Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Delvin, Campur Tangan


__ADS_3

"Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?" salah satu alisnya terangkat, ketika matanya terus menemukan wajah pria yang ada di depannya itu, malah terus menatapnya dengan sangat terang-terangan.


"Apa itu pertanyaan yang harus aku jawab?" Vano malah bertanya balik.


"Kau bisa membuat wajahku berlubang, jangan menatapku seperti itu," ketus Vina, dia sama sekali tidak mau tergoda dalam pesona yang di pancarkan oleh Vano.


"Aku tidak tahu kenapa, tapi aku memang hanya ingin menatapmu seperti ini." seperti orang yang sama sekali tidak bersalah, Elvano malah memberikan senyuman lebar yang cukup memuakkan Vina sendiri, karena dia benar-benar merasa cukup terbebani dengan tatapan itu.


'Bagaimana ini? Tidak seperti kebanyakan orang yang, kalau pria akan menyukai wanita yang punya status pendidikan serta latar belakang yang tinggi, orang ini justru sangat aneh.


Hanya karena aku menyelamatkannya, dia malah menganggap usahaku untuk menyelamatkannya, menjadi alasan untuk balas budi dengan cara seperti ini.


Aku benar-benar sangat terbebani.' keluh Vina.


Hari demi hari berlalu cukup damai, sampai kian waktu yang berlalu itu, secara perlahan merubah sikap laki-laki aneh yang ada di depannya tersebut.


Kini sudah berjalan satu minggu lamanya.


Semakin waktu berjalan, semakin gila pula Vina harus menghadapi Vano.


'Dia sudah jadi gila, bagaimana aku harus mengurus satu orang ini?


Padahal aku sudah sering menolaknya, tapi tetap saja dia bersikukuh untuk menggodaku.


Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku kehilangan panca indera penglihatan aku, karena saking silaunya, sosok Elvano ini.' bahkan sekarang saja, Vina cukup terganggu dengan keberadaan dari pria tersebut.


'Sebaiknya aku pergi.' Vina memang berhasil memilih pilihan yang tepat untuk pergi menjauh dari Elvano, tapi bahkan sebelum Vina mengambil langah keluar dari balkon, tiba-tiba saja tangan kirinya di cengkram dan langsung di tarik.


"Vin, siapa yang menyuruhmu pergi dari sini?"


BRUK ...

__ADS_1


"Vano! Jangan ganggu aku! Aku sudah bilang, kalau aku akan terus menolakmu!" pekik Vina, dia yang sempat terhuyung, sudah jatuh ke atas pangkuannya Elvano. 'Apa ini baru pertama kalinya untukku? Kenapa pa-pa ... ha nya cukup keras? Aku bisa merasakan kalau paha nya cukup berotot.


T-tapi ini sangat tidak mungkin, tidak mungkin aku langsung terhanyut karena sekedar duduk di atas pangkuannya saja seperti ini!' Vina yang tidak kuasa untuk menahan diri, sebelum akal sehatnya di bawa kabur oleh pesona yang keluarkan oleh Elvano, Vina dengan buru-buru bangkit dari atas pangkuannya Vano dan melarikan diri.


BRAK ...


Pintu kaca balkon pun langsung tertutup dengan sangat kasar.


Namun, Elvano tampak sama sekali tidak mempermasalahkan apa yang id perbuat oleh Vina itu.


Yang ada, justru Elvano tampak tersenyum puas dengan melihat sikap Vina yang terus saja bersikap sok jual mahal, 'Padahal lehernya langsung merah begitu, dia suka tapi sayangnya dia tidak bisa jujur kepadaku.


Vina, mau kau lari kemanapun, aku akan tetap mendapatkanmu.


Aku sudah memutuskan, kalau dia yang akan aku seret dalam kehidupan pribadiku.


Meskipun aku punya syarat sebagai prinsip untuk memegang kendali diriku, aku harus lebih bisa menjaganya.


Prioritaskan keselamatan, sebagai taruhan kalau aku bisa menjaganya di sisiku. Harus, karena selama ini, apapun yang aku inginkan, pasti akan terwujud.' setelah berpikir seperti itu, Elvano pun mengirimkan pesan singkat kepada seseorang.


