
"Hei, apa dia akan dibuat seperti itu terus?" tanya salah satu dari mereka bertiga terhadap Vina yang mereka bawa hasil dari hipnotis.
"Iyalah. Jika aku menyadarkannya sekarang, kau mau di buat repot dia yang akan memberontak dengan tegas?" tanya balik pria ini kepada temannya itu.
"Iya sih, tapi rasanya agak disayangkan juga, jika dia hanya di diamkan seperti itu," ucapnya sambil menatap mata Vina yang cukup kosong.
"Kau bersimpati kepadanya?" tanya pria ini sekali lagi.
Namun, keterdiaman itu menjadi sebuah jawaban untuk mereka.
'Kemana aku akan di bawa pergi lagi? Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali.' pikir Vina.
Meskipun dari luar dia seperti orang yang linglung, tapi tidak dengan alam bawah sadarnya yang justru menyadari adanya keanehan pada tubuhnya.
Dalam perjalanan yang menguras waktu lebih dari delapan jam, pada akhirnya Vina berhasil di bawa pergi menuju ke Ibu kota jakarta.
Dan itu berkaitan dengan kedua pengawalnya yang sekarang dengan susah payah tengah melacak keberadaan dari Vina itu sendiri.
___________
"Noir, apa kau sudah menemukan lokasinya?" tanya Ni, wanita bule ini saat ini sedang menyetir mobil menuju jakarta.
"Belum, aku masih sedang berusaha, tapi dari pada kau menatapku terus, mending lihat ke depan! Jangan sampai karena kesalahan kecil darimu, membuat kita celaka," beritahu Noir kepada rekan kerjanya itu.
"Heheh, kau peka juga ya~" celetuk Ni, dia terkekeh karena dia setidaknya masih bisa besama dengan pria di sampingnya itu untuk membereskan situasi yang sedang kacau balau itu.
"Sebenarnya kau menganggap aku ini apa?" sudut matanya melirik ke arah Ni yang tampak menikmati sikapnya yang dingin.
"Hanya teman, teman tapi sayang," jawabnya singkat.
Menghiraukan apa yang di katakan oleh rekan kerjanya itu, Noir pun terus meretas semua cctv yang ada untuk menemukan keberadaan dari Vina yang harus segera mereka berdua temukan sebagai sebuah beban tanggung jawab mereka sebagai bodyguard mereka.
"Sudahlah, jika kau terus meledekku seperti ini, sepertinya kita tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan kita," timpal Noir.
"Hmm, maaf. Aku akan fokus lagi," jawab Ni dengan senyuman lemahnya.
Gara-gara kemarin sore mereka berdua mendapatkan serangan dan Ni jatuh membentur batu, dahinya pun jadi ada plester yang cukup besar untuk menutupi seluruh luka yang ada, maka dari itu sekarang dia pun menyembunyikan fakta kalau kepalanya merasa pusing.
Tapi karena Noir sendiri sama sekali tidak terlihat akan berhenti untuk mencari keberadaan dari Nona Vina, dengan terpaksa, Ni harus menyembunyikan rasa sakit itu sambil menahan untuk tetap fokus.
DRRTT...
DRRTT....
"Hmm? Luniv?" lirik Noir, saat melihat layar handphone nya menampilkan nama dari bos mereka yang lain.
'Sekarang siapa yang sedang menghubungi Noir?' Ni mengernyitkan matanya.
Sungguh, di malam yang gelap itu, di jalan tol yang memiliki panjang lebih dari ratusan kilometer itu, sudah membuat pandangannya Ni semakin memburuk.
Selain lelah, ngantuk, dia juga harus menahan fakta untuk menyembunyikan kondisi kepalanya yang sakit.
"Halo?" Noir pun mengangkat teleponnya.
-"Ketepikan mobil kalian sekarang juga."- perintah perempuan ini.
"Hmm? Kenapa?"
-"Perintah ya perintah, menurut saja!"- tegas perempuan ini terhadap jawaban Noir yang terdengar ragu itu. -"Aku ada di belakang mobil kalian, jadi hentikan mobilnya sekarang juga."-
Mendengar tuntutan itu, Noir pun segera memberitahu Ni untuk berhenti. "Ni, berhenti sekarang, ini perintah dari Kak Luniv,"
"Kenapa kita harus berhenti?" menyipitkan matanya, karena cahaya dari lampu mobil yang ada di depan, cukup mengganggunya.
"Aku juga tidak tahu, tapi berhenti sekarang," pungkas Noir, tidak sabaran lagi.
