Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Gara-gara


__ADS_3

Darah berwarna merah segar langsung menciprat ke wajahnya, pisau yang hampir memotong lehernya, langsung melayang jauh dari tangannya Abel.


Tapi rupanya orang yang memasang wajah terkejut itu, bukan hanya Vina dan Abel saja, karena Delvin pun punya ekspresi yang sama.


'D-darah?!' Vina tercengang, dia tidak habis pikir bahwa darah segar itu langsung menodai wajahnya juga.


Namun, itu darah milik siapa?


"Itu- hampir saja" gumam Abel.


Mendengar Abel berkata demikian, Vina langsung menoleh ke arah kanannya, dan betapa menyakitkannya, serta betapa terkejutnya saat dia melihat kalau darah yang berceceran di pakaian dan wajahnya, ternyata berasal dari tangannya yang terkena tembakan?!


"Vina!" teriak Delvin.


DORR!


Satu tembakan kembali terjadi, dan sasaran yang sebenarnya adalah Abel itu sendiri.


Tapi berkat Abel yang punya insting yang cukup kuat, dia pun berhasil menghindari tembakan tersebut.


"Akhh! Sakit! Huwaahh!"


Delvin berlari menghampiri Vina yang berteriak dengan tangisannya yang sudah menjadi-jadi, setelah Abel melepaskan Vina demi bisa menyelamatkan diri dari tembakan tadi.


DORR....DORR...


"Ternyata kalian punya penembak jitu ya? Sayang sekali, yang kena tembak, justru Vina sendiri, hahaah, kalau tidak langsung di tangani, tangannya pasti akan lumpuh total," ucap Abel, membuat Vina yang masih bisa mendengarnya, jadi semakin ketakutan dan semakin menangis dengan lantangnya.


Delvin yang sudah terlanjur marah, langsung menodongkan pistolnya dan tanpa ragu segera menembaknya.


DORR..


CTAKK..


Tapi, peluru itu justru berhasil di tangkis dengan cepat oleh Abel, setelah Abel berhasil mengambil kembali pisau belatinya. "Kau pikir kau bisa menembakku?"


"Entahlah, meskipun aku gagal, tapi tidak dengannya,"


Perkataan dari Delvin yang begitu dingin itu, menantang rasa penasaran Abel yang langsung membawa rasa curiga pada sesuatu tubuhnya yang tiba-tiba saja jadi merasakan rasa sakit di pinggangnya.


Benar saja, begitu Abel melirik ke bawah, Abel langsung melihat adanya darah yang berceceran di lantai, dan darah itu pun berasal dari perutnya?!


'Siapa?' Abel yang cukup penasaran, langsung menoleh ke belakang.


'Ahhh~ Sakit! Sakit sekali! Kenapa aku terus yang kena? Kenapa harus aku?! Seperti yang dia katakan, setelah ini jangan-jangan tanganku benar-benar akan lumpuh?! Huwaah! Kalau ini terjadi, aku bisa apa?! Siapa yang akan mau dengan orang yang lumpuh? Hiks, aku takut!' Vina yang menangis terus mencengkram tangannya Delvin, karena dia benar-benar merasakan rasa sakit yang luar biasa. Melebihi rasa sakit saat dia kena maag, jatuh dari motor, atau apapun yang selama ini dia jalani sebelum bertemu dengan mereka berdua.


"Seharusnya kau yang kena, jadi aku balas dengan tanganku sendiri, Abel!"


Suaranya yang begitu rendah, menciptakan kesan amarah milik seseorang yang begitu mendalam. Samar-sama Vina hanya melihat ada satu orang lain yang muncul setelah berhasil menembak Abel.


Siapa?

__ADS_1


Itu adalah satu kata yang hanya terlintas dalam beberapa detik sebelum Vina kembali fokus pada rasa sakitnya yang tidak bisa dia tahan lagi, apalagi mengingat berkat peluru yang menyasar itu, membuat Vina kehilangan banyak darah, di tambah dengan syok berat yang dia miliki, pada akhirnya membuat kesadarannya jadi menghilang.


