
Di posisi tempat di mana Arthur berada, dia pun benar-benar melihat adanya bala bantuan yang di kerahkan untuk memadamkan api dari pabrik itu.
"Jika mereka sampai datang kesini, itu artinya mereka berdua masih selamat. Menjengkelkan, kenapa sudah mendapatkan ledakan besar seperti itu saja, ternyata dia masih hidup?" kutuk Arthur atas apa yang sedang terjadi saat ini di depan matanya persis.
"Kalau seperti itu, kenapa tidak di tembak sekalian saja kedua pesawat mengganggu itu?" saran dari salah satu anak buah nya Arthur pun langsung mendapatkan respon dari Arthur yang jelas tiba-tiba saja menyunggingkan senyuman puas dengan ide yang cukup brilian itu.
"Abel, sekarang giliranmu," perintah Arthur kepada Abel yang terlihat sedang merokok itu.
Abel yang tadinya sedang duduk sambil menikmati rokok miliknya, begitu mendengar ucapan dari Tuan mudanya, dia pun akhirnya membuang rokok yang tinggal separuh itu dan menginjaknya.
"Apa anda yakin tidak menyesalinya?" tanya Abel, menyeret senjata laras panjang miliknya sambil berjalan menuju satu batu yang sedikit besar itu, untuk dia gunakan sebagai tumpuan dari senjatanya, agar saat dia menembak, perubahan posisinya pun tidak akan besar.
"Menyesali soal apa? Dari pada bertanya hal yang tidak berguna seperti itu, kau tembak saja mereka berdua, agar mereka semua tidak mengganggu kehidupanku lagi," perintah Arthur, tidak mendengarkan maksud dari ucapannya tadi.
"Mungkin saja anda akan menyesali kalau Tuan muda kedua mati. Bukannya Tuan muda mengatakan ingin membunuhnya dengan tangan anda sendiri?" oceh Abel, membuat Arthur yang tadinya punya mood untuk bisa menyingkirkan kedua pesawat pengganggu itu, sekarang sudah hancur.
"Tidak usah banyak omong lagi, tembak mereka berdua," tidak memperdulikan apa yang barusan di katakan oleh Abel, Arthur pun memperhatikan yang akan di lakukan oleh Abel kepada kedua pesawat itu.
Sejujurnya Arthur sangat ingin bisa menyingkirkan Elvano dengan tangannya sendiri, akan tetapi keadaan menuntut dirinya untuk bertindak lebih cepat dari pada mendapatkan keinginan yang sebenarnya itu.
Karena Abel sudah di tuntut untuk menuruti perintahnya Arthur, dia pun meletakkan senjatanya di atas permukaan batu, dan setelah itu Abel pun membaringkan tubuhnya di atas permukaan batu dengan posisi senjata sedikit mengarah ke atas, dan berusaha untuk menempatkan bidikannya pada dua pesawat yang sedang melintas di atas hutan.
"Malam yang nahas, malam ini akan jadi pesta kalian semua dengan malaikat maut kalian," gumam Arthur dengan senyuman penuh kemenangan, sebab orang-orang yang bagi Arthur sangat menganggu rencananya akan segera berakhir.
Abel yang hanya terdiam saja itu, terus membidik sasarannya sampai bidikannya akhirnya terkunci. Dengan kesabaran, jari telunjuknya pun sudah berada di posisi siap untuk menembak.
NGUNGG..!
NGUNGG...!
Dua pesawat yang saling memperlihatkan aktraksi akrobatik mereka di angkasa, terus berusaha untuk memadamkan api tersebut, dimana di terlihat di ambang pintu keluar dari pabrik itu, mereka berdua akhirnya melihat ada tiga orang yang sedang berkumpul.
__ADS_1
-"Josei, itu Tuan muda, Delvin dan satu lagi seorang wanita, siapa dia?"-
-"Aku tidak tahu, tapi yang penting setelah tangki pesawat sudah kosong, kita langsung pergi saja dari sini, tahu kan, kalau di sini adalah wilayah dari Tuan muda pertama, jadi ada kemungkinan seseorang sedang membidik kita untuk menembak tuh,"- jelas Josei kepada rekannya itu, karena instingnya baru saja mengatakan untuk segera pergi dari sana.
