
Tidak seindah yang dimimpikan, semua khayalan hanyalah imajinasi belaka yang tidak mampu diwujudkan menjadi realita dengan sempurna.
Meskipun begitu, walaupun ada sedikit keberhasilan yang di ciptakan dari angan-angan belaka, setitik rasa puas akan tetap terbayar, meskipun tidak begitu bertahan lama dan hanya menghasilkan lebih banyak kekecewaan, namun rasa syukur tetap ada dalam dirinya.
Setelah hari itu, untuk pertama kalinya dia pun menaiki pesawat terbang.
Melintasi langit biru yang begitu luas, menyaksikan pemandangan yang hanya bisa dia lihat dari balik jendela kecil, rasa bahagia itu pun tetap menjadi selimut di bawah rasa sesal yang tidak bisa dia ungkapkan kepada orang lain, meskipun orang yang menemaninya.
Kepulangannya, membawa drama baru untuk dirinya, ketika dia akhirnya meninggalkan negeri asing.
Paris Prancis, negara dengan berjuta keindahan dan julukan sebagai negara romantis, akhirnya berubah jadi kenangan.
Harapan untuk bisa pulang ke rumah, menjadi pencapaiannya, selepas melewati banyak insiden yang dia alami berkat seseorang yang menjadi inti masalah.
Verina, dengan nama panggilan Vina, dia pun akhirnya bisa mendapatkan apa yang dia mau.
Pulang ke negara Indonesia adalah harapannya, keinginan yang sudah lama dia nantikan setelah dia di culik sampai satu bulan yang lalu.
Tapi, di balik dia mendapatkan keinginannya, dia pun harus rela melepaskan seseorang yang sebenarnya tidak bisa dia jangkau.
"Permisi Nona, sekarang sudah waktunya makan siang," salah satu orang pramugari tiba-tiba datang.
Mendapatkan tiket pesawat kelas VIP, dia pun mendapatkan kursi yang bisa dia gunakan sebagai tempat tidur dan punya fasilitas lengkap serta pelayanan kelas bintang lima.
Sudah 2 jam lamanya dia ada di dalam pesawat, dan suar dari pramugari itu pun berhasil menghancurkan segala lamunannya.
"Iya, terima kasih," dengan raut muka kalem, Vina pun menyiapkan meja lipat yang sudah satu set dengan tempat duduknya.
Sungguh, itu adalah pengalaman pertamanya, bisa merasakan layanan yang cukup mengesankan ketika berada di dalam pesawat.
Dia sama sekali tidak pernah membayangkan, kalau dia mendapatkan sisi untuk menjadi seorang penumpang terhormat.
'Karena tidak ada yang kedua kalinya, sebenarnya aku ingin mengabadikan momen ini dengan selfie. Tapi, karena aku tidak punya handphone, apa boleh buat?' senyuman lemah itu pun menghiasi bibirnya seraya bergumam tanpa suara.
Delvin yang berada di kursi sebelah, hanya diam dan terus memperhatikan Vina.
Dibalik pintu kecil yang mampu menutup akses pandangannya, ada celah yang masih tersisa untuk membuatnya melihat apa yang sedang di lakukan oleh Vina di dalam sana.
Benar, di balik rasa sepi yang ada di dalam kabin pesawat, tidak ada satu orang pun yang tahu kecuali Delvin, bahwa ada kesedihan yang terpancar di wajahnya Vina itu.
Tatapannya terus tertuju pada makanannya sendiri, tapi bukan berarti kalau pikirannya ada di situ juga.
'Ternyata dia lebih suka menyakiti dirinya sendiri seperti itu.' pikir Delvin.
Tampak raut muka yang tak berkenan, begitu melihat Vina tampak sedih.
__ADS_1
Entah itu raut wajah sedih sebab bahagia bisa pulang, sedih karena meninggalkan Paris, atau sedih tapi bahagia bisa terlepas dari tangan Elvano? Atau bahkan sebaliknya?
Ada banyak sekali makna yang tidak bisa di jelaskan dalam sekali pandang.
Namun, saat melihat gerak bibir itu mengucap sepatah kata nama yang sangat Delvin kenal, pada akhirnya Delvin pun mengerti dengan jelas, bahwa itu adalah tatapan penuh penyesalan karena meninggalkan Elvano, sang Tuan muda yang Delvin layani dengan sepenuh hati.