"Iya-iya," jawab Ni, 'Ukh..., kepalaku semakin sakit.' Tapi, karena konsentrasinya sempat buyar gara-gara rasa sakit di kepalanya itu, Ni hampir aja menabrak pagar pembatas.
Sehingga dengan cepat-cepat, Ni pun langsung menginjak pedal gas detik itu juga.
CKITT....
"Berhenti yang benar dong, kau mau membunuh kita?" protes Noir kepada Ni, karena hampir saja menabrak pagar pembatas, hanya karena berbelok cukup tajam.
Ni yang sesaat kehilangan pikirannya, hanya bengong melihat Noir yang panik. "Yang penting kan tetap selamat," jawabnya dengan senyumannya yang tampak lemah.
TOK... TOK... TOK...
__ADS_1
Sampai tidak lama setelah itu, seseorang dari luar mengetuk pintu jendela mobilnya.
"Buka pintunya," pinta orang tersebut kepada Ni yang memang duduk di kursi depan stir mobil. "Ini aku," imbuhnya.
Ni dan Noir pun saling menatap satu sama lain, sebelum mereka berdua akhirnya sama-sama pergi keluar dari mobil.
KLEK...
"Kak? Kenapa kau bisa sampai di sini dan menemukan kami?" tanya Ni, dia emang tidak mengerti kenapa bos mereka ada di tempat yang sama dengan mereka.
Luniv, bagi mereka berdua perempuan berambut panjang itu adalah bos mereka berdua dalam arti sebagai ketua mereka, tapi di satu sisi lain juga Luniv adalah perempuan yang sempat menyamar menjadi Verina, sampai penyamarannya berakhir saat tahu kalau Nona yang dia gantikan pulang ke rumah.
"Aku tidak mungkin membiarkan orang yang sedang sakit memaksakan diri untuk terus bekerja. Ni, kau istirahat saja, jangan paksakan dirimu, apalagi kau luka seperti itu, mending diam saja," kata Luniv, membuat Ni yang ada di depannya persis itu, langsung terkejut.
"Tidak! Ini sudah jadi tugasku, jadi mana mungkin aku istirahat di saat aku sendiri juga membuat kesalahan sampai Nona Vina kembali di culik seperti itu oleh para baj*ngan itu," jawab Ni dengan antusias.
"Ni, dengarkan saja apa kata Kak Luniv," kata Noir.
"Tapi-" Ni langsung tersinggung saat Noir yang kembali menyela ucapannya.
"Jika sakit seharusnya kau bilang. Karena jika kau terus memaksakan diri untuk pekerjaan ini, bukannya membantu tapi malah jadi beban," jawab Noir dengan dingin, dan hal terebut pun menciptakan gejolak di dalam dadanya Ni yang sangat merasa kesal.
'Jadi aku beban ya, bilang saja karena kau ingin berduaan dengan kak Luniv," merasa kesal, Ni pun berbalik dan berjalan pergi.
"Ni! Jangan sembarangan kalau bicara, aku tidak mungkin ak-"
Tapi- belum sempat separuh jalan untuk pergi ke dalam mobil yang di bawa oleh kak Luniv yang ada di belakang sana, Ni tiba-tiba saja pingsan.
BRUKK....
"DIa masih saja seperti anak kecil. Jesi~ Bawa dia masuk ke dalam mobilmu," perintah Luniv kepada asistennya itu.
"Baik Kak," Jesi pun langsung menggendong tubuh Ni ala bridal, sedangkan Noir jadi merasa bersalah saat melihat Ni yang tiba-tiba saja pingsan seperti itu.
'Aku terlalu membuatnya bekerja cukup keras. Dan lagian, dia juga terlalu memaksakan dirinya. Jika saja dia bicara kalau tubuhnya tidak enak badan, aku tidak mungkin melihat dia pingsan di depanku seperti ini.' batin Noir, dia jadi merasa bersalah dengan kepergian Ni yang kini dibawa oleh Jesi.
Luniv, dia yang tahu dengan ekspresi serta tatapan merasa bersalah yang di perlihatkan oleh Noir itu, langsung angkat bicara, "Noir, sekarang akulah yang akan menggantikannya. Jadi kau bisa istirahat sejenak.
Kau juga sudah terlalu bekerja keras untuk misi kali ini. Aku akan menyetir mobilnya,"
Karena Noir dan Ni baru pertama kalinya harus menjadi bodyguard seseorang atas perintah dari Tuan Elvano secara langsung, hal itu membuat Luniv pun mengerti kalau itu adalah tugas dengan tanggung jawab yang besar, dan sangat di bebankan untuk bekerja secara sempurna dan jangan sampai membuat kesalahan.
