
“Vina, ini ada undangan lagi dari temanmu,” kata ibunda Vina.
“Apa?! kenapa banyak sekali sih?” gerutu Vina, dia sungguh merasa terbebani dengan banyaknya undangan yang kian menumpuk.
Bahkan bisa di bilang, kalau dalam satu hari, dia bisa sampai kondangan ke dua sampai lima tempat sekaligus.
‘Uangku, apakah aku punya uang untuk ini dan itu?’ Vina yang baru sadar kalau dia di buatkan rekening baru dan juga ATM serta sudah di download sebuah aplikasi m bangking, membuat dia penasaran.
Dia mencoba untuk membuka aplikasinya, dan begitu dia buka, matanya langsung melotot, dia mengira kalau matanya bisa jadi akan keluar jika dia tidak segera menyadarkan dirinya untuk kembali ke akal sehatnya!
“A-apa? Ini angkanya berapa digit? Enam, tidak, sepuluh?! Apa?! Ini sepuluh? Jangan-jangan Delvin salah memberikan kartu dan nomor rekening kepadaku,” panik Vina, dia cukup terkejut dengan nominal angka yang tertera di layar handphone nya.
Satu Milyar bukanlah uang yang sedikit.
Tentu saja akan jadi sedikit jika dia membeli rumah bertingkat dengan harga itu, tapi mau bagaimanapun dia merasa terbebani dengan angka yang begitu banyak itu.
‘Satu Milyar, jangan gegabah Vin, mungkin saja. Delvin salah memberikanku rekening.’ dengan pikirannya itu, Vina pun akhirnya menghubungi nomor dengan nama Delvin sebagai nama paling mistik.
TUTT …
Tersambung, tapi sayangnya dia harus menggunakan apk lain yang mendukung layanan internet agar bisa menghubungi seseorang yang ada di luar negeri.
-“Halo?-
‘Wah, tersambung! Sepertinya ini pertama kalinya aku menghubungi orang lain yang ada di luar negeri seperti ini.’ Vina lumayan takjub. “Halo, Delvin. Apakah kau sedang sibuk?”
-“Iya,”- Delvin benar-benar menjawabnya dengan jujur. -“Jadi katakan saja dengan singkat jelas dan padat,”-
“Oh, iya, baik. Ini uang satu milyar, kau salah rekening kan? Ini pasti bukan punyaku,” kata Vina, menyatakan apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
-”Tidak salah, itu memang uangmu, jadi pakai saja, karena sudah jadi milikmu seutuhnya. Lihat saja di nama akun bank mu, itu sudah tertulis atas namamu, dan jumlah yang ada di dalam juga sudah atas namamu juga, jadi kalau sudah selesai dengan rasa penasaranmu, aku tutup,-
TUT ..
“Lah?! Kenapa malah tiba-tiba di tutup? Aku ngerti dia sibuk, tapi masa begitu? Satu milyar itu bukan uang yang sedikit. Atau jangan-jangan ini suruhannya Elvano?
Huh, ya sudah deh, aku tidak akan menggunakannya sedikitpun, aku akan mengembalikan uang yang sempat masuk itu ke rekeningnya Delvin lagi.
Dengan bertanya pada pegawai bank, aku pasti bisa dapat nomor rekeningnya.” Vina cukup percaya diri untuk bertanya pada pegawai bank, jika dia ingin mengembalikan uang yang sedemikian banyak itu kepada Delvin lagi.
_________
Tapi kenyataannya.
“Maaf Nona, nomor rekening yang anda tuju itu sudah tidak lagi aktif, jadi tidak bisa digunakan untuk transaksi lagi.” kata wanita ini, yang bekerja sebagai pegawai bank.