'Cinta. Perasaan yang begitu rumit untuk dijadikan sebuah pilihan. Walaupun aku tidak begitu suka, tapi kenapa dia memilih untuk menyakiti hatinya sendiri?
Bahkan dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Tapi kenapa selalu saja, dia memilih untuk menolak perasaan yang di sampaikan Tuan muda? Banyak yang menginginkannya, tapi dia dengan terus terang, lebih suka untuk berpisah.
Wanita yang aneh.' pikir Delvin. Dia sendiri juga sama sekali tidka begitu mengerti soal perasaan dari kata Cinta yang sering di banggakan oleh teman-temannya itu.
Maka dari itu, meskipun dia melihat kesedihan yang begitu terlihat di wajahnya Vina, sayangnya Delvin sama sekali tidak mampu untuk ikut merasakan kesedihan itu sendiri.
Terlahir sebagai anak yatim piatu, dan sempat kabur dari panti asuhan, kasih sayang dan Cinta adalah hal yang sama sekali tidak pernah Delvin dapatkan, kecuali rasa simpati dari Tuan muda Elvano, satu-satunya orang yang mampu menyelamatkannya dari keterpurukannya karena pernah hidup di ambang kematiannya.
Oleh karena itu, Delvin pun sama sekali tidak mampu untuk mengimbangi apa yang sedang di rasakan oleh wanita yang ada di sebelah sana.
_____________
Lima jam setelah kepergiannya.
Rumah yang sempat begitu ramai dengan segala insiden yang sempat terjadi di sana, sekarang akhirnya kembali seperti semula.
Suasana hening, menjadi kesan utama dari suasana rumah besar milik Elvano.
Pada akhirnya semua aktivitas di rumah itu hanya di lakukan seperlunya.
Di tambah karena orang yang menjadi prioritas utama mereka untuk berjaga sudah tidak tinggal di sana lagi, keamanan pun jadi sedikit longgar, dan para pelayan hanya dipekerjakan untuk beberapa jam saja.
"Tuan, apa anda ingin makan malam?" pada akhirnya, salah satu pelayan di sana menawarkan diri untuk bertanya pada satu majikannya yang sedang berbaring santai di sofa.
"Siapkan saja dulu, jika sudah selesai tinggal bangunkan aku saja," hanya itu saja yang Elvano jawab kepada pelayannya sendiri.
Ekspresi wajahnya yang dingin, menyiratkan rasa sepi yang lebih dari pada biasanya.
'Baru juga Nona pergi selama lima jam, tapi Tuan sudah kembali menjadi sosoknya yang sebenarnya.
Apakah kedepannya semua hari-hari yang sudah dilewati akan berakhir seperti tidak terjadi apapun?' pikir pelayan ini sambil undur diri membiarkan Tuan majikannya itu sendirian.
'Apa dia sungguh tidak menyesal, meninggalkan orang sepertiku? Kuat sekali ya, nyali dia meninggalkan kesempatan emas seperti aku?' kata hati Vano terhadap pilihan Vina, karena lebih memilih untuk pergi meninggalkannya dan pulang ke kampung halamannya.
Cukup frustasi dengan pilihan yang di ambil oleh Vina, karena memilih pilihan yang menurut Elvano adalah keputusan yang cukup buruk, Elvano pun menghela nafas sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Hah! Hanya karena satu orang saja, kenapa pikiranku jadi serumit ini? Sebenarnya dulunya, aku ini orang macam apa?" gerutu Elvano. 'Jika Arthur mengatakan kalau seleraku sekarang buruk karena menyukai Vina, berarti apa artinya saat sebelum aku hilang ingatan, aku punya selera yang bagus?'
__ADS_1
Elvano di buat frustasi sendiri.
Ketika dia memikirkan untuk menanyakan Delvin, dia pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi anak itu.
Ya, dia sebisa mungkin untuk tidak menghubunginya lebih dulu, karena dia tidak mau mengingat lebih jelas lagi, kalau Delvin sebenarnya ikut terbang ke Indonesia untuk mengantarkan Vina pulang.