Tapi, karena mereka berdua sempat membuat kesalahan, maka dari itu, Luniv pun tahu betapa mereka berdua untuk bertekad mencari Nona muda mereka sampai ketemu, entah apapun yang terjadi, sampai-sampai tidak berani untuk menghubunginya, karena takut kalau Luniv memarahi mereka berdua.
"Noir, dengarkan aku," Luniv mulai memberikan saran kepada Noir. "Kau dan Ni sudah bekerja dengan cukup baik, sisanya biar aku yang melakukannya. Lagi pula ini juga jadi tanggung jawabku karena kau adalah anak buah yang aku pilih untuk di rekomendasikan kepada Tuan muda.
Kau sudah melakukan pekerjaanmu dengan cukup baik, jadi istirahatlah, aku akan membangunkanmu saat kita suah sampai di tujuan kita,"
Setelah bicara seperti itu, Luniv pun pergi masuk kedalam mobil.
'Apa? Kak Luniv yang justru merekomendasikan kita berdua untuk mengerjakan misi untuk mengawasi Nona Vina? Kenapa sampai sebegitunya? Padahal kami berdua memang belum pernah sekalipun menjadi bodyguard seseorang.' karena tidak ada habisnya jika berpikir terus, Luniv pun terpaksa ikut rencananya kak Luniv.
__________
Gelap.
Ya, lagi-lagi berada di dalam tempat yang gelap, dingin, dan merasakan aroma tanah yang cukup kuat.
Dibandingkan dingin karena hari sudah mulai malam, Vina justru merasakan sensasi yang cukup dingin yang berbeda.
Itu membuat bulu kuduknya jadi berdiri secara spontan.
"Ehmm, dimana aku?"
"Oh, kau sudah bangun?" suara milik dari seorang wanita, akhirnya menyadarkan Vina yang tadinya masih separuh sadar setelah mendapatkan hipnotis.
"Siapa kau?!" tanya Vina dengan sikapnya yang cukup waspada.
Lantas wanita yang baru saja di tanyai oleh Vina, justru merekahkan sebuah senyuman yang begitu besar.
"Kita berdua pernah bertemu. Seharusnya kau masih ingat itu, Vina," jawabnya dengan sikap yang cukup santai.
Dia adalah Veronica, wanita yang selama ini menjadi buruan oleh Elvano, Delvin, dan beberapa orang lainnya, karena perintah untuk mencari keberadaan dari Veronica sendiri yang akan kemungkinan besar akan membahayakan seseorang, dan itu adalah Vina itu sendiri.
'Veronica?! B-bagaimana bisa? Jadi apakah dia yang memerintahkan orang lain untuk menculikku?!' pikir Vina dengan sangat keras.
"Pfft, kau pasti terkejut kan? Ya kan? Ja*ang?" sindir Veronica dengan sangat terus terang. "Jika bukan karenamu yang merebut Vano dariku, kau tidak mungkin akan di culik seperti ini. Jadi jangan salahkan aku yang bersikap kasar padamu, Vina, karena itulah hukuman atas apa yang sudah kau perbuat kepadaku!"
__ADS_1
Kesal dengan kejadian terakhir dimana Elvano membongkar semua kedok bisnis Ayah nya Varonica ke para menteri negara, serta pengadilan, yang mana hal itu membuat Veronica jadi langsung jatuh miskin dan kehilangan Vano di saat yang bersamaan juga, Veronica pun langsung menampar wajah Vina dengan cukup keras.
PLAK ...
"Akhh!" teriak Vina dengan rasa sakitnya.
"Itu baru satu, masih ada banyak yang belum aku sebutkan, akibat keberadaanmu diantara aku dan Elvano membuat aku jatuh miskin dan Vano memutuskan hubungan denganku!"
PLAK...!
"Akhh! Padahal aku tidak melakukan apapun kepadanya atau membuat hubungan kalian putus begitu, kenapa aku yang jadi pelampiasannya?!"
"Tentu saja, apalagi karena bukan kau yang hanya perempuan desa udik yang mengganggu pemandanganku," hina Veronica sekali lagi, lalu dia kembali menampar wajah Vina dengan sangat keras secara bergantian.
Tamparan itu pun membuat kedua pipinya Vina jadi memerah, dan kedua telinganya jadi berdengung.
Baru kali ini dia mendapatkan tamparan dan di tuding telah membuat hubungan cinta milik orang lain jadi hancur.
"Mungkin inilah, sebab kau putus hubungan dengan Vano! Kau sendiri emosian begitu."
