Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Maaf


__ADS_3

Memiliki alis yang tebal, bulu mata hitam yang begitu lentik, bibir seksi yang tampak tebal, yang bisa membuat siapapun akan merasakan pesona seksi yang di miliknya, kontur garis wajah yang begitu jelas, serta rahang yang terlihat tegas, akhirnya pemilik dari wajah rupawan itu perlahan membuka matanya dan memperlihatkan mata hitam dengan sorotan mata yang begitu tajam.


Sorotan mata elang yang tampak seperti mampu menembus segala pikiran orang lain dalam sekali tatap, membuat seseorang yang dari tadi memperhatikannya, seketika langsung memejamkan matanya kembali.


'Kenapa aku tiba-tiba jadi bermimpi soal masa lalu?' pikir Elvano. Setelah mengarungi mimpi yang begitu panjang dan banyak, Elvano pun akhirnya jadi tersadar dari alam tidurnya. 'Pada awalnya aku memang tidak punya niatan sama sekali untuk- eh? Sebentar, kalau aku tadi mimpi soal masa lalu, berarti pakah itu artinya aku mulai mengingat kembali ingatanku yang lama?'


Bangun dari tempat dia meletakkan kepalanya di samping tempat tidurnya Vina, Vano mulai mengernyitkan matanya, karena akses dari beberapa ingatan masa lalunya pada akhirnya mulai menyambar semua sel-sel otaknya yang menyebabkan rasa sakit kepala yang cukup mengganggu.


'Walaupun ingatanku mulai pulih, tapi ternyata tidak mudah kalau harus menerima ingatan itu kembali karena membuat kepalaku jadi pusing seperti ini.


Aku ingin kembali istirahat, tapi apa gunanya jika aku tidak bisa kembali tidur?' setelah berpikir seperti itu, matanya menangkap sosok Vina yang terbaring dengan wajah kalem, dan cukup polos. "Ini bahkan sudah mulai tengah malam, kenapa dia masih belum saja bangun?"


Sempat terbesit rasa rindu yang datang dengan perasaan aneh, ujung tangan kanannya akhirnya terangkat, menyibak helaian rambut panjang yang menutupi matanya Vina.


'Geli. Sebenarnya apa yang sedang di pikirkan oleh Elvano? Aku merasakan tatapan matanya yang terus menatap ke arahku dengan sangat menusuk.


Apa aku harus bangun, atau tetap berpura-pura tidur saja ya?' Vina yang terjebak dalam situasinya sendiri, jadi kebingungan mana yang harus dia pilih untuk menghadapi Elvano ini.


"Jika aku tidak memperhatikannya dengan jelas, aku pasti tidak akan menyadari kalau ternyata kau punya beberapa tahi lalat di sudut mata dan atas bibirmu, biasanya kalau di atas bibir, orangnya cerewet, kalau di samping mata, apakah punya daya tarik tebar pesona?" Vano yang cukup tertarik untuk menghitung tahi lalat di wajahnya Vina, mulai menatap wajah Vina dengan begitu antusias.


'Kenapa kau malah terus menatapku seperti itu karena tahi lalat?! Aku jadi tidak bisa konsentrasi untuk bisa pura-pura tidur tenang.' Vina mulai terusik dengan tatapan Elvano yang sedang menghitung jumlah tahi lalat yang di miliki oleh Vina tersebut. 'Apa dia tidak punya pekerjaan lain, sep-'


Merasakan rasa sakit yang tiba-tiba muncul, Vina akhirnya membuka matanya dengan lebar sambil menahan rintihannya sendiri.


"Ukh, apa yang sedang kau lakukan dengan menatapku seperti itu?" tentu saja dia langsung bertanya demikian kepada Elvano agar Elvano berhenti melakukan hal yang tidak berguna itu. Meskipun, sebenarnya Vina sendiri beberapa saat tadi, ketika pria itu tidur, dia sendiri juga terus memperhatikannya.


Vina terus memperhatikan wajah milik dari pria itu.


Awalnya saat tertidur, Vina begitu terhanyut dalam suasana tersebut untuk terpesona dengan wajah Elvano yang garang itu.


Tapi, begitu pria tersebut bangun, dan sedang kurang pekerjaan, ekspresi wajah Elvano yang sekarang justru membuat Vina jadi merasa gemas sendiri karena sipu malu yang mewarnai telinganya Elvano, sungguh sangat menarik perhatiannya.


"Kau sudah bangun sejak kapan?" tanya Elvano dengan menahan rasa gugupnya, karena ketahuan sudah menatap wajah Vina yang tadi sedang tertidur itu.


