Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
98 : Amarahnya Vina


__ADS_3

Sedangkan Veronica, dia yang masih berdiri di depan salah satu pintu apartemen nomor 5069, terus membuat ketukan pintu yang begitu mengusik.


"Vano, keluarlah. Jangan membuatku menunggu seperti ini." kata Veronica dengan anda menuntut, agar orang yang dia harapkan yang berada di dalam apartemen itu, segera keluar.


KLEK...


Begitu penghuni dari apartemen itu membuka pintu dan keluar, semua kalimat yang hendak Veronica lontar itu, seketika di telan kembali.


"Siapa kau? Bukannya ini apartemennya Vano?" tanya Veronica dengan ekspresi wajah yang begitu serius, karena dia salah berekspektasi.


"Aku penghuni kamar ini." jawab Delvin, dialah orang yang baru saja keluar dan menyambut kedatangan tamu tidak di undang, yaitu Veronica.


"Hah? Tidak mungkin, aku yakin Vano pasti tinggal di sini." balas Veronica, tidak ingin kalau tebakannya soal dirinya yang mendapatkan informasi yang salah, benar terjadi kepadanya.


"Kalau kau tidak percaya kenapa tidak masuk dan cari orang yang kau anggap berada di rumahku?" sahut Delvin dengan serta merta.


Dia tidak mempermasalahkan kalau Veronica masuk. Tapi jika Veronica ini sadar kalau posisinya adalah orang asing, dan seorang wanita pula, tapi berani masuk ke kandang singa, maka itu adalah rencana yang bisa di buat sukses besar, untuk membuat skandal.


Tapi kembali lagi, Veronica pun nampak ragu untuk masuk, kecuali kalau Veronica membawa teman, maka sudah jelas kalau Veronica akan masuk kedalam apartemennya Delvin, untuk menyelidikinya sendiri.


'Padahal dia bilang apartemennya ini, 5069, tapi kenyataannya yang keluar adalah laki-laki ini. Yah, tampangnya memang lumayan, sebelas dua belas dengan Vano. Tapi dia sama sekali tidak bisa di bandingkan dengannya.


Aku sebenarnya ingin masuk untuk memeriksanya. Tapi aku tidak mau situasi ini akan jadi trending, jika ada orang lain yang diam-diam mengambil fotoku masuk kedalam apartemen orang ini.


Atau mungkin saja tempatnya yang ada di belakangku?' ketika Veronica menoleh ke belakang, dia melihat kamar nomor di belakangnya adalah 5070. 'Aku tidak boleh gegabah, lain kali aku akan pergi menyelidikinya lagi.'


Namun, sebagai seorang Veronica, dia pun mencoba untuk menghubungi Vano.


"Apa aku boleh masuk, karena kau tidak menemukan orang yang kau cari?" tanya Delvin, dia sebenarnya tipe orang yang begitu malas jika harus berurusan dengan seorang wanita. Maka dari itu, ekspresi wajah Delvin pun bisa di bilang sangat datar.


"Hmm..masuk saja sana. Karena orang yang aku harapkan, juga bukan kau." celetuk Veronica tanpa memperdulikan Delvin yang sedari tadi sebenarnya terus memperhatikan gerak-geriknya Veronica. 


Karena sudah di diberikan akses untuk pergi, Delvin pun masuk ke dalam apartemennya. 


Namun tidak dengan Veronica yang mencoba untuk terus menelepon Vano. 


‘Hmm? Padahal langsung terhubung, tapi kenapa dia selalunya tidak mengangkatnya sih?’ Veronica pun mulai kehilangan kesabarannya. 

__ADS_1


Hingga Veronica merasa ada yang janggal, sebab dia samar-samar mendengar suara dari dering handphone yang cukup familiar. 


Samar, tapi jika Veronica coba dengarkan dengan lebih seksama, Veronica pun menduga kalau dering handphone itu tidak jauh dari tempatnya. 


Bahkan ketika Veronica coba matikan sambungannya, dering telepon itu pun sama-sama mati.


‘Aku tidak salah tebak kan? Kalau suaranya berasal dari apartemen nomor 5070?’ Veronica benar-benar mulai mencurigai nya. 


Maka dari itu, tanpa sungkan, Veronica pun mengetuk pintu yang saat ini dihuni oleh Vina. 


TOK…TOK…TOK…


“Ya? Sebentar.” Vina sendiri, dengan polosnya malah langsung membuka pintunya. 


KLEK…


Melupakan peringatan dari Vano nomor satu, untuk tidak membukakan pintu untuk orang lain. 


Dan Vina yang punya kebiasaan untuk membuka pintu untuk orang lain, langsung terkejut dengan keberadaan dari Veronica yang sekarang malah datang kepadanya?


