Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
34 : Penculikan


__ADS_3

"Kyaa! Hahaha, bisa juga ya, aku dapat telepon dari orang itu lagi. Bahagianya hati ini, aku jadi semangat lagi nih, heheh," Vina yang kegirangan itu segera bangkit dari sofa dan pergi menuju kamar, untuk berganti pakaian.


Ya, gara-gara malaikatnya baru saja menghubunginya, Vina pun jadi merasa bahagia, terutama dirinya jadi merasa bersemangat lagi untuk melakukan pekerjaannya.


Ada beberapa pesanan dari para pelanggannya untuk di buatkan mahar, juga buket bunga, tetapi karena dirinya kekurangan bunga, untuk buket bunga pesanannya, karena ingin mawar putih yang besar-besar, Vina pun memutuskan untuk pergi ke PWT lagi, mencari angin segar sekalian bisa jalan-jalan.


Meskipun yang di sayangkan adalah dirinya tidak bisa pergi dengan Vano lagi.


'Hahh~ Padahal meskipun waktu itu aku harus kelelahan, gara-gara harus membonceng Vano yang seperti raksasa itu, tapi karena sekarang dia sudah pergi, aku jadi merasa kesepian lagi.' pikir Vina, dia sudah baru saja berangkat dari rumah untuk menuju kota tujuannya yang jaraknya lumayan jauh itu.


Tapi, tepat di tengah Vina sedang berkendara sendirian, sebenarnya di balik itu semua sudah ada beberapa orang yang sedang mengikutinya.


Orang yang sudah lumayan lama untuk mengintai aktivitas Vina sampai akhirnya di waktu tepat seperti ini, mereka akhirnya punya kesempatan untuk bisa beraksi.


"Bos, anda yakin itu orangnya?" tanya pria ini kepada majikannya yang sedang duduk di mobil sedan mewah berwarna hitam.


Si empu pun membuka matanya, dan menatap ke arah depan, dimana di depan sana persis ada seorang pengendara motor yang tidka lain adalah Vina.


Target yang selama ini dia incar, untuk dia jadikan umpan Elvano, karena Elvano sudah pergi ke luar negeri lagi.


"Iya. Lagi pula aku sendiri sudah mengawasinya selama beberapa hari ini, dia orang yang akan aku bawa pergi, jadi persiapkan diri kalian untuk menculiknya," ucap Abel, pria berjas hitam yang sedang duduk di kursi belakang.


Dialah orang yang selama ini mengintai Vina, bahkan di saat pagi-pagi buta dimana Vina sedang bercengkrama dengan Delvin, Abel pun juga berada di tempat yang sama untuk mengintai juga, tentunya.


"Baik Bos," jawab tiga orang tersebut, dimana tepat di belakang mobil sedan mewah yang di pakai oleh Abel, ada satu mobil Box yang memang di dalamnya ada dua orang yang sengaja terus mengikuti motor yang ada di depan sana.


"Kau salip dia dan coba tanya alamat, itu lebih bagus dari pada tanya jalan, karena dia itu lumayan pakai otak juga, mobil ini ada sistem GPS," perintah Abel kepada satu anak buahnya yang berperan menjadi supir pribadinya.


"Baik Bos," jawab orang ini, lalu dia pun sedikit menaikkan kecepatannya, begitu sudah sejajar dengan motor yang di kendarai oleh Vina, kaca jendelanya pun di turunkan.


"Nona, apa anda bisa berhenti sebentar?" tanya pria ini, mulai menjalankan rencananya.


"Oh, iya," dengan begitu patuhnya Vina pun menghentikan motornya, dan begitu pula dengan mobil hitam tersebut. "Ada apa ya?" tanya Vina penasaran, apalagi dia lebih penasaran dengan satu orang yang sedang duduk di kursi penumpang.


Akan tetapi, karena kaca jendelanya memiliki lapisan yang tidak bisa membuat Vina melihat siapa orang tersebut, karena saking gelapnya, Vina pun hanya bisa diam saja sejenak.


Sebenarnya entah mau di bilang bodoh atau bagaimana. Hatinya terus mengatakan untuk membantu orang yang kemungkinan besar untuk bertanya, sedangkan di satu sisi apa dirinya harus waspada dengan tidak menghentikan laju motornya?


Dua keputusan yang sangat bertolak belakang.


Begitu sudah di respon oleh Vina, penjahat yang berperan menjadi supir ini pun langsung membungkukkan tubuhnya ke sisi sebrang pintu, karena stir mobil yang dia gunakan itu letaknya di kanan.