_____________


'Apa dia benar-benar kehilangan akalnya? Kenapa juga terus mengikutiku! Dia sudah tidak waras!' pekik Vina, dia bahkan jadi mulai khawatir sendiri dengan nasibnya.


"Hah, selesai juga, aku mengurus mereka, sekarang aku bisa istirahat," gumam Delvin yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Karena dia kebetulan berpapasan dengan Delvin yang baru saja masuk ke dalam rumah, Vina pun langsung menarik tangannya Delvin dan pergi membawanya masuk ke dalam sebuah gudang kecil yang terletak di bawah anak tangga.


KLEK ....


"Apa yang kau lak-mph!" ucapannya Delvin pun seketika terpotong, saat tangan kirinya Vina, berhasil membungkam mulutnya Delvin.

__ADS_1


Tidak seperti sebelum-sebelumnya, dimana dia cukup takut untuk berhadapan dengan Delvin, karena raut mukanya yang terus saja memperlihatkan perasaan tidak suka nya secara terang-terangan, sekarang dia sudah mulai kebal, walaupun hanya secuil saja.


"Shht~" desis Vina.


"Vin?" panggil Elvano, dia yang sedang mencari keberadaan dari Vina, tiba-tiba harus di halangi karena telepon dari seseorang.


'Dekat, aku bahkan sampai merasakan aroma sampo nya. Kenapa tiba-tiba wanita ini bersembunyi? Padahal Tuan muda juga sedang mencarinya.' tatap Delvin, terhadap Vina yang sungguh terus membuatnya cukup curiga kepada Vina.


"Ada apa kau menghubungiku? Hm? Jika kau mengajak ketemuan, bukannya sama artinya dengan kekalahanmu ya? Kau sungguh orang yang aku benci dan merepotkan yang pernah ada, aku akan kesana,"


Setelah Elvano menjawab demikian untuk seseorang yang berada di ujung telepon sana, dia bergegas meraih kunci mobilnya yang ada di sebuah gantungan kunci, lalu tanpa sepatah kata lagi, dia pun pergi dari sana.


BRAK ...!


"Merepotkan saja, padahal aku lagi sedikit senang karena bisa bermain lagi, tapi gara-gara anak itu, aku harus pergi!"


"Apa kau bisa melepaskan tanganmu dari mulutku?" tanya Delvin, dia memberikan peringatan sekaligus keputusan kepada Vina itu.


"E-eh, i-iya," terkejut Vina, karena tanpa sadar tindakannya itu benar-benar kurang ajar. "Maaf, aku hanya tidak ingin kau bicara lantang, karena aku tidak mau ketahuan oleh Elvano."


"Kenapa lagi dengan Tuan muda?" tanya Delvin dengan terus terang, sambil menyeka mulutnya itu dengan saputangan yang dia bawa.


Mendengar kalau Delvin akhirnya bertanya soal kenapa dengan Tuan muda kepadanya, maka Vina pun sedikit senang, karena dia ingin menguak kekhawatirannya.


"Apakah tidak ada cara agar dia tidak menggangguku lagi? Aku benar-benar terbebani dengan keberadaannya yang terus saja mengejarku. Ini sama sekali bukan seperti dia," jelasnya. "Dia, dia tampak aneh,"


"Bukannya kau yang membuatnya jadi aneh?" balas Delvin, dia tampak ragu dengan pernyataan Vina ini.


Padahal jelas, dari ekspresi wajahnya ada tersirat yang membuatnya yakin, kalau Vina sejujurnya suka, tapi tetap punya pendirian yang begitu kokoh untuk tidak masuk dalam halusinasi sebagai orang yang begitu di hormati oleh Tuan muda kedua yang Delvin layani.


Vina bingung, "Kenapa aku? Yang aneh kan orang yang kau layani itu."

__ADS_1


Delvin tidak bisa menyangkalnya lagi. Tapi Delvin berpikir untuk tidak kalah dalam berdebat, "Tapi apa kau yakin benar-benar tidak suka di dekati oleh Tuan muda? Dia bukan orang yang akan menyerah begitu saja pada satu tujuan yang dia inginkan.


Sekalinya gagal, maka akan ada kedua dan ketiga kalinya, atau seterusnya, sampai apa yang di inginkannya bisa di dapatkannya."


__ADS_2