“Ada apa ya?” tanya Vina dengan ekspresi wajah yang takut, karena dia sungguh, baru saja membuat kesalahan terbesar, sebab membukakan pintu untuk orang lain. 


Veronica mencoba menelepon dan mematikan sambungan telepon, dan akhirnya Veronica pun langsung memutuskan pilihannya, kalau wanita yang ada di dalam apartemen nya Vano, adalah hal yang harus Veronica singkirkan. 


“Ada apa?! Ini apartemennya Vano kan? Kau kenapa ada di dalam rumahnya?! Kenapa?!” tersulut dengan emosinya yang begitu besar, Veronica pun langsung marah dan mendorong bahu Vina dengan kuat. “Kau pasti perempuan ja*l*ang yang ingin uang dari Vano dengan menjual diri kan?!”


“A-apa sih? Aku sama sekali tidak mengerti, siapa yang ja*l*ang? mungk-”


PLAKK….


Seketika itu juga, satu tamparan yang begitu keras, langsung mendarat di wajahnya bagian kirinya Vina. 


Rasa sakit langsung menjalar ke seluruh wajahnya, bahkan telinganya pun jadi berdengung, berkat tamparan keras yang baru pertama kali dia dapatkan?


Sebenarnya tidak. Sebelum ini dia sudah berulang kali mendapatkan tamparan dari orang yang tidak punya belas kasih dari seseorang, karena punya hubungan dengan Vano. 


Hanya saja yang lebih penting di sini adalah, apa yang sebenarnya terjadi? Apa hubungan antara Vano dengan perempuan di depannya itu?

__ADS_1


“Kau memang sangat pantas mendapatkan tamparan itu ja*l*ang murahan!” kutuk Veronica kepada Vina. “Asal kau tahu, Vano itu pacarku, dan kau harus pergi dari sini!” bentak Veronica dengan nadanya yang begitu tinggi. 


“Pacar?” gumam Vina. 


“Ya! Aku ini pacarnya Vano, dan tidak lama lagi aku dan dia akan bertunangan. Jadi kau, yang tidak lain adalah wanita murahan yang menggoda pacarku, sebaiknya kau pergi dari sini sek-”


PLAK….


“Hei! Kau menampa-”


PLAK….


Satu tamparan kuat langsung mendarat di wajahnya Veronica, dan membuat Veronica seketika itu juga langsung bungkam dengan ekspresi wajahnya yang terkejut. 


“Dasar perempuan kampungan!” teriak Veronica. Dia langsung melayangkan tangan kanannya untuk menampar Vina. 


Tapi bahkan tepat di saat tangan itu hendak menampar wajahnya Vina lagi, Vina justru langsung mem bogem mentah pintu itu dengan sangat keras. 


BRAKK…


Veronica langsung tercengang dengan pukulan dari tangannya Vina yang sangat keras itu. 


“Ya Aku kampungan! Aku menamparmu perempuan bodoh! Aku bahkan tidak tahu apapun! Aku tidak tahu Vano itu sudah punya pacar! Tapi kau bahkan tidak memberiku penjelasan dari ini dan tiba-tiba langsung menamparku! Kau punya mulut itu harus utamakan bicara dan jelaskan dulu padaku! Jangan seenaknya menamparku yang tidak tahu apa-apa! Sok cantik tapi kelakuanmu itu sangat menyebalkan! Apa kau tahu itu!” bentak Vina dengan terus terang. 


Dan tindakan yang dilakukan oleh Vina kepada Veronica itu pun membuat Delvin yang hendak melerai mereka berdua, jadi ikutan tercengang dengan wajah penuh dengan amarah milik Vina. 


“Beraninya kau marah kepadaku, kau akan kena batunya nanti! Kau tidak tahu siapa aku?!”


“Kau pikir, aku ini yang dari kampung? Tahu kau ini siapa dan anak dari siapa atau penguasa dari siapa?! Terserah kau mau bicara apa soal aku, yang penting aku sudah mengembalikan tamparanmu kepadaku itu, dan sekalipun kau memang mau berniat membunuhku, silahkan saja. Biasanya orang kota seperti kalian itu akan punya dendam kesumat pada orang yang mempermalukannya seperti aku sekarang ini!” imbuhnya. 


Delvin dan Veronica yang mendengar amarahnya Vina pun semakin terkejut. 


Tapi Veronica yang tidak mau tahu apa yang diucapkan oleh Vina ini, langsung menarik tangannya Vina. 


“Kalau begitu kau keluar dari apartemennya Vano dan pergi dari kehidupan kami berdua sekarang juga!” perintah Veronica kepada Vina. 


Seketika Vina tersentak kaget, kalau dia pergi sekarang, lantas dia harus bagaimana untuk pulang?

__ADS_1


__ADS_2