
BRAK ...
"Vin, kau kenapa?" Elvano tiba-tiba saja sudah masuk ke dalam kamarnya Vina, tepat setelah Vina masuk.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Vina, dia malah jadi bergidik ngeri karena pria ini punya kebiasaan membuka pintu sesuka hatinya tanpa izin apapun, terutama seperti sekarang ini.
"Kau yang tiba-tiba kabur itu kenapa? Apa kau sakit?"
'Dia malah berpikiran aku sakit? Bukannya ekspresi wajahnya yang seram tadi itu terlihat seperti orang yang sedang tidak suka?' Vina mulai salah paham lagi hanya karena ekspresi wajah Elvano tersebut.
"Kalau kau tidak mengatakan apapun, aku akan memanggilkan dokter sekarang," Elvano yang hendak pergi untuk mengambil handphone nya yang dia tinggalkan di kamar, tiba-tiba saja ujung pakaiannya di cengkram oleh Vina. "Kenapa kau mencegatku?"
"Aku tidak sakit, jadi kenapa harus panggil segala?" tanya balik.
"Yang tiba-tiba menutup mulutmu, dan kabur seperti orang yang mau muntah itu kenapa? Bukannya kau sakit?"
Vina menggelengkan kepalanya, "AKu tidak sakit, aku pikir kau menatapku tajam seperti tadi karena mulutku bau, makannya aku langsung pergi dari hadapanmu!"
Sontak Elvano terperangah, dia akhirnya sadar kalau diantara mereka berdua lagi-lagi salah paham, "T-ternyata begitu-"
Vano jadi malu, karena ekspresi wajahnya yang kadang memang tidak bisa dia kontrol sendiri. Makannya saat mengatakan itu, Elvano langsung menutup separuh wajah bagian bawahnya sambil menatap ke arah lain.
"Aku pikir kau kenapa, aku kadang kala memang seperti itu, tidak bisa mengontrol ekspresi wajahku sendiri, jadi maklumkan. Aku hanya terkejut saja, karena kau tiba-tiba saja mau menuruti permintaanku, padahal kau kan bisa menolaknya," sudut matanya pun kembali menangkap sosok Vina yang sedang memasang wajah bengong.
BLUSHH....
Sama-sama mendapatkan ingatan soal kejadian di kamar tadi, wajah Vina dan Elvano sama-sama langsung tersipu merah.
"A-apa- apa setiap pagi, pria memang seperti itu?"
Elvano yang mendengar pertanyaan itu, wajahnya jadi langsung memerah.
__ADS_1
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau tidak pernah tahu soal itu?" sedangkan di dalam hatinya, dia malah menggerutu kesal, 'Apa yang barusan aku tanyakan? Aku kan hanya tinggal menjawabnya saj? Pakai bertanya balik padanya, apa-apaan dengan aku ini?'
"Aku kan tidak tahu, d-dan hanya pernah baca saja, tapi tidak benar-benar tahu apakah itu asli atau tidak,"
"Tunggu, kenapa tiba-tiba kau bicara soal itu?" tanya Elvano sembari merentangkan tangan kanannya dan menunjuk ke arah Vina agar berhenti bicara soal masalah tadi.
"Aku kan hanya ingin tahu dari orangnya langsung?"
"Kan Delvin ada," balas Vano dengan singkat.
"Tapi Delvin kan kadang-kadang dia seperti punya ekspresi mau membunuhku, makannya aku takut tanya langsung,"
"Tapi kemarin saja, aku juga melakukan hal yang sama kepadamu kan? Apa artinya kau bahkan tidak takut lagi kepadaku?" tukas Elvano.
"Bukan berarti aku sudah tidak takut kepadamu, hanya saja-" Vina terdiam sejenak, mengambil nafas dalam-dalam, kemudian dia pun kembali bicara, "Aku sepertinya jadi orang bodoh yang akan lebih percaya dengan apa yang kau katakan kepadaku,"
'Apa ini? Apa dia baru saja mengungkapkan perasaannya kepadaku, kalau aku hanya satu-satunya orang yang bisa dia percaya sekaligus dia andalkan?' Elvano mencoba bertanya-tanya sendiri, tapi dia sendiri juga melihat kejujuran yang terpancar jelas di matanya Vina. "Kalau soal itu, aku tidak bisa berkata apapun. Tapi iya, setiap pagi memang seperti itu,"
'Agak memalukan, aku pikir aku tidak akan pernah mencoba mengingatnya, apalagi bertanya dan membahasnya seperti itu. Tapi karena sudah terlanjur, jadi apa boleh buat? Aku jadi mempermalukan diriku sendiri lagi di depannya, setelah hari kemarin.' pikir Vina, dia pun jadi pasrah dengan nasibnya sendiri, entah dia punya kesan baik atau buruk di matanya Elvano, dia sudah tidak begitu peduli lagi.
