Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
47 : Malam Menegangkan


__ADS_3

"Aku akan masuk, kalian berdua berjaga di luar, dan menyamar jadi suara mereka, lakukan apapun untuk bisa menghentikan siapapun yang akan datang kesini," perintah Elvano kepada kedua anak buahnya itu.


Delvin dan anak buahnya itu pun menunduk hormat, dan segera pergi menuju ke tempat dimana kedua orang tadi tumbang, untuk mengambil alat komunikasi milik mereka.


Begitu urusan luar sudah bisa di serahkan oleh mereka berdua, sekarang giliran peliharaannya itulah yang kembali beraksi.


"Bossy, ikut aku," panggil Elvano, dia memanggil serigala itu dengan nama Bossy, karena nama itu menurutnya cukuplah menggemaskan, sebab dari pada terlihat seperti serigala, justru dia menganggap kalau hewan itu seperti anj*ing kecil.


"Eungh~" jawab serigala tersebut, setelah berhasil memakan daging pemberian Tuannya itu.


Serigala itu segera pergi dari tempatnya dan menghampiri Tuannya untuk mengikutinya masuk.


"Tuan, kuncinya," Delvin yang tiba-tiba bicara itu, langsung membuat Elvano menoleh ke belakang dan segera menangkap kunci yang di lempar oleh Delvin itu.


KLEK....


Sukses bisa masuk kedalam pabrik terbengkalai itu, mereka berdua pun masuk kedalam.


Betapa gelapnya tempat itu, aroma khas dari tanah, rumput liar yang menjalar, serta adanya kelembapan tinggi membuat ruangan di dalamnya itu benar-benar menyatu dengan danya aroma besi yang berkarat.


Dengan hidung sensitifnya itu, dia memang merasakan adanya campuran aroma lain dari yang di sebutkan itu, seperti darah.


"Eungh~"


Melihat wajah dari Bossy benar-benar terlihat seperti baru saja menemukan sesuatu yang membuat raut mukanya nampak begitu sedih, Elvano pun jadinya punya pikiran lain yang membawa instingnya merasakan kalau ada sesuatu yang salah di sini.


KLEK.....


Begitu mendengar satu pintu terbuka dan memperlihatkan satu orang misterius itu masuk kedalam ruang yang sama dengan Elvano sekarang, seketika semua lampu sorot yang ada di sana langsung tertuju pada Elvano dan serigala itu.


Tidak hanya lampu sorot saja yang tiba-tiba menyala dan menunjuk kepada mereka berdua, tapi juga juga satu lusin anak buah Arthur yang sudah bersiap untuk menembak ke arahnya itu.


"Elvano, apa kau akhirnya menjadi seorang pria bodoh yang mau masuk kedalam jebakanku?" suara berat milik Arthur segera mewakili anak buahnya yang terdiam itu. "Demi seorang wanita, yang bahkan dari entah berantah, kau akhirnya datang kesini untuk menjemputnya. Romantis sekali ya, apakah kau akhirnya jatuh cinta kepadanya, karena dia adalah pahlawanmu? Dan melupakan kekasihmu yang sebenarnya?" imbuh Arthur lagi.

__ADS_1


"Grrrggghh..!" melihat adanya ancaman yang di tunjukkan kepada Tuan nya itu, serigala ini pun langsung mengerang dengan ke empat kaki sudah bersiap untuk berlari menghabisi nyawa dari mereka yang akan menantang Tuan nya itu.


Sedangkan Elvano, dia yang tadinya menunduk, tiba-tiba mendongak ke atas dan melihat sang kakak kandung yang nampak senang untuk bisa tersenyum sinis sambil menatapnya dengan tatapan merendahkan itu.


"Kakak, kelihatannya kau juga sudah sehat wal'afiat dari luka yang aku berikan di malam itu," sahut Elvano, dia tidak memperlihatkan ketakutan di wajah tampannya itu.


"Hmm, seperti yang kau lihat adikku yang brengs*ek, aku setidaknya masih mendapatkan luka ringan, tidak sepertimu, kau pasti merasakan banyak rasa sakit yang masih bersarang di dalam tubuhmu karena waktu itu kau tertembak, ya kan?" balas Arthur.


"Auuuhhh....!" tidak suka dengan apa yang di katakan oleh Arthur, Bossy pun langsung mengaum kencang, membuat suaranya yang begitu melengking itu bisa mengusik konsentrasi dari para anak buah Arthur, karena cukup memekikan telinga mereka semua.


