Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
50 : Menjemput maut


__ADS_3

DORR....DORR....DORR....


Tembakan demi tembakan terus menguasai malam penuh dengan kebisingan itu.


Arthur, demi bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, dia pun memang benar-benar sudah memasang sebuah bom yang dia pasang di suatu tempat. Tentu saja, demi membuat Elvano semakin beringas, semakin tidak terkendali, Arthur berupaya agar akal sehat yang biasanya Elvano pertahankan itu, bisa pergi dan di kuasai kemarahan saja yang akan terus menyelimuti dirinya itu.


DORR...DORR...


Tanpa ada kata ampun, Elvano yang tadinya terus bersembunyi itu, kini akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya, dan terus memberikan Arthur sebuah tembakan demi tembakan agar bisa jadi bahan pelampiasan kemarahannya itu.


Namun, meskipun Arthur juga sama-sama mendapatkan luka apa yang seperti Elvano dapatkan, Arthur pun masih mampu untuk menghindari segala serangan yang di berikan oleh adiknya itu kepadanya.


"Elvano, melihatmu sampai semarah ini, apa kau punya rasa dengan perempuan kampungan itu?" tanya Arthur dengan sengaja, berusaha untuk memprovokasi balik Elvano.


"Entahlah," sahut dengan nadanya yang begitu rendah itu, seraya mengangkat tangan kanannya ke arah depan, tempat dimana Arthur kini sedang berdiri jauh di jarak lima belas meter di depan sana.


Ekspresi wajahnya begitu dingin, matanya yang menyipit, dan tatapan matanya yang nampak sangat dingin, membuat Arthur seketika melihat sisi lain dari Elvano yang seketika itu menjadi terlihat lebih kejam dari pada psikopat, karena di samping tangan kanannya itu di arahkan ke arah Arthur, maka tangan kirinya pun sempat menembak beberapa anak buah Arthur yang hendak menembak ke arah Elvano itu sendiri.


DORR...DORR...


CTAK...CTAKK....


Suara dari peluru yang saling beradu, akhirnya menimbulkan suara yang sangat kontras untuk mencari penyebab dari peluru yang di tembakkan oleh Elvano dan Delvin tidak bisa kena.


'Abel?' lirik Elvano, saat sudut matanya yang cukup tajam itu melihat keberadaan dari Abel yang berada di lantai tiga, tempat dimana ruang kontrol dari pabrik besi itu berada.


"Sudah ketahuan ya?" bisik Abel, dia yang tadinya sedang duduk di atas meja pusat kontrol yang ada di dalam ruangan di lantai tiga dan tepat berada di samping jendela, akhirnya berdiri di sana, dan melihat keberadaan dari Elvano, Delvin, juga Tuannya itu berada di lantai bawah sendiri.


"Delvin, urus dia," perintah Elvano kepada Delvin.


Delvin pun memberikan anggukan sebagai tanda setuju, sedangkan Elvano sendiri, dia pun langsung berlari menuju ke arah Arthur.


Tepatnya dia harus mendapatkan detonator bom itu untuk menghentikan waktu hitungan mundur dari bom yang sudah di setel lima menit itu.


"Kau kelihatannya sudah siap," senyuman licik dari Arthur pun membuat Elvano jadi semakin beringas untuk menyerang Arthur.


DRAP...DRAP...DRAP...

__ADS_1


Elavano seketika langsung berlari menghampiri Arthur dengan senjata yang dia todongkan ke arah depan.


'Aku harus merebut itu lebih dulu.' pikirannya terus tertuju pada alat detonator bom yang masih di pegang oleh Arthur itu.


"Apa kau pikir bisa merebut ini dari ku untuk menghentikan bom yang sudah menyala? Ambil saja kalau bisa!" Sedangkan Arthur yang tahu apa tujuan dari Elvano sekarang adalah merebut benda yang sedang dia pegang, dengan sengaja Arthur pun melemparnya ke atas dengan sangat jauh.


Terlebih lagi karena atapnya memang pada dasarnya berlubang, maka tidak menghentikan niat Arthur untuk membuat Elvano terjebak dalam delimanya sendiri.


Namun hal yang paling tidak di duga oleh Arthur sendiri, seketika itu juga Elvano pun tanpa pikir panjang lagi langsung menembak detonator bom itu, dan langsung memilih untuk segera menembak Arthur.


DORR...


DORR....


Satu tembakan itu berhasil membuat alat detonator bom itu berhasil hancur, sedangkan tembakan yang kedua, dia lancarkan ke arah Arthur yang hendak kabur itu.


"Kau memang sialan, aku sudah bermaksud baik untuk membuatmu hidup, setidaknya tanpa adanya cedera serius yang akan membuatmu akan menyesali karena bertarung denganku di pertemuan kita yang terakhir kalinya, tapi karena kau sudah seperti ini, aku tidak akan membiarkanmu bertindak lebih jauh lagi," ucap Elvano kepada Arthur.


