
TINNN!
BRAKK..!
Suara klakson yang cukup keras dan panjang itu langsung di susul dengan suara keras dari kendaraan yang baru saja mengalami tabrakan antara truk dengan pengendara sepeda motor.
Vina, dia yang ada di seberang jalan, tempat dimana dia tengah berhenti sebab ada lampu merah, langsung terkejut.
"A-aakhh! A-aku-" ya, Vina yang terkejut setengah mati dengan pemandangan di depannya itu, tidak bisa bergerak, meskipun lampu sudah hijau selain karena jalan yang tiba-tiba jadi macet sebab harus berhadapan dengan kendaraan dari arah berlawanan, sebab saking syok nya, hal itu pun membuat tubuhnya seketika tidak mampu untuk tidak tegang.
"Shhtt~" Vano sempat melihat kejadian itu, tangan kanannya segera dia ulurkan ke depan dan menutup sepasang mata Vina agar Vina tidak syok berat terus memandangi insiden kecelakaan yang ada tepat di depan mereka persis. "Jangan di lihat," bisik Vano kepada Vina.
Vano yang memang masih membonceng di belakang, tapi dia berusaha untuk membuat Vina segera tenang, karena mereka berdua sekarang ini masih berada di tengah jalan, dan butuh konsentrasi penuh sebab kendaraan di sore hari itu, benar-benar membuat jalanan jadi cukup padat.
"T-tapi, di depan! Di depan, tu-tubuh-" Vina, tetap saja tidak bisa tenang dalam waktu singkat, karena bagaimanapun kecelakaan yang sampai membuat seseorang menjemput ajalnya dengan cara mengenaskan itu, berhasil menghantuinya terus.
Bagaimana tidak, jika darah sedemikian banyaknya itu, berhasil menodai aspal berwarna hitam, dan di padukan dengan berbagai organ dalam yang benar-benar berserakan di atas jalanan aspal, hal tersebut sungguh tidak bisa di terima oleh akal Vina sendiri.
"Makannya, jangan di pikirkan, jangan dilihat, yang harus kau pikirkan sekarang adalah keselamatan kita, kau mengerti? Di belakang masih mengantri menunggu giliran bisa lewat, fokus saja pada jalan, jangan lihat ke arah yang lain," bisik Vano kepada Vina sekali lagi.
Dia berkata demikian agar Vina tidak terpengaruh lagi dengan kecelakaan itu.
"Kalau kau tidak bisa tidur, aku bisa menemanimu tidur, bagaimana? Kau seharusnya suka, ya kan? Tidak ada ruginya untukmu, aku bisa menemanimu sampai tidur, jadi jangan pikirkan apapun selain pulang, paham?" imbuh Vano, tidak henti-hentinya untuk membuat Vina berpikiran positif lagi, karena hal yang paling utama itu adalah bisa membuat Vina tenang.
"Aku paham, tapi apa aku benar-benar bisa memintamu malam ini untuk menemaniku sampai tidur?" tanya Vani saat itu juga.
__ADS_1
"Tentu saja, aku sudah mau menawarkan diriku, jadi kau bisa memegang janjiku," jawabnya dengan senyuman yang tersembunyi di balik masker yang Vano pakai.
"Baiklah, aku akan menagih janjimu malam ini," kata Vani dengan serius.
Karena Vani mulai terhasut dengan semua ucapan dari Vano sesaat tadi, perlahan Vina mulai mengumpulkan kesadarannya lagi, kalau apa yang di katakan oleh Vano tadi benar.
Sekarang mereka berdua ada di tengah jalan raya, sekalipun memang ada kecelakaan, itu sudah jadi takdir mereka, dan mereka berdua harus tetap konsisten pada keselamatan mereka berdua di sana.
Dengan demikian, Vina yang tadinya syok berat, gara-gara ada pengendara motor yang tertabrak dan secara tidak sengaja malah tubuhnya terlindas truk itu, kembali menarik gas motor secara perlahan seiring kendaraan bermotor yang ada di depannya sudah mulai jalan, sebab lampu sudah kembali hijau.