"Sejak-" Vina ingin membuat alasan singkat, tapi sepertinya dia memilih untuk jujur agar bisa melihat tingkah konyol dari pria itu. "Sejak kau mengatakan tahi lalat."


'Jadi dia sudah sadar dari semenjak aku menatap wajahnya?' Elvano lumayan terkejut, tapi dia yang punya daya tahan untuk menekan rasa terkejutnya itu, membuatnya langsung bertanya balik, "Jadi kau sengaja pura-pura tidur?"


Vina yang tidak mampu untuk menatap lawan bicaranya itu, sebab seperti hendak marah kepadanya, langsung menjawab sambil menatap ke arah lain, "Itu, iya. Awalnya aku memang pura-pura tidur, tapi berharap agar aku bisa tidur lagi, jadi aku tidak salah dong,"


Bisa mendengar penjelasan tersebut dengan alasan guna menyangkal, membuat Elvano menghela nafas kasar sambil tersenyum miring dan berkata, "Dengan kata lain, jika kau tidak terbangun karena rasa sakit, kau pasti benar-benar ingin membuatku menatap wajahmu terus kan?"


'K-kok, kenapa malah jadi seperti ini?!' Vina malah jadi kehabisan kata-kata karena ulahnya sendiri.


"Yah~ itu tidak masalah sih, aku masih punya banyak waktu untuk aku habiskan agar aku bisa menatap wajahmu itu," goda Elvano dengan senyuman bangganya, yang mana hal tersebut sukses besar membuat Vina mulai salah tingkah sendiri.


"Tunggu, da-dari pada ka-kau ha-biskan un... tuk menatap wajah jelek ini, m-mending kau urus kakakmu itu dan pekerjaanmu, lalu aku sudah lebih mendingan, ja-jadi aku bisa pu-" hendak mengatakan pulang kepada Elvano, tapi kalimatnya langsung menyangkut di dalam tenggorokan, Vina pun jadi diam dalam kebingungan.

__ADS_1


Dia baru saja teringat, meskipun dia ingin segera pulang, lalu bagaimana dengan kondisi dari kedua orang tuanya?


'Bagaimana soal kedua orang tuaku? Aku hampir saja melupakan mama dan papa aku yang di culik oleh kakaknya Elvano ini. Apa aku boleh mengadu? T-tapi, jika aku melakukan itu, takutnya mereka berdua malah di apa-apakah oleh anak buahnya itu. Apa yang harus aku lakukan?' Vina jadinya melamun karena masalah kedua orang tuanya yang di culik itu.


Sedangkan Elvano yang sama sekali tidak tahu apa alasan kenapa Vina tiba-tiba jadi diam, langsung bertanya, "Kenapa kau tiba-tiba jadi diam? Jika soal kakakku itu, aku sudah membereskannya, dan kalau pekerjaan aku sudah keluar dari pekerjaan baruku itu, jadi aku sudah tidak ada sangkut pautnya dengan tempat kerjaku. Lalu jika soal wajahmu, aku pikir kau memang punya wajah jelek,"


JLEB....


Hati nuraninya seperti baru saja di hempas ke dasar jurang, karena perkataannya Vano yang cukup menyayat itu.


"Tapi apa salahnya itu? Kan suka-suka aku, mau aku melakukan apa dengan waktuku, apakah untuk menidur- bukan, maksudku mengamati wajahmu dengan banyak tahi lalat itu, ataupun jalan-jalan keliling kota bersamamu, maupun makan di sini sambil nonton tv di sini, itu keputusanku, aku tahu apa yang aku lakukan, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan hal lain selain kesembuhanmu saja. Hanya itu, mulai sekarang aku janji, aku akan menemanimu selamanya," tambahnya, sampai Vina langsung menyela dengan cepat.


"Stop! Selamanya? Jangan bicara yang tidak-tidak, apa kau tidak bisa, agar jangan menggunakan kata yang membuat orang lain salah paham? Aku tidak mau punya salah paham dengan ucapanmu, karena otakku ini cetek." Vina menjelaskannya dengan sejujur-jujurnya.


"Pfft, justru itulah, karena otakmu cetek, aku ingin kau mengasahnya," ledek Elvano.


Vina yang kesal dengan perkataannya, langsung memejamkan matanya dan menarik selimutnya sampai menutupi semua tubuhnya dengan begitu rapat.


"Kau ngambek?" goda Elvano sekali lagi.