Arthur yang langsung berdiri mematung karena tembakan yang di lakukan oleh adiknya itu benar-benar hampir mengenainya, selain menyerempet wajahnya yang berharga, segera mengangkat senjatanya.


CTAKK...


Tembakan yang di lakukan oleh Arthur berhasil di tangkis dengan peluru yang keluar dari senjatanya Elvano.


'Dia- hah..., apakah alasan dari Ayah membuat anak ni yang menerima hak waris itu karena punya sisi seperti ini? Yang benar saja, aku tetap tidak akan pernah berhenti sampai disini.' Arthur yang sudah memperkirakan situasinya sendiri dengan cermat, tiba-tiba saja melirik ke arah jam tangannya. "Waktunya kira-kira dua menit lagi, terserah, apakah kau ingin lebih dulu menyingkirkanku, atau menyelamatkan wanita itu?"


DORR...


CTAK...


Seperti yang di lakukan oleh Arthur tadi, Elvano pun memberikan Arthur serangan tembakan, sebelum akhirnya serangannya itu bisa di tangis oleh peluru yang keluar dari senjatanya Abel.


Hanya saja, apa yang di pilih oleh Elvano saat itu?


"Jika kau bertanya pilih siapa, aku lebih baik menyingkirkanmu sekarang juga!" jawab Elvano detik itu juga.


"Hari yang buruk, kau tidak bisa melakukannya, adikku," kata Arthur dengan seringaian tipisnya, sebelum sebuah kaleng tiba-tiba saja langsung di lempar oleh salah satu anak buah Abel yang ada di luar, dan begitu kaleng itu masuk lewat celah lubang dari ventilasi udara yang ada, Abel pun melakukan pekerjaannya dengan menembak kaleng itu dengan begitu tepat.

__ADS_1


DHUARRR


Dan akhirnya sebuah bom suara yang begitu memekikkan telinga, langsung menyerang mereka semua, dan itulah kesempatan untuk Arthur yang kali ini memilih untuk pergi dari sana.


"Akhh..!" rintih Elvano sambil memegang kedua telinganya dengan cukup erat, saking berisiknya suara dari ledakan suara tadi.


__________________


DRAP...DRAP....DRAP.....


Berhasil keluar dari gedung terbengkalai itu, Arthur dan abel serta beberapa anak buahnya yang sudah menunggunya di luar, langsung berkumpul menjadi satu.


"Tuan? Anda tidak apa-apa?" tanya salah satu anak buah Arthur yang tadi melemparkan kaleng dari bom suara.


"Walaupun aku tidak bisa membuat dia mati tepat di depan mataku secara langsung, tapi melihat kematiannya bersama dengan mereka secara masal bersama dengan anak buahku, aku pikir ini jauh lebih bagu agar mereka tidak mati secara kesepian," kata Arthur, mengabaikan pertanyaan dari salah satu anak buahnya tadi itu.


Abel yang hanya diam memperhatikan sikap dari Arthur, akhirnya mereka harus di perlihatkan sebuah kembang api yang sudah di sulut oleh Tuan mereka, kembang api yang tidak lain adalah sebuah bom.


DHUARRR......


Hutan di bawah langit malam yang seharusnya menjadi tempat paling sepi dan gelap, pada akhirnya sekarang tempat itu menjadi api unggun paling besar, akibat dari ledakan pertama tadi.


DHUARR....


"Apakah artinya semua ini sudah selesai?" tanya Abel kepada Arthur.


"Kau lihat kalau Elvano tadi tidak keluar dari sana, kan? Itu artinya semuanya sudah selesai sampai sini, membakar tubuh mereka semua dalam satu api unggun yang besar, ini sudah cukup jadi bukti kalau posisi Elvano di gantikan olehku," jawab Arthur saat itu juga. "Apa kalian paham?" imbuhnya.


Beberapa anak buah Arthur pun saling pandang satu sama lain, karena merasa ragu kalau rencana itu benar-benar berhasil?


Tuan Elvano yang benar-benar di percaya untuk meneruskan hak waris keluarga Travers sudah mati begitu saja di depan mereka dengan cara kejam yang di lakukan oleh saudaranya sendiri?


Berbagai rentetan pertanyaan pun sebenarnya muncul dari benak hati mereka semua. Tapi, meskipun begitu, tidak ada satu dari mereka yang bertanya atau membuka suara menyerukan pendapatnya kepada Arthur.


'Demi seorang wanita, dia menemui ajalnya untuk yang kedua kalinya setelah hanyut di bawa air laut.


Meskipun maut pertamamu bisa kau hindari dengan cukup baik, tapi apakah kau bisa menghindari mautmu yang kedua ini? Elvano, inilah akibatnya jika kau tidak mau menyerahkan posisimu kepadaku, padahal yang paling berhak untuk menjadi penerus kepala keluarga Travers adalah aku, bukan kau.' kata hati Arthur sambil melihat kobaran api dari bangunan yang barusan menjadi saksi bisu dari mereka yang menjemput maut dengan cara paling kejam.

__ADS_1


__ADS_2