"Apa anda tahu alamat ini?" memberikan sepucuk kartu nama berisi alamat rumah milik seseorang.


Tapi melihat jalan tersebut menunjukkan jalan yang Vina kenali, Vina pun menjawab. "Oh, anda hanya tinggal lurus saja dari sini, kalau mau saya bisa mengantar anda sekalian, karena jalurnya sama dengan jalan yang akan saya lewati," jawab Vina dengan sopan sambil memberikan kembali kartu nama tersebut.


Tapi, di saat kartu nama itu di kembalikan kepada pria itu, hal mengejutkan justru terjadi pada Vina.


"Kalau begitu saya ucapkan terima kasih, ya? Karena anda mau bekerja sama dengan kami," begitu sudah selesai bicara, dia langsung menyemprotkan sebuah cairan dari botol spray yang dia bawa itu tepat ke wajahnya Vina.


"Ya itu sa-"


SPROTT....!

__ADS_1


Wajahnya seketika menjadi basah, karena air yang tidak Vina tahu itu air apa.


"A-apa ini?! Apa yang kau semprotkan ke wajahku!" pekik Vina, seketika kalimat sopannya pun langsung hilang seketika.


Dia benar-benar sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh pria tersebut, sehingga dengan buru-buru, Vina pun segera menyeka wajahnya dengan lengan bajunya.


"Bukan apa-apa," jawabnya dengan senyuman simpulnya.


'E-eh, tunggu, kenapa aku jadi merasa mengantuk?! Tidak! Jangan-jangan cairan tadi itu adalah obat tidur?!' tepat setelah berpikir demikian, pandangannya Vina pun perlahan jadi pudar, dan itu cukup mengesalkan, sebab dirinya berhasil di permainkan, di tipu dengan berpura-pura bertanya alamat, padahal tujuannya adalah untuk melakukan sesuatu kepadanya.


Padahal dirinya punya niat baik untuk membantu, tapi sayangnya kebaikannya itu justru di gunakan sebagai kesempatan untuk di jahati oleh orang tersebut.


Dan apa yang terjadi? Sekarang dirinya akhirnya sudah mulai merasakan kantuk yang cukup besar, seakan kalau dia tidak tidur, itu akan membawanya dalam kematian.


Semakin samar kelopak matanya pun semakin berat untuk terus bertahan terbuka, sampai akhirnya Vina pun akhirnya tumbang.


BRUUKK...


Di saat yang bersamaan, sebelum motornya jatuh menimpa tubuhnya Vina, dua orang yang tadi berada di mobil box yang ada di belakang, langsung menahan motor tersebut.


"Bos, sekarang kita harus apa lagi?" tanya salah satu dari mereka.


"Kalian berdua bawa motor itu masuk, dan sedangkan wanita itu, bawa masuk kedalam mobil ini denganku," jawab Abel sambil memperhatikan Vina yang sudah tidak sadarkan diri itu.


Dan seperti yang di perintahkan, mereka bertiga pun berada di perannya masing-masing, sampai akhirnya tujuan untuk bisa menculik Vina, selesai juga.


BRAKK....


Wanita bernama Verina itu, kini akhirnya bisa berada di sampingnya Abel persis.


"Ayo jalan," perintah Abel kepada supir nya itu.


Tanpa jawaban apapun, dia pun segera menginjak pedal gas dan membawa Tuan nya pergi dari sana untuk langsung menuju ke PWT, dimana di hotel itulah ada helikopter yang menunggunya, dan Abel sendiri akan membawa Vina pergi langsung ke bandara.


____________


"Uhmmm...." samar-samar Vina merasakan adanya suara yang cukup samar tapi masih bisa ia rasakan juga. 'Akhh...kenapa kepalaku sakit?' pikir Vina, dia ingin sekali bangun, gara-gara adanya sinar matahari yang cukup mengusik wajahnya.


Tapi begitu ingin sekali bisa membuka kelopak matanya, yang harus dia hadapi lebih dulu, justru adalah kelopak matanya yang terasa berat, padahal dia sadar kalau dirinya sekarang itu baru bangun dari tidurnya.


Tapi apa? Ketika Vina menggerakkan tangan kirinya, dia tiba-tiba saja merasakan adanya sesuatu yang di sebut tubuh dengan banyak kehidupan?


Apa itu?


