Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Ingin Egois


__ADS_3

"Tapi ada satu hal yang ingin saya tanyakan lagi, apakah anda baik-baik saja selama tinggal disini?"


"Kau bertanya seolah aku tersiksa, begitu?" kernyit Vano.


Pertanyaan itu pun berhasil mengundang Vina yang ada di luar untuk masuk kedalam rumah.


Tok...Tok....


"Permisi, aku mengantarkan makanan dan minuman untuk kalian. Hanya ini yang bisa aku berikan, semoga tidak ada masalah dengan hidangan sederhana ini," kata Vina, tanpa memberikan celah kepada Delvin yang ingin angkat bicara, karena terlihat mulutnya ingin mengatakan sesuatu saat itu juga, tapi karena Vina mengatakan kalimat sedemikan rupa, Delvin pun langsung sadar kalau ucapannya tadi kepada Elvano memang langsung menyinggung Verina yang notabene nya adalah orang yang menyelamatkan Elvano dari maut.


Oleh karena itu, Delvin pun segera meralat ucapan pertamanya yang hendak dia ucapkan dengan kalimat lain, "Tidak masalah, ini sudah lebih dari cukup, karena kedatanganku jadi merepotkanmu,"


"...," Vina awalnya terdiam, memperhatikan kedua laki-laki yang memiliki logat gaya bicara, atau aksen yang sama. "Kalau begitu aku permisi,"


Karena dia tidak ingin mendengar lebih banyak lagi pembicaraan yang ingin dia dengar, Vina pun segera pergi dari sana untuk memberikan waktu bagi dua orang itu untuk berbicara satu sama lain.


_____________


Sore itu, bagi Vina adalah sore yang penuh dengan rasa sepi.


Sebab apa? Itu di sebabkan karena tamu milik Elvano sama sekali tidak memiliki tanda-tanda akan pulang.


Maka dari itu, Vina yang merasa sedikit sepi, dia pun memilih untuk pergi keluar karena ada yang ingin dia beli, yaitu camilan.

__ADS_1


WUSHH~


Menerjang angin dari jalan yang harus Vina lalui, di tengah-tengah dirinya menyetir sepeda motor dengan santai, pikirannya pun terbagi dengan lamunan dari Vano.


'Apa dia benar-benar akan pergi? Secepat ini?' pikir Vina. Padahal waktu yang mereka berdua jalani untuk saling mengenal pun terbilang cukup singkat, tapi kelihatannya semua itu akan menghilang bersamaan dengan waktu yang kian berlalu, bersamaan dengan perginya Elvano dari tempat tinggal barunya itu. 'Hahh, kenapa aku jadi segalau ini? Apa karena dia orang pertama yang bicara banyak denganku, dan membuatku merasa nyaman, jadinya aku tidak rela, jika dia pergi dari sini?'


Semua pikirannya terus menyatakan kalau Vano tidak boleh pergi, tapi di satu sisi, kemungkinan besar juga Delvin, pria asing yang menyebut dirinya sebagai sahabat karib dari Elvano adalah orang yang mengenal baik keluarganya.


'Rasanya berat juga, karena coganku akan pergi. Tapi kalau aku menahannya, memangnya apa yang mau aku lakukan?' pikirnya lagi. Vina benar-benar merasa terjerat dengan semua perasaan serta emosi yang berhubungan dengan orang yang dia selamatkan itu. "Lagi pula aku tidak punya hubungan khusus dengan orang itu, jadi abaikan Vina, abaikan saja, kau kan punya gebetan lain," gumam Vina, mencoba menenangkan dirinya sendiri, kalau dia tidak boleh menghambat tujuan serta hidup dari kedua orang tersebut.


Dalam perjalanan yang tidak sampai menghabiskan waktu sampai lima belas menit, Vina akhirnya sampai di sebuah alun-alun, yang memperlihatkan banyak pedagang kaki lima yang menjajakan makanan yang mereka jual.


