
'Karena kau bukan orang yang bisa aku gapai.' hatinya tentu saja terus berkata demikian, kejujuran yang tidak bisa Vina ungkapkan dengan jujur kepada Vano. "Kau kan punya pacar,"
Mendengar pernyataan dari Vina, Elvano jadi terkekeh dan berakhir dengan seringaian tipis yang kian menghilang dan digantikan dengan sikap Elvano yang cukup dingin.
"Aku sudah memutuskan hubunganku dengannya, jadi apa yang kau pikirkan lagi? Aku itu sudah jom-"
"Kenapa kau terlihat begitu antusias sekali untuk terus mendekatiku? Aku itu tidak sesuai dengan harapanmu, kau tampan, pintar, yah pujian itu berlaku padamu yang sempurna, tapi kenapa kau terus seperti ini kepadaku? Kau sama sekali tidak membuat aku nyaman," ungkapan yang Vina katakan itu sebenarnya sedikit melenceng.
Dia sebenarnya merasa cukup nyaman dengan kehadiran dari Elvano, tapi mau bagaimanapun dia harus punya garis kasar yang cukup jelas, kalau diantara mereka berdua sama sekali tidak ada yang cocok.
Tidak ada yang baik selama mereka berdua bersama, maka dari itu sekalipun Elvano mengatakan perasaannya kepadanya, akan tetapi Vina akan menjawab perasaan itu dengan penolakan, sekalipun dalam hatinya terus memiliki satu perasaan yang berkebalikan dengan pikirannya tersebut.
'Dia tidak nyaman denganku?' Elvano membelalakkan matanya. "Apa yang membuatmu tidak nyaman bersamaku?"
"Wajahmu," jawab Vina singkat. Dia pun memunggungi Elvano yang sedang memasang ekspresi wajah terperangah.
"Katamu tampan, kenapa kau mengatakan yang jadi masalah adalah wajahku?" protes Elvano, dia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikirannya Vina ini.
"Karena kau tampan, kau banyak menggoda banyak mata. Jadi untuk apa aku menyukaimu?" ketus Vina.
Vina bahkan sebenarnya sudah tidak mau dekat-dekat dengan Elvano, mengingat semua insiden yang Vina alami, semuanya berkat masalah yan di bawa oleh Elvano dan di tular kepadanya.
'Pada akhirnya, semua takdir tidak ada yang baik. Dia seorang Tuan muda, tapi dia bahkan punya masalah rumit yang cukup besar.
Tentu saja aku tidak mau menjadi bagian itu untuk selamanya, jika aku berhubungan dengan Vano terus ke depannya.' pikir Vina.
Sekalipun dia akhirnya tidak bisa menolak untuk terus tinggal bersama, sampai tangannya Vina sembuh dari luka patah tulang yang dia alami.
'Tuan sudah di tolak bahkan sebelum benar-benar mengungkapkan perasaannya kepada Vina?
Bukannya ini bagus, artinya Vina itu wanita yang cukup sadar diri dengan posisinya yang sama sekali tidak pantas untuk berada di sisinya Tuan muda terus?' Delvin yang diam-diam memasang alat penyadap di dalam kamarnya Vina, merasa cukup lega dengan sudut pikirannya Vina itu.
__ADS_1
"Kau yakin? Menolakku karena wajah yang bisa membuatmu kenyang setiap hari ini?" Vano yang tidak terima itu, terus membujuk Vina untuk memikirkan baik-baik.
"Iya. Sebenarnya aku tidak mau bicara ini, tapi sepertinya agar kau bisa paham dengan apa yang aku maksud, aku akan mengatakannya kepadamu sekarang," perkataannya Vina yang cukup menggantung itu, membuat Vano jadi cukup penasaran.
'Apa yang mau dia katakan? Padahal aku sudah berusaha semampuku untuk bisa membuat Vina tertarik kepadaku, tapi apa ini? Dia bahkan menolakku sebelum aku mengatakannya secara resmi kepadanya?' Elvano jadi di buat menunggu untuk mendapatkan jawaban dari Vina itu.
Vina yang tadinya memunggungi Elvano saja, tiba-tiba langsung menarik selimutnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut tersebut dan menjawab, "Selama aku dekat denganmu, kemungkinan besar aku berada di setiap bahaya pasti jauh lebih banyak. Jadi maaf Elvano, aku menghargai perasaanmu itu, tapi aku terpaksa menolaknya karena aku benar-benar trauma dengan semua ini.
