Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
95 : Alasan Pilihanmu


__ADS_3

Setelah kejadian tempo hari, Vina pun akhirnya di pindahkan ke kamar lain, atau sebenarnya tepatnya ke salah satu apartemen milik Vano yang terletak tidak jauh dari rumah sakit.


"Aku- inginnya pulang, tapi kenapa kau malah membawaku ke tempat ini?" tanya Vina.


Dia memang cukup bersyukur kalau dia untuk pertama kalinya bisa merasakan menginjakkan kakinya di apartment yang cukup mewah itu.


Vano yang mencetuskan ide tersebut pun langsung angkat bicara : "Vina, aku tahu kalau kau ingin pulang. Tapi tunggulah sebentar lagi, karena aku harus membereskan beberapa masalahku." jawab Vano, dia langsung mengambil dua mangkuk, susu, serta sereal yang di simpan di dalam lemari. "Kau suka makan sereal?"


Vina melirik ke arah Vano yang baru saja memberikannya sebuah tawaran dan mengangguk iya.


"Perlu berapa hari kau bisa men- sebentar," Vina menghentikan ucapannya ketika dai menyadari kalau dia mengingat kalau vano ini sudah bekerja. "Apa maksudmu kau mau menyelesaikan pekerjaanmu lebih dulu sekalian mengambil cuti, baru menemaniku pulang?"


Vano menjawab : "Iya. Lebih tepatnya aku akan mengundurkan diri, agar aku bisa menemanimu pulang ke tanah airmu." selesai bicara seperti itu, Vano lantas memberikan semangkuk susu berisi sereal.


"Tapi Vano, kau sudah dapat pekerjaan, kenapa harus sampai mengundurkan diri?" Vina pun tidak habis pikir dengan cara Vano ini, "Padahal kau sudah punya pekerjaan, uang dan setidaknya cukup untuk menghidupimu di sini, dan gajinya juga pasti akan membuatmu punya kehidupan yang lebih baik. Jadi kau tidak harus sampai mengundurkan diri karenaku, Vano." Vina lantas tentu saja jadi merasa cukup gelisah, karena Vano yang justru memilih pilihan yang bagi Vina sendiri tidaklah bagus.


Vano diam, lalu menatap wajah Vina yang nampak cemas itu.


Seseorang yang begitu khawatir kepadanya karena soal pekerjaan? Sebegitu cemasnya Vina kepadanya?


'Kau bahkan punya sifat yang sangat bertolak belakang dengan Veronica. Jadi kenapa aku mau melepaskan wanita yang bahkan lebih menarik dari pada pacarku sendiri?' pikiran Vano pun hanya ada satu, yaitu menikmati setiap ekspresi wajah yang di perlihatkan oleh Vina kepadanya.


Seorang wanita yang begitu tulus membantunya, dan bahkan memberikan rasa khawatir setelah pertengkaran diantara mereka berdua satu atau bahkan sebenarnya sepuluh hari yang lalu.


"Apa kau takut aku tidak mendapatkan pekerjaan lagi, setelah aku keluar dari pekerjaanku yang ini?" tanya balik Vano.


"Aku tidak tahu apapun soal pekerjaanmu, dan berapa gajimu, tapi yang namanya pekerjaan, dan kau belum lama ini bekerja, jadi kenapa kau harus rela untuk memilih pilihan yang bagi aku saja, cukup buruk.


Kita berdua itu tidak punya hubungan apapun, jadi yang aku maksud itu-" kehabisan kata-kata untuk bicara satu kali nafas, Vina terdiam sejenak dan mengambil alih kendali pembicaraan mereka berdua lagi. "Kenapa kau terus melakukan hal yang tidak menguntungkan untukmu? Kenapa? Apa kau bisa menjawabnya dengan jelas apa alasanmu itu kepadaku?" tanya Vina.

__ADS_1


Pada akhirnya dia pun memberikan tuntutan kepada Vano, agar Vano menjawabnya dengan serius.


Vano sebenarnya cukup enggan, dia sangat enggan untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya telah tumbuh di dalam dadanya.


Akan tetapi, mengingat konsekuensi yang dia dapat jika dia mengatakan suka kepada wanita ini adalah cukup besar, mau tidak mau Vano pun memberikan alasannya yang lain. "Karena aku sama sekali tidak punya ingatan siapa keluargaku, jadi kenapa aku harus tinggal di tempat asing seperti ini?"


Mendengar hal tersebut, Vina pun jadinya terdiam. 'Tapi- kenapa aku merasa kurang percaya dengan alasannya itu?' pikir Vina.


"Dari pada di sini sendirian, lebih baik aku pulang bersamamu sekalian kan?"


Vina langsung berekspresi bingung.


Ya, dia bingung sendiri, sebab melihat kehidupan Vano nampak jauh lebih baik di sini, lantas kenapa terus bersikeras untuk ikut pulang ke indonesia?


"Kau sudah punya kehidupan di sini yang jauh lebih bagus. Jadi aku pikir, tidak baik jika kau meninggalkan tempat ini, bahkan apertemen ini." ungkap Vina.