"Diam, jangan bicara lagi, aku ingin tidur lagi," ketus Vina, dia sebenarnya memang sudah ngambek, sebab kepolosannya yang belum sepenuhnya banyak menghadapi banyak pria karena dia jarang berinteraksi dengan lawan jenis, membuat Vina jadi minder dengan perkataannya Vano tersebut. Apalagi jika sudah menyangkut kalimat samar yang merujuk banyak makna, Vina sangat terbebani dengan kalimat seperti itu karena tidak tahu harus bagaimana cara untuk menghadapinya.


"Jangan ngambek, aku kan hanya bercanda, ayo bangun, kau kan belum makan?" Vano mulai menarik selimutnya Vina, dan berusaha untuk membujuk Vina agar kembali bicara dengannya.


"Tidak mau, aku hanya ingin tidur lagi, jangan ganggu," marah Vina. Sampai ketika ujung selimut yang tadinya menutupi kepalanya, sempat terbuka sedikit.


"Bukannya selama ini aku masih bisa bernafas sekalipun aku kena banyak insiden gara-gara kau? Jadi aku tidak mau," balas Vina, dia jadinya malah membahas soal masalah hubungan diantara mereka berdua yang terjadi akibat banyak insiden yang berhubungan dengan Elvano. "Aku benci kau- mentang-mentang tampan, kau mengatakan hal yang membuat orang salah paham, aku tidak suka itu. Lebih baik kau pergi," ucapnya lagi.


Kali ini ucapannya Vina pun berhasil menusuk hati nuraninya Elvano, sehingga pria yang hendak membujuk Vina untuk makan ini pun jadinya terdiam sambil tersenyum lemah. "Kau benar, gara-gara aku kau jadi terlibat banyak hal, dan karena wajahku kau jadi tertarik denganku juga, lalu ucapanku yang tidak bisa di filter, pasti sering menyinggungmu, apalagi dengan sikapku selama ini, maaf.


Aku tahu kalau minta maaf saja tidak akan cukup untukmu, untuk kau yang sudah melewati banyak masa sulit yang tidak pernah kau alami, sebelum kau bertemu denganku.


Aku tidak mengharapkan kau memaafkanku, tapi aku benar-benar mengkhawatirkanmu sepanjang waktu. Setelah semua ini selesai, apapun yang kau minta aku akan menurutinya. Lalu untuk kompensasi apa yang kau inginkan kepadaku, aku akan siap untuk mendengarnya.


Jadi, aku mohon, setidaknya kau makan dulu agar kau tidak bertambah sakit."


Setelah menjelaskan semua permasalahan diantara mereka berdua yang harus segera di luruskan itu, Elvano pun terdiam dan tetap menunggu Vina.


Lantas, Vina sendiri yang merupakan korban dari sebagian besar insiden selama ini, begitu mendengar pernyataan dari pria itu, tiba-tiba saja hati nuraninya seperti baru saja di tampar.


Dia jadi bingung, dia sebenarnya marah dengan semua situasi yang membuatnya kembali ke rumah sakit dengan penampilannya yang terlihat mengenaskan. Tapi saat mendengar semua penyesalan yang keluar dari mulutnya Elvano secara langsung, Vina pun jadi bingung harus bagaimana untuk menanggapinya.


Tidak mudah, memaafkan situasi yang menurut Vina sendiri sama sekali tidak masuk akal, karena selama ini sebelum dirinya bertemu dengan Elvano, kehidupannya jelas-jelas sangatlah baik. Tapi semua itu harus terbuang, begitu Elvano pergi dan meninggalkan jejak yang membuat Vina kena dampaknya.


Hasilnya tentu saja seperti sekarang ini, dia sama sekali tidak berdaya jika dia tidak di bantu oleh Elvano dan juga Delvin.


'Aku memang kesal, aku marah, dan aku benci karena aku punya situasi yang seharusnya bukan jadi milik aku. Tapi karena Elvano dan Delvin sendiri juga menangani semua masalah yang mereka buat dengan melindungiku, apa aku sebaiknya memaafkannya?

__ADS_1


Ah tidak, aku bahkan berkat ini semua, sekarang kedua orang tuaku sudah di culik oleh pihak musuh.' Vina jadi bimbang, dia tidak bisa memaafkan pria ini begitu saja, sekalipun Elvano memberikannya kompensasi yang banyak sekalipun, karena ini juga berkaitan dengan kehidupan sosialnya, serta mental miliknya yang terguncang, gara-gara terkejut dengan semua ini.


"Apa kau mau makan?"