“Ya sudah, terima kasih kak,” jawa Vina. Dengan jantung yang berdebar, dia benar-benar gagal untuk mengembalikan uang satu milyar itu kepada Delvin lagi. ‘Kenapa tidak bisa?! Kalau hilang gimana? Walaupun ini di rekening bank aku, tapi tetap saja, biasanya ada banyak hal yang tidak terduga, dan aku takut jika uangnya tiba-tiba tidak ada, ketika aku ingin mengembalikannya.’
Hati Vina cukup gelisah, sebab dia sendiri perah uang yang ada di tangannya itu hilang lima puluh ribu, dan kali ingin dia jadi semakin khawatir dengan uang sebanyak itu.
“Aku takut, hilang,” gumam Vina, dia pun melangkah keluar dari bank, dan ingin pulang.
Atau lebih spesifiknya dia memiliki jadwal untuk pergi kondangan lagi dan lagi.
Ketika semua teman-temannya menikah, diantara mereka, Vina adalah salah satu orang dari beberapa orang tersisa yang masih belum menikah.
Tapi sekalipun begitu, Vina justru adalah satu-satunya orang yang masih sendirian tanpa kata pacar atau status apapun.
‘Hah, sudahlah, aku lelah sendiri jadinya, lebih baik aku pergi beli kado? Ehmm, kado atau uang ya? Ah, kado saja, dengan begitu itu bisa memiliki manfaat lebih banyak ketimbang uang yang bisa habis kapanpun itu.’ pikirnya.
Dia punya persepsi yang lebih banyak jika soal kado untuk teman wanita yang akan menikah itu, yaitu dengan membeli barang yang lebih bermanfaat untuk jangka waktu yang lama, dan jika lebih dikondisikan untuk mendapatkan pahala yang lebih banyak, tentu saja dia akan memberikan sebuah kado yang berisi seperangkat alas sholat.
“Karena jaraknya agak berdekatan satu sama lain, dan waktunya sekitar sepuluh hari lagi, mending aku beli online saja, dengan seperti itu, aku tidak akan lelah untuk melihat barang-barang yang tidak ada kaitannya dengan tujuanku.” tentu saja, keputusannya pun sudah cukup bulat, dia dengan sendirian pergi dari sana, dan mencoba untuk mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat sebentar. “Tapi aku iri, hah, aku benar-benar iri,”
Sampai sebegitu gemasnya dengan nasibnya sendiri yang malah menolak jodoh, dia benar-benar wanita yang antara bodoh juga pintar.
__ADS_1
“Iri kenapa kak?”
“Yah, iri kehidupan orang lain sudah lebih baik dariku,” jawab Vina dengan cepat. “Eh?”
Sadar ternyata dirinya baru saja ditanya oleh orang lain, Vina pun kaget melihat bule yang beberapa hari itu pernah Vina lihat.
‘Aku memang pernah menertawai karena ucapannya waktu itu. Tapi sepertinya dia tidak tahu aku.’ padahal itu bukanlah sebuah kebetulan, karena Vina dari awal sudah dikawal oleh dua orang bodyguard yang ditugaskan untuk melindungi Vina dari segala ancaman.
“Apa? Apa kita pernah bertemu?” tanya bule ini kepada Vina, berpura-pura tidak kenal adalah strateginya agar bisa mendekati objek, sekaligus untuk membuat cara yang lebih efisien untuk melindungi target mereka.
Tentu saja, bule yang satu ini sama sekali tidak sendirian, karena ada satu laki-laki di sampingnya yang sedang duduk di motor.
‘Lagi?! Kenapa semua orang berpasang-pasangan, sedangkan aku tidak?!’ Vina akhirnya berteriak frustasi sendiri di dalam hatinya.
Hati nuraninya cukup terluka, karena setiap orang yang dia temui, rata-rata sudah punya kekasih, dan Vina cukup minder dengan hal itu, meskipun dari luar dia tampak biasa saja, seolah itu bukanlah masalah.
“Tidak, kita belum pernah bertemu sebelumnya. Ada apa ya?” Vina mencoba tersadar dari rasa sakit nuraninya itu.
