Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
53 : Menerjang Maut


__ADS_3

Panas, menyesakkan dada, lelah dan rasa sakit, semuanya bersatu menjadi kesatuan yang cukup harmonis untuk mendapatkan rasa siksa yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata selain rasa nyaman.


Rasa nyaman yang dia dapatkan setelah sekian lama tidak mendapatkan perlakuan yang pantas, rasa nyaman ketika dia akhirnya mendapatkan pelukan yang cukup kuat?


Lantas, kira-kira siapa yang sedang menggendong tubuhnya itu?


Vina yang sudah merasakan gelap selama kurang lebih satu minggu, matanya pun jadi cukup sensitif untuk melihat wajah dari orang yang sedang menggendongnya itu, sebab tadi situasinya tertutup dengan asap yang cukup tebal.


"Uhukk...uhuk, Delvin, seharusnya mereka sudah dalam perjalanan, kan?" tanya Elvano sesaat sebelum Vano kembali mencoba menahan nafasnya lagi, sebab situasinya sekarang udara adalah hal sesuatu yang berharga, dan ia harus menghemat oksigen yang bisa dia ampu untuk bernafas sebentar.


Dan jawaban dari Delvin pun sebuah anggukan.


'Tapi mau sampai berapa lama lagi aku harus menunggu?' pikir Vano, dia yang sedang menggendong tubuh Vina di kedua tangannya, dan meskipun wajah Vina sempat Vano tutup dengan jas miliknya, tapi karena pergerakan dari langkah kakinya begitu bergerak untuk bisa cepat keluar, sudut mata Vano pun akhirnya melihat dengan jelas wajah Vina yang nampak terlihat lemah.


Bahkan ketika biasanya Vina sering kali terkejut dengan kemunculannya Vano, sekarang tidak terlihat adanya kalau Vina terkejut dengannya.


'Walaupun tubuhnya kelihatan terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan-' untuk sesaat dia memperhatikan Vina dalam diam, karena dia cukup merasa sangat bersalah karena tidak bisa melindungi pahlawan yang sudah menyelamatkan nyawanya. 'Gara-gara menyelamatkanku, kau jadi seperti ini. Kedepannya, aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi padamu lagi.'


Elvano pun sudah bersumpah pada dirinya sendiri kalau dia akan membalas semua kebaikan yang sudah pernah Vina lakukan kepadanya.


Meskipun harus dengan cara lain, tapi Vano tetap akan melakukannya untuk bisa membalas budi Vina ini.


Karena mereka tidak bisa melewati jalan yang sama seperti saat mereka pergi tadi, Vano dan Delvin pun terpaksa mencari jalan yang lain.


Di situlah, setelah sekian lama mereka berdua berjalan dengan langkah yang kian melambat, karena udara dan suhu di sana semakin membuat tubuh mereka seperti terbakar dalam kobaran api neraka, tapi tidak membuat usaha mereka sia-sia, sebab akhirnya mereka bisa menemukan jalan keluar, meskipun mereka berdua harus melompati adanya kayu yang sedang di lalap habis oleh si jago merah.


“Api-” ucapannya terus tersendat karena tenggorokannya yang benar-benar cukup kering untuk sekedar bicara pendek. ‘Itu api yang besar, bagaimana harus melewati api sebesar itu?’ pikir Vina, dia melihatnya dengan tatapan mata penuh dengan keraguan. 

__ADS_1


Dia ragu apakah mereka akan terjebak di sana? Mengingat api yang ada di depan mereka cukuplah besar. 


Elvano yang melihat Vina sempat mengintip apa yang ada di depan, dia pun langsung menutup kembali wajah Vina dengan jas miliknya, agar Vina tidak ketakutan. 


“Delvin, kita langsung menerjangnya saja,” perintah Elvano dengan ekspresi wajahnya yang cukup serius.  


Mendengar namanya tiba-tiba saja dipanggil untuk mengikutinya untuk menerjang api yang ada di depan sana, Delvin pun memberikan anggukan sebagai tanda setuju.


Mendengar kalau mereka akan menerjang api besar itu, Vina yang merasa takut itu pun langsung mencengkram kemeja yang dipakai oleh Vano itu dengan cukup erat. ‘Semoga tidak terjadi apa-apa.’


‘Dia ketakutan.’ detik hati Vano, saat merasakan pakaiannya yang dicengkram dengan kuat oleh Vina. Kembali menatap ke arah depan, Vano pun sudah punya tekad yang cukup bulat untuk menerjang api itu.