"Unghh~" kernyit Vina, setelah itu dia benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali.


Bagaikan tubuhnya seperti menjadi batu, itulah yang dia rasakan, tidak bisa dia gerakkan kecuali segala lenguhan yang keluar dari mulutnya itu.


"...!" dan si pemilik dari tubuh yang baru saja tidak sengaja di sentuh oleh Vina itu perlahan membuka matanya, dan akhirnya dia pun melihat di samping tempat tidurnya terlihat ada satu orang wanita yang sedang tertidur cukup pulas. "Apa obat tidurnya benar-benar kuat?" tanya Abel, dialah orang yang baru saja terusik dengan sentuhan yang tidak sengaja di lakukan oleh Vina barusan.


Dengan kondisi tubuhnya yang sudah separuh telanjang itu, dia pun menguap lebar dan bangkit dari posisi berbaring nya menjadi posisi duduk.


"Kenapa juga aku menidurkan dia di tempat tidurku?" gerutu Abel, masih dalam kondisi separuh sadar, dia pun kembali menguap seraya menggaruk belakang kepalanya yang gatal itu.

__ADS_1


Karena perjalanan dari Indonesia menuju paris membutuhkan waktu yang cukup panjang, bahkan hampir satu hari penuh, dia yang kelelahan beberapa jam lalu, tanpa sadar jadi langsung membuka bajunya dan tanpa mandi atau apapun itu, dia langsung ambruk di atas tempat tidur karena saking lelahnya.


"Tangannya ini, dia ini sebenarnya wanita yang mesum juga," gerutu Abel, tangan kanannya Vina saat ini pun sebenarnya sudah berada di atas asetnya.


Sungguh keterlaluan, itulah yang di pikirkan oleh Abel beberapa detik sebelum dia langsung menyingkirkan tangan itu dengan kasar.


"Uhm...siapa kau?" tanya Vina, langsung tersadar saat tangannya ada yang menepisnya dengan cukup kuat.


Melihat kalau tawanannya sudah mulai sadar, Abel pun memainkan trik liciknya, selagi posisi mereka berdua saat ini yang sama-sama berada di atas ranjang, bisa dia buat untuk membuat Vina salah paham sendiri.


"Kau tanya siapa aku? Bagaimana jika kau mencoba mengingat apa yang sudah terjadi pada kita berdua malam tadi?" tanya balik Abel dengan penuh kebohongan, karena sebenarnya dia bahkan tidak melakukan apapun pada wanita di sampingnya itu.


'Berdua malam tadi?' dengan kepala yang terasa pusing, Vina pun mencoba untuk mengingat, dia merubah posisinya jadi duduk, tapi di saat itulah dia langsung menyadari dengan apa yang terjadi pada tubuhnya, atau lebih tepatnya pakaiannya! "K-kau! Apa yang kau lakukan padaku?!" jerit Vina detik itu juga.


Dia langsung membuka selimutnya, dan ia malah melihat rok panjang yang sempat dia pakai itu, kini sudah entah pergi kemana, dan hanya menyisakan celana jeans pendek, sedangkan pakaiannya? Dia tidak memakai pakaian selain tanktop!


"Entahlah, kenapa kau tidak memikirkannya sendiri?" tanya Abel sekali lagi, mencoba memancing Vina untuk lebih berpikir sekaligus agar di buat lebih panik dari penampilannya sendiri, yaitu dengan melihat ke arahnya.


Ya, ketika Vina melihat ke arahnya, Vina lantas langsung membuka mulutnya lebar-lebar, saking syok, sebab melihat Abel yang bertelanjang dada saja.


'Tunggu, dia bisa pakai bahasa Indonesia, tapi punya aksen yang sama dengan cara bicaranya Elvano, apakah dia satu komplot dengan Vano? Eh tidak mungkin, dia terlihat punya tujuan lain terhadapku, tapi apa?' tapi apa yang lebih di takutkan nya lagi adalah ketika satu pikirannya itu menunjuk pada posisi dimana mereka berdua menghabiskan waktu berdua, kah? "Jawab, apa yang sebenarnya sudah kau lakukan kepadaku! Jawab! Akhh!"


Vina yang sudah takut, panik, serta di campur dengan rasa amarah yang begitu tinggi, membuat dia langsung memukul-mukul tubuh Abel dengan keras.


Tapi bukan Abel namanya, jika tidak bisa menghentikan aksi brutal yang di lakukan oleh Vina kepadanya itu.