"Vina, apa kau pikir kehidupan di kota adalah yang terbaik untukku? Memangnya kau punya pikiran yang sama dengan apa yang aku pikirkan?


Itu keputusanmu, karena kau memang punya kesan kepadaku kalau aku ini lebih cocok tinggal di sini.


Tapi apa kau tidak pernah berpikir kalau aku justru punya kondisi lain yang membuatku lebih nyaman berada di desa? Aku punya kesan yang membuatku lebih nyaman di sana, jadi kenapa kau terlihat begitu enggan membawaku pulang juga?"


Setelah di berikan penjelasan seperti itu, Vina pun tidak bisa berkata-kata lagi, sebab apa yang di katakan oleh Vano ini memang ada benarnya.


"Tapi dengan kau berada di sini-" mulutnya seketika tidak bisa bicara lagi setelah Vano tiba-tiba saja menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri.


"Kau memang keras kepala, egois, dan hanya semaumu sendiri ya? Kau berpikir aku ini cocok jadi orang kota? Kau lihat apa yang terjadi dengan kota ini kan? Kau tahu kalau angka kriminalitas di sini juga tinggi, biaya juga cukup tinggi, tapi apa kau tetap menolakku untuk ikut denganmu?" penjelasan dari Vano pun akhirnya mulai menyudutkan Vina sendiri.


'Dia benar juga. Dia yang membuat keputusan, kenapa aku terus melarangnya? Aku punya hak apa untuk melarang Vano mengambil keputusannya sendiri?' setelah berpikiran demikian, Vina yang tidak punya pilihan lain selain menyerahkan apapun yang di inginkan Vano pada diri Vano sendiri, Vina pun memilih untuk diam dan memakan sereal yang di buatkan oleh Vano untuknya.

__ADS_1


"Kau diam seperti ini-" sambil menyuapi mulutnya sendiri dengan satu sendok sereal, Vano pun tersenyum lemah lalu berkata : "Apa itu artinya kau mengiyakan pilihanku?"


"Aku baru sadar. Kita kan memang tidak punya hubungan apapun, jadi aku pikir jika itu pilihanmu, maka aku tidak bisa mencegahmu lagi." jawab Vina dengan santai.


Bisa mendengar kekalahan Vina dalam beradu mulut, Vano akhirnya merasa cukup bangga sendiri. 'Akhirnya aku bisa pulang. Eh, di sini kan memang sudah jadi negara tempat aku di lahirkan, tapi bisa sampai membuatku senang dan malah terikat dengan perempuan ini, apa itu artinya aku ini memang benar-benar menyukai dan jatuh cinta kepadanya?'


"Apa aku juga harus tinggal di sini bersamamu juga?" tanya Vina, tiba-tiba saja kembali mengangkat topik utama dari alasan kenapa Vano akhirnya mau membawanya keluar dari rumah sakit, dan malah di ajak pergi ke apertemen nya.


"Apa kau berharap kalau aku akan mencarikanmu rumah di kota seperti ini-"


Mendengar Vano punya persepsi seperti itu, Vina pun langsung menjatuhkan sendoknya dan menggelengkan kepalanya sambil menjawab : "Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya berpikir, apakah kita lagi-lagi akan tinggal berdua?" kalimat berisi pertanyaan itu pun sedikit lirih, agar tidak terkesan bertanya secara terang-terangan.


Vano yang suka makan sereal coklat itu, lebih dulu memakannya sampai habis, dan begitu habis barulah dia pun bicara : "Hmmm, aku memang tinggal di sini untuk sementara waktu, dan aku membawamu kesini juga agar kau tidak terus menerus ada di rumah sakit.


Lagian kau juga sudah cukup bosan berada di sana, kan?


Dan satu hal yang harus kau ketahui, aku tidak akan melakukan apapun lagi kepadamu, jika aku memang secara tidak sengaja melakukan padamu sesuatu, tapi masih bisa kau kendalikan, kau bisa pukul aku sesuka hatimu."


"Hah?! Y-ya, jangan sampai seperti itu juga." gumaman lirih Vina pun masih terdengar oleh Vano.


"Apa?"


"TIdak, aku akan memukulmu sampai babak belur, itu pun jika aku ini- memang kuat memukulmu." sambil berbicara seperti itu, Vina pun sebenarnya terus memperhatikan kedua lengannya Vano yang begitu kekar, berotot, dan bahkan nampak urat-urat dari nadinya. 'Jika di lihat, sepertinya itu tangan bisa buat orang mati dalam satu kali pukul.' batinnya.


Vano yang sadar dengan perbedaan dari tangan mereka berdua, langsung berpikir 'Tangannya kecil. Apakah aku akan menganggapnya sebagai tangan bayi? Jika aku memegangnya, rasanya kalau tangannya itu pasti bisa hancur.'


'Kenapa aku jadi membahas soal tenaga di antara kita berdua? Dia pasti jadinya berpikiran yang aneh-aneh soal aku.' kata hatinya Vina, tiba-tiba saja jadi merasa malu sendiri.


__ADS_1


__ADS_2