“Kami kebetulan baru tinggal di sekitar sini, tapi kita suka kesasar karena belum begitu hafal denah, apa tidak keberatan jika menemani kam-”
‘Hadeh, dia malah minta bantuan seperti itu, mana mungkin Nona Vina mau!’ pria ini cukup putus asa dengan cara pendekatan yang dilakukan oleh temannya itu.
“M-maaf, tapi aku tidak bisa, karena aku banyak urusan.” Vina mencoba menolaknya dengan halus, karena dia sebenarnya cukup takut dengan berinteraksi dengan orang lain seperti itu. ‘Kenapa malah tiba-tiba mengajakku untuk jadi pemandu wisata? Bisa jadi nanti kedepannya bisa-bisa aku di culik, ya kan? Lebih baik aku pulang saja lah, ketimbang aku di luar dan membuang waktu seperti ini.’
Setelah itu Vina pun pergi dari sana meninggalkan mereka berdua.
“Kan, salahmu, kenapa kau malah minta tolong dengan cara seperti kalau kita tidak pintar sih? Ada GPS, kita bisa pergi kemanapun dengan bantuan itu. Tapi lihat, dia jadi takut,” tegur pria ini kepada teman kerjanya itu.
“Iya, iya, maaf,”
“Maaf-maaf, kalau seperti ini, kita tidak bisa mendekatinya lagi,” katanya lagi.
Apa yang dikatakannya pun benar adanya, dia tidak mungkin bisa mendekatinya dengan mudah seperti hari ini.
Tapi karena hari ini saja mereka berdua gagal untuk dekat, maka mau tidak mau mereka berdua harus menggunakan cara lama saja, untuk tidak begitu mencolok seolah-olah mereka berdua adalah teman sejatinya Vina.
“Bukan marah, tapi aku hanya memberikanmu peringatan kecil,”
“Tapi kenapa di hatiku bisa jadi besar seperti balon udara ya?” cicit wanita ini kepada temannya tersebut.
“Hish, sudah aku bilang, jangan mengandalkan perasaan, tapi logika,”
“Aku Nggak bisa tuh, makannya aku jadi sakit hati setiap kali kau bicara seperti itu kepadaku,” timpalnya.
“Haih, sudah, naik sini, kita harus pergi mengikutinya lagi, jangan biarkan dia sendirian seperti itu, bisa berabe nanti kita diinterogasi oleh dua Tuan kita?” omelnya lagi.
“Cerewet,” lalu dengan perasaan tidak puas hati, dia pun pergi naik motor, membonceng di belakang dan mencoba pergi mencari Vina untuk dijaga kembali.
BRRMM ….
“Hm, walaupun kampung di sini begitu padat motor, ternyata asik juga,”
“Beda negara beda transportasi yang mendukung. Apa kau lebih suka disini?”
“Hmm, walaupun aku tidak suka dengan infrastruktur yang tampak berantakan, tapi aku suka karena masih sejuk,” jawabnya.
“Tapi Ni,”
“Hm?” sahut wanita ini dengan panggilan Ni.
“Apakah kau merasakan hal yang sama denganku?” tanya pria ini kepada wanita yang dia bonceng itu.
“Perasaan diikuti ya?” terka wanita ini, dan tebakannya pun benar adanya.
Dia sudah mengamatinya sejak Vina pergi dari rumah, dan tampak ada seseorang yang terus mengawasi mereka bertiga secara bersamaan tapi dari tempat yang berbeda.
__ADS_1
“Jadi kita harus bagaimana ini?” tanyanya.
Pria ini pun tampak bingung, karena kemungkinan banyak orang yang dijadikan tersangka tidak bisa ditebak dengan akurat.
“Aku akan memikirkan caranya bagaimanapun itu terjadi. Misi ini tidak boleh gagal, jangan sampai Tuan muda kecewa dengan pekerjaan kita,” ungkapnya, dan dia pun semakin meningkatkan kecepatan dari laju motornya. "Nona Vina pergi kemana?" tanyanya.