"Apa yang kau lakukan?! Kau melakukan apa kepadaku?! Dasar! Laki-laki brengs*ek!" pekik Vina, dia benar-benar tidak bisa untuk bersabar dengan tingkat tinggi, saat dia menyadari kalau pria yang sedang ia coba untuk Vina pukul adalah pria yang sore itu menciumnya di depan umum tanpa basa-basi apapun. "Kenapa kau lagi! Dasar! Kenapa kau melakukan ini kepadaku?! Memangnya aku sah apa? Sampai aku diperlakukan seperti ini!" racau Vina, dia tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.


Meskipun kedua tangannya saat ini sudah di cengkram oleh kedua tangannya Abel, tapi Vina yang memiliki tenaga yang cukup besar itu, tetap saja terus memberontak kepada Abel.


"Kau mau tahu jawabannya? Begitu? Sangat menarik sekali ya, baru bangun tapi tenagamu itu ternyata masih cukup banyak, apa yang semalam masih belum membuatmu puas hmm?" tanya Abel.


Dengan caranya bicara yang panjang lebar, Abel pun perlahan langsung mendorong tubuh Vina ke belakang, sampai Vina akhirnya kembali berbaring di atas tempat tidur, dengan posisi dirinya yang sudah berada di atasnya.


"Kau masih kurang? Ok, jika itu yang sebenarnya membuatmu marah seperti itu kepadaku, aku akan kembali memuaskanmu sampai puluhan *******, yang penting kau hanya perlu siap mental dan tenagamu saja," goda Abel dengan bicara tepat di depan wajah Vina persis, dan semakin Abel bicara, wajahnya itu pun semakin turun dan memakan jarak lagi dan lagi, sampai hanya menyisakan beberapa sentimeter saja antara wajahnya dengan wajah Vina ini.


Vina yang sangat takut, anik dan marah itu, pikirannya langsung kosong, ketika pikirannya hanya berisi gambaran-gambaran vulgar yang tidak bisa dia ucapkan dengan kata-kata.


Tatapan mata Abel pun berubah dengan menjadi sendu, menatapnya penuh kelembutan, bibirnya yang tersenyum miring itu pun berkata : "Kau diam, apa itu artinya kau sudah mau untuk mendapatkan benihku?"


"Tidak! Aku tidak mau! Lepaskan aku! Hahh..hah...hah..." Vina pun akhirnya mendapatkan efek dari dirinya yang terus berteriak itu.


"Minta di lepas sama artinya tidak mau di lepas, ya kan? Ok, jadi kau terima saja apa yang aku lakukan, mengerti?" dengan senyuman sinisnya, Abel pun menjauhkan tubuhnya, tapi tidak dengan salah satu tangannya yang masih mencengkram kedua tangan Vina secara bersamaan.


Dan di detik selanjutnya, Abel pun dengan sengaja mulai sedikit menarik celananya ke bawah, dan di saat itulah, Vina pun langsung memejamkan matanya, demi menyelamatkan matanya dari noda kotor.


'Dia sebenarnya ingin tapi sok takut, wanita yang sok lugu.' detik hati Abel ketika dia melihat Vina yang benar-benar langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain sembari menutup matanya.


"Tidak, jangan lakukan itu, pergilah, jangan lakukan apapun kepadaku, aku tidak enak," kata Vina ceplas ceplos.


Mendengar hal itu, Abel malah terkekeh, "Semua punya rasanya sendiri, tapi kau harus tahu, kalau kau lebih enak dari wanita manapun didunia ini." jawabnya, dengan kebohongan terbesarnya.


Dan Vina yang merasa kalau jika apa yang di katakan Abel itu memang benar-benar sudah terjadi, Vina pun hanya terdiam dengan tubuh yang sudah gemetar ketakutan.

__ADS_1


Lidahnya sudah terlalu kelu untuk mengucap banyak untaian kata yang ingin dia katakan kepadanya, saking terkejutnya, kalau dirinya sudah tidak perawan lagi?


'Apa iya aku semalam bermalam dengannya? Kenapa aku tidak ingat? Padahal yang terakhir kali aku dapatkan adalah aku mendapatkan cairan obat tidur, apa efeknya seperti ini? Tapi kenapa juga dia melakukan ini kepadaku? Memangnya aku pernah salah apa dengan orang ini?' pikir Vina dengan ketakutan miliknya yang benar-benar sudah cukup mendalam.


__ADS_2