengannya.
Apakah yang seperti itu saja, aku salah?”
Delvin yang menyimak, segera menjawab, “Jujur adalah sesuatu yang punya eksistensi yang bagus, tapi juga buruk. Tapi aku menghargai kejujuranmu.
Walaupun kau jadi menyakiti hatimu sendiri, aku cukup mengapresasi pilihanmu itu, vina,”
“Kau terdengar seperti menyindirku ya? Tidak salah sih, aku kan memang pada dasarnya seperti ini, makannya aku harus kembali ke tempatku, agar semuanya kembali kesituasnya sendiri seperti apa yang terjadi di awal sebelum aku ikut campur dalam permasalahannya kalian.” papar Vina.
Tidak mampu untuk mendalami perasaannya lebih dari sekedar ilusi belaka, Delvin pun menyelesaikan aktivitasnya.
“Sudah selesai,” kata Delvin.
Pujian yang tidak mampu diutarakan dengan terus terang itu perlahan membuat Vina terbuai dalam lamunannya sendiri.
Lagi-lagi dia teringat dengan Elvano, dan sosoknya yang terus terbayang dalam pikirannya, sontak membuatnya frustasi dalam helaan nafas kasarnya.
‘Vina, ayo, kau harus melupakannya.’ batin Vina, menyemangati dirinya sendiri. ‘Dia itu punya kehidupan yang lebih baik daripada aku, jadi ayo, jangan terus terbuai dalam eksistensi orang itu!’ kata Vina lagi, kembali menyemangati diri sendiri, agar tidak terlihat lemah lagi. “Walaupun aku tahu kau tidak menyukaiku, tapi aku sangat berterima kasih.
Meskipun aku jadi terlibat dengan masalah kalian yang membuat tanganku seperti ini, tapi aku tetap berterima kasih, karena mau menyelamatkanku dari situasi yang membuatku hampir di ambang kematian,”
Delvin memandangnya tidak percaya.
Bagaimana bisa Vina yang sudah banyak menderita selama ini karena masalah internal keluarga Travers, masih bisa membuat Vina berterima kasih dengan senyuman lembut itu?
Padahal sampai beberapa hari yang lalu, wajah itu terlihat begitu muram seolah tersiksa dalam derita karena banyak tekanan.
Apa itu artinya, kalau keputusan Tuan muda Elvano dalam melepaskan kekangannya, berhasil membuat Vina merasa bebas lagi?
Ya, seperti burung yang ingin terbang bebas, maka itu cukup mirip dengan nasib yang Vina alami selama ini.
‘Tidak heran, pasti begitu. Karena dia akhirnya bisa terlepas dari semua ikatan yang berhubungan dengan semua masalah milik Tuan muda, akhirnya membuat dia bisa terbebas.
Dia lebih memilih untuk menyakiti hatinya sendiri, demi bisa mendapatkan kebebasan ini.’ perkiraannya tidak ada yang salah, tapi juga bukan berarti dia benar.
“Anu- Delvin,”
“Hm?”’ dehem Delvin.
“Apa bisa, kita beristirahat lebih dulu? Aku rasa aku tidak akan kuat jika harus melanjutkan perjalanan, jika dari jakarta ke rumahku, itu butuh delapan jam, dan jika macet, itu sampai sepuluh jam lebih,” pinta Vina.
Vina tentu tidak berbohong sama sekali.
__ADS_1
Mengingat ini adalah kali pertamanya bisa melakukan perjalanan paling panjang, dia sekarang sudah berada di ambang batas untuk bisa bertahan.
Delvin melirik ke arah luar pintu bandara.
Sengatan matahari yang begitu terik, patnya kendaraan dari Ibu kota jakarta, dan perjalanan yang begitu panjang, jika memikirkan jarak dan waktu yang begitu panjang, untuk bisa sampai di kampung halamannya Vina, jelas akan menguras mental dan fisiknya.
Karena perbedaan kekuatan yang dia miliki dari Vina, jelas Delvin sadar, kalau ketahanan tubuh yang di ampu oleh Vina pun sudah ada di titik terendahnya.
Lihat saja, wajah pucat itu sebenarnya sudah seperti mayat hidup yang ingin mudik ke kampung, mana berani Delvin memaksa fisik wanita di depannya itu untuk terus lanjut.
Jika itu terjadi, kemungkinan besar bagi Delvin untuk ketahuan, jelas akan tetap ada.
