
Vina terdiam, pandangan yang dia miliki terhadap pria ini memang sempat berubah, karena dia akhirnya tahu kalau Elvano adalah seorang Tuan muda yang di perlakukan khusus, sampai punya Delvin yang begitu tangkas dan bisa mengerjakan apapun.
Namun, semua kesan dan pikiran soal itu, harus Vina tarik lagi, bahwa pemikiran kalau Elvano adalah orang yang sombong, atau menganggap dirinya adalah orang yang paling mulia dan harus di hormati, semua itu bukanlah sifat dari Elvano sendiri.
Oleh karena itu, berkat sikap Vano selama ini yang menganggapnya seperti teman atau entah, dia tidak tahu Vano menganggap Vina sebagai apanya, Vina tetap merasa nyaman sekaligus.
"Awalnya memang seperti itu, tapi kelihatannya kau memang bukan orang yang sombong dan gila dengan kekuasaan."
"Jika itu pujian, aku akan memberikanmu hadiah. Apakah itu pujian untukku?" tanya Vano dengan penuh harap.
"Iya,"
"Ok, karena itu pujian, aku akan memberikanmu hadiah. Katakan, apa yang kau inginkan?" tatap Vano, dia menunggu apa yang akan di harapkan oleh vina kepadanya.
"Aku-" tanpa perlu pikir panjang lagi, Vina pun menjawab dengan antusias. "Aku ingin pulang!"
"Sudah aku duga, tapi tidak seperti ini juga. Apa yang akan terjadi jika kau pulang dengan kondisi tanganmu yang seperti itu? Apa kau bisa memberikan alasan yang bisa membuat kedua orang tuamu menerima penjelasanmu dengan masuk akal?"
Pertanyaan dari Elvano pun berhasil menyudutkan Vina untuk memikirkan ulang keinginannya.
'Benar juga, jika aku pulang dalam kondisi tangan seperti ini, nanti apa jadinya? Yang ada aku akan jadi bahan pembicaraan orang lain, dan di tambah aku pasti akan jadi beban kedua orang tuaku, karena aku tidak bisa bergerak dengan leluasa.' setelah berpikir keras mengenai kondisinya yang pad akhirnya tidak memungkinkan dirinya untuk berhadapan dengan kedua orang tuanya secara langsung, Vina pun jadi tidak bersemangat lagi. "Aku mengerti, tapi kau harus janji saat aku sudah sembuh, aku harus bawa aku pulang ke negaraku." pinta Vina.
"Aku janji," senyum Vano, secara tidak langsung, akibat dari kondisi yang tidak di sengaja karena anak buahnya membuat vina sebagai korban dari salah target, membuat Elvano dalam diam, justru merasa hal tersebut jadi kesempatan yang bagus, untuk membuat Vina berada di rumahnya lebih lama lagi.
Dia tahu kalau niatnya itu bisa di anggap sebagai pikiran yang cukup licik, tapi apa boleh buat?
Ketika satu obsesi itu tidak bisa di lepaskan semuda membuang sampah dari tisu yang sudah di gunakan, Vano benar-benar merasa
bersyukur.
'Akhirnya dia mau batal pulang lagi. Sebenarnya hal ini jadi tidak terduga juga, tapi berkat ini, aku jadi bersyukur. Vina tidak jadi pulang ke negaranya.
Waktu itu aku memarahi anak buahku sendiri. Aku membuat dia kena skors selama lima bulan, tapi karena kejadian yang tidak terduga ini, meskipun aku tidak akan mencabut hukumannya, tapi aku akan memberikan keringanan padanya, dan memberikan sedikit tips.
Cara yang tepat agar dia setia kepadaku. Ya, uang adalah segalanya, dan segalanya juga butuh uang, jadi meskipun aku menyerahkan posisiku sementara waktu kepada Arthur, akulah yang tetap akan berkuasa.
__ADS_1
Lalu Abel, apakah aku harus berterima kasih kepadamu?
Berkatmu, aku tidak kehilangan Vina. Yang ada, justru membuat Vina semakin tergantung kepadaku.
Kayanya aku juga harus memberikan hadiah kepadanya.' tersembunyi di dalam pikirannya, Elvano pun diam-diam punya rencana tersendiri.
Baik soal posisinya sebagai kepala keluarga Travers, menahan Vina selama mungkin dengannya, serta Abel yang mana perbuatannya yang ingin membunuh Vina waktu itu, berhasil membuat Vina tidak bisa berpisah dengan dirinya.
____________
Di tempat dimana Abel berada.