Benar, Vina, karena Delvin sedang bersama Vina, Elvano pun menghentikan niatnya untuk menelepon, karena takut pikirannya berubah untuk melepaskan Vina, jika di tengah-tengah dia bicara dengan Delvin, malah sempat mendengar suara Vina.
Sebab, jika dia berubah pikiran, bukan tidak mungkin, Elvano malah menyusul pergi ke Indonesia dengan jet pribadinya dan lebih memilih untuk menunggu Vina di bandara soekarno hatta dan membawanya pergi ke Perancis lagi.
JDERR ...
Pada akhirnya, hujan itu pun semakin lebat dengan disertai petir yang menggelegar, suasana di sana pun jadi semakin suram.
'Dia- bukannya takut dengan petir? Apa dia baik-baik saja?' pikirannya lagi-lagi, malah teralihkan untuk mengkhawatirkan Vina, mengingat saat di rumah sakit, ada insiden yang membuat Vina mengalami trauma yang cukup memilukan.
Tapi, kembali ke realita sebenarnya, Vano menyadari kalau penerbangan selama lebih dari lima jam, ada kemungkinan besar kalau pesawat terbang, justru terbang di atas langit yang begitu cerah.
"Hahaha, kenapa aku begitu mengkhawatirkannya? Bukannya aku sudah merelakan dia pergi lebih dulu? Lagi pula aku juga sudah memilih untuk menyelesaikan semua masalahku sendiri, jadi kenapa aku begitu khawatir? Dasar Elvano," kata Elvano pada dirinya sendiri.
Hanya saja, ekspresi acuh tak acuh serta tawa mencibirnya, jujur saja, mau di lihat dari sudut manapun semua orang yang ada di kediamannya Elvano, mengerti akan perasaan frustasi.
"Lihat Tuan muda, baru kali ini aku melihatnya begitu kebingungan seperti itu," bisik pelayan pertama ini kepada salah satu orang penjaga.
"Iya, aku sendiri juga melihatnya seperti itu. Apa ini kaan baik-baik saja? Ini pertama kalinya juga kan, Tuan muda begitu perhatian pada seorang wanita.
Menjaganya di rumah sakit, membawanya pulang ke rumah, di suapi, dan diberikan perhatian melebihi teman-teman Tuan muda yang pernah datang kesini, ini jelas dari rasa suka Tuan muda terhadap Nona Vina."
Pernyataan dari penjaga tersebut pun dibenarkan oleh anggukan beberapa pelayan di sekitarnya itu.
"Sebaiknya kita coba lihat saja, apa perkembangan keseharian Tuan muda ke depannya. Walaupun agak di sayangkan, karena Nona Vina lebih memilih untuk pulang, bahkan sampai menolak pernyataan Cinta dari Tuan muda, tapi semoga saja suatu saat nanti ada kabar baik," ungkap salah satu dari mereka lagi dan sama-sama diberikan anggukan tanda setuju oleh mereka.
"Aku setuju, doakan saja agar pilihan Nona itu di sesalinya, agar mau kembali ke sini, ya kan?"
Ungkapan rasa setuju kembali menjadi jawaban mereka, meskipun dengan anggukan lagi dan lagi.
JDERR ...
Terkejut dengan suara dentuman petir itu, sontak mereka semua pun langsung terdiam sejenak.
"Hah! Sudahlah, lebih baik tidur. Kalau saja ada Vina disini, mending aku tiduri saja anak itu, biar dia merengek minta tanggung jawab kepadaku.
Kenapa hal semudah itu, tidak bisa aku lakukan ya?" rasa kesal itu, pada akhirnya hanya berujung pada sisi Elvano yang tidak bisa dia lakukan kepada Vina, dan hanya memilih tidur di bawah selimut.
Setidaknya, dia berharap kalau dia tidak akan mengingat hal membuat hatinya terus terusik.
__ADS_1
Tentu saja, ocehan yang berakhir dengan keheningan itu, dapat dimengerti oleh para pelayan dan penjaga rumah, kalau alasan kenapa Tuan muda mereka tidak bisa melakukan apa yang barusan diucapkannya sendiri, tentu saja karena wanita yang terus di permasalahkan sang Tuan mereka, cukup berharga untuk dipermainkan seperti itu.