-"Aku mengerti,"- jawabnya dengan singkat. Dengan menggunakan earphone khusus, dia pun segera melirik ke arah pintu jendela pesawat, dan nampak dengan jelas kalau Tuan muda mereka akhirnya bisa keluar dari dalam pabrik yang sudah terbakar itu.
Di sebabkan mereka berdua melihat Tuan muda mereka sudah berhasil keluar, mereka pun langsung membuka pintu penampungan dari tangki pesawat yang membawa air, agar semua air yang mereka bawa itu bisa langsung habis, dan setidaknya bisa membuat beban pesawat ringan, serta agar mereka berdua segera pergi dari sana, sebab mereka berdua akhirnya sama-sama menemukan ancaman besar untuk mereka berdua.
ZRASSSHH......
__________
Tempat di mana Elvano berada.
ZRASSHHH....
"Vano? Apa itu kau?" tanya Vina, setelah Vano berhasil melewati semua puing bangunan yang terbakar tadi dengan cara berlari dan menerjang segala macam bahaya itu sambil menggendong tubuh Vina sendiri.
Seberapa keras yang harus di hadapi oleh Vina saat di sekap oleh Arthur dan anak buahnya Arthur?
Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya itu, akan tetap dia tidak bisa menanyakannya secara langsung karena ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya.
NGUUUNG….
‘Itu suara apa?’ batin Vina, karena baru pertama kalinya bisa mendengar suara mesin yang terdengar sedikit bising itu.
Namun, ketika perhatiannya itu ingin dia alihkan untuk menatap kedua kendaraan yang ada di atas sana, Vina justru malah menatap wajah Vano yang nampak terus memperhatikannya tanpa berkedip sedikitpun.
Sampai di deti berikutnya, pacuand ari kedua pesawat yang sedang terbang di angkasa itu, membuat sebuah akrobatik yang mana ketika kedua pesawat itu berselisih di atas langit, di saat itulah air yang tersisa di tangki pesawat mereka seketika langsung habis dan menghujani mereka bertiga.
ZRASSHH….
__ADS_1
“Air-” ucap Vina, pandangannya pun akhirnya langsung menatap langit sambil membuka mulutnya lebar-lebar, saking hausnya karena selama puluhan jam dirinya sama sekali tidak minum. “Turun, aku ingin turun,” ucap Vina dengan nada lemah.
Vano yang melihat Vina ingin turun, dia pun menurunkannya sebentar, karena di sisi lain lukanya pun sebenarnya kembali sakit, apalagi di tambah harus mengangkat beban berat seperti tadi, itu membuat luka yang sempat sudah tertutup dengan sempurna, mulai kembali terbuka.
Tapi, meskipun begitu, Vano tetap saja menahan diri untuk tidak memperliatkan rasa sakitnya kepada wanita yang ada di depannya itu.
“Mereka berdua sudah selesai ya?” tanya Vano kepada Delvin sembari menatap ke arah langit, dimana hujan tanpa awan itu, berhasil membuat sekitarnya jadi basah layaknya baru saja hujan deras.
“Iya, sekarang waktunya kita pergi dari sini sebelum ada kej-”
Belum juga Dlevin selesai bicara, mereka langsung di kejutkan dengan suara tembakan.
DORR….
DORR…
DORR..
NGUNGG…!
Sepersekian detik itu juga, kektika Vina mendongak ke arah atas, Vano dan Delvin pun malah menoleh ke araH kiri mereka, dimana asal tembakan itu berada.
“Tuan, mereka masih berada di sini, kita harus cepat,” bisik Delvin kepada Elvano.
NGUUNGG…
Dengan kecepatan tinggi, kedua pesawat itu pun buru-buru pergi dari sana sebelum kena tembak.
DORR…
“...!” Vina yang terkejut itu langsung menutup kedua telinganya. ‘Kenapa ini terjadi lagi? Suara pistolnya sangat berisik, semoga yang ada di dalam pesawat tidak terjadi apa-apa.’
__ADS_1
Melihat situasinya semakin memanas jika tidak segera pergi dari sana, Vano langsung mengusung Vina dari sana. “Vin, kita pergi dari sini,” kata Vano, dia pun sudah mengulurkan kedua tangannya itu untuk menggendong kembali Vina dengan gaya bridal.