"Tidak, aku ingin sendirian saja," pada akhirnya Vina pun tidak mampu untuk menjawab semua perkataannya Elvano tadi, dan memilih untuk menyendiri.


"Aku akan keluar mencari makanan, jika kau ingin sesuatu, kau bisa menghubungiku, handphonemu ada di meja sebelah tempat tidurmu," kata Elvano, lalu dia pun benar-benar pergi meninggalkan Vina sendirian di dalam kamar.


"Hmm ... " dehem Vina, masih tidak mau membuka kain selimutnya, dan memilih untuk meringkuk di atas tempat tidur sambil bertarung sendiri antara hati dan pikirannya.


______________


Di luar kamar, Delvin sudah berada di depan persis menunggu Tuan muda nya keluar dair kamar.


"Tuan, bagaimana?" tanya Delvin.


"Dia masih tidak mau bicara, aku tidak tahu lagi harus bagaimana agar dia mau memafkanku. Aku sudah minta maaf, tapi sepertinya dia memang sudah cukup terguncang dengan semua kekacauan yang di timbulkan oleh kakakku," jelas Elvano. Dia memilih untuk duduk terlebih dahulu.


Gara-gara dia tertidur di posisi yang tidak benar, dia pun merasakan otot-otot tubuhnya jadi tegang. Oleh karena itu, dia meregangkan otot-ototnya lebih dulu sebelum akhirnya dia duduk.


"Tapi Tuan, apa Anda yakin dengan keputusan untuk memberikan uji coba kepada Tuan Arthur untuk menggantikan posisi anda selama satu bulan?" Delvin mendapatkan informasi tersebut dari salah satu pelayan yang mendengarnya, jadi dia pun mencoba untuk bertanya untuk mengkonfirmasi soal berita itu kepada orangnya secara langsung.


"Aku yakin. Aku hanya mengatakan untuk memberikan dia mencicipi rasanya dunia kerja sebagian kepala keluarga Travers.


Meskipun aku memberikannya kesempatan, bukan berarti semua kendali itu ada di tangan dia sepenuhnya.


Posisi itu masih aku pegang, aku cuman memberikan 30 persen kekuasaan kepadanya, dan mengamati apa yang bisa dia lakukan."


"Berarti anda sudah punya rencana untuk menghadapi jika Tuan Arthur tiba-tiba membuat pasukan untuk menyingkirkan anda lebih dari pada yang anda pikirkan?" Delvin bertanya soal penanggulangan masalah yang bisa terjadi di kemudian hari kepada Elvano.


"Dia itu kakakku, karena aku punya kuasa lebih, jauh lebih gampang jika aku langsung menangkap dia dan mengurungnya di rumah. Meskipun aku mengatakan aku ingin membunuhnya, semua itu hanyalah sekedar kata-kata yang tidak bisa di percaya, Delvin.


Lagi pula, sekarang satu-satunya keluarga yang aku miliki hanya ada dia. Dia seperti anak kecil, memberikannya sedikit mainan pasti bisa membuatnya senang, itu saja sih alasan kenapa aku membuat keputusan itu." tidak bisa di pungkiri, karena dia mendapatkan satu wasiat untuk tidak saling bertengkar karena kekuasaan, semua sikap dan perkataan yang dia perlihatkan kepada Arthur, hanyalah sebuah akting belaka.


Yah, untuk beberapa hal, Elvano sendiri memberikan sikapnya yang asli saat Arthur mau membunuh Vina, tapi selain itu, dia hanya ingin menggertak Arthur saja, agar takut.


"Tuan, walaupun anda terlihat ganas, rupanya hati anda baik ya?"


Elvano yang mendengarnya jadi terkekeh, "Apa itu pujian? Kau sudah besar, kenapa kau tidak sekalian cari pacar saja?" dengan sengaja, tangannya mengacak rambutnya Delvin, karena mau bagaimanapun Delvin ini memang lebih muda sekitar lima tahun dari diri Elvano.


"Masih terlalu dini untuk membahas soal pasangan untuk saya, lebih baik pikirkan saja diri anda sendiri. Terutama Nona Vina," menepis tangannya Elvano.


"Kau bicara membahas soal dia lagi, memangnya ada apa lagi?" Elvano yang sedikit lapar, dia menerima satu bungkus roti dari Delvin dan memakannya, sebagai pengganjal perut.


"Ini masalah kedua orang tuanya,"


Elvano yang mendengar hal tersebut, jadinya diam dan menatap Delvin dengan sangat serius.

__ADS_1


__ADS_2