Sampai kedua orang tua aku hampir terseret dengan masalahmu juga, jauh lebih baik jika aku tidak dekat-dekat denganmu lagi.
Jadi, jika nanti aku pulang ke negaraku, aku pikir kau tidak usah pergi denganku juga."
Bisa mendengar semua si hati Vina yang ternyata cukup membuat hati nuraninya Vano di sentil, Elvano pun jadinya terdiam.
Apa yang dikatakan oleh Vina itu ada benarnya, tapi apa yang akan di lakukan dengan has*at yang dia miliki itu?
Suasana di dalam kamar itu akhirnya menjadi cukup canggung. Elvano masih duduk di tepi tempat tidur, sedangkan Vina, dia masih meringkuk menyembunyikan sebagian tubuhnya di dalam selimut untuk tidak memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya sudah basah karena dalam diam dia sendiri sudah menangis.
Apakah aku memilih pilihan yang egois?
Aku hanya tidak ingin terlalu serakah, tapi aku juga sebenarnya tidak ingin membuat perasannya sakit karena ucapanku tadi.' Vina pun jadi delima dalam diam.
Vano yang semual dia di tempat, tiba-tiba menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, tepat di belakang tubuhnya Vina.
'Apa yang dia lakukan?' Vina ingin bertanya, dia ingin melihat apa yang sedang di lakukan oleh Elvano di belakangnya. Tapi karena cukup sensi, dia Vina pun tidak berani untuk melakukannya.
"Apa yang kau katakan itu benar. Tapi Vina, sebaiknya kau siap-siap saja," ucapannya Elvano berhasil menarik semua pikirannya Vina tadi, dan terarah untuk memberikan rasa penasaran terhadap dirinya sendiri atas perkataannya Vano.
"Siap untuk apa?" tanya Vina dengan nada yang cukup lirih.
Elvano mengangkat salah satu tangannya ke atas, memperhatikan punggung dan telapak tangannya secara bergantian, Elvano menyahut, "Walaupun apa yang kau katakan tadi itu benar, sepertinya aku tidak bisa menuruti keinginanmu yang berharap agar aku mundur,"
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, Elvano langsung menempatkan tangan kanannya itu di atas wajahnya sendiri. Menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya sendiri, Elvano sudah punya tekad sendiri yang membuat diri Vina sendiri cukup tercengang.
'Apa?! Yang benar saja, perempuan sepertiku di taksir oleh orang seperti dia? Apa otaknya masih waras?' gerutu Vina dalam benaknya.
'Jika permasalahannya adalah lalat yang mengganggu, aku hanya tinggal menyingkirkannya saja.
Aku yakin, setelah ini aku mengatakan hal sekeren tadi, aku pasti bisa membuat keinginanku ini jadi kenyataan.
Walaupun dia menolakku secara terang-terangan seperti itu, sebagai pria aku tidak bisa mundur bahkan sebelum aku memulai langkah dari garis start.' Elvano benar-benar cukup punya tekad yang membuat Vina akan terkejut.
"Kau pasti salah minum obat,"
"Tepatnya salah minum obat cinta. Makannya aku suka padamu,"
Seketika Vina malu setengah mati dengan kata-kata yang terdengar menggoda itu.
"Aku akan jujur, walaupun kau jelek,"
JLEB...
Hati nuraninya Vina seketika langsung kena pukulan telak dari Vano. "Aku memang jelek, makannya itu aku heran, kenapa kau suka padaku?"
"Yang namanya hati juga tidak bisa di prediksi, takdir juga begitu."
"Bukannya laki-laki suka menilai semua hal dengan logika?"
"Jika itu tanggapanmu, kau sedikit melenceng. Logika pria di gunakan sebanyak 75%, sedangkan perasaan 25%, jadi masih menyisakan akal sehat untuk menentukan pilihanku sendiri.
Makannya, aku bilang, walaupun kau jelek, tapi kau itu kan bisa di poles." ucapannya Vnao pun sama sekali tidak bisa di bantah oleh Vina.
Bahkan Delvin yang sekarang ini ada di dalam kamar, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Kenapa aku punya Tuan dengan sisi seperti itu?'
__ADS_1