‘Sebenarnya aku ingin segera kembali ke paris. Tapi karena tidak mungkin memaksa tubuh super lemahnya itu untuk terus melanjutkan perjalanan, istirahat sehari di hotel akan lebih baik.’ sepakat dengan pilihannya, Delvin pun mengiyakan permintaannya Vina. “Jika kau ingin seperti itu, kita istirahat di hotel,”
Karena menjawab sambil menatap ke arahnya, Vina yang mengira kalau Delvin menatapnya dengan tatapan bertanya soal hotel yang bagus, Vina pun jadinya menjawab, “Tapi aku tidak tahu hotel mana yang cocok dengan seleramu,”
“Kenapa kau bicara seperti itu?” tanya Delvin dengan tatapan heran.
“Tatapan matamu seperti sedang tanya kepadaku, apakah aku salah paham?”
Delvin tersenyum sinis dan berbalik, “Tidak. Ayo, sebelum hari mulai malam. Seperti yang kita tahu, jalanan di jakarta kan kota yang cukup macet, dan wajahmu juga begitu pucat seperti mayat, aku tidak ingin kau menambah bebanku, karena seperti yang kau lihat, aku membawa barang-barangmu yang banyak ini,”
Vina menatap koper yang di bawa oleh Delvin.
Dia sedikit pesimis, “Bagaimana aku bisa buat alasan? Aku kan di bawa tanpa membawa baju atau barang apapun, tapi begitu aku pulang, tiba-tiba aku dibawakan dua koper sekaligus.”
“Kau kan bisa bilang pada orang tuamu, kau dapat hadiah dari orang yang kau selamatkan, apa susahnya?”
“Iya sih, tapi kan-”
“Aku yang akan membantumu, jangan di pikirkan. Bukannya ini keputusanmu sendiri, karena kau ingin pulang secepatnya? Padahal lihat saja, tanganmu saja belum sembuh.” Delvin mengangkat sedikit dagunya ke arah Vina.
Vina yang cukup tersinggung itu pun segera menyembunyikan tangan kanannya yang masih di gips.
“Jadi kau harus siap dengan konsekuensi yang kau ambil itu. Itulah yang harus kau hadapi, Vina.
Atau- jika kau menyesal karena hal ini, kau bisa disni sementara waktu sampai kau sembuh,” penjelasan dari Delvin pun memicu pikiran Vina yang jadi kembali merasa rumit. “Aku akan menyuruh salah satu orang untuk mengurusmu sampai kau sembuh, lalu jika tanganmu sudah sembuh, baru kau bisa pulang.
Tapi bukan berarti aku bisa ada disini menemanimu terus.
Jika bukan karena Tuan muda menyuruhku untuk mengantarmu pulang, aku sudah pasti sudah menyelesaikan pekerjaanku yang lain,”
‘Apa maksudnya dia menyesal karena terpaksa meninggalkan pekerjaannya karena aku?’ Vina langsung diam dan menatap kepergian Delvin saat sesudah bicara seperti itu kepadanya.
Delvin adalah sosok pekerja keras yang akan bekerja dengan sangat teliti, maka dari itu, setiap menit yang terbuang untuk menemani Vina sama saja dengan uang yang hanya lewat begitu saja.
Maka dari itu, jelas kalau Delvin tampak begitu enggan untuk mengantarkannya pulang.
“Ka-kalau begitu a-” namun, kata-katanya seketika terhenti, begitu Delvin tiba-tiba saja berbalik.
“Jika kau punya pikiran kalau aku kan meninggalkanmu, buang itu jauh-jauh. Meskipun aku memang bilang kalau aku akan menyuruh orang untuk menemanimu disini, sampai kau sembuh, aku tidak akan pulang.
Aku tidak mungkin meninggalkan tugas yang diberikan Tuan kepadaku, apa kau mengerti, Vina?
Walaupun aku cukup enggan untuk mengantarmu pulang, tapi karena tugas itu adalah bagian dari misi yang harus aku selesaikan, maka aku akan tetap menemanimu sampai pulang ke rumah.
Ini jadi tanggung jawabku atas namaku, karena saat itu aku tidak menjagamu dengan baik,”
‘A-ahh~ Begitu ya? Karena dia merasa bersalah, sekaligus dia juga punya tugas yang harus dia selesaikan dengan sempurna, jelas dia tidak akan meninggalkanku.
Aku terlalu berharap cukup banyak pada orang seperti kalian.
Aku seharusnya tidak membawa perasaan seperti ini ke dalam hatiku. Karena jika aku melakukannya, yang jelas, aku hanya punya rasa kecewa yang lebih banyak lagi.’ harus sadar dengan dirinya yang benar-benar menyusahkan banyak orang di sekitarnya, Vina pun mengangguk paham lalu dia pun berjalan menyusul Delvin yang sudah ada di depan sana.
__ADS_1