'Aku ingin tahu siapa yang berhasil menembak Abel, aku ingin melihatnya! Aku ingin mengucapkan terima kasih karena dia bisa membalaskan dendamku kepadanya! Tapi- tapi jika aku langsung tidur seperti ini, aku tidak akan bisa berterima kasih!' pikir Vina. Dia berusaha untuk mempertahankan kesadarannya, dan mulutnya dengan gagap terus mengatupkan mulutnya. "Si-sia ... siapa ya-"


DORR..


DORR..


CTAK...


"Vin, kau tidak usah banyak bicara dulu, aku akan segera membawamu kerumah sakit," ucap Delvin, tepat setelah Delvin membalut tangannya Vina yang dipenuhi dengan darah, Vina langsung dibopong oleh Delvin.


'Tunggu! Aku ingin tahu siapa dia! Atau nanti aku bisa-bisa lupa.' tapi semua teriakan yang ada di dalam benak hatinya sama sekali tidak berguna, karena Delvin dengan cepat langsung keluar dari area jangkauan dari Abel, sebab Abel sudah di tangani oleh orang lain.


"Kali ini, kami akan memberikanmu kompensasi yang sepadan,"


'Apa?' Vina yang tidak mampu lagi untuk bertahan, samar-samar hanya mendengar kata kami dan padan saja, tanpa mendengar keseluruhannya. "D-dev- Devli- si- ..."


Sampai akhirnya, tepat sebelum Vina bisa bertanya kepada Delvin, pandangannya pun semakin kabur dan berakhir dengan pingsan disertai suara keras dari satu tembakan yang kembali terjadi.


DORR....


______________


------>


"Lihat?! Berkat ketidakbecusan kalian, dia jadi seperti itu! Aku tidak habis pikir, padahal rencananya sudah sempurna, tapi kenapa bisa gagal terus?! Hah, percuma aku bisa mengharapkan kalian!"


Di samping itu semua, satu orang pasien di rawat di dalam sebuah kamar pribadi, dan pasien tersebut dalam kondisi berbaring dan tidak sadarkan diri.


Dari luar memang tampak begitu, tapi sebenarnya tidak dengan indera pendengarannya yang terus mendengar suara teriakan itu entah berapa lama.


"Tapi Tuan-"


"Nah! Kau mau menyangkal? Mau buat alasan?"


"Tuan muda, dengarkan dulu, ini bukan sepenuhnya kesalahan dari dia-"


'Bukannya itu suaranya Delvin? Dia sebenarnya sedang bicara dengan siapa? Lalu siapa yang sedang dilindunginya?' pikir Vina, dia sebenarnya cukup penasaran, alasan dari kegaduhan itu, tapi Vina sama sekali tidak bisa membuka matanya.


"Delvin, sekarang kau bahkan mau melindungi anak buahmu itu?"


Pertanyaan itu sontak membuat bulu kuduk mereka semua langsung berdiri, betapa bengisnya saat melihat ekspresi wajah majikan mereka yang benar-benar di atas kemarahan.


"Saya hanya bicara sesuai dengan kondisi yang ada. Abel, dia kan punya insting yang kuat, saya sendiri melihatnya dia yang sempat menggantikan posisi tangannya sebelum peluru itu mengenai Nona,"


"Hah, kau bahkan sama saja. Aku memang tahu, kalau dia pasti bisa melakukan itu. Tapi sangat kesal, karena itu harus terjadi!"


----->


PRANG ...

__ADS_1


"T-tuan?"


"Kenapa dia masih saja belum bangun?" suaranya begitu dingin, membuat seorang perawat yang ada di sana, jadi tidak bisa mengendalikan ekspresi ketakutannya itu, karena sang Tuan muda yang benar-benar menatapnya dengan cukup tajam.


"Ini disebabkan karena Nona mengalami syok berat, jadi butuh beberapa hari untuk istirahat," jelasnya.


