Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Pelajaran Orang Naif


__ADS_3

“Apa kita hanya memesan satu kamar saja?” tanya Vina, dia melihat ke sekeliling kamar. 


Untuk ke dua kalinya, dia pun bisa merasakan tidur di hotel. 


Namun, berbeda ketika tour saat sekolah dulu yang mana dia menempati kamar hotel yang kecil dan di huni oleh tiga temannya, kali ini justru berbeda. 


Vina menempati kamar yang begitu luas dan mewah. 


Tentu saja, punya peringkat sebagai hotel bintang lima yang terletak di pusat Ibu kota, dia pun bisa merasakan perbandingan yang begitu kentara. 


Tapi, satu masalah yang harus dia hadapi, justru adalah Delvin ternyata menginap di kamar yang sama juga. 


“Apa kau mempermasalahkan jika aku tinggal di sini juga?”


“Sebenarnya masalah sih. Tapi karena aku juga tidak punya uang untuk menyewa satu kamar untukku sendiri, aku tidak mempermasalahkannya,”


‘Apa dia benar-benar polos? Kenapa dia punya pikiran yang cukup bodoh? Mau menerima pria sepertiku tinggal di satu kamar yang sama dengannya, di dalam kamar hanya ada dua orang, satu pria dan satu wanita, dan dia dengan begitu entengnya, mengiyakan perkataanku begitu saja. 


Benar-benar, Vina ini sama sekali tidak punya kewaspadaan apapun’ pikir Delvin. 


Di mata Vina memang, Delvin adalah orang baik, tapi mau bagaimanapun di mata Delvin, justru cara berpikir Vina itu benar-benar cukup naif. 


“Aku naif ya?” akhirnya Vina pun bertanya. 


“Aku kira kau tidak sadar, kalau kau itu naif. 


Aku mengerti jika kau menganggap, karena kau tidak punya uang, kau tidak bisa memesan kamar lainnya. 


Tapi mau bagaimanapun, sebaiknya kau itu harus menolak apapun yang di katakan pria, jika dia ingin masuk ke dalam kamar, entah itu lama atau sebentar, seharusnya kau itu waspada.” sebenarnya Delvin cukup geram, menghadapi Vina yang menurutnya cukup bodoh itu. 


“Iya aku tahu, tapi kau kan tidak mungkin melakukan apapun terhadapku, kan?” balas Vina. 


Persepsi Vina terhadap Delvin benar-benar cukup membuat Delvin sendiri jadi kesal sendiri. 


“Jangan pernah percaya pria, mau itu kata manis atau pahit, yang bisa kau percayai itu dirimu sendiri,” ungkap Delvin, dia pun duduk di kursi sambil menatap sosok Vina yang sedang beridiri di ambang jendela kamar. “Lagi pula, meskipun aku bekerja untuk Tuanku, dan sekalipun baik aku dan Tuanku cukup berbaik hati kepadamu, jangan pernah percaya sekalipun. 


Memang, aku terlihat baik, tapi bukan berarti aku tidak bisa melakukan apapun kepadamu, Vina. Kau yakin, aku aku boleh tinggal di sini denganmu?” 

__ADS_1


Delvin bicara untuk menguji cara berpikir Vina itu. 


“Jadi apa maksudmu, kau ingin aku jadi orang yang egois?” tanyanya sambil mengernyitkan matanya. 


Delvin berbaring, lalu menjawab,


“Hmm, jika kau tidak egois, sama saja dengan barang murah. 


Manusia itu cenderung menilai dari keputusan yang dia ambil itu lebih mengedepankan mempertahankan image karena posisinya ingin terlihat di hargai atau tidak, atau justru mementingkan sifat naif? Karena merasa tidak enak karena merepotkan orang itu sendiri?


Jika kau bicara seperti itu kepada pria lain, jelas orang itu pasti langsung punya pikiran untuk memanfaatkan keadaan, karena kau tidak waspada. 


Jadi aku sarankan, jadilah egois, kau mengerti?”


Seolah terdengar seperti menegur tapi juga menuntun Vina untuk menyikapi setiap keadaan, sontak membuat Vina paham dan merasa bersalah. 


“Hanya saja, karena gedung ini sedang disewa sepenuhnya, dan aku hanya bisa dapat satu kamar yang tersisa karena aku memberikan uang lebih banyak, jadi aku akan tinggal disini,” Delvin bicara dengan terus terang, tapi karena Delvin sendiri bicara dengan cukup serius, Vina pun jadi bimbang. 


“Jika memang seperti itu, aku tidak mempermasalahkannya,” setelah bicara seperti itu, Delvin langsung mematung. 


Seketika perempatan siku di dahinya Delvin pun muncul juga sebab perkataan Vina yang lagi-lagi membuatnya cukup kesal. 