"Tuan, makan malamnya sudah siap,"
"Letakkan saja di sana, kau pergilah." jawab Abel, lalu setelah itu pun Abel yang kebetulan berada di balkon dari tempat dia tinggal hendak masuk ke dalam kamarnya.
Tapi, ketika tangannya hendak membuka pintu jendela kamarnya, tiba-tiba sebuah drone datang menghampiri Abel.
"Siapa yang mengirimiku drone?" gumam Abel, raut mukanya pun jadi begitu dingin melihat keberadaan drone tersebut yang tampak ingin memberikan dia sesuatu?
Karena Abel tidak suka melihat ada drone yang akan terbang bebas lagi setelah datang kepadanya, Delvin pun dengan cepat langsung menembak drone tersebut.
Lalu drone itu pun akhirnya terjatuh ke lantai.
"Tuan! Apa anda baik-baik saja?! Saya mendengar suara tembakan dari dalam kamar anda!" teriak salah satu anak buah Abel yang ada di luar kamar.
"Aku tidak apa-apa, pergi sana!" perintah Abel.
"Tapi Tuan? Saya khawatir kal-"
"Aku bukan orang yang akan mudah mati begitu saja di tangan musuh, pergi dari depan kamarku sekarang juga, dan jangan ganggu aku!" jelas Abel, pada akhirnya dia pun memberikan perintah kepada anak buahnya tersebut agar tidak mengganggunya lagi.
"Baik Tuan, saya akan segera pergi,"
"Mengganggu saja, apa aku harus memberikannya perintah sampai dua kali? Sebenarnya mereka punya otak atau tidak?" hanya karena ego, Abel pun menganggap kalau apa yang dia pikirkan soal kesan dari anak buahnya pun, jadi serba salah.
__ADS_1
Setelah mendapatkan ketenangan yang dia harapkan, Abel pun memungut drone tersebut, lalu mengambil tas kecil yang ada di bawah drone itu.
"Hah? Apa ini? Bandul hp?" Abel tersenyum sinis melihat hadiah kecil mungil itu, dimana ada tertera nama Abel, sebagai gantungan dari bandul hp.
Tapi rupanya di dalam tas tersebut, tidak hanya ada hadiah saja, melainkan juga ada sepucuk kertas, sebagai sebuah pesan.
"Terima kasih untuk apa? Elvano, apa yang di pikirkan anak itu sampai memberikanku bandul seperti ini?" tanyanya.
Abel awalnya tersenyum meremehkan melihat bandul itu tertera nama miliknya. Sebuah hadiah yang sungguh kekanakan.
Akan tetapi senyuman meremehkan itu perlahan menghilang.
Tepat jam dua belas malam, sebenarnya hari itu adalah hari peringatan dari ulang tahunnya yang ke dua puluh lima.
Tidak ada siapapun yang tahu soal tanggal ulang tahunnya, karena di dalam data yang dia gunakan, Abel menggunakan tanggal ulang tahun palsu.
Tapi untuk hari ini, adalah hari yang benar, hari dimana dirinya memiliki usia yang bertambah satu tahun lagi.
Maka dari itu, hadiah kecil yang awalnya Abel remehkan, tiba-tiba saja pandangannya terhadap hadiah yang di berikan oleh Elvano secara diam-diam itu jadi berubah.
Dia akhirnya menerima hadiah kecil itu, entah apa maksud dari tujuan Elvano, tapi karena itu adalah hadiah pertamanya sepanjang hidupnya, Abel pun pun menerimanya dengan senang hati.
"Kau sengaja memberikanku di tanggal seperti ini agar ku berterima kasih kepadamu kan?" tanya Abel kepada drone yang sudah mati, tapi sayangnya ada kamera yang masih menyala.
Sehingga apa yang di katakan oleh Abel pun tersampaikan secara tidak langsung kepada Elvano yang ada di luar sana.
"Sebaiknya saat pertemuan kita nanti, kau bisa menjelaskan, apa gerangan orang sepertimu, musuh dari Tuan muda yang aku layani, tiba-tiba memberikanku hadiah kekanakan seperti ini." ucapnya lagi.
Lalu tanpa basa basi lagi, karena dia sudah tidak membutuhkan drone tersebut, Abel pun membuang benda itu dari tempat dia berdiri.
Dari lantai tiga puluh lima, drone itu pun terjun bebas dan berakhir jadi sampah, setelah mendarat di salah satu atap mobil yang kebetulan lewat.
BRAKK....
"Siapa yang membuang sampah sembarangan!" teriak si pengemudi.
__ADS_1
Tapi Abel yang sama sekali tidak menghiraukan hal tersebut, langsung masuk ke dalam kamarnya.