Walaupun berbahaya, tapi jauh lebih berbahaya jika mereka terus di sana dan menunggu bantuan. Maka dari itu, dia pun tidak punya pilihan lain selain untuk menerjang api itu. 


‘Ini hanya panas sesaat saja, Vano, kau tidak perlu takut dengan kobaran api itu.’ ucap Vano dalam hati, mencoba untuk memberikan keberanian dan nyali yang lebih besar lagi agar keputusannya benar. 


Menatapnya dengan tatapan nanar, Vina yang benar-benar melihat ekspresi wajah datar milik Elvano yang benar-benar begitu serius akan menerjang api yang ada di depan mereka, Vina pun jadi ikutan merasa takut.


'Kenapa ada pria sebaik dia? Aku pikir aku akan benar-benar mati menjadi abu bersama dengan bangunan ini. Tapi melihatnya begitu serius mencariku dan membawaku keluar dari sini, kira-kira aku harus membalas budi dia dengan apa?' pikir Vina, dan dalam sepersekian detik itu juga, Vina pun merasakan kalau Vano sekarang sudah mulai berlari.


"Delvin, ayo!" perintah Vano kepada Delvin, dan setelah itu Vano pun segera beranjak dari sana dengan cara berlari cepat, sampai tepat di jarak kurang dari satu meter dari kobaran api itu sendiri, Vano dan di susul dengan Delvin, mereka langsung menumpukan kaki terkuatnya untuk melakukan penolakan.


Begitu tepat di saat Vano melompat melewati kobaran api itu sendiri, Vina semakin meringkukkan tubuhnya dan mencengkram erat pakaian Vano.


Dari situlah, sensasi panas yang dia dapatkan membuat Vina tidak ingin berpikiran lain selain berharap kalau mereka bertiga bisa selamat keluar dari sana.


KREK...

__ADS_1


Namun, tepat di tengah-tengah Vano melompati banyaknya puing-puing yang terbakar itu dengan begitu mudahnya, rupanya ada yang tidak di sadari oleh mereka selain Vina sendiri yang mendengar adanya suara retakan yang entah berasal dari mana, tapi Vina cukup yakin kalau suara itu tidak jauh dari mereka.


KLANG....


Dari belakang terdengar ada suara besi yang jatuh, membuktikan kalau bangunan itu tidak lama lagi akan roboh.


___________


Di saat yang bersamaan juga, dua pesawat terbang, tengah terbang di atas hutan dengan kecepatan penuh.


-"Josie, kenapa kita harus secepat ini?"- tanya salah satu temannya itu kepada satu orang yang berada di satu pesawat lainnya.


-"Delvin baru saja memberikan sinyal darurat untuk membawa air banyak ke tempat mereka."- jawab pria ini, dia tetap berfokus untuk mengendalikan pesawatnya agar lajunya tetap stabil. -"Lokasinya tidak dapat di jangkau dengan mobil, jadi dia menyuruhku untuk menggunakan pesawat,"- imbuhnya.


Dengan menggunakan pesawat pertanian, tangki pesawat yang biasanya di isi dengan cairan pestisida itu, sudah di ganti sepenuhnya dengan air untuk di gunakan sebagai alat darurat memadam api yang terjadi di pabrik tersebut.


Dan baru juga membahasnya, mereka berdua pun akhirnya menemukan titik api yang ada di jangkauan satu kilometer di depan sana.


-"Itu api?"-


-"Itulah yang di maksud oleh Delvin, cepat, jika ada Delvin berarti di situ juga ada Tuan muda,"- perintah Josie kepada rekan kerjanya yang berada di pesawat lain.


NGIUUUNGGG.....


Dengan kecepatan tinggi, pesawat yang mereka berdua kendalikan pun terbang menuju lokasi dari kebakaran tersebut, dan begitu sudah berada di titik kurang dari seratus meter dari lokasi, mereka berdua langsung menekan salah satu tombol untuk membuka lubang tangki agar air yang mereka bawa bisa langsung menghujani pabrik yang terbakar itu.


ZRASSHHH.....

__ADS_1


Tidak ada awan mendung dan tidak ada pula petir maupun hujan, dalam sepersekian detik itu juga kedua pesawat itu secara bergantian melintasi atap dari pabrik tersebut, membuat akrobatik di angkasa lepas agar jalur putarannya bisa lebih singkat, dan dari situlah air pun terus di jatuh ke pabrik yang sedang terbakar itu.


ZRASSSHH.....


__ADS_2