“Berarti tadi kau bicara bohong?” tanya Vina setelah berhasil menangkap bantal yang dilempar oleh Delvin. 


Dan inilah, yang membuat Vina cukup gelisah, sebab Delvin ini antara bisa dipercaya juga tidak dipercaya, karena Vina sendiri sama sekali tidak bisa membedakan mana yang bohong dan mana yang jujur, seolah kalau semua perkataan Delvin itu adalah nyata benar adaya. 


“Tidak sih,”


‘Orang ini, kenapa menyebalkan juga seperti Elvano?’ pikir Vina dengan alis mengkerut. “Sudahlah, terserahmu. Aku pusing!”


Tapi karena terlanjur sudah mulai emosi, Vina pun tidak memperdulikan lagi apapun yang dikatakan oleh Delvin ini, dan memilih untuk membiarkan Delvin di dalam kamar. 


BRUK …


Tanpa pikir panjang, Vina langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan segera menutup sepasang matanya dengan apapun yang ada di sana, agar pandangannya yang gelap, bisa membuat dirinya fokus untuk tidur. 


‘Wanita ini, memang benar-benar cukup keras kepala.’ detik hati Delvin, menatap samping tubuh Vina yang berbaring di depan sana. 

__ADS_1


"Tidur saja, aku percaya padamu kalau kau tidak akan melakukan apapun. Lagi pula kau lelah juga kan? Tidak usah sok jadi pahlawan dengan memakai sofa sebagai tempat tidurmu, lagi pula kasurnya ... Besar-" setelah bicara seperti itu, Vina pun sudah memejamkan matanya, dengan kata lain dia sudah tertidur dengan cukup cepat.


'Cepat sekali dia tidur? Apa saking lelahnya?' pikir Delvin.


Sesaat dia pun memperhatikan wajah Vina yang tampak penat itu.


Sungguh, itu adalah wajah yang tampak kalem.


'Tapi, apakah aku benar-benar boleh tidur di kasur?' Delvin agak ragu dengan keputusannya itu.


Tapi karena melihat sofa nya juga tidak terlalu panjang, dan Delvin sendiri tidak mau menyiksa tubuhnya itu dengan menekuk di atas sofa, dia pun memutuskan untuk tidur di kasur juga.


Tentu saja, 'Untuk berjaga-jaga, aku akan membuat batasan di tengah-tengah dengan bantal.'


Sebuah keputusan yang tepat, dia sudah menempatkan bantal sebagai batasan.


_______


Esok paginya.


Semuanya berubah dalam semalam.


"Uhm, kenapa begitu elastis ya?" gumaman lembut milik Vina pun langsung menyadarkan Delvin yang kala itu tadinya sedang tertidur.


'Hah? Bagaimana bisa aku-' kata-katanya seketika melayang dan tertiup angin di kepalanya, begitu melihat kalau orang yang berhasil pergi ke perbatasan wilayah tempat tidurnya Vina, justru Abel sendiri.


"Hmm, aromanya, cukup nyaman," Vina yang masih belum sadar dengan kondisinya saat ini, hanya terus bergumam, tapi tidak dengan Delvin.


'Apa yang barusan dia katakan? Aromaku? Apa itu maksudnya aroma tubuhku?!' pekik Delvin dalam benak hatinya yang paling dalam, sampai rona telinganya benar-benar muncul yang mengartikan kalau dirinya benar-benar cukup malu dengan posisi mereka berdua saat ini yang sedang berpelukan?


Bisa di bilang sebagai pelukan, akan tetapi yang paling parahnya adalah, rupanya ketika Delvin orang yang keluar dari perbatasan, justru orang yang memeluknya adalah si Vina itu sendiri.


"Uhm! Hangatnya," senyuman Vina cukup mengembang dengan begitu lebar, sambil memposisikan wajah Delvin yang ada di depan dadanya untuk lebih dia peluk lagi dengan lebih dalam.


'A-aku, aku harus melepaskan diri dari pelukannya!' pikirnya.


"Hehem!" Vina yang masih mengira itu adalah mimpi semata, semakin memeluk tubuh Delvin dengan posisi kaki kanannya yang mendarat di samping pinggangnya Delvin, sehingga secara tidak langsung, dia pun menciptakan jarak yang cukup intim.

__ADS_1


'S-sial, aku jadi tidak tahan!' teriak Delvin. Dengan buru-buru, dia pun langsung pergi melepaskan dirinya tanpa memperdulikan kalau Vina akan bangun atau tidak.


"Eh?! A-apa yang barusan aku lakukan dan aku rasakan?" tanya Vina dengan wajah tercengang.


__ADS_2