"Apa yang barusan kau katakan itu?! P-pergi! Aku tidak mau bicara dulu denganmu, kenapa kau bicara hal yang aneh-aneh, bahkan lebih dari pada aku?!" tolak Vina, dia pun mendorong tubuh Elvano untuk pergi keluar dari kamarnya.
"Aku sendiri juga tidak tahu. Tapi tunggu, kau itu belum makan, makan dulu, baru kau mengusirku," oceh Elvano, dia masih tidak ingin keluar dari dalam kamarnya Vina, sebab dia merasa punya kenyamanan yang bisa dia dapatkan ketika bisa berada di dekatnya Vina.
"Kalau begitu bawa saja makanannya ke sini, kau pergi, aku tidak ingin melihatmu lebih dulu, kau terus membuat aku jadi seperti orang yang begitu naif," sahut Vina.
Meskipun dia hanya menggunakan satu tangannya untuk mendorong tubuh Vano keluar dari dalam kamarnya, tapi jangan ragukan kekuatannya yang mampu untuk mengusir si beruang itu.
"Kau tidak bisa makan sendirian, sebaai bentuk perhatianku saat kau merawatku, aku ingin mneyuapimu,"
"Kau sudah melakukannya semalam, mau bagaimanapun aku harus berlatih makan sendiri, apapun situasinya. Lagi pula tidak setiap waktu akan menerima bantuan," setelah berbicara seperti itu, Elvano pun berhasil di keluarkan, dan dengan buru-buru langsung menutup pintu.
__ADS_1
KLEK...
"Hah~" Vina akhirnya menghela nafas dengan pelan dan panjang.
Betapa absurd nya hubungan diantara mereka berdua yang terikat karena satu masalah yang di bawa oleh Elvano kepadanya. Tapi meskipun begitu, hubungan mereka berdua justru jauh melampaui seperti sepasang kekasih?
BLUSHH....
'Semakin aku dekat dengannya, dan semakin lama juga hubungan ini berlangsung, sepertinya aku akan benar-benar jadi orang gila.' Vina merutuki nasibnya sendiri. 'Aku tidak tahan, jika ada banyak orang seperti dia ada di dekatku, rasanya aku ingin memakannya, dan salah satunya adalah Elvano.'
Merasa di goda oleh setan iblis, Vina pun semakin merutuki nasibnya sendiri yang tidak baik-baik saja, jika hubungan mereka berdua seperti itu dan berlangsung lebih lama dari pada yang seharusnya.
Di saat pikirannya terus di penuhi dengan setiap ekspresi imut yang di perlihatkan oleh Elvano kepadanya, saat itu juga Vina pun baru sadar kalau dia melewatkan satu pertanyaan yang paling penting untuknya.
'Kan? Bahkan aku jadi sampai lupa, tujuan utamaku berhadapan dengan Elvano adalah untuk bertanya soal orang tuaku. Tapi karena gara-gara perbuatan aku dan perbuatan nya dia sendiri, akhirnya aku jadi tidak jadi tanya kepadanya, karena aku sudah mengusirnya.' tidak boleh menunda lagi masalah yang berkaitan dengan kedua orang tuanya, Vina pun meneguhkan hati dan pikirannya untuk menghadapi Vano sekali lagi.
KLEK...
"Eh?" tepat ketika Vina membuka pintunya, di saat yang bersamaan pula Vina menemukan Elvano yang hendak masuk kembali dengan membawakan makanan di tangannya.
"Apa kau memutuskan untuk keluar dan makan di meja makan?"
'Kenapa dia begitu sibuk mengurusku?' Vina benar-benar jadi merasa terbebani dengan kedatangan Vano yang tidak ada akhirnya.
Baru juga di usir, tapi raut wajahnya yang bingung itu menciptakan kesan sendiri kalau Elvano sungguh-sungguh sudah melupakan kejadian beberapa menit tadi.
"Aku hanya ingin tanya, bagaimana dengan kedua orang tuaku?"
"Ternyata itu maksudmu ingin bertanya kepadaku saat kau mengunjungi kamarku tadi?"
Merasakan rasa malu yang tidak bisa di hindarkan, karena pikirannya kembali jalan-jalan, Vina pun menganggukkan kepalanya dengan wajah terpaksa.
__ADS_1
"Kau tenang saja, mereka berdua baik-baik saja kok. Karena orang yang di tangkap oleh anak buah kakakku itu adalah kedua anak buahnya Delvin, jadi kau tidak perlu mencemaskan nya.
Makannya, seperti yang sudah aku katakan kemarin, kau bisa tanya atau bicara kepadaku secara langsung saja, tanpa perlu memohon-mohon. Padahal kita sudah dekat satu bulan lebih, apa kau sekarang menganggap aku ini bukan orang yang kau kenal, melainkan seorang Tuan yang harus kau hormati?"