"Tembak serigala pengganggu itu," perintah Arthur kepada semua anak buahnya itu.


Tanpa jawaban, mereka langsung menarik pemicunya ke arah mereka berdua.


DORR....DORR...


"Auh!" serigala ini segera melompat dari satu peti kemas, ke peti kemas yang lain, berniat untuk menghindari semua peluru yang sedang menuju ke arahnya.


"Tapi Arthur, walaupun kita sudah berpisah satu bulan seperti ini, tapi kenapa kau masih saja pengecut seperti pertarungan terakhir kita? kau terus saja melawanku dengan berkelompok seperti itu." ledek Elvano dengan sengaja.


"Itu urusanku, urus saja nyawamu yang sebentar lagi benar-benar aku ambil tepat di depan mataku sendiri," kata Arthur sambil mengepalkan tangannya dengan begitu erat, karena saking kesalnya mendengar ledekan adiknya yang begitu menusuk.


Padahal yang namanya strategi, asal bisa mendapatkan hasil yang bagus, pasti akan menggunakan cara apapun itu.


Tapi dengan entengnya, seolah kalau Elvano, adiknya itu lebih hebat darinya, dengan terang-terangan Elvano malah menyindirnya dengan cukup lantang tepat di depan semua anak buahnya.


"Kalau begitu silahkan saja, tapi kalau bisa," jawab Vano, dia pun mengeluarkan sebuah benda berbentuk tabung, dan begitu sudah di keluarkan, dia segera menarik kunci dari pengait dari barang yang tidak lain adalah bom asap.


KLANG.....


Elvano langsung melempar tabung dari bom asap itu ke tengah ruangan dari pabrik itu, dan tidak butuh waktu yang lama, asap itu pun langsung keluar.


'Kau pikir aku tidak akan mempersiapkan ini ya?' Arthur sudah menyiapkan masker khusus yang membuatnya bisa bertahan ari kepulan asap yang menyesakkan itu.

__ADS_1


"Tembak terus!" perintah Arthur, seraya menunggu apa yang akan terjadi setelahnya.


DORR...DORR...DORR...


'Silau~' detik hati Elvano. Dia sebenarnya ingin sekali bisa menghindar dari semua serangan yang sedang di lancarkan oleh mereka. Tapi karena kendala dari banyaknya lampu sorot yang begitu menyilaukan, serangan tembakan yang tidak ada habisnya, membuat Elvano benar-benar tidak bisa kabur dari sana dengan tenang.


"Auuhh~"


DORR....DORR...!


"Serigala itu gesit sekali?" ucap salah satu dari mereka.


'Bossy, dia sedang mengalihkan perhatiannya. Hah, apa aku harus merelakan peliharaanku yang kata Delvin, sangat berharga itu?' pikir Elvano. Tidak bisa diam di tempat seperti itu saja ketika banyak yang sedang mengincar kematiannya, Elvano pun akhirnya mengeluarkan dua senjata yang dia simpan di dalam saku jas nya.


Setelah berhasil dia keluarkan, Elvano pun memejamkan matanya sesaat seraya menarik nafas dalam-dalam.


"Demi wanita itu, aku harus segera membereskan ini secepat mungkin," gumam Elvano, sedang memberikan semangat kepada dirinya sendiri.


BRAKK...


"GRARGGH!"


"Akhh!"


Berbagai macam suara pun berhasil menjadi satu, membuat keributan yang cukup besar, Elvano pun sudah bersiap untuk menuntaskan misinya, misi untuk menyelamatkan Vina dari tangannya Arthur.


"W-waduh, aku kehabisan peluru,"


"GRARHH..!" Bossy yang segera mengambil kesempatan dari salah satu orang yang sedang kehabisan peluru, dia pun segera menerjang anak buah Arthur itu, menyerangnya dengan menggigitnya.


"AKhh! TIdak! Tol-" teriakannya pun seketika langsung berhenti setelah pria itu akhirnya kehilangan nyawanya, tepat di detik saat Bossy berhasil menggigit tangan dari orang itu sampai terputus, dan segera melemparkan tubuhnya ke bawah.


"Elvano! Keluar!" teriak Arthur, memanggil nama adiknya yang sekarang benar-benar menjadi pesaingnya.

__ADS_1


__ADS_2