"Seperti biasa, dia langsung kembali ke rumah," jawabnya.
Awalnya dia bicara seperti itu setelah dia mengamati lokasi yang dia terima dari alat pelacak yang ada di motornya Vina.
Tapi tidak selang berapa lama, Ni melihat kejanggalan yang terjadi.
"Eh? Sepertinya dia berubah haluan. Kita lurus terus," kata Ni.
Namun apa yang terjadi, ketiga mereka berdua melewati pertigaan jalan yang terletak di tengah-tengah sawah, dari mereka berdua tidak ada yang tahu, kalau alat pelacak yang terus berjalan menyusuri jalanan desa itu, semakin menjauh dari lokasi Vina yang sebenarnya.
Mereka berdua tetap mengikuti kemana perginya motor, tapi Vina sendiri, dia sudah masuk ke dalam sebuah mobil van berwarna hitam yang mengarah ke jalur tempat dimana rumahnya Vina berada.
Namun ada yang salah, Vina justru melewati rumahnya sendiri.
Maka dari itu, mereka bertiga pun benar-benar terpisah.
Sepuluh menit kemudian, ....
Kedua orang yang bertugas menjadi bodyguard nya Vina ini pun ikutan berhenti saat motor yang di pakai Vina sempat berhenti.
Ah, tepatnya justru berhenti di jalan yang membelah tengah hutan.
"Eh? Dia berhenti di sini! Noir, ini sepertinya ada yang aneh!" kata Ni, kepada temannya tersebut yang dia panggil Noir.
Noir pun berhenti juga, dan melihat ke arah handphone yang di gunakan oleh Ni untuk melacak kepergian Vina selama ini jika menggunakan motor.
Noir merasakan firasat yang cukup buruk.
"Ni, kayanya kita kehilangan Nona Vina yang sebenarnya," bisik Noir kepada Ni.
Lalu orang yang sempat menggunakan motornya Vina, turun dari motornya.
Tanpa melepas helm, dia tiba-tiba berdiri di tengah-tengah jalan dan menatap dua wajah dari orang yang berasal dari negeri seberang.
"Lumpuhkan mereka berdua," kata orang ini, yang di kira oleh Ni dan Noir sebagai Vina.
Lalu setelah berkata seperti itu, tiba-tiba dari semak-semak muncul beberapa orang yang langsung menghadang Ni dan Noir.
'Kita tertipu!' detik hati Noir, dia merasa misinya benar-benar gagal, karena dia kehilangan objek yang harus mereka berdua lindungi.
"Hyaahh!"
Beberapa orang berlari untuk menyerang mereka berdua, tapi dengan cekatan Noir langsung berputar balik dengan kecepatan penuh, dan Ni sendiri dia memeluk Noir dengan begitu erat.
"Pegangan erat, ini akan jadi lebih buruk dari sebelumnya, kita jangan samapi kehilangan Nona Vina lebih jauh dari ini, semoga saja belum terlambat," ucap Noir, dia begitu mengkhawatirkan apa yang ada.
BRMM..!
Suara gas motor itu benar-benar memenuhi keheningan di dalam hutan itu.
Sungguh ironis, mereka terkecoh hanya karena alat pelacak.
Lalu mereka berdua pun pergi dengan kecepatan tinggi menyusuri aspal yang begitu mulus itu.
Tapi, rupanya tidak sampai di situ saja, sebab di saat yang sama juga, ternyata sudah ada beberapa orang yang sudah bersiap untuk menghadang mereka berdua dengan menggunakan motor juga.
-"Ikuti motor itu!"-
Suara dari alat komunikasi mereka membuat mereka berlima akhirnya bergerak untuk mengikuti Ni dan Noir.
__ADS_1
BRMM....BRMMM....
Mereka semua langsung memacu gas motor mereka, dan akhirnya pergi mengikuti dua orang tersebut.