Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Bukan


__ADS_3

BRUKK....


Keduanya terjatuh bersama-sama dan saling tumpang tindih.


Membuat keduanya sekarang saling pandang satu sama lain.


Nafas yang terdengar lebih jelas, dan detak jantung yang begitu cepat. Dan membuat mereka saat ini ini saling berbagi sekaligus bertukar udara.


"......" Ovin merasakan detak jantung pria yang sedang di tindihnya itu begitu cepat, tapi persetan mau cepat atau lambat, ia segera menopang tubuhnya dengan kedua tangannya, hanya saja Franz terus bersikeras ingin bicara dengannya.


" Sudah aku bilang jangan pergi. " kata Franz, seraya tangan kanannya merangkul pinggang dari gadis ini dengan erat.


"Siapa peduli dengan itu?!" bentaknya, kedua tangannya berusaha menopang tubuhnya lagi. "Kau bisa-bisanya menghinaku seperti itu?! Apa kau bicara tidak pakai otak? Padahal aku hanya bercanda, tapi kau selalu saja menganggapnya dengan sangat serius, aku mana mungkin terima hinaan seperti itu!"


'Benar-benar....sekali hinaan tadi sudah langsung berubah.' Pikir Franz rasa penasarannya tentang sifat lain dari gadis ini pun terungkap. "Aku minta maaf."


"Aku bilang kau telat." Seketika ekspresi wajahnya begitu dingin.


Dia tidak ingin menerima permintaan maaf dari laki-laki ini, karena sudah bukan sekali dua kali dirinya di hina, tapi sudah berkali-kali, dan setiap mulut yang keluar dari mulutnya Franz, itu sama saja seperti pisau, cukup tajam untuk menembus hati nurani orang lain.


"Jangan peri, kalau Ibuku tahu, bag-"


"Itu akan jadi masalahmu sendiri. Aku tidak akan peduli lagi denganmu." ketusnya, dirinya masih memberontak keras dari rangkulan ketat itu.

__ADS_1


'Karena sekarang kau mau membuatku susah begini, masalahmu sekarang adalah-' begitu tangan kanannya terus mempertahankan kekuatan di belakang pinggangnya Ovin, tangan kirinya Franz angkat dan mendorong tengkuk dari kepala Ovin itu ke arahnya, dan akhirnya Franz pun memaksa bibirnya Ovin untuk mendarat di atas bibirnya, membungkam sepenuhnya semua perdebatan mereka berdua.


CUP.....


Franz mencium bibir ranum itu, bibir merah alami tanpa sebuah polesan lipstik atau apa pun. Benar-benar kenikmatan yang berbeda dan alami.


Hanya saja, ia justru melihat mata Ovin yang membulat lebar karena rasa terkejutnya, tidak membuat dirinya bergeming untuk menikmati ciuman itu.


Ketika lidahnya hendak menelusup masuk ke dalam mulutnya gadis ini, secara singkat dan padat, sebuah gigitan pun Franz dapatkan.


"Ahh!" gigitan besar sukses membuat Franz mengaduh sakit dan secara otomatis, karena keterkejutannya, Franz melonggarkan tangannya yang sempat melingkar di pinggang dari gadis ini.


Namun secara kasar, Ovin yang segera berdiri karena terbebas dari hasutan setan ini, langsung saja meludah.


Setelah itu Ovin segera mundur dua langkah ke belakang dan mengambil koper yang tadi sempat tergeletak.


"Vin!" panggilnya, selagi menyeka bibirnya yang sedikit bernoda darah gara-gara gigitan tadi.


Tapi yang di panggilnya justru di respon dengan sebuah suara keras karena pintu yang di tutup dengan kasar.


BRAKK.....


Pintu yang lagi-lagi jadi pelampiasannya gadis yang sedang marah ini.

__ADS_1


Yang hanya di awali sebuah candaan kecil, justru jadi sebuah masalah yang sedikit makin rumit.


"Sial...., aku harus bagaimana?!" memukul lantai dengan kasar, setelahnya ia berdiri dan mencoba mengejar Ovin. "Ovin! Dengar aku! Aku m-"


"Diam! Diam! Diam! Jangan bicara lagi! Aku sedang gedeg sendiri denganmu yang tidak tahu cara bicara yang benar!" Teriak Ovin di dalam lorong tersebut, sampai beberapa pelayan yang sempat lewat, ikut mendengar pertengkaran kedua orang tersebut.


Tapi, Franz yang tidak mau mendengar amarah dari Istrinya itu, langsung mengejarnya.


Meskipun ternyata Ovin punya langkah yang begitu lebar dan cepat, tidak menyulutkan Franz untuk menghampiri gadis tersebut.


"Kira-kira ada apa dengan mereka berdua?"


"Oh, apa mereka berdua sedang bertengkar? Kelihatannya sangat serius."


"Tapi Tuan muda Franz, sampai mengejar Nona itu, berarti memang cukup serius itu. Tapi ngomong-ngomong, apa hubungan mereka berdua ya?"


Ucap mereka bertiga sambil melihat betapa jeri payah Franz dalam mencoba untuk mengejar Ovin dan mencoba untuk berbaikan.


"Aku jadi kasihan."


"Kau benar, Tuan muda benar-benar terlihat seperti orang yang sedang sangat menyesal."


"He em. Padahal aku dengar, Tuan muda Franz itu orang yang cukup arogan dan sombong, tapi kelihatannya beliau cukup perhatian dengan nona itu."

__ADS_1


__ADS_2