"Kau bahkan menjelaskan kondisi kesehatannya hanya berdasarkan pengamatanmu yang dangkal, sebaiknya kau pergi dari sini," perintah pria ini, siapa lagi kalau bukan Elvano. Dia langsung menuntut perawat tersebut untuk segera pergi dari hadapannya, sekaligus rumahnya, karena dirasa kurang becus.


'Suara ini lagi? Elvano? Kenapa dia terus marah-marah kepada orang lain?' pikir Vina, di balik posisinya yang memang masih belum bisa bangun sepenuhnya.


"Tapi Tuan, i-"


"Tidak ada kata tapi-tapi lagi, keluar dari rumahku, sekarang, juga." sela Vano detik itu juga, sehingga perawat tersebut pun tidak bisa berkata-kata lagi selain harus pergi saat itu juga.


"Baik, Tuan."


----->


Hari demi hari terus terjadi, tepatnya Elvano yang terus marah-marah.


BRAK....


"Hiii~" ketika perawat yang baru, sedang mencoba untuk menyeka tubuhnya Vina, perempuan ini langsung ketakutan setengah mati setelah mendengar pintu kamar yang di buka dengan sangat kasar.


"Jangan buat alasan lagi, ini sudah hari ketiga, tapi dia belum bangun?!"


"Tuan, dengarkan dulu. Alasan dari Nona belum bangun, jelas saja karena tekanan dari mentalnya. Anda sendiri juga tahu apa yang sudah Nona alami, dan ketakutannya yang berlebih menjadi alasan utama Nona masih belum bangun. Tubuh Nona hanya perlu beradaptasi lebih dulu di masa pemulihan ini, jadi yang menentukan Nona bisa bangun dengan cepat atau lambat, adalah Nona sendiri!" benar-benar, demi agar ucapannya tidak di sela dan langsung membuat Tuan muda Elvano naik darah lebih dulu, suster ini pun bicara dengan kecepatan super agar bisa di pahami oleh sang Tuan muda dengan cepat, dan setidaknya agar Tuan muda tidak terus menerus menuduh orang yang tidak bersalah.


Elvano yang mendengar penjelasan suster dengan kecepatan tinggi, hanya terdiam karena dia langsung paham dan sekaligus jadi tersinggung, gara-gara apa yang di ucapkan oleh suster itu, sudah lebih dari cukup untuk mewakili semua pertanyaannya.


"Kau juga gila, berani-beraninya bicara cepat kepadaku, Delvin! Ganti suster ini dengan suster yang biasa itu!" teriak Elvano.


"Tuan! Apa anda tidak bisa berhenti berteriak seperti anak kecil?!"


"Delvin, kau malah menceramahiku, cabut rumput di luar! Dan kau, kembali ke rumah sakit, kau akan di gantikan oleh dia-" timpal Elvano, dia langsung menunjuk pada satu orang suster yang biasa merawat Vina waktu itu, untuk datang kerumahnya.


'Kenapa setiap hari mereka terus berisik?' lirih Vina di daam hati kecilnya.


Sejujurnya Vina ingin bangun, tapi rupanya tubuhnya yang sedang kehilangan kontrolnya, membuatnya tetap untuk tidur.


Mau sampai berapa lama, Vina sendiri hanya bisa pasrah saja, sebab lagi pula dia sendiri juga merasa nyaman.


Ya, karena sakit, dia merasa nyaman karena dia tidak harus melihat apa yang tidak ingin dia lihat atau dia temui.


"B-baik Tuan, saya akan memanggilnya untuk datang kesini,"


Begitu suster tersebut pergi, Elvano pun akhirnya bisa meredakan amarahnya lagi. Dia berjalan menghampiri Vina, dan meraih handuk kecil yang dia gunakan untuk menyeka wajahnya Vina.


"'Vin, apa kau akan terus membuatku seperti ini?"


'Apa maksud dari ucapannya itu?' pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2