'Untung saja dia bisa cepat sadar, kalau tidak, motornya tidak akan jalan-jalan. Tapi- kenapa aku merasa tidak takut atau jijik melihat orang itu tertabrak sampai bersimbah darah karena terlindas ya?' satu pikiran milik Vano pun terus menghantui Vano itu sendiri, sebab dianya memang tidak merasa seperti orang yang baru sekali melihat insiden berdarah seperti itu.
"Silahkan saja, selagi masih bisa bicara, bicara saja sesuka hatimu, karena mau bagaimanapun, hukuman akan terus berjalan. Tembak dia," ucapnya kepada beberapa orang yang sudah bersiap dengan senjata laras panjang mereka.
"Baik Tuan," jawab mereka semua, dan tidak lama setelah itu suara pistol yang sedang bekerja menembak sasarannya pun langsung mengisi keheningan dari lapangan tembak.
Dan satu orang yang berdiri terikat di sebuah tiang, seketika langsung tertembak dengan keadaan tubuh yang cukup mengenaskan.
'Akhh...! Ingatan macam apa tadi?' tanya Vano dalam dengan mata mengernyit, karena kepalanya tiba-tiba saja sakit seolah ada yang memukul bagian otaknya itu.
Tapi karena dia masih berada di jalan, dia harus tetap menjaga kesadarannya dengan baik, jangan sampai membuat perempuan yang ada di depannya itu cemas.
'Ini sudah hampir petang, sebaiknya mampir dulu, kasihan dia, pasti sangat lelah.' pikir Vina.
Padahal dari kondisi tubuh, Vina sebenarnya lebih lelah, karena dia harus punya konsentrasi yang cukup tinggi untuk menjaga keseimbangannya dalam mengendarai motor, dan apalagi dia sedang membonceng orang lain, tentu saja dia harus berhati-hati.
__ADS_1
Vano yang menyadari dengan posisi mereka berdua yang tiba-tiba saja berhenti, sontak membuat Vano segera memiringkan tubuhnya ke samping kanan, melirik ke arah Vina dan bertanya langsung : "Kenapa kita berhenti? Bukannya perjalanannya masih jauh?"
"Mau dekat atau jauh, tetap saja perut harus di isi, kan?" jawab Vina seraya melepaskan helm nya. "Lagi pula, aku tidak boleh telat makan, itu saja," imbuhnya, karena dia sebenarnya memiliki maag, jadi dia harus makan setiap saat.
Vano pun melihat ke arah depan, ada sebuah restoran yang tidak begitu mewah, tapi Vano merasakan aroma yang begitu memikat, sampai perutnya tiba-tiba saja jadi merasa cukup lapar untuk minta di isi.
"Jadi kita mau makan apa?" tanyanya, dia ikut turun dari motor dan masih membawa kantong plastik berisi belanjaan itu di tangannya.
"Itu terserahmu, pilih saja yang membuatmu merasa ingin mencoba memakannya," jawab Vina tanpa menoleh sedikitpun dari tempat dirinya berdiri.
Di sebuah kaca dari sebuah gerobak itu, terlihat ada tulisan bakso, mie ayam, dan soto.
Vano yang baru pertama kali melihat nama makanan itu, hanya diam dan mengikuti kemana Vina mau duduk.
"Halo kak, mau pesan apa?" tanya seorang gadis yang lebih muda dari Vina itu sendiri, dan sesekali matanya pun melirik ke arah Vano yang duduk di depan Vina persis.
"Aku bakso," jawab Vina. "Airnya, air hangat saja," imbuhnya.
"Baik kak, lalu anda sendiri?" tidak bisa menahan rasa senang bisa melihat bule dari dekat, dia pun terus tersenyum dan tidak bisa mengalihkan pandangan nya dari Vano.
"Aku minta yang sama seperti dia," Vano yang tidak mau bingung dengan makanan yang akan dia makan, dia memutuskan memilih menu yang sama.
"Oh ya, tambah lima ribu setiap mangkuk agar baksonya di tambah," peringat Vina kepada gadis tersebut.
"Baik kak, tunggu dulu ya?" sahutnya.
__ADS_1
Vano pun akhirnya bertanya dengan wajah penasarannya.
Itu awalnya, dan niatnya memang sudah ingin bertanya lagi pada Vina, tapi begitu dia menoleh menghadap ke arah depan lagi, dia sudah melihat Vina malah tiduran di atas dua kursi yang berdempetan.