Tanpa sungkan lagi, Vina pun mampir ke alun-alun, memarkiran sepeda motornya, Vina pun menghampiri pedagang martabak manis.


Ya, ketika para anak muda itu duduk bersama dengan teman atau kekasihnya, Vina pun duduk sendirian sambil memandang langit yang mulai menjadi gelap.


"Hahaha, setelah ini kau ingin pergi kemana?" tanya seorang pria kepada perempuan berjilbab, tidak mungkin dan tidak lain mereka berdua tengah berpacaran.


"Emm, makan bakso di tempat langgananku, bagaimana?" sahutnya dengan senyuman manis yang cukup cantik, karena memang perempuan ini punya wajah putih bersih dengan bibir memakai lipstik berwarna merah juga, sehingga jelas, betapa nyentrik nya perempuan yang lebih muda lima tahun dari Vina itu.


"Oh ya, nanti malam kita kerumahmu ya?"


Satu pertanyaan dari remaja yang sedang duduk di atas rumput sambil memakan sosis bakar pun sedang bertanya pada sahabatnya yang sedang main handphone.

__ADS_1


"Memangnya mau apa?" tanya si empu.


"Menginap!" jawab kedua temanya itu secara bersamaan.


"Hahh~ Padahal duduk di sini itu enak, tapi kenapa aku harus tersiksa dengan pemandangan yang terasa menyakitkan mataku, ya?" gumam Vina dengan senyuman simpul menghiasi bibir merah alami miliknya, lalu dia pun benar-benar duduk di atas rumput juga seraya memperhatikan sekitarnya yang terlihat begitu bahagia bisa berkumpul dengan keluarga maupun teman.


Sedangkan dirinya? Dia bahkan serasa tidak memiliki teman sama sekali. Bagaikan orang hilang, Vina benar-benar mencoba menikmati suasana di alun-alun tersebut.


"Elvano, hmm..., tapi apa dia benar-benar akan pergi secepat ini hm?! Kenapa aku jadi frustasi seperti ini ya?" gerutu Vina, dia terus memperhatikan adanya dua bintang yang ada di atas langit sana. 'Sebenarnya aku tidak ingin dia pergi, tapi mau seperti apapun, aku tidak boleh jadi orang yang egois hanya karena dia tampan, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena lagi pula kami berdua sama sekali tidak memiliki hubungan,'


Dan Vina pun adalah satu-satunya perempuan dari puluhan perempuan lainnya yang memiliki nasib dimana hanya bisa datang ke alun-alun sendirian.


Tapi semua itu tidak begitu di permasalahkan, karena yang penting adalah kenyamanannya.


"Lebih baik aku coba foto-foto deh. Mumpung suasana di sini cukup bagus, kan lumayan, bisa aku jadikan story." gumam Vina, mengeluarkan handphone nya, lalu dia pun mengeluarkan tripod untuk mengambil gambar dengan posisi yang lebih baik ketimbang harus menggunakan tangannya.


Sedangkan di satu sisi tersembunyi, ada satu orang yang sebenarnya sudah mengikuti Vina semenjak tadi. Dan sekarang orang tersebut pun terus mengintai Vina dari tempat yang sedikit agak jauh.


"Ketemu juga. Tapi tidak aku sangka juga, kalau aku bisa menemukan Vina sendirian di alun-alun ini," ucap pria ini, dia adalah Abel.


Setelah hampir seharian penuh dirinya terus mencari keberadaan dari Vina, dia akhirnya bisa menemukan di alun-alun kota ini, dan parahnya malah sedang asik mengambil gambar, padahal sekarang ada orang yang sedang mengintainya.


"Jika di lihat-lihat, dia memang beda sama yang lain. Tapi tunggu dulu, kalau di pikir-pikir dia pergi sendirian ke sini, jadi apa itu artinya Elvano ada di rumahnya?" gumam Abel, karena merasa ada satu kesempatan paling bagus, untuk bisa membuat momen berharga untuk Vina.

__ADS_1


__ADS_2