PLAK!
"Akhhw~" rintih Vina sekali lagi.
"Sudah mulai berani ya, mulutmu kelihatannya harus aku berikan pelajaran juga," ancam Veronica kepada Vina. "Kau, buka celanamu, dan berikan apa yang dia mau," perintah Veronica pada salah satu anak buahnya Abel yang sengaja di diberikan kepada Veronica.
"Apa?" terkejut pria ini.
Veronica langsung melotot ke arah anak buahnya tersebut, untuk segera mengiyakan perintahnya tadi.
'Apa?! Apa-apa yang mau dia lakukan kepadaku?!' panik Vina.
Dia tidak ingin berburuk sangka, tapi pikirannya tentu saja hanya terpikirkan satu imajinasi yang sangat tidak senonoh.
"Buka saja. Lagian nggak ada ruginya juga kan?" kata Veronica, benar-benar menyuruh laki-laki tersebut untuk melakukan apa yang di perintahkannya.
'Gila, dia memang wanita gila. Tapi-' karena dia bekerja untuk Tuan Abel dan dia juga di perintahkan untuk menuruti semua perkataan dari wanita tersebut, orang ini pun pada akhirnya terpaksa menuruti kemauannya.
Dia berjalan ke arahnya Vina dan berhenti di sana. Setelah berdiri di depannya Vina persis, orang ini pun mulai menurunkan resletingnya.
"Ah ya, sebelum itu bukannya kau harus mandi dulu ya?" kata Veronica dengan tiba-tiba, tepat setelah adanya empat orang lainnya yang datang dengan membawa delapan ember berisi air.
"Veronica, kau akan kena karmanya!"
"Yayaya, lagi pula aku sudah kena karma nya, jadi apalagi yang harus aku dapatkan?" cetus Veronica dengan selamba.
"Nona, kami sudah membawa airnya,"
"Ah ya, kalau begitu sekarang siram dulu dia, agar tubuhnya bersih dan lembab," jawab Veronica.
'Aku punya firasat buruk soal ini. Aku yakin bukan sekedar air saja, ya kan?' pikir Vina, dia jadi semakin panik dan juga takut untuk menemukan kenyataan kalau ini adalah sesi penyiksaan sesi kedua setelah di gudang waktu itu.
"Baik," segera mengiyakan perintah dari Veronica, satu per satu dari ember tersebut pun langsung di bawa ke arah Vina.
Veronica langsung menghindar untuk memberikan ruang kepada mereka bertiga, barulah setelah di bawa ke sampingnya Vina, ember berisi air es itu pun langsung di siram ke tubuhnya Vina.
BYURR....
"Akhhh! D-dingin!" teriak Vina. 'Dingin sekali! Kenapa mereka suka sekali menyiksa orang sepertiku?
Kenapa apa-apa selalu saja jadi salah aku terus seperti ini?! Memangnya dosa apa yang pernah aku lakukan kepada orang lain sampai aku dapat dendam dari orang lain seperti ini?!' teriak Vina, dia sangat merasa tidak adil dengan hidupnya sendiri, karena perasaan dia sama sekali tidak pernah membuat musuh dengan orang lain.
"Ayo, siram lagi! Buat si jal*ng ini merasakan siksanya seperti apa yang aku rasakan selama ini setelah dia menghancurkan masa depanku dengan Vano!" teriaknya dengan wajah penuh kebahagiaan.
BYURR...
"Akhh~ D-dingin! Berhenti!" teriak Vina dengan wajah frustasi, karena saking tersiksanya dengan dingin itu, sampai tangannya yang masih dalam proses pemulihan karena patah tulang, langsung merasakan nyeri yang cukup mengganggu.
"Berhenti? Tidak ada pilihan lain selain harus menerima keadaanmu itu, Vina, siram lagi,"
Tidak hanya delapan ember saja, ada 12 ember lainnya yang akhirnya terus menerus di siram ke tubuhnya Vina, sampai kolam yang di buat dari bahan plastik yang biasa di gunakan sebagai kolam anak-anak, akhirnya mulai terisi dengan air es, dan langsung merendam kedua kakinya Vina.
Itu adalah pengalaman paling buruk yang pernah ada, yang membuat trauma dari siksaan yang pernah dia dapatkan pun kembali muncul.
BYURR....
"Hahh... Hah... Hah... Hah..., berhenti, berhenti! Jika mau membunuhku lebih baik bunuh aku saja sekarang!" seru Vina, merasa sudah tidak tahan lagi dengan siksaan yang dia terima itu.
__ADS_1